NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RITUAL

Si orang tua yang di sebut juga orang pintar atau dukun hebat, oleh para warga di sana. Dengan congkah melangkah maju ke depan meja sesaji di ikuti kedua asistennya. Matanya menatap ke sekeliling orang yang menatap dirinya dengan penuh harapan. Senyum sombong pun iya lontarkan kepada semua orang di sana.

"Jangan khawatir! Saya akan mengatasi setan-setan yang membuat kalian ketakutan setiap hari. Dan saya pastikan tidak akan lagi korban yang akan merenggut warga desa ini. Karena saya adalah orang yang di takdirkan menjadi penyelamat kalian, juga penyelamat semua yang memberikan saya kepercayaan dan mahar sesuai yang saya pinta. Sekarang akan saya lenyapkan pengganggu itu." Seru si dukun dengan membusungkan dada dan menepuknya. Sorot matanya terlihat sinis kala angin spontan berhembus tanpa tau dari mana arahnya. Bibirnya pun menyunggingkan senyuman miring, marasa ter tantang.

Sepasang mata terlihat bibirnya menyunggingkan senyuman aneh, sambil terus memperhatikan gerak-gerik sang dukun sombong itu.

"Iya Embah. Lenyapkan setan yang telah meresahkan kami tersebut! Kami sudah sangat resah!" Ujar Sulis, dengan penuh keyakinan.

"betul, Embah! Makhluk sialan itu, harus segera di binasakan! Agar tidak ada lagi korban. Makhluk terkutuk! Sudah mati pun masih mengganggu kami." Teriak warga yang datang berbondong-bondong menimpali seruan Sulis yang terdengar jelas di telinga mereka. Mereka sengaja datang ingin menyaksikan ritual pengusiran setan tersebut. Semua bersorak menyemangati sang dukun. Berharap keadaan akan kembali tentram seperti sebelumnya.

Sosok baju hitam terus memantau dengan tatapannya yang tajam. Bak Elang ganas.

Si dukun tersenyum bangga. "Baiklah! Hanya setan tak berguna! Bagi saya sangat mudah untuk melenyapkannya. Saya Kasim, akan saya tunjukan kepada kalian, betapa hebatnya saya." Dukun itu kembali menepuk dadanya berbangga diri.

Lalu, si dukun itu menoleh kepada Pak Anwar. "Ayam cemaninya di sembelih dulu, lalu berikan darahnya kepada saya." Titah si dukun tersebut. Lalu kembali menatap kembang 7 rupa, dan sesajen lainnya.

"Baik Embah." Pak Anwar segera mendekati ayam itu.

"Beni! Ambilkan saya sajam." Seru Pak Anwar.

Beni pun segera patuh mengambilkan sajam yang di minta Kakeknya.

Rohmat hanya melirik anaknya, mengisyaratkan agar jangan mau kalau di ajak ritual tersebut.

Beni mengangguk, lalu segera memberikan sajam tersebut.

Pak Anwar pun mulai menyembelih ayam hitam tersebut, lalu memberikan apa yang di mau oleh si dukun.

Langit pun tiba-tiba gelap, dengan seiring si dukun mulutnya berkomat-kamit membaca mantra. Dia menengadahkan tangannya tinggi ke atas. Sambil terus mengucapkan mantra. Matanya membola, wajahnya tiba-tiba terlihat tegang, urat lehernya terlihat jelas, dengan keringat dingin yang membasahi seluruh wajahnya.

Pak Anwar, Sulis, dan Saedah, begitu antusias, sambil ikut melapalkan mantra yang telah di ajarkan di dukun sebelumnya, mereka begitu khusuk, supaya keberhasilan si dukun itu menjadi nyata. Para warga pun nampak begitu focus dengan ritual Kasim. Mereka yakin si dukun yang sudah sangat terkenal kehebatannya di dunia gaib itu, akan sangat mudah mengalahkan setan yang selama ini membuat hidup mereka penuh ketakutan.

"Semoga setan si Yusuf sama si Seruni, kali ini musnah."

"Jangan khawatir mbok, kali ini pasti mati! Embah Kasim itu sangat hebat. Saya mendengar sendiri kehebatannya yang selalu di puji-puji oleh warga desa lain." Timpal Supri dengan nada yang di kecilkan.

"Ussstt! Diam! Lihat, mbak Kasim terlihat wajahnya tegang. Sepertinya setan itu sangat kuat." Ketiga warga tersebut mendadak terdiam, dengan urat leher menegang juga. Ketiganya saling berpegangan, nampak raut ketakutan.

Wusshhh...! Wusshhh....!

Angin kencang berhembus, yang terasa dingin menusuk, sukses membuat bulu kuduk mereka meremang.

Tiba-tiba, angin yang awalnya hanya berhembus, kini berubah menjadi angin beliung, yang sangat dasyat. Barang-barang sesaji, dan juga benda-benda yang ada di sana ikut berterbangan.

PRAANG!

BRUUGHΗ!

PRAANG...PRANG...!

Mendadak suasana menjadi kacau. Para warga berlarian mencari perlindungan. Pak Anwar beserta keluarga segera mask ke dalam rumah. "Berlindung...!

Cepat semua berlindung!" Teriak mereka semua.

"Aaakkhhh!!!" Sebagian mencari tiang atau pun benda agar mereka tak ikut terbawa angin tersebut.

"Pak Anwar! Buka pintunya, Pak. Ijinkan kami ikut masuk." Teriak beberapa warga, yang tidak tau lagi kemana harus berlindung. Sedangkan barang-barang semakin tak karuan terlempar kesana-kemari, seperti ada orang yang mengamuk dan melemparkan semuanya itu.

"Dasar! Setan sialan...!" Si dukun pun kembali

membaca mantra nya. Kali ini dia mencurahkan seluruh kekuatannya. Namun, lagi-lagi ia terpental. Hingga akhirnya.

"ΑΚΚΚΗΗΗ!!!"

Dari mulutnya keluar cairan merah, matanya terlihat seperti hendak keluar berwarna merah. Kakinya tiba-tiba menekuk lalu terdengar, 'KREEK.' Seperti tulang yang patah. Lehernya berputar 180°. Membuat yang menyaksikan langsung menutup mata mereka ngeri.

Si dukun itu akhirnya terkapar di tanah, di sertai dua asistennya yang ikutan tak bernyawa juga.

Dan seketika, keadaan kembali tenang.

Sulis, dan Pak Anwar, membola. Tubuhnya bergetar.

"Pak..., i-itu, Embah Kasim, meninggal." Sulis terpaku tak berani mendekat. Pak Anwar dengan tertatih, mencoba mengecek keadaan si dukun.

"Innalilahi wainna ilaihi rozi'un, dia sudah tidak ada."

Pak Anwar lemas. Dia pun menunduk lalu menetaskan air matanya.

Sulis mendekat. "P-pak!" Pak Anwar menggeleng.

Sulis makin di selimuti rasa ketakutan.

"Tidak! Ini pasti karena si dukun ini bukan dukun asli. Aku yakin, dukun ini cuma dukun abal-abal. Kita ini tertipu, Pak. Sudah! Kita tidak perlu menyesali, siapa suruh pura-pura jadi dukun sakti. Nyesel aku bayar dia mahal, kalau begini akhirnya." Sulis mencoba menutupi kekhawatirannya.

"Ini semua gara-gara kamu, Lis! Kenapa kamu harus berbohong!" Ucap Pak Anwar seketika. Membuat sulis menahan napas sejenak.

Bu Saedah yang paham, segera berlari, lalu menarik suaminya masuk kedalam. "Pak, ayo masuk. Biar Rohmat dan Bani, yang mengurus mayat mereka. Ayo Sulis! Kamu juga ikut masuk." Bu Saedah menarik lengan keduanya. Walau keduanya masih ingin mencurahkan unek-unek mereka, namun tidak bisa menolak ajakan Bu Saedah yang sudah berbisik sebelumnya.

"Malu. Banyak warga yang melihat. Ayo bicarakan di dalam." Ucap Saedah dalam bisikannya.

Para warga menatap ngeri akan kematian sang dukun. Wajah mereka terlihat penuh dengan ketakutan.

"Sudah! Kalian tenangkan diri kalian, dan pulanglah. Hal semacam ini tidak di perlukan untuk kita. Kalian hanya perlu mempertebal iman kalian, dan jalankan sholat lima waktu kalian, dengan taat." Pak Imam yang baru saja sampai merasa miris dengan apa yang dia lihatnya saat ini.

"Astagfirullahhalazim." Ucapnya tak henti-henti.

"Pak Imam." Beni menghampiri.

"Maaf, baru sampai. Jalanan licin sekali, hingga membuat saya terlambat, Ben."

"Ini semua salah Ibu saya, Pak Imam." Beni menarik napas dalam, lalu air matanya mengembun, dan segera ia mengusapnya.

Pak Imam, menepuk bahu, Beni. "Sudahlah, tidak ada guna meratapi. Ayo kita bereskan dulu kekacauan ini." Semua pun bergotong royong membersihkan pelataran yang di penuhi sampah daun, dan juga sesaji yang berserakan di tanah.

Sosok berbaju hitam menyunggingkan senyum sinis, lalu berbalik pergi. Kalian pikir, semudah itu? Jangan harap kalian selamat. Nikmatilah rasa ketakutan itu, sebelum kalian mendapat gilirannya.

"Zram! Kamu di sini? Tadi aku kerumahmu. Kirain kamu ke desa sebelah lagi."

"Eh, Sobirin. Iya, aku tadi dari sana. Trus pulangnya lihat ada ritual, terus aku mampir." Azram mengulas senyuman.

"Oh. Iya, itu si dukun juga ikutan jadi korban. Padahal, kata orang-orang, dia itu sakti mantra guna lo, Zram. Entah, desa kita ini seperti apa jaman itu, hingga sampai di terror sedemikian rupa oleh para hantu." Sobirin yang kala kejadian itu masih balita, hanya bisa menebak-nebak, kejadian dulu.

Azram tersenyum lagi. "Urusan orang tua. Kalau mereka benar, tidak mungkin terjadi sampai seperti ini." Timpal Azram lalu berjalan mendahului, Sobirin.

Sobirin terpaku sejenak mendengar ucapan Azram.

"Eh, Zram! Tunggu!"

Sobirin mengejar. "Maksud kamu tadi apa, Zram?"

Tanya Sobirin setelah berjalan berjajar dengan Azram.

"Itu hanya menurutku. Sudahlah... kita hanya anak kemarin sore. Ayo pulang." Azram terus melangkah tidak memperdulikan Sobirin yang masih di penuhi dengan rasa penasarannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!