Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESALAHPAHAMAN
Sinta menatap pintu dihadapannya dengan gemetar, rasa takut sudah menjalarinya semenjak boss besarnya itu menyuruh sinta untuk datang keruangannya. Meski hal itu lumrah karena dia adalah sekretaris doni tapi sinta kali ini merasa gugup, tadi pagi dia datang terlambat gara-gara mimpi anehnya yang membuat sinta bangun kesiangan. Kalau saja siti tidak membangunkannya mungkin sekarang dihari kedua nya bekerja sinta sudah akan meminta izin libur, untung saja pengasuh james itu peduli kepada dirinya.
tok tok tok
"Masuk!"
Sinta mendorong pintu kayu itu dengan hati-hati, dia berjalan tertunduk yang dibalas dengan kerutan didahi doni.
"Maaf pak ada apa ya?"
"Duduk dulu sinta."
Doni menepuk-nepuk sofa besar diruangan itu, dia memerintahkan sinta untuk duduk bersamanya. Dengan gerakan kaku sinta mematuhi perkataan doni, sekarang posisi doni berada disebelah kanan sinta. Hampir lima menit dan tidak ada pembicaraan, sinta bergerak gelisah. Doni yang menyadari itu menggerakkan telapak tangannya untuk menepuk punggung sinta.
"Tidak usah gugup sinta."
"Ah iya pak."
"Saya merasa sedikit pusing bisakah tolong ambilkan saya minuman?"
Sinta mengangguk lalu mengambil gelas yang memang sudah disediakan disana, sinta mengisi air putih dari dalam dispenser,
setelah air itu penuh dia menuju kembali ketempat doni duduk. Tidak disangka sepatu tingginya tersandung karpet yang meng-alasi keramik diruangan itu, sinta mencondongkan badannya yang hampir terjungkal, sedangkan air yang dia bawa menumpahi kemeja biru milik doni, pria itu berdiri dan sedikit berdecak. Sinta yang menyadari kesalahannya berusaha mengusap-usap kemeja itu yang tepat mengenai dada doni.
"Maaf pak doni saya benar-benar tidak sengaja," pria itu tidak menjawab dia membuka kancing kemejanya sampai terbuka semua kancingnya, dibuangnya kemeja itu ke sofa dibelakangnya. Doni kini bertelanjang dada, sinta yang merasa tidak enak berada didalam suasana itu segera keluar, namun baru beberapa langkah pintu ruangan itu terbuka menampilkan kembali wanita yang kemarin menampar sinta di restoran. Mata sinta melebar sempurna, wanita itu pasti berfikir yang jelek tentang dirinya sekarang.
"Oooh jadi memang benar desas desus yang dari kemarin terdengar," wanita itu menghampiri sinta yang berdiri dengan wajah pucat pasi, keduanya kini berhadapan. Doni memutar matanya jengah, istrinya benar-benar membuat semua menjadi kacau.
"Tidak ada desas desus apapun dikantor ini, sekarang mama pulang!" doni menarik istrinya untuk keluar dari ruangan itu.
brak
Sinta terkaget mendengar bunyi pintu yang tertutup keras, disana boss nya berjalan dengan memijit keningnya, doni ambruk kesofa yang tadi sempat dia duduki.
"Maaf pak doni tapi sepertinya saya harus menjelaskan semuanya kepada istri anda."
"Tidak usah pedulikan dia dan mana air nya."
Sinta gelagapan mencari dimana gerangan tadi gelas yang dia bawa, ternyata ada diatas sofa dan sudah kosong sinta mengambil gelas itu kembali dan mengisinya dengan air putih.
"Maafkan saya pak."
"Hm tidak apa."
"Saya akan mencarikan kemeja yang baru untuk pak doni, saya permisi."
"Tidak usah sinta keringkan saja baju itu."
Sinta mengangguk dan mengambil kemeja yang terjatuh disebelah doni, perempuan itu keluar ruangan dan menuju atap kantor. Cuaca hari ini cukup terik tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengeringkan baju boss nya.
"Heh kamu!"
Sinta menoleh menemukan istri boss nya tengah bersandar ditembok.
"Saya benar-benar minta maaf bu tadi itu hanya salah faham, Sa-"
"Cukup!" wanita itu mendekati sinta, dia menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Aku tidak akan percaya dan mendengar alasan kamu!"
"Saya tidak berbohong bu sungguh."
"Aku tahu kamu memang cantik dan masih muda, tapi apa kamu tidak tahu siapa saya ha!"
"Saya tahu betul siapa ibu, maka dari itu saya benar-benar meminta maaf atas kejadian tadi itu hanya salah faham."
"Salah faham katamu!" wanita itu berjalan memutari tubuh sinta, matanya terus menatap tajam janda muda itu.
"Saya berkata deng-"
"Sudah sinta, Tidak usah diteruskan," doni datang dari arah belakang dan hanya mengenakan tuxedo, dada dan perutnya tercetak jelas disana.
"Dan mama ayo kita pulang!" doni menarik pergelangan tangan istrinya dengan keras, sang istri meringis kesakitan sembari melototkan matanya kearah sinta, janda muda itu sedikit merasa lega boss nya itu datang diwaktu yang tepat.
"kalian lihat sendiri bukan bagaimana pak doni memperlakukan janda ini?"
wuuuh
"Seperti seorang simpanan boss ya."
"Cukup!" sinta sudah tidak kuat lagi mendengar perkataan pedas yang terus dilontarkan para karyawan dikantor itu.
"Jangan pernah lagi membuat gosip itu semuanya tidak benar!" sinta sedikit berteriak, mereka yang mendengar hanya diam dan tidak sedikit pula yang saling berbisik.
"Apa aku mempunyai kesalahan yang besar terhadap kalian?"
"Iya kamu telah merebut perhatian pak doni!"
"Merebut?" semuanya terdiam, sinta berjalan mendekati wanita yang terus saja menjawab ucapannya.
"Tolong sebutkan dimana letak saya merebut pak doni?" wanita itu terdiam ketika sinta berkata dengan keras dan matanya membola.
"Kamu pasti sudah menjual tubuh molekmu itu kan?"
plak
Tangan mulus sinta bergetar menyadari apa yang telah dia perbuat, dia menampar wanita didepannya, semua yang ada disana terus berbisik membicarakan betapa kasarnya sinta.
"Sudah jelas bukan bagaimana sifat janda muda ini?"
"begitu kasar ya."
"Iya tidak disangka."
"berani ya dia."
"Cukup!" sinta berteriak, dia mengambil tas kedalam ruangannya, setelah tubuhnya berada lagi dilorong kantor dia menatap satu-satu orang yang barusaja menghina dirinya.
"Aku akan pergi dari kantor ini sekarang juga, apa kalian puas!"
Dua langkah sudah sinta jangkau, air matanya menetes rasanya hatinya begitu sesak dan matanya sangat panas.
"Aku memang seorang janda, Hiks."
Ditatapnya kembali wajah-wajah yang baru dua hari ini dia temui.
"Lalu kenapa jika aku ini seorang janda, apa semua janda itu penggoda. Aku ada disini karena dirumah ada seorang bayi yang harus ku hidupi, tidakkah kalian kuat jika berada diposisiku. Kenapa kalian semua hanya membuatku semakin susah?" sinta menundukkan wajah cantik itu, menyeka air mata yang jatuh dengan jari tangannya, setelah menghirup nafas dalam-dalam dia melanjutkan lagi langkahnya. Meninggalkan orang-orang yang termangu ada juga yang merasa bersalah atas perlakuan mereka.
***
Tok tok tok
"Iya sebentar."
kriett
"Apa benar ini rumah bu sinta?"
"Iya benar anda siapa ya?"
"Saya boss ditempat sinta bekerja."
Siti mempersilahkan duduk kepada boss majikannya, tadi pagi pengasuh james itu memang merasa heran dengan sinta yang murung dan tidak meninggalkan kamarnya untuk pergi bekerja, kalau dari kemarin pagi sinta sudah rapi dan bersiap untuk kerja, pagi tadi sinta bahkan tidak berbicara sepatah katapun kepada siti.
tok tok tok
"Bu sinta ada tamu menunggu diruang tamu."
Sinta sedang menyusui james didalam kamar, bayi itu sudah terlelap. Sinta membenarkan kembali dress rumahan yang ia kenakan dan berjalan kearah ruang tamu, disana boss barunya tengah tersenyum kearah sinta, sinta yang masih kaget tidak membalas senyuman itu dia langsung terduduk dikursi yang berada didepan doni.
"Apa kamu sedang tidak enak badan?"
Sinta termangu mendapati ternyata boss nya itu sampai rela mendatangi dirinya karena tidak masuk kerja.
"Maaf pak doni tapi sepertinya saya akan mengundurkan diri dari kantor bapak."
"Loh kenapa?"
Doni terkejut bukan main, baru saja dua hari perempuan itu bekerja bersamanya sekarang sudah mengundurkan diri saja.
"Apa karena istri saya?"
"Bukan pak tidak sama sekali."
"Lalu?"
"Saya hanya merasa tidak cocok disana."
"Aku mengerti sekarang pasti karena para karyawan yang selalu membicarakan kamu kan?"
Sinta tidak menjawab tidak juga mengangguk, dia diam tidak bergeming sama sekali. Pria itu meminum kopi yang sudah dibuatkan oleh siti, terjadi keheningan selama hampir dua menit sebelum akhirnya si boss kembali membuka suaranya.
"Tidak perlu dipikirkan, dari awal aku juga sudah bilang untuk kamu tidak perlu menanggapi mereka kamu sendiri yang bersedia bukan?"
"Tetapi ternyata itu berat pak doni saya tidak bisa lagi bekerja disana."
"Aku masih mau memperkerjakan kamu, tidak apa kalau hari ini kamu tidak masuk aku tunggu kamu besok untuk berangkat dan kembali bekerja."
"Tapi pak-"
"Maaf sekali sinta, aku tidak bisa mendengar lagi kata tapi darimu itu."
Sinta menunduk pria itu berdiri dan membuka pintu untuk keluar dari rumah sinta, sang pemilik rumah mengikuti doni dari belakang. Pria itu tidak mengatakan apa-apa dia langsung memasuki mobilnya, berlalu dari pekarang rumah kecil itu.
huft, ini semakin susah sekarang, Aku akan semakin malu ketika bertemu orang-orang dikantor.
***
"Maaf tante kalau aku boleh tahu kenapa sinta tidak lagi tinggal disini?"
Dewi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, firman berkunjung kerumahnya mencari sinta, karena sosok yang dicarinya memang sudah tidak berada disana membuat dewi gelagapan.
"Dia pergi begitu saja nak firman."
"Tante tidak tahu kemana dia pergi?"
"Aku tidak tahu telfon dan pesan aku saja tidak pernah di balas."
"Padahal aku sempat melihat sinta di toko mainan anak-anak," firman menerawang ingatannya kembali ketika bertemu sinta.
"Kapan itu nak firman?"
"Aku rasa waktu sinta sudah pergi dari rumah ini, karena sore harinya ketika aku datang kesini dia sudah tidak berada disini, aku bertemu dengannya pada pagi harinya"
"Apa tempat itu jauh dari sini?"
"Lumayan jauh tante, kebetulan toko itu selalu aku lewati ketika pergi ke kantor."
"Tante boleh minta tolong kan nak firman?"
Firman mengangguk dan menarik bibirnya untuk tersenyum.
"Tante minta tolong untuk kamu membantu mencari keberadaanya."
"Itu pasti tante sebenarnya aku sudah berusaha mau mencarinya, tapi sudah beberapa hari ini aku selalu pergi ke luar kota."
"Kapanpun jika nak firman bisa saja ya."
"Baik tante."
Meskipun putrinya itu pergi dari rumah karena aksi dewi yang terus menjodohkan sinta dan firman, rupanya tak memutuskan niatnya itu untuk menggagalkan pernikahan mereka. Seolah dia rela sinta pergi asalkan mereka berdua tetap menikah, seolah juga sinta kembali dan pernikahan tetap terjadi.
Firman merasa ada yang aneh pada perempuan itu, apakah karena lamarannya yang membuat sinta harus pergi. Ketika di toko mainan saja perempuan itu menghindar darinya, meskipun pada saat biasanya perempuan itu memang selalu ketus kepada firman namun waktu itu sinta memang terlihat seperti gelisah. Seperti hendak kabur darinya karena telah mencuri sesuatu, ya memang benar saja, janda muda itu memang sudah mencuri hati firman. Laki-laki itu sedikit tersenyum merasakan hal aneh dalam pikirannya.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita mencari sinta sekarang?" dewi menyentuh lengan firman, wanita parubaya itu mengajak calon menantunya untuk segera berdiri dan mencari sinta.
"Apa tante tidak apa-apa kalau ikut?"
"Aku harus ikut rasanya bibir ini sudah gatel untuk segera memarahi anak itu jika ketemu."
Firman terkekeh mendengar penuturan dewi, dia berjalan dengan langkah lebar yang diikuti oleh sang calon mertua. Rupanya firman memang sudah sangat dekat dengan dewi, mereka seperti mertua dan menantu yang tidak canggung lagi. Mengingat dulu mereka pernah kenal dari sebuah pekerjaan, terbiasa bertemu dan ternyata menjadi jalan jodoh untuk firman.
"Karena lumayan jauh mungkin kita akan sampai dengan waktu yang lama."
"Tidak apa firman tante masih kuat untuk perjalanan yang lama."
Dewi mencubit lengan firman yang tersenyum mendengar penjelasannya, mereka mencoba mencari sinta meski kemungkinan untuk bisa menemukan perempuan itu sangat kecil. Mana mungkin sinta akan tetap berada ditoko mainan itu terus menerus, kecuali jika sinta bekerja sebagai karyawan disana mungkin itu akan memudahkan pencarian.
Setiap orang yang berlalu-lalang disana terus firman tanyai apakah mereka pernah melihat perempuan yang ada difoto, mereka semua menggelengkan kepalanya menandakan tidak tahu, firman menyangga kedua tangannya dipinggir pinggangnya. Dia mencari kira-kira dimana sinta pernah berkunjung, langkah besarnya menuju sebuah warung makan yang sangat sederhana, dia kembali menyodorkan foto sinta kepada orang-orang yang ada disana, masih dengan hasil yang sama. Tidak ada satupun yang mengenali sinta, firman keluar dari tempat itu dan menghampiri dewi, wanita parubaya itu sudah berdiri didepan mobil firman.
"Bagaimana nak firman?"
"Tidak ada tante semuanya mengatakan belum pernah melihat sinta."
"Sebaiknya kita pulang dulu."
Dewi dan firman sama-sama memasuki mobil, kembali kerumah dewi dengan rasa kecewa. Sinta benar-benar menghilang tanpa jejak, bahkan kasir yang berada di toko mainan anak itu mengaku baru pertama kali melihat sinta, itu artinya sinta mungkin tidak tinggal di daerah itu. Kalaupun sinta tidak selalu mengunjungi toko itu, tetapi paling tidak para pegawainya ada kemungkinan sering berpapasan atau tidak sengaja melihat sinta melintas.
"Aku minta maaf tante karena sinta mungkin ternyata tidak tinggal didaerah itu."
"Yang terpenting kita sudah mencoba mencarinya, tetapi tante selalu meminta tolong sama kamu untuk mengusahakannya ya."
"Itu pasti tante."
***
Malam ini siti tidak masak, sinta memilih untuk membeli lauk di warung makan terdekat kontrakannya. Dia membeli dua paha ayam goreng beserta lalapannya, setelah membayar dan hendak keluar tiba-tiba si pemilik warung menghentikan langkahnya.
"Tunggu sebentar teh."
"Iya ada apa ya bu?"
"Wajah teteh mirip sekali dengan foto yang tadi dicari seseorang," tubuh sinta menegang, siapa gerangan yang mencarinya hingga sampai kesini.
"Ah benarkah, tapi saya merasa tidak sedang dicari seseorang," sinta tersenyum dengan sopan dan keluar dari warung sederhana itu, pikirannya macam-macam. Siapa gerangan yang mencarinya atau mungkin firman? sinta ingat ketika laki-laki itu tidak sengaja bertemu dengannya ditoko mainan sebelah warung sederhana itu berada, mulai sekarang sinta akan berbelanja atau membeli sesuatu ditempat yang lebih jauh dari kontrakannya. Agar orang-orang tidak mudah mengenali wajahnya.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih