Sebelum baca siapkan tissue dulu ya 🤧🤧
Javier Louis adalah seorang anak laki-laki yang di buang karena ibunya tidak menyukai keberadaannya. Anak hasil dari pemerkosaan membuatnya di benci dan tidak di terima.
"Kau memang tidak pernah salah, hanya takdirmu yang salah, kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupmu seperti ini."
Sementara di sisi lain, Xaviera Careen mengalami kesedihan atas kematian ibunya. Ia begitu terpukul hingga selalu menyalahkan dirinya.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Setiap detik dalam hidupku, aku merindukannya. Dadaku sangat sesak sampai tidak bisa bernapas, apa yang harus aku lakukan? Datanglah...sapa aku dalam mimpi."
Tangisan Xaviera yang begitu menyayat hati.
Bagaimana nasib Javier dan Xaviera. Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan nasib percintaannya?
Happy reading 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANYA TERUS MEMIKIRKANNYA.
💌 MAFIA BERHATI MALAIKAT 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
JAVIER LOUIS USIA 14 TAHUN.
Semenjak pertemuannya dengan anak remaja yang cantik bernama Xaviera itu, hati Javier tidak tenang. Perasaan aneh ini muncul dalam dirinya. Ini adalah pertama kali untuknya, Ia bingung dengan keadaannya saat ini. hanya dengan membayangkan wajahnya saja, detak jantungnya terpompa begitu kencang dan ini benar-benar sangat aneh. Javier pernah mencoba memikirkan Brigita si anak penjual sayur yang sering menemani ibunya di pasar. Tapi perasannya biasa-biasa saja. Gak ada perasaan berdebar atau semacamnya. Namun kenapa cuma saat memikirkan Xaviera, jantungnya berdebar kencang? ia mengusap wajahnya sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Oh ya Tuhan, ada apa denganku? Kenapa saat bersama teman-teman yang lain hatiku biasa saja? Apa ini yang dinamakan cinta?"
Huffft...! Javier membuang napasnya, hatinya masih tidak tenang. Ia membolak-balikkan badannya yang hanya beralaskan kardus itu. kemudian menatap langit-langit gudang sambil menaruh tangannya di atas keningnya. Javier sama sekali tidak bisa tidur.
XAVIERA CAREEN USIA 13 TAHUN
"Xaviera...Xaviera...Xaviera....." Javier Seperti melafalkan nama itu dengan baik di dalam hatinya. Ia tersenyum khayal di sana. "Dia cantik, sangat cantik." Javier mengulum senyum bahagia sambil memejamkan matanya. Ia berusaha menenangkan hatinya, namun bayangan Xaviera selalu datang ke pikirannya.
Javier reflek duduk sambil menghembuskan napas. Ia menunduk lesu mencoba kembali berkonsentrasi, agar ia tidak memikirkan Xaviera lagi. Ia terus menepis semua perasaan aneh yang terus muncul. Ia menopang dagu melihat ke arah jam yang tergantung di dinding gudang. Javier harus menghentikan aktivitas gelisahnya ini. Ia memilih keluar dari gudang. Mencari udara segar, untuk menghilangkan rasa gundah yang menyelimuti hatinya.
Javier mengambil duduk di atas meja tempat biasa ibu Brigita menjajakan dagangannya. Ia mendongak ke atas, menatap bintang-bintang di langit di atas sana. Nyala lampunya mulai bertebaran. Langit gelap dan sensasi kerlipannya begitu indah. Javier tersenyum lagi. Senyumnya tidak tahu ditujukan untuk siapa, apakah untuk bintang di langit atau memang untuk Xaviera?
"Hei, Coba kau tunjuk satu bintang yang paling terang di atas sana."
Mendengar suara itu, ia berbalik dan menoleh ke belakang. Dia berkata dengan lantang. Seperti setengah memerintah. Siapa lagi jika bukan Brigita, anak remaja seumuran dengannya. Ia cewek tomboi yang di kenal dengan suara paling keras di pasar ini.
"Cih, aku yakin kau tidak bisa menjawabnya." Brigita menunjukkan wajah angkuh.
Javier tak sanggup menahan diri untuk tidak mengerutkan keningnya. Ia menatap Brigita dengan posisi bersedekap. Javier menggeleng menatap ke atas lagi. "Kau selalu saja mengganggu ketenangan hatiku." Javier berdecak malas.
"Bilang saja kau tidak bisa melihat yang mana bintang paling terang, iya kan?" Brigita tersenyum kecut, duduk di atas meja sambil ikut menatap bintang.
"Untuk apa?" Javier menatap wajah Brigita yang duduk di sampingnya.
Brigita tidak melihat ke arah Javier. Wajahnya masih saja mendongak mengamati angkasa itu. "Anggap saja untuk penunjuk jalan agar kau bisa pulang. Atau penuntun hidupmu. Atau penghilang gelap di hatimu, agar kau sedikit bercahaya. Atau teman curhat. Atau mungkin... cita-cita. Atau bisa saja untuk seseorang yang kau rindu."
Javier tersenyum tipis lalu mengikuti gelagat Brigita untuk menatap langit gelap itu. "Sekarang?" tanya Javier menatap kembali ke arah Brigita.
"Ya sekarang lah, kapan lagi? Maksudmu Besok? kalau besok yang ada kau hanya bisa menatap matahari. Kau mau?" Senyum ejekan terlihat jelas di wajah Brigita.
Javier menghembuskan napas panjang sembari melebarkan ekor matanya untuk mencari sesuatu dan juga ia coba untuk temukan di atas langit. "Menurutku, tidak ada," Ucap Javier menggeleng sambil membengkokkan bibirnya. Matanya terus memicing menatap ke atas langit.
Brigita menoleh ke arah Javier. "kau hanya memandangnya hanya dari sudut matamu saja. Coba kau lihat lagi. Kau payah. Bahkan tidak seru!" Brigita mendengkus.
"Semuanya bercahaya Brigita tidak ada yang kekurangan daya." tanya Javier menatap ke atas lagi. Ia mencoba kembali mengedarkan pandangannya ke atas langit.
"Cih, emangnya ngisi baterai, dasar bodoh, Lihat di sebelah paling kanan sana." Brigita menunjukkan sebuah ke arah sebelah kanan yang berada di angkasa dengan telunjuk kanannya.
"Maksudmu Itu? Apa itu bukan yang paling terang?" tanya Javier mengikuti arah tangan Brigita. Ia sedikit antusias, mencoba menunggu jawaban dari Brigita.
Brigita mencari apa yang dimaksud Javier. Memang ada sebuah cahaya yang paling terang di antara cahaya-cahaya yang lain. Tapi Brigita tetap menggelengkan kepala. "Kurasa bukan."
Javier tampak kesal, ia mulai mencibirkan bibirnya. "Memang ada yang lebih terang dari itu, huh?" Kalimat Javier terdengar sedikit kesal.
Brigita terkekeh pelan. Ia memandang sekali lagi langit beserta para bintangnya dengan hanya pandangan sederhana. "Semua bintang itu terang, hanya saja terkadang ia ditutupi langit gelap jadi bisa mengurangi terangnya. Jadi jika ingin menemukan bintang terang, ya kau harus ke angkasa."
Javier lalu bergeming. Wajahnya mengendur perlahan, dia yakin Brigita hanyalah mengerjainya. Melihat ekspresi wajah Javier, Brigita tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan. Ia Segera berlari agar tidak tertangkap Javier.
"Astaga Brigita." Javier sudah benar-benar kesal, ia pun mengejar Brigita yang sedang menertawakannya. "Kau mau kemana? ayo, kembali."
"Coba tangkap aku Javier." Brigita tertawa lagi sambil mencibir bibirnya. Ia tertawa puas bisa ngerjain Javier.
"Brigita, mau lari kemana kau?" Teriak Javier membuang napasnya berlari mengejar Brigita. Kekuatan berlari Brigita bisa diacungkan jempol. Brigita pernah mendapatkan pujian dari warga pasar karena berhasil menangkap pencuri. Javier kalah selangkah pada saat itu.
"Kau tidak akan berhasil menangkapku Javier, coba saja mengejarku." Brigita tertawa sambil berlari menuju lapangan.
"Oh my God..! Sudahlah Brigita jangan bermain-main denganku?" Javier menggelengkan kepalanya, Ia berusaha mengatur napasnya yang naik turun tidak beraturan karena kelelahan.
"Hmmmpppp.... Hmmmpppp! Lepaskan aku!" Mulut Brigita di sekap dan di bawa ke tempat yang gelap.
Sementara itu, Javier terus berlari mengejar Brigita. "Astaga kemana dia?"
Javier membungkuk dan memegang lutut nya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Brigita hilang begitu saja.
"Brigita......" Panggil Javier dengan suara keras. Tidak ada sahutan dari Brigita sama sekali. "Jangan main-main Brigita ini sudah malam. Ayolah!" Javier terus berjalan ke arah Brigita berlari tadi.
Tiba-tiba Javier tertegun saat mendengar suara minta tolong di sana. "Brigita?" Dengan sekuat tenaga ia berlari mencari arah suara Brigita.
"Kemana dia? Bukankah Brigita lari ke arah sini?" Javier nampak frustasi. Ia mengacak rambut di belakang tengkuknya secara kasar.
"Javier, too....long...." Lagi-lagi suara Brigita terdengar begitu jelas di sana.
Javier berlari lagi, mencari arah suara Brigita. Jalan yang ia lalui sangat sepi. Di depan mata ada persimpangan jalan. Jalannya begitu gelap dan sepi. Tiba-tiba langkahnya terhenti di sana..Javier dihadang segerombol orang yang Ia kenal. Siapa lagi jika bukan preman jalan.
“Wah, akhirnya kau masuk perangkapku Javier.” Kata si berbadan tinggi besar dengan senyum sinis.
“Apa-apaan ini..?! Kalau kalian berani macam-macam, aku akan menghabisimu..!!” kata Javier dengan ancaman. Sesungguhnya ia takut karena preman-preman ini di kenal sangat brutal.
Sontak mereka tertawa terbahak-bahak. “Menghabisi?! apa tidak salah?” Jawabnya dengan angkuh.
"Dimana Brigita?" Javier menekan suaranya.
"Kau tahu kan siapa aku?"
"Kau preman jalanan, yang membuat resah masyarakat. Sekarang katakan dimana Brigita?" Teriak Javier di sana.
"Brigita sudah dihabisi, sekarang giliranmu."
"Kalian gila ya. Jangan main-main, aku bisa melaporkan kalian kepada polisi."
"Hahahaha." Pria itu tertawa hambar, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang tajam. "Kau bisa melakukannya, setelah kau mati."
“Kita habisi saja anak ini! Tidak ada gunanya kita bicara dengan anak keras kepala itu!” seorang laki-laki yang kira-kira berumur 20 an dengan bau alkohol yang melekat di tubuhnya, menendang kaki Javier hingga tersungkur di tanah.
"Aku tidak pernah berurusan dengan kalian, sekarang dimana Brigita?" Javier menahan sakit saat mereka melakukan pemukulan pada bagian kaki dan perutnya.
"Dasar anak tengik,"
Javier bangkit dan mencoba mencoba melawan. Namun dua orang lelaki menahan tubuh Javier. Sekuat tenaga Ia melawan, namun apa daya badannya kurus tak berdaya.
"Lepaskan aku," Javier meronta ingin melepaskan diri.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Sengit pria itu mencengkram dagu Javier begitu kuat.
"Aku sudah bilang tidak pernah berurusan dengan sampah masyarakat seperti kalian." tantang Javier tidak takut.
"Apa? sampah masyarakat?" Javier kembali di pukul di bagian pipinya hingga sudut bibirnya sobek.
"Ahhhhh....." Javier mengaduh kesakitan. Tubuhnya habis di pukul berulang kali.
Pria itu menarik rambut Javier begitu kuat, hingga posisinya wajahnya menatap ke atas langit. "Kau anak tikus yang tiba-tiba muncul dan menguasai pasar, hingga semua orang yang di sana selalu memujimu. Sekarang mati saja kau." Pukulan itu kembali melayang ke tubuh Javier hingga membuatnya tak berdaya.
"Sepertinya ia pingsan, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita buang ke tengah jalan, agar orang menduga dia korban tabrak lari." Kata salah seorang pria tersenyum sinis.
"Angkat dan bawa ke mobil. Sebelum ada yang melihatnya,"
Mereka membawa tubuh Javier agak jauh dari sudut kota, "Buang." Perintah seorang lelaki membuka pintu mobil dan menjatuhkan tubuh Javier di tengah jalan.
"Kita tunggu besok kabar heboh di pasar, hahahaha." Pria bertubuh gemuk itu tertawa puas. Sementara Brigita dari awal berhasil kabur dari preman.
Malam semakin sunyi, Jari-jari Javier bergerak saat merasakan tubuhnya kedinginan. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Tubuhnya sakit habis di pukul preman-preman itu. Ia tidak bisa bangun lagi. Mengangkat kepalanya saja ia tidak sanggup. Javier mengeluh dan menjerit didalam hati. Rasanya tak pantas untuk menangis lagi. Ia tersenyum mengingat Xaviera. Karena wajah cantik itulah ia tidak bisa tidur dan memilih keluar dari gudang. Javier menatap ke atas Langit dan masih tetap gelap. Langit kini berbeda saat kau menjadi bintang pemberi cahaya harapan untukku malam ini. Javier tersenyum lagi.
Tiba-tiba Javier melihat cahaya yang sangat silau dari arah depan. Saking silaunya membuatnya menutup mata. Javier pasrah, malaikat maut sudah datang menjemputnya. Karena begitu takut, Javier kembali tidak sadarkan diri.
"Tuan, ada orang pingsan." Seorang pria yang yang membawa mobil dengan kecepatan sedang tiba-tiba mengerem mendadak.
Alfonso yang baru tertidur sebentar, terbangun dan melihat ke arah depan. "Kau periksa dulu, jika orang itu sudah meninggal biarkan saja." ucapnya datar.
"Baik tuan," Dion langsung keluar untuk memeriksa.
Alfonso membuka kaca mobil. "Bagaimana?"
"Dia seorang anak lelaki tuan dan ia masih hidup."
"Bawa saja," Alfonso menutup kembali kaca mobilnya dan memejamkan matanya.
Setelah membawa tubuh Javier, mobil itu kembali dengan kecepatan penuh meninggalkan tempat itu.
BERSAMBUNG
❣️ Readers tersayang tinggalkan jejak kalian ya. Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu 🤗🤗🤗
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
salam sejahtera buat, kt sehat sll buat klrgnya😘😘
jgn lupa persatukan viera dgn javier, heheee