Tatapannya hangat dan lembut, ku fikir dia mencintaiku, nyatanya tidak, ada wanita lain dihati suamiku, wanita yang merupakan cinta pertamanya, wanita yang dia kagumi sejak remaja yang tidak bisa dia miliki.
Entahlah aku ini dianggap apa, mungkin dijadikan sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya, atau untuk memberitahu wanita itu kalau dia juga bisa menikah dan melanjutkan hidup meskipun bukan dengan wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TITIPAN DARI ASRONI
Karna kondisi Indri sudah membaik membuat Budi kini agak tenang, dia bisa bersantai sejenak sembari menyalakan ponselnya yang sejak satu jam yang lalu dia matikan.
Budi menepuk keningnya saat membaca chat Tari, "Astaga, Tari."
Tanpa berfikir Budi langsung menghubungi Tari, panggilannya diangkat saat detik terakhir.
"Dek, adek dimana sekarang, mas jemput sekarang ya."
"Gak usah, Tari udah balik kok."
"Mas minta maaf ya dek, mas benar-benar lupa, mas ada keperluan mendadak."
"Hmmmm."
"Ya udah, adek hati-hati, nanti mas pulang."
"Hmmm."
Budi memutuskan sambungan.
Fitri berjalan mendekati Budi dan bertanya, "Siapa mas."
"Tari."
"Ohhh."
"Aku lupa menjemputnya, dia sepertinya marah denganku."
Fitri merasa tidak enak, "Maafkan aku ya mas, gara-gara Indri, mas jadi lupa menjemput Tari."
"Tidak perlu merasa bersalah gitu Fit, lagian Tari bisa pulang sendiri, sedangkan kamu dan Indri lebih membutuhkan aku."
"Mas sebaiknya pulang saja gieh."
"Aku mau tetap disini, nemenin kamu Fit, takutnya nanti kamu membutuhkan aku."
"Pulang saja mas, aku gak apa-apa kok, lagian Indri udah tenang kok."
"Baiklah kalau begitu, nanti sore aku datang lagi."
Fitri mengangguk.
Budi memakai jaketnya, "Kalau ada apa-apa hubungin aku."
Sekali lagi Fitri mengangguk.
*******
"Tariiii." panggil Marni dari mobil suaminya saat melihat sahabatnya itu jalan kaki menuju rumahnya.
Tari naik angkot sampai jalan besar saja, selebihnya dia harus jalan kaki menuju rumahnya.
Marni turun dari mobil begitu Fahri menghentikan mobinya didekat Tari.
Tari tersenyum melihat sahabatnya.
"Kenapa jalan kaki Tari, kamu gak dijemput lagi sama mas Budi." wajah Marni terlihat bete, sudah sangat sering Budi membiarkan Tari pulang sendirian.
"Kan kamu tahu mas Budi sibuk." lagi-lagi Tari berbohong, dia tidak mau nama suaminya jelek dimata orang lain.
"Sibuk sibuk terus, semua orang punya kesibukan kali, ya kali jemput istrinya saja gak bisa, aku saja mas Fahri selalu sibuk, tapi selalu punya waktu untuk aku."
Tari tersenyum miris, fikirnya setelah apa yang terjadi semalam antara dirinya dan suaminya, Budi akan berubah dan akan lebih mengutamakan dirinya, bukannya dia manja sieh, tapi ya sebagai seorang wanitakan kadang dia ingin diutamakan.
Tidak ingin membahas tentang kehidupan rumah tangganya, Tari mengalihkan topik, "Kamu kok disini, katanya nganterin Asroni ke bandara."
"Ya udah baliklah Tari, dari bandara aku ingin ke rumah kamu, tapi syukur sieh aku ketemu sama kamu disini."
"Ohh ya, ada apa."
Marni membuka tasnya, dari sana dia mengambil sebuah benda yang terbungkus kertas kado yang kemudian dia serahkan pada Tari.
Tari tidak langsung mengambil benda yang disodorkan oleh Marni, dia menatap Marni dengan raut kebingungan, "Aku gak lagi ulang tahun, kenapa ngasih aku kado."
"Ini titipan Asroni untuk kamu."
"Asroni."
"Iya, dia nitipin ini untuk kamu."
"Ini apa." tanya Tari, tangannya meraih benda tersebut dan memperhatikannya, dia menebak-nebak apa isinya.
Marni mengangkat bahu, "Aku gak tahu."
Saat Tari masih memperhatikan benda ditangannya, Marni kembali berkata, "Kamu mending buka nanti dirumah saja Tar, ayok mending diantar sama mas Fahri."
"Gak usah Mar, aku jalan kaki saja, lagian udah dekat ini kok."
"Ayok aku anterin saja, jangan nolak."
"Hmmmm, baiklah." ucapnya pada akhirnya mengalah.
******
Budi pulang gak lama setelah Tari, dia menemukan Tari tengah memasak didapur.
Tari diam saja meskipun dia tahu Budi berdiri dibelakangnya, dia masih kesal sama Budi karna laki-laki itu ingkar akan janji.
"Dek."
Tari tidak menyahut, tetap fokus dengan mengaduk sup dipanci.
"Mas minta maaf ya, mas benar-benar lupa jemput adek."
"Sibuk lagi mas, mas kalau gak bisa jemput telpon atau chat mas, biar aku gak nungguin mas terus." ucap Tari dengan suara bergetar, sumpah dia capek, Budi seolah-olah selalu menganggapnya tidak ada.
Budi mendekat, dengan pelan meraih bahu Tari dan membalikkannya untuk menghadap ke arahnya, mereka kini beradu tatap satu sama lain, kali ini Tari memberanikan diri menatap mata suaminya itu.
"Iya mas minta maaf dek, mas benar-benar lupa saking banyaknya kerjaan, adek jangan marah ya, kalau marah kayak gini cantiknya hilang lho." Budi menjawil dagu Tari.
Namanya juga wanita ya, gampang banget luluhnya hanya digombalin dengan kata-kata manis begitu, termasuk juga dengan Tari, dia yang tadinya cembrut dan menekuk wajahnya tersenyum, meskipun senyumnya tipis banget sieh, hampir tidak terlihat.
"Apaan sieh mas."
"Senyum donk cantik, gak boleh lho asem begitu wajahnya saat dihadapan suami, dosa lho itu."
"Habisnya mas Budi menyebalkan, suka ingkar janji, Tarikan kesel."
"Kan mas sudah minta maaf, masak gak mau maafin sieh, mau marahan terus sama mas, ntar dilaknat malaikat lho dek."
"Ya ampun mas Budi, bisa gak sieh jangan bawa-bawa malaikat, iya deh iya, Tari maafin mas Budi, asal janji jangan diulangi lagi."
Budi terkekeh, "Nahh gitu donk, mas janji pokoknya gak bakalan ingkar janji."
"Yang bener ya mas."
"Bener donk."
Tari tersenyum lebar, wanita itu benar-benar sangat mempercayai Budi, dia tidak tahu kalau dibalik sikap manis suaminya menyimpan hal yang akan membuatnya hatinya hancur berkeping-keping.
"Harummm banget, adek masak apa, mas jadi lapar."
"Sayur sop dan ayam goreng."
"Wahh, pasti enak banget tuh, kebetulan mas sudah laper banget."
"Mas mending bersih-bersih, ganti pakaian, Tari siapin dulu makanannya."
"Baiklah istriku yang cantik, perintah dilaksanakan." Budi meletakkan tangan dikening, pose hormat, itu membuat Tari tersenyum lebar.
"Mas Budi ada-ada saja."
*******
Sorenya, seperti janjinya, Budi akan pergi ke rumah sakit menemani Fitri untuk menjaga Indri, sebelum pergi, Budi meminta izin pada Tari, tentu saja dia mengarang cerita bohong.
"Dek." panggilnya.
"Iya mas." Tari menoleh.
"Mas ada perlu, gak apa-apakan kalau mas pergi."
"Ohh, ada perlu apa mas."
"Itu, ada rekan kerja mas yang habis operasi, jadi mas berencana untuk menjenguknya dirumah sakit." bohongnya lancar.
"Tari boleh ikut gak mas."
"Jangan dek." Budi buru-buru menolak.
Melihat penolakan suaminya membuat kening Tari mengerut, dia heran kenapa suaminya seperti panik gitu saat dia meminta untuk ikut, menurut Tari, gak salahkan kalau dia juga ingin menjenguk rekan kerja suaminya, Tarikan tidak akan mengganggu.
"Maksud mas dek." tahu Tari curiga, Budi meralat, "Mas tuh perginya dengan rekan-rekan guru yang lain, setelah itu ada kerjaan juga disekolah yang harus kami kerjakan juga."
"Ohh." gumam Tari percaya.
Budi menarik nafas lega, "Ya udah, mas pergi kalau gitu."
"Hati-hati ya mas." pesan Tari seperti biasa meraih tangan Budi dan menciumnya.
Budi mengangguk dan berlalu.
Tari mendesah berat saat melihat tubuh suaminya menghilang dibalik pintu, mereka belum lama-lama amet menikah, tapi sudah sering banget ditinggal-tinggal, Tarikan jadi merasa kesepian.
*******
hati& pikiran mu ke orang Lain...
giliran sudah menikah dengan Fitri
hati mu ke Tari...
penyesalan selalu datang belakangan an
lanjut Thor ceritanya di tunggu updatenya