Tyo Fuller, seorang detektif pembasmi kejahatan, tengah mencari siapa pembunuh orang tuanya. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Raise Lee, vampir wanita yang tengah menghisap darah seorang manusia.
Tak disangka, setelah tak sengaja menyentuh tatto di pundak Tyo, justru membuat Raise Lee kehilangan sebagian kemampuannya untuk menghisap darah manusia.
Mengetahui kelemahan sang Vampir, akhirnya Tyo Fuller mengajukan perjanjian kerja sama memanfaatkan kemampuan indra penciuman dan penglihatan sang vampir untuk membantunya menangkap para penjahat, sedangkan Tyo akan menyiapkan darah sebagai makanan bagi Raise Lee.
"Penciumanmu berguna juga! bantu aku menangkapnya!"
"Itu mudah bagiku! pastikan kudapanku tersedia setelah ini selesai, minimal satu liter darah!" tegas Raise Lee memperjelas syaratnya.
Mampukah kerjasama dua makhluk berbeda itu akan berjalan semestinya?
Bisakah Tyo Fuller menemukan pembunuh orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
“Kamu masih babak belur, kamu yakin baik-baik saja berlarian seperti ini?!” seru petugas Dakka diantara engahan napasnya.
“Tenang saja! Aku tidak akan mati hanya karena hal ini!” balas petugas Tyo lalu berlari mengambil jalan lain setelah memberi isyarat pada rekannya untuk berpencar.
Rimbunnya tanaman-tanaman perdu yang sepertinya butuh dirapikan membuat kedua petugas yang tak menguasai medan sedikit kewalahan untuk mengejar.
Hingga akhirnya petugas Tyo masuk ke sebuah rumah kaca dimana di dalamnya terdapat deretan tanaman anggrek yang begitu mempesona mata dengan berbagai keindahan warna, corak dan bentuk bunganya yang beragam.
“Sialan! Aku sangat yakin salah satunya masuk ke tempat ini!” umpat petugas Tyo waspada, menelisik dalam rumah kaca itu.
Rak-rak berjejer rapih, dengan bunga anggrek yang berbeda di tiap raknya. Petugas Tyo menajamkan penglihatan dan pendengarannya, tak ingin terlalu lama kehilangan jejak.
PRANK!
Hingga akhirnya ia mendengar sebuah pot terjatuh. Kesigapan matanya dan kecepatan respon tubuhnya membuat petugas Tyo berhasil menemukan posisi orang yang bersembunyi dibalik tumpukan karung pupuk itu yang tak sengaja punggungnya menyenggol pot saat hendak bergerak.
Perkelahian tanpa senjata pun tak terelakkan. Sialnya petugas Tyo yang masih terluka harus menghadapi lawan yang tak bisa diremehkan.
“Ahh!” serunya saat pria bertubuh gempal itu dengan gesit berhasil mendaratkan satu tendangan ke punggungnya, membuat petugas Tyo terjungkal.
Susah payah ia bangun lalu melanjutkan pergulatan. “Rasakan ini!” Petugas Tyo melancarkan beberapa jurus tinju dan tendangan, hingga keduanya berguling di tanah saling mengunci. Benar-benar pertarungan yang seimbang.
Di sudut lain perkebunan, petugas Dakka juga tengah beradu kemahiran otot dengan lawannya. Petugas Dakka yang tingginya sepuluh sentimeter lebih tinggi dari petugas Tyo, dan memiliki postur tubuh yang lebih padat, sangat menguntungkannya sehingga membuatnya tak begitu merasa kewalahan dengan pergulatan itu. Meski belum berhasil mendaratkan satupun pukulan, namun ia juga berhasil menghindari semua serangan.
“Jangan membuang-buang waktu dan tenaga mu, aku pastikan jika aku serius menggunakan kemampuanku, kamu akan kalah hanya dengan dua pukulanku, menyerah sajalah dan simpan energimu untuk persidangan nanti!” gertak petugas Dakka.
“Cih! Jangan karena tubuhmu lebih tinggi dariku, kamu akan bisa mengalahkan kemampuan master kungfu ku!” balas si penjahat.
“Hahaha … lucu sekali, biasanya yang terlalu banyak bicara akan kalah duluan, okelah aku terima tantanganmu, kali ini aku tak akan main-main lagi! Hya!”
Di dua sisi kebun yang berbeda, dua petugas berjibaku melawan penjahat dengan kemampuan yang tak bisa dianggap enteng.
.
.
.
Di tempat berbeda, yang sangat jauh dari tempat kedua petugas sedang berkelahi mengerahkan seluruh daya untuk menaklukkan terduga pelaku kejahatan, seorang wanita berdiri terpaku di depan sebuah toko baju, memandang lurus tanpa berkedip pada sebuah patung yang mengenakan busana dress cantik dengan motif bunga lotus kecil-kecil dipadukan dengan atasan berbahan jeans lengan panjang dengan model sederhana.
“Hei! Tatapannya sungguh mengerikan, apa kamu berani mengusirnya? Dia sudah berdiri di sana dari pagi!” ujar seorang pegawai toko dengan panik dan mimik ketakutan.
“Kita tunggu bos datang saja, aku takut … dia seperti orang nggak waras soalnya.”
“Aku juga takut, anehnya dia bisa betah dengan posisi yang sama, padahal sudah berjalan-jam!”
“Iyaloh, padahal dia cantik, coba dia pakai make up sedikit, pasti semakin cantik.”
“Benar, wajahnya terlalu pucat untuk orang cantik seperti dia. Sayangnya dia nggak waras.”
“Huum, mendekat saja ku tak sanggup, sepertinya orang itu depresi karena sesuatu, aku takut dia ngamuk kalau aku suruh minggir.”
Pergunjingan diantara para pegawai toko pakaian itu masih berlangsung, bahkan orang-orang yang datang ke toko pun dibuat tidak nyaman dengan tatapan wanita asing diluar toko itu.
Hingga akhirnya pemilik toko tiba dengan mobil mewahnya. Seorang pria tampan, tinggi nan rupawan bak seorang pangeran keluar dari mobil itu, berjalan tegap dengan senyum ramah menghiasi wajahnya, memasuki toko itu.
“Maaf Pak David, tapi kami tidak berani mengusik perempuan depresi yang sejak pagi berdiri di depan etalase kita,” lapor si ketua pegawai.
David, sang pemuda tampan, pemilik tunggal toko pakaian terbesar di kota itu, menanggapi laporan sang pegawai kepercayaan dengan senyum yang terulas manis, membuat wanita manapun yang mendapatkannya tak akan mudah berpaling dari tatap hangat itu, berbanding terbalik dengan petugas Tyo yang cenderung tegas tanpa ekspresi.
David berjalan mendekati sang wanita asing. Ketampanan yang terpancar dari wajahnya akhirnya mampu membuat si wanita melirik, meski hanya sekejap.
“Selera anda memang luar biasa, Nona. Bunga lotus menggambarkan kesucian, ketenangan dan kedamaian. Ia tetap tumbuh dan mekar dengan indah meski hidup ditempat yang kotor sekalipun. Gaun yang memang hanya kami buat satu itu sepertinya telah menemukan pemiliknya yang akan membuat keduanya semakin memancarkan kecantikan yang luar biasa.”
Begitu indah dan lembut tutur kata yang meluncur manis dari bibir David yang tak bisa disangkal keseksiannya sebagai bibir pria.
Wanita asing itu mengulas senyum tipis lalu berujar. “Hmm, begitukah? Aku mencari tahu bagaimana orang-orang di jaman ini bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi sepertinya aku tidak memiliki apa yang mereka sebut sebagai uang!”
“Karena Nona berhasil membuat gaun itu merasa iri dan juga salah tingkah karena tatapan Nona yang penuh cinta, akan saya bantu untuk mendapatkannya secara khusus untuk Nona ….” Dengan sengaja David menggantung ucapannya.
Dan sepertinya wanita asing itu mengerti dengan maksud David, dan membuatnya bergegas menyahut, “Raise Lee! Nama yang tertulis di tempat tidurku seperti itu.”
“Wah, namamu pun terdengar begitu cantik!” puji David. “Kalau begitu mari kita ambil gaun itu untuk Nona.”
“Silahkan masuk ke ruang ganti itu, Nona!” ucap seorang pegawai kepercayaan David seraya menyerahkan gaun indah itu. Sementara David duduk menunggu di sebuah sofa tak jauh dari ruang ganti.
Raise Lee menurut sesuai dengan apa yang ditunjukkan. Di depan kaca, ia menatap bayangan gaun yang terpantul di kaca itu. Namun secara aneh tiba-tiba ia merasa terhisap oleh sebuah kekuatan besar, tak mampu ia kendalikan, tak mampu ia lawan. Dalam hitungan detik, kekuatan besar itu menyerapnya membuat tubuhnya berteleportasi ke tempat yang berbeda.
.
.
.
Petugas Dakka berhasil menaklukan lawannya, setelah tendangan lutut dan beberapa serangan tinju gesitnya, cukup membuat ia mampu merobohkan lawannya. Tak ingin kehilangan kesempatan, petugas Dakka segera memborgol dan membawanya ke tempat petugas Tyo di sisi lain kebun yang mulai tampak kewalahan melawan si pria bertubuh tambun itu.
Napas tersengal, keringat bercucuran bercampur darah dari luka terdahulu yang kembali merembes keluar karena terkena pukulan berulang, cukup membuktikan bahwa petugas itu telah kelelahan.
“Hyaa!!!” Si pria bertubuh gempal itu dengan lihai memainkan satu kakinya, berhasil membuat petugas Tyo terjungkal ke belakang.
BUGH! SET!
Dengan sisa tenaganya yang juga terlihat mulai lelah, pria itu berusaha menangkap petugas Tyo, ia mencengkeram kerah jaket petugas Tyo, lalu kembali mendaratkan dua kali tamparan keras ke wajah yang telah babak belur itu. Beruntung pukulan ketiganya berhasil dihindari petugas Tyo dengan menutupi wajah dengan kedua lengannya.
Pria tambun itu semakin kalap, ia memimpin pertarungan. Diraihnya kerah belakang petugas Tyo, membuat sang polisi berdiri terhuyung dalam kuncian lawan, lalu dilemparkannya sekuat tenaga hingga membuat sang detektif jatuh tepat mengenai rak bunga dan membuatnya hancur karena tertimpa tubuh sang petugas.
Pria itu kembali menghampiri petugas Tyo yang masih berusaha bangkit dengan sisa tenaganya. Di saat sang petugas berhasil berdiri tak seimbang, si pria telah berdiri tepat dihadapannya, menyeringai merayakan kemenangannya di depan mata.
Pria kidal itu mengunci dan mencengkram pundak kanan petugas Tyo yang masih berdiri terhuyung dan siap melayangkan satu tinju kerasnya pada dagu sang petugas.
BUGH!
Kepalan tangan pria itu tepat menempel di bawah dagu petugas Tyo yang tak sempat menghindar. Namun di detik selanjutnya, dari tatap mata yang kabur oleh tetesan keringat, petugas Tyo menangkap sosok tak asing telah berdiri tepat di belakang si pria tambun itu.
...****************...
To be continued
akhirnya tamat juga.
selamat ya Thor.
maaf baru bisa ngikutin.
beberapa hari pull terus.
tetap semangat, sukses juga di karya-karya berikutnya