NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAHAYANYA DOA ISTRI YANG DI KHIANATI.

Malam pun tiba.

Lampu-lampu di rumah menyala, menerangi ruang makan yang sudah dipersiapkan untuk acara syukuran kecil-kecilan bersama keluarga.

Nafisa memang sengaja tidak mengundang banyak orang. Ia hanya mengundang keluarga Damar, dan ibunya.

Di atas meja makan, berbagai hidangan sudah tersaji. Beberapa anggota keluarga mulai mengambil tempat duduk masing-masing.

Nafisa duduk di salah satu kursi dengan wajah tenang. Sesekali, pandangannya beralih kepada Damar dan ibunya yang duduk tidak jauh darinya.

Tampak meduanya bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Nafisa kemudian menoleh kepada kedua mertuanya yang baru saja duduk. Senyum ramah terukir di bibirnya.

“Silakan, Bu, Ayah. Dimakan, ya. Semoga cocok dengan masakannya.”

Ibu mertuanya, Bu Suci, tersenyum lebar.

“Aduh, semakin lama enggak bertemu, kamu makin cantik saja, Naf.”

Nafisa tersenyum tipis. “Ah, Ibu bisa saja.”

Ia kemudian melirik Damar yang duduk di sebelahnya.

“Itu karena Mas Damar, Bu.”

Damar hanya memberikan senyum singkat. Nafisa pun kembali menghadap kedua mertuanya, berusaha mempertahankan sikap ramahnya.

“Sudah, sudah. Ayo, silakan dimakan, mumpung masih hangat,” sela Bu Yulia sambil mempersilakan mengambil makanan.

Nafisa melirik ibunya sekilas. Dari ekspresi wanita tersebut, ia menangkap ketidaksenangan yang berusaha disembunyikan wanita itu ketika besannya memuji putrinya. Namun, Nafisa memilih tidak menanggapinya.

Ia hanya tersenyum simpul, lalu mengambil sendok.

Tak lama kemudian, makan malam pun dimulai.

Suara denting sendok dan percakapan terdengar memenuhi ruang makan. Beberapa anggota keluarga saling bertukar cerita, sesekali diselingi tawa kecil.

“Enak sekali masakannya,” puji Bu Suci setelah mencicipi salah satu hidangan.

“Iya, Bu. Enak sekali,” jawab Nafisa.

Ia meletakkan sendoknya sebentar, lalu mengangkat wajah dan menatap ibu mertuanya.

“Rasanya seperti makanan di restoran hotel itu, ya, Bu?”

Dari sudut matanya, ia melihat tangan sang ibu  yang sedang mengambil lauk mendadak terhenti.

“Ibu mertua pasti pernah makan di restoran yang ada di pusat kota, kan?” lanjutnya santai. “Restorannya enggak jauh dari hotel red flower.”

“Oh, iya. Iya,” jawab Bu Suci. “Rasanya memang mirip sekali.”

Bu Suci kemudian menoleh kepada Bu Yulia sambil tersenyum.

“Jeng, ternyata selera kita sama, ya.”

“I-iya, Jeng,” jawab Bu Yulia terbata.

Nafisa menahan senyum getir. Ia kembali mengambil sendok, lalu melanjutkan makannya dengan gerakan tenang.

Namun, baru saja Nafisa menyuapkan makanan ke mulutnya, suara seseorang yang sedang menahan mual mendadak terdengar dari seberang meja.

“Uhuk ....”

Nafisa segera menoleh. Terlihat ibunya menutup mulutnya dengan satu tangan. Wajahnya tampak pucat, dan wanita itu buru-buru meletakkan sendok sebelum mendorong kursinya ke belakang, dan bergegas menuju dapur.

Nafisa mengernyit, mengikuti kepergian ibunya dengan tatapan heran.

Tak lama kemudian, Damar ikut berdiri dan pergi begitu saja. Pria itu bahkan tidak menjelaskan apa pun kepada orangtuanya termasuk dirinya.

Nafisa terdiam.

Setelah beberapa detik, Nafisa meletakkan sendoknya dan bangkit berdiri.

“Bu, Ayah, saya cek Ibu sebentar, ya.”

Bu Suci mengangguk. “Iya, Nak. Coba lihat ibumu kenapa.”

“Baik, Bu.”

Nafisa membenarkan posisi jilbabnya, lalu melangkah meninggalkan ruang makan.

Setibanya di dapur, langkah Nafisa langsung terhenti. Tatapannya tertuju pada Damar dan ibunya yang berdiri berdekatan di dekat wastafel.

Nafisa mengamati keduanya sejenak sebelum akhirnya melangkah mendekat.

“Ibu enggak apa-apa?” tanyanya sambil menatap wanita itu.

“Enggak apa-apa, Naf,” jawab Bu Yulia singkat.

Nafisa mengamati wajah ibunya yang tampak kurang nyaman. “Pasti telat makan, ya, Bu?”

Terlihat bibir ibunya yang hendak terbuka, tetapi tiba-tiba tangannya terangkat memegang kening.

“Bu, kenapa, Bu?” Damar langsung mendekat.

Nafisa hanya terdiam. Tatapannya berpindah dari wajah ibunya ke wajah suaminya. Ia memperhatikan bagaimana Damar terlihat jauh lebih cemas.

“Kepala Ibu sakit, Dam. Rasanya mau pingsan,” keluh Bu Yulia dengan suara lemah.

Belum sempat Nafisa mengatakan apa-apa, suaminya itu tiba-tiba membungkuk dan menggendong ibunya.

Mata Nafisa membelalak. “Mas ....”

Panggilannya terhenti ketika Damar berbalik dan melangkah cepat meninggalkan dapur. Pria itu bahkan tidak menoleh sedikit pun kepadanya.

Nafisa mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.

Ia menatap punggung keduanya. Tanpa membuang waktu, Nafisa segera menyusul Damar.

Langkahnya mengikuti arah suaminya menuju kamar.

Namun, begitu tiba di depan pintu kamar, langkah Nafisa mendadak terhenti. Ia baru menyadari bahwa Damar membawa ibunya ke kamar yang selama ini mereka tempati bersama.

“Loh, Mas, kenapa Ibu dibawa ke kamar kita?” tanyanya heran.

Bukannya langsung menjawab, Damar justru menoleh dengan tatapan tidak senang.

“Ini ibumu sendiri, masa kamu perhitungan, Naf?”

Nafisa mengerutkan kening. “Bukan begitu, Mas. Kan ada kamar tamu. Letaknya juga enggak jauh dari kamar kita.”

“Kamar tamu belum dibereskan, Naf,” jawab Damar enteng.

Nafisa terdiam. ‘Sejak kapan Mas Damar tahu kamar tamu belum dibereskan?’

“Naf, kenapa diam saja?” tegur Damar. “Ambil kompres, Naf.”

Nafisa mengalihkan pandangan kepada ibunya yang kini berbaring di atas ranjang. Tanpa menjawab, ia berbalik. Namun, alih-alih keluar kamar untuk mengambil kompres, ia justru berjalan menuju meja rias.

Ia membuka salah satu laci dan mengambil sebotol minyak angin. Setelah menutupnya kembali, Nafisa bergegas menghampiri Damar.

“Pakai minyak angin saja, Mas. Kalau cuma dikompres, belum tentu berpengaruh.”

Damar langsung meraih botol tersebut dari tangannya. Ia kemudian duduk di sisi ranjang dan mulai mengoleskan minyak angin ke leher Bu Yulia.

Nafisa berdiri tak jauh dari mereka, memperhatikan setiap gerakan suaminya.

 Namun, tak lama kemudian, tangannya bergerak turun dan hendak menyingkap bagian bawah baju Bu Yulia.

Sontak, Nafisa melangkah mendekat dan menahan pergelangan tangan suaminya.

“Mas, mau ngapain?” tanyanya tajam.

Damar menoleh. “Mau mengoleskan minyak.”

“Biar aku saja, Mas.”

Tanpa menunggu jawaban, Nafisa mengambil botol minyak angin dari tangan Damar. Ia duduk di sisi ranjang, kemudian menuangkan sedikit minyak ke telapak tangannya sebelum mengoleskannya dengan lembut ke perut ibunya.

“Sudah mendingan, Bu?” tanyanya sambil menutup kembali botol minyak angin.

“Sudah, Naf.” Bu Yulia mengangguk pelan. “Ayo, kita kembali ke meja makan.”

“Tapi—” Nafisa hendak mengatakan sesuatu, tetapi Damar lebih dahulu menyela.

“Bu, istirahat saja di kamar. Enggak usah memaksakan diri.”

Nafisa menoleh kepada suaminya. Lagi-lagi, Damar menunjukkan perhatian yang berlebihan kepada ibunya.

“Enggak enak sama yang lain, Dam. Namanya juga sedang ada acara keluarga. Enggak sopan kalau Ibu malah berdiam diri di kamar. Ayo, kita kembali ke meja makan.”

Melihat ibunya mencoba bangkit dari ranjang. Damar segera mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, lalu menopang tubuh wanita itu agar tidak kehilangan keseimbangan.

Nafisa hanya berdiri mematung, menyaksikan keduanya.

. . .

Beberapa saat berlalu. Makan malam untuk syukuran kecil-kecilan pun akhirnya selesai.

Nafisa membawa beberapa piring kotor ke dapur. Ia meletakkannya di dekat bak cuci, lalu mulai membersihkan sisa makanan yang menempel. Tak lama kemudian, Ibunya menyusul sambil membawa tumpukan piring lainnya.

Nafisa melirik ibunya sekilas.

“Bu, aku mau tanya.”

 “Tanya apa, Naf?”

Nafisa membasahi spons, kemudian menggosokkannya pada permukaan piring.

“Tentang temanku, Bu. Dia punya suami, tapi suaminya ketahuan main belakang dengan iparnya sendiri.” Nafisa berhenti sejenak, lalu menoleh kepada ibunya. “Temanku itu minta solusi ke aku. Hanya saja, aku belum pernah mengalami hal seperti itu. Menurut Ibu, apa yang harus dia lakukan?”

“Ceraikan saja.”

Tangan Nafisa yang sedang membilas piring sempat terhenti. Sudut bibirnya perlahan terangkat mendengar jawaban lugas itu.

‘Begitu, ya, Bu?’

Nafisa kembali membilas piring sebelum melanjutkan pertanyaannya.

“Tapi, Bu, kalau surat rumah dan harta lainnya atas nama istrinya, bagaimana?”

“Harta itu tetap milik istrinya. Jadi, suami temanmu enggak punya apa-apa lagi.”

Nafisa mengangguk pelan. “Baiklah. Nanti akan aku sampaikan ke temanku.”

‘Bukan ke temenku, Bu. Tapi pengacaraku.’

Ia meletakkan piring yang sudah bersih di samping bak cuci.

“Hanya saja, Bu, kalau misalnya suamiku sendiri yang berkhianat, aku akan membuatnya hidup sengsara.”

Gerakan tangan Yulia mendadak melambat. Nafisa menangkap perubahan itu dari sudut matanya.

“K-kenapa kamu bilang begitu, Naf?”

Nafisa mengangkat bahu, lalu tersenyum tipis.

“Mas Damar itu ganteng, royal, dan perhatian. Siapa yang gak mau sama suamiku, Bu?” Ia terkekeh kecil. “Lagi pula, selama ini aku berjuang sendiri. Aku sampai harus memutar otak memikirkan bagaimana caranya mengangkat derajat Mas Damar.”

Senyumnya perlahan menghilang. Nafisa menatap lurus ke depan sambil membilas piring di tangannya.

“Kalau gak ada aku, Mas Damar mungkin masih menganggur sampai sekarang. Bahkan, untuk mendapatkan pekerjaan yang layak pun, aku sampai meminta atasanku mencarikan pekerjaan untuk suamiku.”

Ia meletakkan piring yang sudah bersih, lalu meraih piring berikutnya.

“Tapi kalau Mas Damar sampai mengkhianatiku, aku akan meminta atasanku untuk mengeluarkannya dari pekerjaannya.”

Nafisa mengucapkan kalimat itu dengan tenang. Ia kemudian menoleh kepada Yulia.

“Ibu setuju, kan?”

Bu Yulia tampak kaku.

“I-itu ... semoga saja Damar gak berselingkuh darimu, Naf.”

Nafisa mengangguk kecil. “Semoga saja begitu, ya, Bu.”

Ia kembali mencuci piring seolah tidak ada hal penting yang baru saja mereka bicarakan. Setelah selesai membilasnya, ia menata piring-piring itu dengan rapi di rak.

Namun, sebelum beranjak dari tempatnya, Nafisa sempat menoleh sekali lagi kepada ibunya.

.

Di ruang tamu. Nafisa dan keluarganya berkumpul.

Nafisa duduk di samping Damar. Senyum ramah tetap menghiasi wajahnya, meski sesekali ia melirik ibunya yang duduk tak jauh dari mereka.

“Aduh, Nafisa. Putraku beruntung banget punya istri sepertimu,” puji Bu Suci sambil menatapnya penuh kekaguman.

Nafisa hanya membalas dengan senyum tipis. “Ah, Ibu bisa saja.”

Namun, alih-alih larut dalam pujian itu, perhatiannya justru tertuju pada wajah Bu Yulia. Ia ingin tahu bagaimana reaksi ibunya mendengar orang lain memuji dirinya sebagai istri yang baik.

“Dam, dengar kata Ibu, ya.” Bu Suci kemudian mengalihkan pandangannya kepada putranya. “Jangan pernah menyia-nyiakan istri seperti Nafisa. Di zaman sekarang, perempuan yang setia dan mau bertahan mendampingi suaminya itu gak banyak.”

Damar mengangguk kecil.

“Kalau seorang istri sudah tersakiti dan kecewa, lalu mengadu kepada Allah, doa istri yang terzalimi itu bisa menjadi hal yang berbahaya buatmu.”

“Iya, Bu,” jawab Damar singkat.

Mendengar jawaban suaminya, sudut bibir Nafisa terangkat membentuk senyum miring. Ia hampir ingin tertawa mendengar nasihat itu, tetapi urung melakukannya.

Namun sebuah tangan meraih pinggangnya, membuat Nafisa menoleh ke arah Damar.

Tanpa banyak bicara, ia menyingkirkan tangan Damar dari pinggangnya. Bukan hanya karena ia merasa risih, tapi karena ia begitu jijik untuk di sentuh.

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!