Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C016: Penyanyi Misterius
...Selamat Baca...
Di satu kesempatan, saat syuting istirahat, Alexander memanggil sang sutradara dan kepala kru ke ruang ganti pribadi Liana.
Wajahnya yang biasanya lembut berubah sedikit serius dan tegas, memancarkan aura wibawa seorang pemimpin konglomerat.
Ia menyerahkan amplop tebal berisi imbalan tambahan yang nilainya sangat besar—sebuah bentuk "uang tutup mulut" yang elegan namun efektif.
"Kerjakan yang terbaik untuk Nona Liana. Dukung dia sepenuh hati," ucap Alexander dengan suara rendah namun berwibawa.
"Namun ingat satu hal... segala hal yang terjadi di sini, hubungan saya dengan dia, serta identitas asli dia,"
"Harus disimpan rapat-rapat dan tidak boleh bocor sedikit pun ke media, ke publik, apalagi ke anggota keluarga saya yang lain. Kalian mengerti?"
Semua kru mengangguk mantap, merasa sangat dihargai sekaligus terhormat bisa bekerja di bawah naungan perlindungan Tuan Sterling.
Mereka sadar, rahasia ini adalah harga mati. Hari-hari berlalu, dan proses syuting pun selesai dengan hasil yang jauh melampaui ekspektasi.
Sang sutradara mengakui bahwa ia jarang sekali bertemu artis yang berbakat, sopan, rendah hati, dan sangat menghargai kerja orang lain seperti Liana.
Saat proses penyuntingan, sutradara membuat potongan kasarnya, namun Liana lah yang duduk berjam-jam di depan layar, memperhalus setiap detik.
Ia memilih pencahayaan yang tepat, memastikan setiap gerakan selaras dengan irama lagunya. Ia terlibat penuh, membuktikan bahwa ini adalah karyanya seutuhnya.
Karena sangat terkesan dengan kepribadian Liana, banyak anggota kru yang kontrak kerjanya di perusahaan lama sudah hampir habis, berbondong-bondong mendatangi manajemen perantara.
Mereka menyatakan keinginan untuk bergabung menjadi tim pribadi milik Nona Liana. Bagi mereka, bekerja dengan wanita baik hati yang didukung kekuatan besar seperti keluarga Sterling adalah kesempatan emas.
Keinginan ini diterima dengan senang hati oleh Alexander dan Liana.
Akhirnya, setelah melalui proses panjang, penantian, dan kerja keras seminggu penuh... hasil akhirnya sudah ada di hadapan mata.
Sebuah video musik yang sangat indah, bermakna, dan berkualitas setara artis papan atas.
Liana menarik napas panjang, lalu mengunggah karya itu ke akun Neotube-nya.
Ia mengetikkan judul lagu yang paling tepat dengan perasaannya saat ini: "Nyanyian Sang Putri: Kembali Bersinar".
Di baris paling bawah, tertulis jelas nama yang kini akan dikenal dunia:
by Putri Bangsawan Virlan
Liana menekan tombol unggah. Detik itu juga, langkah pertamanya resmi dimulai. Sang Putri telah membuka suaranya, dan dunia pun perlahan mulai mendengar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Layar hitam perlahan terbuka, menampilkan pemandangan kabut pagi di kawasan pegunungan Virlan yang asri.
Kamera bergerak lambat, mengikuti sosok seorang wanita yang berjalan sendirian di tepi danau tenang.
Wanita itu mengenakan gaun putih panjang yang sederhana namun elegan, kainnya berkibar tertiup angin sejuk.
Yang paling mencuri perhatian adalah wajah wanita itu yang tertutup sepenuhnya oleh sebuah topeng tradisional berbentuk rubah (Kitsune).
Topeng itu berwarna putih pucat dengan lukisan aksen merah dan emas yang halus, memberikan kesan mistis, anggun, namun juga menyedihkan.
Topeng itu menyembunyikan ekspresi wajahnya, namun bahasa tubuhnya bercerita banyak.
Awalnya, langkah kakinya berat, seolah menahan beban tak terlihat. Ia menunduk, tangan terkepal di sisi tubuh.
Musik piano mulai mengalun pelan, diikuti oleh suara biola yang melankolis. Lalu, suara Liana masuk. Bening, jernih, namun bergetar karena emosi.
"Di balik tirai yang tertutup rapat, aku menyimpan nyanyianku..."
Adegan berganti. Wanita bertopeng rubah itu kini berada di sebuah ruangan gelap, hanya disinari oleh satu berkas cahaya matahari yang menembus celah jendela.
Ia duduk di depan piano grand, jari-jarinya menari di atas tuts hitam putih. Gerakannya lincah, penuh gairah yang selama ini tertahan.
Lirik berlanjut:
"Menunggu waktu yang lama, hingga belenggu ini terlepas..."
Kamera melakukan close-up pada topeng rubah itu. Di balik lubang mata topeng, penonton bisa melihat kilauan mata wanita itu yang berkaca-kaca, namun penuh tekad.
Air mata tunggal menetes dari balik topeng, jatuh membasahi tuts piano. Itu adalah simbol pelepasan rasa sakit masa lalu.
Di bagian chorus, tempo musik meningkat menjadi lebih megah dan orkestral. Adegan berubah menjadi lebih dinamis.
Wanita itu berlari di padang rumput luas, melepaskan diri dari keterkurungan. Gaun putihnya berkibar liar, kontras dengan langit biru cerah. Ia tampak bebas. Ia tampak hidup.
"Namun kini cahaya datang menjemput, mengajakku kembali bersinar..."
Di puncak lagu, muncul sosok pria. Pria itu juga mengenakan topeng, namun bentuknya berbeda—topeng setengah wajah berwarna hitam elegan dengan aksen perak,
Memberikan kesan maskulin, misterius, dan protektif. Pria itu berdiri di kejauhan, menatap wanita bertopeng rubah dengan tatapan penuh kekaguman dan cinta.
Video berakhir dengan adegan wanita bertopeng rubah itu berdiri di tepi tebing, menghadap matahari terbit. Ia mengangkat tangannya, seolah menyambut cahaya baru.
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar pelan di belakangnya. Pria bertopeng hitam itu muncul dari balik batu besar.
Ia tidak berkata apa-apa. Dengan gerakan lembut namun tegas, ia melingkarkan lengannya dari belakang, memeluk pinggang wanita bertopeng rubah itu.
Wanita itu menoleh sedikit, sandaran kepalanya bersandar pada dada bidang pria itu. Keduanya diam, menikmati hembusan angin pagi dan cahaya emas matahari.
Tidak ada kata-kata, hanya kehadiran. Pelukan itu bukan posesif, melainkan protektif. Sebuah janji diam-diam: "Aku di sini. Aku menjagamu."
Kamera perlahan zoom out, menampilkan siluet dua sosok bertopeng yang saling bersandar di tengah keindahan alam yang megah. Layar menggelap.
Teks muncul:
Putri Bangsawan Virlan.
Sang Penyanyi Misterius.
Vocal: Putri Bangsawan Virlan
Lirik: Putri Bangsawan Virlan
Mix/Instrumental: Putri Bangsawan virlan
MV: Allen Black
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali ke studio musik pribadi. Liana dan Alexander duduk berdampingan di sofa kulit empuk, mata mereka tertuju pada layar monitor besar.
Hening. Hanya terdengar dengungan halus dari komputer.
Menit pertama: 50 views.
Menit kelima: 200 views.
Menit kesepuluh: 1.500 views.
Liana menggigit bibir bawahnya, tangannya saling meremas di pangkuan. "Sepertinya... sepi, Alex."
Alexander tersenyum tenang, tangannya meraih tangan Liana yang dingin. "Bersabarlah, Li. Kualitas tidak pernah butuh waktu lama untuk dikenali. Biarkan algoritma bekerja."
Benar saja, di menit ke-30, notifikasi komentar mulai muncul seperti hujan.
Komentar dari User 'MusicLover99': "Gila... suara siapa ini? Aku merinding mendengar intro pianonya. Emosinya dapet banget!"
Komentar dari User 'VirlanPride': "Wait, lokasi syutingnya di Danau Mirror Virlan kan? Produksinya mahal banget! Ini artis baru atau siapa? Namanya 'Putri Bangsawan'? Sok misterius amat sih, tapi suka."
Komentar dari User 'HeartBrokenSoul': "Dulu aku jatuh, tenggelam dalam sepi yang kelam..." Lirik ini ngena banget di hatiku yang baru di-PHK. Makasih, Putri. Aku jadi punya semangat lagi.
Liana membaca komentar itu, matanya melebar. "Mereka... mereka memahami liriknya, Alex."
Alexander mengusap punggung Liana. "Karena itu nyata. Karena itu berasal dari hatimu."
Satu jam berlalu. Views melonjak drastis menjadi 50.000. Lagu ini mulai muncul di halaman Trending Music Neotube.
Dua jam kemudian, hashtag #NyanyianSangPutri dan #SiapaPutriBangsawan masuk ke jajaran Trending Topic nomor 3 di seluruh Auronia.
Namun, kejutan terbesar datang saat Alexander membuka aplikasi "Auronia Music Chart" (AMC)—platform pemeringkatan musik resmi yang dikelola langsung oleh Kementerian Kebudayaan dan Kerajan Hiburan Auronia.
Aplikasi ini dianggap sebagai standar tertinggi legitimasi seorang artis. Masuk ke AMC berarti karya tersebut telah lolos verifikasi kualitas, etika, dan hak cipta yang ketat.
"Li, lihat ini," ucap Alexander, suaranya datar namun matanya berbinar bangga.
Di layar tablet, pada kolom "New Entry - Top 100 Singles", tepat di posisi Nomor 42, terpampang judul:
"Nyanyian Sang Putri: Kembali Bersinar"
Artist: Putri Bangsawan Virlan
Liana terbelalak. "Nomor 42? Di minggu pertama rilis? Dan itu tangga lagu resmi pemerintah?"
Alexander mengangguk. "Bukan sekadar viral di media sosial biasa, Li. Kamu sudah diakui secara nasional."
"Ini berarti lagumu diputar di radio-radio kerajaan, di pusat perbelanjaan elit, bahkan di acara-acara kenegaraan. Namamu sekarang tercatat dalam arsip sejarah musik Auronia."
Liana menutup mulutnya, air mata bahagia kembali menetes. Ini bukan sekadar popularitas sesaat. Ini adalah legitimasi.
Dia bukan lagi "bekas istri Sterling yang gagal", dia adalah Artis Terdaftar Peringkat 42 Nasional.
Sebuah pencapaian yang mustahil dibayangkan lima tahun lalu ketika dia dikurung di kamar mandi mansion Sterling.
***
Di dalam studio, suasana berubah dari tegang menjadi euforia.
"Liana! Lihat ini!" seru Alexander sambil menunjuk layar.
"Nomor 1 di kategori New Artist Debut. Dalam dua jam!"
Liana menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca. Rasa lega, bahagia, dan bangga bercampur menjadi satu ledakan emosi yang tak terbendung.
Selama lima tahun, dia dianggap tidak berguna. Hari ini, dia diakui oleh puluhan ribu orang asing.
"Alex... aku... aku berhasil," bisik Liana, suaranya bergetar.
Tanpa berpikir panjang, didorong oleh luapan kebahagiaan yang murni, Liana berbalik dan mengecup pipi Alexander dengan cepat. Cup!
Alexander terdiam. Matanya membelalak, tubuhnya kaku sejenak. Pipi yang dicium Liana terasa hangat, meninggalkan sensasi listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dia linglung, wajahnya memerah tipis, sebelum akhirnya senyum lebar yang tak bisa ditahan merekah di bibirnya. Senyum kemenangan. Senyum cinta.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Alexander menarik Liana ke dalam pelukan erat.
Dia membenamkan wajahnya di leher Liana, menghirup aroma sampo wanitanya yang familiar.
"Kau bukan sekadar berhasil, Liana," bisik Alexander di telinga Liana, suaranya parau karena haru.
"Kau luar biasa. Kau adalah permata yang akhirnya ditemukan dunia. Dan aku... aku beruntung bisa menjadi saksi kebangkitanmu."
Liana membalas pelukan itu, menangis bahagia di dada bidang pria itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa benar-benar dilihat.
Bukan sebagai objek, bukan sebagai istri yang gagal, tapi sebagai Liana—seorang seniman, seorang wanita berharga.
...****************...
Di sisi lain kota, di ruang kerja pribadi Alistair Sterling, asisten pribadinya meletakkan tablet di meja.
"Tuan Alistair, ada laporan tren hiburan minggu ini. Ada pendatang baru bernama 'Putri Bangsawan Virlan' yang langsung masuk Top 50 AMC."
"Lagunya sangat populer di kalangan eksekutif muda."
Alistair yang sedang pusing dengan penurunan saham perusahaannya hanya melirik sekilas.
Wajah penyanyi di thumbnail video tertutup topeng rubah. Posturnya tampak familiar, tapi Alistair terlalu lelah dan arogan untuk peduli.
"Hmph. Artis sok misteri. Biasanya cepat tenggelam. Abaikan saja. Fokus pada merger dengan perusahaan tambang," geram Alistair, mengusir pikiran anehnya.
Dia tidak tahu, bahwa "artis sok misteri" itu adalah wanita yang baru saja dia ceraikan dengan hina.
Dan wanita itu kini sedang duduk berhadapan dengan pria yang paling dia takuti: Alexander Sterling.
...****************...
Malam itu, mereka memutuskan untuk merayakan keberhasilan kecil ini dengan cara yang sederhana namun istimewa.
Alexander membawa Liana ke sebuah restoran Pran eksklusif di pusat kota, namun mereka masuk melalui pintu belakang VIP untuk menjaga privasi.
Restoran itu sepi, hanya ada beberapa meja yang terisi. Alexander telah memesan meja di sudut terpencil, diterangi oleh lilin-lilin kecil yang menciptakan suasana romantis dan intim.
Mereka duduk berhadapan, memesan hidangan favorit Liana: Steak Salmon with Asparagus dan segelas Sparkling Grape Juice.
Suasana di meja mereka hangat dan cair. Tidak ada lagi ketegangan bisnis atau strategi. Hanya ada dua manusia yang saling mendukung.
"Jadi, Tuan Sutradara bilang apa tentang topeng rubah itu?" tanya Alexander sambil memotong steak-nya dengan elegan.
Liana tertawa renyah, matanya berbinar. "Dia bilang itu 'genius'. Katanya, topeng itu membuat orang fokus pada emosi tubuh dan suara, bukan pada wajah.
Dan karena topeng rubah identik dengan kecerdikan dan transformasi dalam mitologi Virlan, itu cocok dengan tema 'bangkit'."
Alexander mengangguk puas. "Sempurna. Dan pria bertopeng hitam itu... apakah penonton menyukainya?"
Liana menatap Alexander lekat-lekat, senyum jahil muncul di bibirnya. "Mereka bertanya-tanya siapa dia. Banyak yang bilang chemistry kita 'kuat banget'."
"Ada yang bahkan membuat fanart kita berdua dengan topeng itu di forum diskusi."
Alexander terkekeh, mengambil tangan Liana di atas meja dan mengecup punggung tangannya. "Biarkan mereka bertanya-tanya. Misteri adalah bumbu terbaik untuk ketenaran. Lagipula..."
Alexander mencondongkan tubuhnya, matanya terkunci pada mata Liana. "...hanya aku yang tahu siapa wanita di balik topeng rubah itu."
"Dan hanya aku yang berhak melihat wajah aslimu tanpa topeng, saat kau bernyanyi untukku seorang diri."
Liana merasa pipinya memanas, namun hatinya hangat. "Dan aku hanya ingin bernyanyi untukmu, Alex. Sisanya, biar dunia yang menilai."
Mereka menghabiskan malam itu dengan tawa, obrolan ringan tentang rencana konten berikutnya, dan janji-janji kecil untuk masa depan.
Di luar sana, nama "Putri Bangsawan Virlan" terus bergema, semakin keras, semakin luas. Namun di dalam restoran privat itu, yang ada hanyalah kedamaian dua jiwa yang akhirnya menemukan tempat pulang masing-masing.
Langkah pertama telah diambil. Dan ini baru permulaan dari kisah panjang kebangkitan Sang Putri.