Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.
Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berenang Membawa Petaka
Saat bangun di pagi hari, Dari masih tidak menyangka jika sekarang statusnya sudah berubah menjadi istri dari Arga Rakyan Atmaja Wiguna. Tatapannya masih kosong dan kini ia ingat jika ada seseorang yang sedang tidur di sofa kamar hotelnya, sepertinya ini bukan mimpi jika kemarin ia baru saja melangsungkan pernikahan bersama Arga.
Darin bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Arga yang masih tertidur pulsa, dengan selimut yang menutupi semua tubuhnya termasuk kepala. Memang Arga mempunyai kebiasaan sejak lama, jika tidur ia akan menutup semua tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala.
"Apa dia nggak merasa sesak?" Darin bicara sendiri saat melihat Arga tidur seperti itu.
Rasa lapar menghampiri Darin akhirnya ia memutuskan untuk sarapan tanpa Arga. Darin tidak berani membangunkan Arga karena suaminya begitu sangat pulas sekali tertidur. Di restoran hotel terlihat keluarga besar Darin dan Arga sedang makan bersama, sepertinya mereka semakin akrab saja.
"Darin," panggil seseorang saat Darin memasuki restoran hotel untuk mencari tempat.
Dia adalah Alex yang memanggil Darin agar bisa duduk di samping dirinya. Senyum Darin merekah saat Alex memanggil dirinya, lalu gadis itu menyapa semua keluarga Arga.
"Gimana semalam bisa tidur?" tanya Alex Menggoda sambil memberikan segelas susu miliknya kepada Darin.
Pertanyaan Alex membuat Darin mengerutkan kedua matanya menatap Alex. Darin sungguh tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Alex.
"Bisa, kenapa memangnya?" jawab Darin mengambil segelas susu dari tangan Alex.
"Abang gue nggak main kasar sama lo kan?" Alex mulai menggoda Darin dengan tawa kecilnya.
"Maksud lo?" Darin semakin keheranan dengan ucapan Alex.
"Jangan ganggu dia, lebih baik kita sarapan," sela Richi yang duduk di samping Zein menatap lekat ke arah Alex.
Semua orang berada di sana tapi tidak dengan Arga yang masih berada di kamar hotel, apa Arga selalu melewatkan sarapan paginya? Begitulah yang ada di pikiran Darin.
"Arga nggak pernah sarapan, ya?" tanya Darin kepada Bintar saat mereka selesai menikmati sarapan paginya dan memutuskan untuk kembali ke kamar hotel masing-masing.
"Bang Arga udah sarapan duluan. Tadi sehabis mandi dia sarapan sebelum kita datang terus balik lagi ke kamar," jawab Bintar menjelaskan kebiasaan kakak keduanya.
Ucapan Bintar spontan membuat Darin tidak percaya, apa benar jika Arga melakukan itu semua. Apa itu kebiasaannya? Kini Darin sedikit demi sedikit mengetahui kebiasaan suaminya.
"Bang Arga memang kayak gitu. Kalau libur dia selalu bangun pagi dan sarapan setelah itu dia tidur lagi sampai batas waktu yang nggak ditentukan," sambung Herry yang berjalan menghampiri Darin dan Bintar.
Melihat kedatangan Herry membuat Darin sedikit gugup karena ini kali kedua mereka bertemu setelah acara makan bersama kedua keluarga. Senyum manis Darin menyapa Herry yang terlihat sangat ceria dan baik hati. Herry memang lelaki periang dan juga menyenangkan.
"Gue harap lo bisa menerima segala sifat negatif Arga, karena dia anaknya agak aneh," kata Herry mencoba menghibur Darin.
"Bukan aneh tapi juga unik," timpal Richi yang ikut menghampiri Darin dengan dimple smile nya.
Arga, Richi, dan Zein mempunyai senyum yang menarik satu sama lain. Rasanya Darin sudah merasa nyaman dan senang bisa berada di antara mereka. Darin merasa akan banyak yang menjaganya selain Rian.
"Bulan madu mau ke mana?" tanya Herry menganti topik pembicaraan.
"Nggak tahu, belum ada rencana," jawab Darin yang belum memikirkan ke mana mereka akan pergi bulan madu.
"Bukannya kalian mau pergi ke rumah Opung di Puncak?" terang Richi memberitahu jika mereka berdua akan pergi ke Puncak untuk menemui keluarga mamanya Arga di sana.
"Puncak?" Darin balik bertanya dan Richi hanya mengangguk seraya tersenyum manis meyakinkan Darin.
Kabar yang didengar oleh Darin sepertinya sudah lebih dulu didengar oleh Arga, terlihat jelas Arga tidak begitu kaget saat Darin bertanya akan ucapan Richi tadi.
"Iya. Papa menyuruh kita pergi ke Puncak menemui keluarga mama di sana. Sepertinya papa akan menyingkirkan mama dari kami, maka dari itu papa menyuruh kita membawa mama ke sana," terang Arga menduga akan niat papanya yang menyuruh mereka berdua mengajak mamanya juga untuk pergi berlibur ke puncak menemui keluarga mamanya.
Darin tidak bisa berkata apa-apa karena ia tidak begitu tahu permasalahan dalam keluarganya Arga. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Harun yang pasti itu adalah permasalahan antara Arga dan papanya.
"Kenapa keluarga mama nggak boleh datang ke sini?" tanya Darin dengan hati ragu dan mulai penasaran dengan kondisi yang sedang dihadapinya saat ini.
"Kamu jangan terlalu ikut campur masalah keluargaku, sekarang pikirkan bagaimana caranya kita bisa berpisah dalam waktu dekat. Kamu nggak mau tinggal lama-lama denganku kan?"
Deg, mengapa Arga harus membahas tentang masalah hubungan mereka berdua saat ini. Jujur Darin belum sempat memikirkannya.
"Aku belum memikirkannya," jawab Darin dengan nada perlahan terkesan bingung.
"Pikirkanlah. Aku nggak mau buang waktu untuk hidup lebih lama denganmu, aku benci suatu hubungan seperti ini. Dan kamu juga pasti ingin hidup bahagia dengan lelaki yang kamu cintai."
Kata-kata Arga seketika membuat Darin terdiam membisu, kenapa Darin merasa sedih saat Arga menyuruhnya untuk cepat mencari cara agar mereka berdua cepat berpisah. Padahal Darin sudah merasa senang mendapatkan keluarga baru seperti keluarga Arga. Darin sangat senang berada di tengah adik-adiknya Arga, seperti ia berada dalam sebuah keluarga.
Sedari tadi Darin terus melamun di pinggir kolam renang sore itu, entah mengapa kata-kata Arga masih terpikirkan olehnya. Lamunannya buyar saat seorang menyiram dirinya dengan air kolam. Sontak Darin kaget saat merasakan air yang begitu dingin menghampiri wajahnya.
"Ah...!" Darin tersentak kaget lalu memejamkan kedua matanya.
Tidak lama kemudian terdengar suara beberapa orang tertawa bahagia melihat reaksi Darin. Ternyata itu adalah ulah Alex yang hendak berenang dengan adik-adiknya. Alex yang sudah berada di dalam air menyiram Darin yang sedang melamun.
"Jangan melamun, pamali," goda Alex sambil tertawa karena berhasil menjahili Darin.
"Resek!" Darin begitu kesel cemberut menatap Alex yang senang menggodanya.
"Sini masuk," ajak Alex yang berada di dalam kolam renang bersama kedua adiknya Bintar dan Dewa, serta disusul Herry dan Zein yang baru saja lompat masuk ke dalam air.
"Nggak!" jawab Darin ketus membuat yang lain tertawa melihatnya.
"Arga mana, bukannya tadi sama lo?" tanya Darin ketika Richi menghampirinya dan duduk disampingnya.
"Balik ke kamar. Ngantuk kataknya, jangan pernah berharap kalau kamu akan melihat Bang Arga ada di sana bersama mereka." jawab Richi sambil menatap adik-adiknya yang begitu asik main air.
"Kenapa?" tanya Darin keheranan.
"Dia nggak suka berenang. Dia nggak terlalu suka air, makanya kadang dia jarang mandi," terang Richi memberitahu kebiasaan kakak keduanya dengan tawa ringan.
"Hah! Serius?" Darin tidak percaya akan kebiasaan Arga yang satu ini.
"Iya," angguk Richi meyakinkan.
"Tapi kenapa dia selalu wangi dan kelihatan tampan," gumam Darin bicara sendiri dan tidak sengaja terdengar oleh Richi.
Ucapan Darin membuat Richi tertawa ringan, memang benar yang diucapkan oleh Arga jika istrinya itu terlihat menggemaskan dan lucu saat kebingungan.
"Memang benar apa kata Bang Arga, kalau lo itu akan terlihat menggemaskan dan lucu kalau lagi kebingungan." Richi mengulang ucapan Arga membuat Darin terlihat malu dan wajahnya mendadak memerah.
"Hah! Dia bilang gitu?" Darin tidak percaya jika Arga membicarakan dirinya kepada adiknya.
Jadi Arga pernah membicarakan dirinya kepada Richi, entah mengapa membuat Darin senang. Darin pikir jika Arga tidak pernah membicarakan dirinya kepada adiknya. Wajah Darin semakin memerah dibuatnya.
"Dia nggak pernah membicarakan tentang perempuan selama ini, tapi tiba-tiba aja di menceritakan tentang lo. Dan yang bikin gue bingung sampai dia beli kedai kopi punya gue buat lo."
Mengapa pagi ini penuh kejutan bagi Darin, ia begitu terkejut ternyata pemilik kedai kopi tempat bekerjanya dulu adalah Richi.
"Jadi lo yang punya?"
"Iya. Dia tiba-tiba beli padahal dulu selalu menolak mentah-mentah setiap kali gue tawarin. Mungkin karena lo."
Hati Darin rasanya seperti terbang ke langit, di balik sikapnya yang dingin ternyata Arga adalah sosok yang perhatian. Pujian Richi membuat hati Darin berbunga-bunga.
Melihat ekspresi wajah Darin yang begitu bahagia membuat Richi ingin menggodanya. Tanpa persetujuan Darin dengan cepat Richi mengangkat dan menggendong tubuh Darin lalu berlari menuju kolam renang. Darin yang sedang melamun terlihat kaget saat Richi tiba-tiba saja menggendongnya dan menceburkan diri
mereka berdua ke dalam kolam renang.
Semua orang yang ada di sana tertawa bahagia seolah menggambarkan kebahagiaan saat mereka bisa bersama. Darin merasa sangat beruntung bisa berada di tengah-tengah keenam lelaki tampan dan baik hati, ia benar-benar memiliki keluarga.
Dari kejauhan Darin melihat Arga sedang berdiri menatapnya begitu lekat, seakan ia tidak menyukai apa yang sedang dilakukan Darin. Semua tubuh Darin basah kuyup membuatnya kedinginan, untung saja Herry meminjamkan handuk untuknya.
Sesampainya di kamar hotel kedatangan Darin disambut sikap dingin Arga yang sedang asik memainkan ponselnya. Wajah Arga terlihat datar dengan tatapan tajam seperti mengintimidasi.
"Kayaknya kamu happy main air dengan adik-adikku," sindir Arga dengan tatapannya masih tertuju kepada layar ponsel yang masih dipegang olehnya.
Deg, langkah kaki Darin terhenti sesaat ketika ia hendak berjalan menuju kamar mandi. Dari nada bicaranya saja ia sudah menebak jika Arga tidak menyukai apa yang sudah dilakukan istrinya.
"Richi menceburkan aku ke dalam kolam," jelas Darin membalikan tubuhnya seraya menundukkan kepalanya sedikit.
Mengapa situasi di kamar ini tiba-tiba saja mencekam tidak seperti semalam. Apa Arga adalah tipe orang yang berubah-ubah moodnya? Itulah yang ada di pikiran Darin saat ini.
"Apa kamu nggak sadar kalau pakaianmu sedari tadi menerawang, sehingga bra yang kamu pakai terlihat dengan jelas warnanya dan membentuk kedua gunung kabarmu karena pakaianmu yang tipis!" nada bicara Arga terdengar semakin tegas dengan tatapan mata begitu tajam mengintimidasi Darin.
Spontan Darin melihat ke dalam handuk yang menutupi bagian tubuhnya saat ini, benar saja ucapan Arga jika pakaiannya yang tipis membentuk sempurna bentuk tubuhnya yang indah. Serta warna bra yang Darin pakai sangat terlihat jelas. Wajah Darin begitu kaget bukan main yang kini kembali menatap Arga.
Tanpa banyak bicara Arga pergi meninggakkan Darin yang merasa malu dan bersalah. Mengapa Darin tidak menyadarinya, pantas saja sedari tadi Arga hanya terdiam menatapnya dari kejauhan dengan tatapan sinis. Dikumpulkannya semua adik Arga di kamar hotel Bintar, tatapan Arga terlihat tajam dan dingin. Mereka berlima seperti mempunyai firasat buruk jika Arga sudah mengumpulkan mereka dengan tatapan seperti itu.
"Tadi siapa yang nyuruh Darin berenang?" tanya Arga berdiri di hadapan kelima adiknya yang juga ikut berjejer didekat tembok kamar hotel.
Arga sengaja membariskan sejajar adik-adiknya bersandar ke tembok kamar, agar ia bisa melihat dengan jelas siapa tersangka utamanya. Benar saja jika mereka berlima saat ini sedang dalam masalah besar hanya karena mengajak Darin berenang. Semua terdiam takut untuk menjawab pertanyaan Arga.
"Nggak ada yang mau ngaku?" tanya Arga lagi menatap kelima adiknya satu per satu.
"Gue Bang." Richi akhirnya mengaku menunjuk dirinya sendiri setelah beberapa saat terdiam dengan ekspresi ketakutan.
Secepat kilat tatapan sinis Arga tertuju kepada Richi yang berdiri di samping Herry, saat ini Richi hanya bisa pasrah atas apa yang akan menimpa dirinya. Ada rasa menyesal di hati Richi karena sudah mengajak Darin berenang.
"Kenapa lo ngajak dia berenang?"
"Buat seneng-seneng aja, lagian dia juga nggak keberatan," tandas Richi mecoba membela dirinya jika kakak iparnya tidak merasa terpaksa.
"Dari mana lo tahu dia nggak keberatan?" Arga terus mencecar Richi dengan pertanyaan-pertanyaan dan keempat adiknya yang lain hanya bisa terdiam menunduk.
"Buktinya dia seneng. Sebenarnya yang keberatan itu lo bukan dia," terang Richi dengan nada pelan membuat keempat adiknya tertawa ringan secara bersamaan menahan geli saat mendengar jawaban kakak ketiganya.
Ucapan Richi semakin membuat Arga kesal apalagi ditambah keempat adiknya yang tertawa seolah meledeknya. Memang benar ucapan Richi yang sebenarnya merasa keberatan bukanlah Darin, melainkan Arga sendiri. Sesekali Arga menarik napas panjangnya seolah untuk bisa mengontrol emosinya di depan kelima adiknya.
"Siapa yang berenang paling deket sama dia?" Arga terus mencecar kelima adiknya.
Kini giliran Alex yang dibuat ketakutan dengan pertanyaan Arga Karena dirinya yang sedari tadi begitu dekat dengan Darin. Keempat pasang bola mata menatap ke arah Alex secara bersamaan yang berada di ujung barisan. Sial, mengapa semuanya harus secara kompak menatapnya membuat Alex merasa tersudutkan.
"Sial," gumam Alex bicara sendiri dengan ekspresi pasrah.
"Udah gue duga kalau lo yang paling aktif deket sama dia," tuduh Arga membuat Alex merasa tidak terima dan mencoba membela dirinya.
"Gue nggak macem-macem kok. Gue cuman ngajak dia ngobrol." Alex mencoba membela dirinya sendiri.
"Nggak peduli alasan lo semua apa, yang pasti lo semua lihat baju Darin saat berenang kan!" nada bicara Arga semakin tegas namun tidak meninggikan suaranya ketika marah.
Itulah kelebihan Arga dari saudaranya yang lain, marahnya hanya diam dan tidak pernah membentak atau meninggikan suaranya ketika ia sedang marah. Hanya tatapan mata yang begitu sangat tajam yang mematikan.
Nihil tidak ada yang menjawab pertanyaan Arga kali ini, mereka tidak sengaja pakaian Darin yang sangat menerawang. Sepertinya hari ini mereka akan mendapatkan hukuman dari Arga.
"Maaf, Bang. Itu di luar kendali kami," timpal Bintar begitu pasrah membuat wajah Arga semakin tidak bersahabat.
"Siapa yang ngasih dia handuk?"
Deg dengan penuh ketakutan Herry menunjukkan tangannya menatap Arga begitu sendu, seolah memelas agar Arga tidak begitu marah kepadanya.
"Gue, Bang." Herry mengangkat tangannya.
"Sini lo semua. Perbuatan lo semua nggak bisa gue maafin."
"Lah, memang kita salah apa? Itukan di luar kendali kita, Bang!" protes Alex tidak mau disalahkan sepenuhnya.
"Sini lo semua!" perintah Arga menyuruh kelima adiknya mendekat.
Rasa sakit kini harus diterima kelima adiknya saat Arga mencubit telinga mereka satu per satu. Sadis, itulah yang Arga berikan hukuman kepada kelima adiknya kerena sudah melihat pakaian dalam Darin meskipun sebenarnya mereka tidak sengaja.
"Awww....!" teriak mereka satu per satu kesakitan.
"Berarti Bang Zein juga harus dihukum dong?" Dewa balik bertanya kepada Arga saat selesai menerima hukuman dari Arga.
"Memang dia juga lihat?"
"Bukannya lihat, tapi Bang Zein yang bantu Darin naik dari dalam kolam. Otomatis dia juga lihat bagian dalam Darin, bisa jadi semua," kata Dewa begitu sangat polosnya membuat keempat kakaknya kembali dalam masalah besar.
Keempat kakaknya hanya pasrah sambil menutup kedua matanya, baru saja mereka mendapatkan hukuman dan sekarang akan ditambah lagi karena ulah Dewa.
"Kampret. Nih bayi pake acara ngadu lagi," gerutu Alex kesal menatap Dewa yang begitu polosnya.