Bagaimana rasanya jika kau menyukai sahabatmu sendiri, namun saat sahabatmu tahu, dia malah pergi menjauh? Apa yang akan kau lakukan?
Itu yang terjadi pada Veli. Gadis remaja yang baru mengenal cinta dan menyukai sahabatnya sendiri, yaitu Fikri.
Mereka bersahabat sejak kecil sampai mereka beranjak dewasa. Sebagai gadis normal lainnya, Veli mulai mengenal kata cinta dan orang yang pertama kali dia sukai adalah Fikri.
Disaat yang sama, Fikri juga mengenal jatuh cinta. Tapi orang yang dia cintai bukanlah Veli, melainkan Mia.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta segitiga antara ketiga remaja tersebut?
Saksikan ceritanya di sini..
Menghilang.
❗Akan segera dirilis, ayo buruan BACA sebelum diHAPUS❗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Hari hari telah berlalu, bulan demi bulan sudah di jalani Veli. Kini ia sudah kelas 2 SMA, terasa sangat cepat memang tapi ia menikmatinya, masih dengan rasa yang sama.
"Vel, kamu kemoterapi di singapure ya," nasihat Anggi yang sedang mengaduk segelas susu.
"Tapi..., aku masih mau di sini, temen temenku, sekolahku, banyak Ma," ujar Veli sambil memakan sepotong roti.
"Gini deh, gimana kamu ke singapurnya pas setelah semester satu? Kan masih banyak waktukan di sini?" Anggi duduk di sampingnya.
"Tapii," Veli menunduk. "Iya deh Ma, seenggaknya aku bisa puas puasin di sini dulu." ia tersenyum.
"Nak, kamu anak kebanggaan Mama, kamu tuh anak Mama yang kuat. Coba lihat? Kamu baik-baik aja kan? Kamu masih bisa sembuh Nak, semangat ya!" Anggi memeluk anak tercintanya.
"Iya Ma, makasih." Veli mencium pipi ibunya.
Cup~
...'''...
"Woy woy tungguin!" sejumlah siswa saling mengejar dan berlari menuju sekolah kesayangan ini. Di kota ini cuaca terasa cerah namun sejuk. Veli mengambil napas panjang, ingin selalu menghirup udara ini, di kota ini.
Veli berjalan melalui koridor koridor yang seperti labirin yang belok belok. Senang rasanya di sekolah ini, banyak cerita yang bisa di ceritakan. Mungkin jika di tulis bisa berbuku-buku. Ia saling bersahutan dengan siswa lain yang lewat, mulai sekarang ia ingin benar-benar membuat kenangan hanya dengan beberapa bulan saja. "Gue mau bikin buku berisi diary tentang semua, dari awal sampe akhir." tegasnya. Veli sangat yakin buku yang akan di buatnya pasti sangat bagus.
"Veli!!" panggil seseorang.
Veli menoleh, "Eh Emma, ngapain ke kelas ipa?"
"Mau ngajak lo ngobrol gue mau curhat," ujar Emma.
Veli menghela napas, "Huh! Gue taro tas dulu ya."
Emma mengangguk cepat. "Oke, gue tunggu di kantin ya, di tempat biasa."
"Iya,"
Veli menaruh tas di mejanya dan bergegas keluar. Saat melalui ambang pintu ia menabrak seseorang.
Brrakk!
Fikri!?
"Eeh maaf," ujar gadis itu seraya tersenyum. Sedangkan Fikri hanya mengangguk, tersenyum lalu pergi. "Tunggu!" tapi apa? Cowok itu malah berlari dan berteriak."Gue sibuk!". Veli hanya terdiam, menyesali apa yang ia katakan, tapi ia harus mengatakannya. Sifat Fikri berubah sejak dirinya menyatakan kalau ia suka dengan Fikri.
Flashback on
Kedua sahabat itu seperti biasanya selalu bercanda gurau sampai tertawa terbahak bahak. Sangat menyenangkan walau tadinya Veli habis pingsan dan mimisan. Lagi. Tawa mereka mulai mereda. Tapi Fikri masih menyimpulkan senyumnya. Veli melihat segala detail ciptaan tuhan ini. Sangat indah, tapi sukar untuk di miliki. Kali ini dia harus jujur, sejujur jujurnya.
Veli tetap menatapnya, penuh tatapan harap, mata yang berlinang terharu membayangkan andai andai andai.
"Fik,"
Fikri berhenti tertawa, "Hm?" mata keduanya saling berhadapan.
"Gue.. Jadi.."
"Apa?"
"Gue minta maaf, gue pengen bilang ini sejak lama. Intinya lo baik banget, lo segalanya, lo satu satunya. Gue-" Veli membalikan badannya, menutupi wajahnya dengan jaket tebal yang di pakainya.
Rasa dingin menusuknya, menyadarkan bahwa ciptaan tuhan ini sudah di miliki. "Hiks!" ia terisak.
Fikri masih bingung.
"Hiks!" ia mengambil napas panjang. "G gue sayang sama lo Fik! G-gue suka sama lo! Gue c-" Veli tak tahan. Ia berteriak.
Fikri terdiam. Tetap terdiam.
"Gue cinta sama lo Fik, bukan sebagai sahabat," ucapnya lemah. Tangannya mendingin, ia menoleh dan menatap Fikri yang terdiam.
"Fik lo denger kan?" tanya Veli yang wajahnya basah dengan air mata.
Fikri menatap Veli bingung, dan canggung. "G-gue..-"
"Gue tau lo gak bakal terima gue lebih dari sahabat, gue tau. Tapi gue cuma pengen lo tau selama ini, gue sayang sama lo. Perlakuan lo, sikap lo, sagalanya tentang lo, buat gue luluh Fik. Makasih ya," Veli tersenyum miris, air matanya berlinang, ia menunduk, menumpahkan segala cairan bening itu.
"Vel, gue juga sayang sama lo," ucap cowok itu. Veli terpengadah.
"Tapi sebagai sahabat," lanjutnya di sertai nada rendah, sangat menenangkan tapi perkataan itu.
Veli memeluknya dengan cepat, terasa sangat erat. Hangat, nyaman, terasa menjaga. "Gue sayang sama lo Fik! Hiks," bisiknya.
Setelah itu, mereka pulang berdua. Rasa dingin yang menusuk, membuat mereka berdua jalan dengan berpegangan tangan tapi terasa sangat canggung. Inilah yang mungkin di rasakan Mia setiap hari, ia sangat beruntung.
'Pelakuan lo, sikap lo, segalanya tentang lo, buat gue luluh Fik'
Fikri dengan cepat melepaskan genggamannya. Veli tersentak dan tersadar lalu memeluk dirinya sendiri untuk melindungi dari dinginnya malam ini.
Flashback off
"Eh! Jangan ngalangin jalan dong," suara temannya membuyarkan waktu itu.
"Eh maaf." Veli bergegas pergi ke kantin, ia sudah di tunggu Emma di sana. Mungkin sahabatnya itu sangat kesal sudah menunggu lama.
...'''...
Veli memberhentikan langkahnya di tempat biasa mereka bersama, Emma yang sedang makan nasi uduk mengadahkan kepalanya, "Lama lo!". Veli tidak menghiraukannya dan duduk berhadapan.
"Ah lebay, gak lama juga." ia menapat malas sekeliling. "Lo mau cerita apa?" lanjutnya.
"Biasa si Jen, kesel gue kemaren gue liat dia sama cewek, cuma gak tau siapa gak keliatan siapa ceweknya," ujar Emma dengan nada kesal.
"Yaelah, si Jen gak salah lagi. Kok lo mau sih sama dia? Udah tau ganjen banget." ucapnya asal. Lalu ia menyeruput minuman kawannya itu.
"Lo kalo ngomong sadis deh, ya gak tau lah! Namanya juga gini." Emma membentuk tangannya berbentuk hati.
"Yaudah lo liatin dulu, kalo macem macem lagi baru lo ludahin!" Veli tersenyum nakal.
"Hih parah lo, hahaha~" Emma tertawa, walau ada rasa tidak suka pacarnya di jelekkan tapi ia tetap saja ia tertawa.
Veli juga ikut tertawa dengan kata katanya sendiri. "Hahaha!" lalu mereka terdiam sesaat dan Veli juga memesan makanan.
"Eh btw, gimana Fikri?" tanya Emma tiba-tiba, "sama si Mia itu tuh!" sambil menunjuk paki dagu.
Veli menghela napas. "Gue udah ngungkapin perasaan gue ke dia," ucapnya malas.
Emma tersentak. "Hah!? Gila lo berani banget!"
"Yaelah biasa aja kali," ucap Veli tanpa semangat.
"Terus terus, lo sama dia gimana. Maksudnya dia tanggepannya gimana?" tanya Emma dengan semangat.
Sesaat Veli terdiam sebentar, melihat kesana kemari dan melihat Fikri dengan Mia bersama sambil tertawa di pojok sana. "Ya, gak tau lah." jawabnya sedih. Ia menunduk sebentar lalu mendongak lagi dan tersenyum miris.
"Aah~ Vel, jangan sedih gitu dong, suatu saat nanti pasti dia bakal nyesel. Gue yakin!" Emma memberi semangat, namun tak dapat di pungkiri matanya juga berlinang melihat sahabatnya ini menangis diam.
"D-dia berubah Em." Veli menahan tangisnya masih dengan senyum mirisnya yang sering ia pakai. Emma tidak bisa berkata apa apa, ia juga bingung harus membantu apa.
"Em, setelah semester gue harus ke singapure," ucap Veli tiba tiba. Emma terbelalak kaget.
"Hah!? Ngapain lo ke sana!?"
"Nggak kok gue mau nemenin Mama gue buat kerja gitu," ucapnya bohong, sampai sekarang tidak ada yang tahu tentang keadaannya.
"Ooh jangan lama lama yaa." ucap Emma memasang wajah sedih.
"Gak janji," Veli tersenyum meledek .
"Eh gue pengen nanya deh. Kok lo akhir akhir tahun ini beda sih? Lo gak naik ke puncak lagi, terus lo sering pake kupluk, bahkan kayaknya gue perhatiin gak pernah di buka deh kupluk lo," Emma menatapnya penuh selidik.
"Ah gak pa-pa kok, gue males aja. Kalo kupluk ini ya..sebagai gaya gue aja. Kan rambut gue panjang nih, jadi biar gak terbang terbangan gue pake kupluk ini. Btw ini dari Fikri lo, bagus kan merah marun?" jelas Veli panjang lebar. Ia melirik sekilas ke arah Fikri yang terlihat sedang bercanda dengan Mia.
"Ooh gitu yaa,"
Sedangkan di sisi lain Fikri juga diam diam memperhatikannya, ia merasa kasihan pada Veli apalagi tadi melihat dia menangis. Mungkin seharusnya ia tidak seperti ini. Namun baginya Mia lebih penting walau Veli sahabatnya.
"Iya kan sayang?" ujar Mia.
"Iya dong beb." jawab Fikri tersenyum tapi asal.
.
.
.
.
.
To be continue
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karyax bagus...
walaupun sad ending, bikin nangis bombai tp puas ma endingx...
g nggantung, smua clear...
smangat selalu buat othor...