NovelToon NovelToon
Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ranaraworld

Di mata dunia, Stellan Alistair Caelmont adalah CEO dingin yang tak tersentuh. Namun di balik kekuasaannya, Stellan terancam kehilangan Luna, putri kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. sebuah ancaman dari masa lalu datang untuk merebut Luna dari pelukannya.

Kekuatan dan uang Stellan tak lagi cukup. Ia butuh sebuah keluarga utuh di mata hukum.

Hingga hadir Elara Vivienne Moreau, wanita hangat yang secara ajaib menjadi satu-satunya orang yang mampu meluluhkan benteng trauma Luna. Melihat itu, Stellan menawarkan sebuah kesepakatan gila: Pernikahan Kontrak.

Satu tahun. Hanya di atas kertas.

Elara menerima demi melindungi Luna, berjanji tak akan melibatkan perasaan pada pria sedingin Stellan. Namun, hidup di bawah satu atap perlahan membongkar rahasia kelam yang Stellan sembunyikan rapat-rahasia.

Saat ikatan palsu itu mulai terasa nyata, mampukah mereka bertahan ketika masa lalu menuntut pembalasan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranaraworld, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekomendasi Julian

​Bab 15: Rekomendasi Julian

​Pagi itu, cangkir kopi hitam di atas meja makan Mansion Caelmont terasa jauh lebih panas dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Elara saja yang dadanya sedang terbakar canggung luar biasa.

​Elara duduk memaku pandangannya pada roti bakar di piringnya. Wajah cantiknya merona tipis setiap kali memori kemarin sore terlintas di kepalanya: dekapan erat lengan tegap Stellan di gazebo, helusan napas pria itu di lehernya, dan pengakuan jujur dari bibir sang CEO yang mengaku belum pernah berpacaran seumur hidupnya.

​Stellan memelukku... dan dia bilang kontrak itu sudah tidak ada artinya, batin Elara menjerit halus, jemarinya meremas serbet kain di pangkuannya.

​Di sisi lain meja, Stellan Alistair Caelmont duduk tak kalah kaku. Pria jangkung bersetelan jas formal itu berulang kali membetulkan letak dasinya yang sebenarnya sudah terpasang sempurna. Iris mata gelapnya sesekali melirik Elara, lalu buru-buru beralih menatap cangkir kopinya begitu Elara mendongak.

​Pria es yang sanggup membekukan puluhan jajaran direktur itu kini mendadak linglung. Stellan bertanya-tanya di dalam hatinya: Apakah pelukan kemarin sore terlalu agresif? Apakah kata-katanya membuat Elara makin tidak nyaman? Kenapa wanita di hadapannya ini malah tidak berani menatap matanya sama sekali?

​Luna yang duduk di tengah-tengah mereka berdua hanya berkedip pelan. Bocah kecil itu mengunyah potongan apelnya dengan tenang, lalu dengan santai meraih telapak tangan Elara dan meletakkannya di atas paha Stellan di bawah meja, sebuah aksi spontan dari Luna yang membuat Elara hampir tersedak teh hangatnya dan Stellan membeku di tempat!

​Elara buru-buru menarik tangannya sembari memijat pelipisnya yang mendadak pusing karena malu, sementara Stellan berdehem keras-keras mencoba menutupi detak jantungnya yang tak karuan.

​Dua jam kemudian, di lantai teratas Caelmont Tower.

​Stellan duduk bersandar di balik meja mahoninya. Laptop di hadapannya menyala menampilkan dokumen proyek triliunan rupiah, tetapi pikiran sang CEO melayang jauh ke gazebo belakang mansion.

​Julian yang baru saja melangkah masuk membawa map laporan mendadak menghentikan langkahnya. Sekretaris kepercayaan Stellan itu memperhatikan bosnya yang menghembuskan napas panjang untuk kelima kalinya dalam sepuluh menit terakhir.

​"Tuan Stellan," panggil Julian hati-hati. "Ada masalah dengan dokumen akuisisi?"

​"Bukan," sahut Stellan serak. Pria itu memijat pangkal hidungnya, lalu menatap Julian dengan raut wajah yang jarang sekali terlihat: bingung dan penuh ganjalan.

​"Julian," panggil Stellan rendah. "Jika seorang wanita mendadak menunduk, menghindari kontak mata, dan pipinya memerah setiap kali kita berada di dekatnya... apakah itu tanda bahwa dia marah karena pelukan kemarin sore?"

​Julian membelalakkan matanya seketika. Map di tangannya hampir saja merosot jatuh ke lantai.

​Sekretaris kawakan yang biasanya amat profesional itu berkedip dua kali, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman menggoda yang amat lebar.

​"T-tunggu sebentar, Tuan..." goda Julian sembari memajukan tubuhnya ke meja Stellan, matanya berbinar-binar penuh humor. "Anda... baru saja memeluk Nyonya Elara kemarin sore?!"

​Stellan berdeham kaku, rahangnya menegang kaku karena menyadari ia baru saja keceplosan di depan sekretarisnya. "Saya hanya... menjalankan naluri. Elara menangis karena mengira saya hanya memanfaatkannya demi persidangan. Jadi saya memeluknya dan mengatakan bahwa dokumen kontrak itu sudah tidak berlaku bagi saya."

​Julian menepuk jidatnya sendiri, menahan tawa geli yang siap meledak dari tenggorokannya. "Lord Caelmont" yang dikenal dingin bagai es Antartika ini ternyata benar-benar buta total dalam urusan wanita!

​"Tuan Stellan yang terhormat," ujar Julian dengan nada mengajari yang ditahan-tahan agar tidak terkesan mengejek. "Nyonya Elara itu bukan marah! Dia itu salah tingkah! Dia kaget dan baper karena pria sekaku Anda mendadak bersikap sangat romantis dan jujur!"

​Stellan berkedip heran. "Salah tingkah?"

​"Iya, Tuan! Itu artinya perasaan Anda disambut baik oleh Nyonya Elara!" sahut Julian antusias. Namun, raut wajah Julian perlahan berubah menjadi serius dan diplomatis. "Tapi omong-omong soal hubungan Anda dan Nyonya Elara... ada satu masalah hukum yang mendesak terkait pengawasan detektif Pengacara Reihan."

​Stellan menegakkan tubuhnya, kembali ke mode CEO. "Lanjutkan."

​"Detektif swasta pihak musuh mulai memantau gerak-gerik mansion lewat pengawasan area luar," jelas Julian tegas. "Jika mereka sampai tahu Anda dan Nyonya Elara masih tidur pisah kamar dengan Nyonya Elara yang tidur di kamar sebelah Nona Luna, pihak musuh bisa memanfaatkan celah itu untuk menggugat bahwa pernikahan kalian hanyalah rekayasa hukum (fake marriage)."

​Stellan mengernyitkan keningnya. "Lalu apa solusinya?"

​Julian menyunggingkan senyum penuh arti. "Solusinya sangat jelas, Tuan. Anda dan Nyonya Elara harus segera pindah ke satu kamar tidur utama yang sama."

​Stellan terpaku di tempatnya. "Pindah kamar?"

​"Tentu saja," lanjut Julian mantap, matanya mengedip menggoda. "Ini bukan cuma demi mengunci kemenangan di persidangan dari kejaran detektif musuh, Tuan... tapi ini juga kesempatan emas bagi Anda yang belum pernah berpacaran ini untuk mendekati istri Anda secara sah dan nyata."

​Malam harinya di Mansion Caelmont.

​Elara baru saja selesai memindahkan krayon dan buku gambar ke meja kerja kamar Luna ketika pintu kamarnya diketuk pelan.

​Begitu Elara membukanya, Stellan berdiri di sana. Pria jangkung itu sudah berganti pakaian menggunakan kaus kasual hitam dan celana panjang santai. Di tangannya, pria itu memegang sebuah berkas laporan keamanan dari Julian.

​"Stellan?" sapa Elara halus, dadanya kembali berdebar canggung. "Ada apa?"

​Stellan berdeham pelan, mencoba menetralkan nada suaranya agar tidak terdengar seperti pria panik. "Julian memberi laporan sore tadi. Detektif swasta yang disewa pengacara Tante Henny mulai mengintai area rumah untuk mencari celah apakah kita benar-benar hidup sebagai pasangan suami istri yang utuh."

​Kening Elara berkerut cemas. "Lalu?"

​"Pihak musuh mencoba membuktikan bahwa pernikahan kita rekayasa," lanjut Stellan lurus-lurus, matanya menatap iris mata cokelat Elara. "Demi keamanan persidangan hak asuh Luna dan menutup celah musuh... Julian merekomendasikan agar kamu memindahkan koper dan bajumu ke kamar utama bersama saya mulai malam ini."

​Deg.

​Jantung Elara rasanya meloncat dari tempatnya. Pipinya seketika membakar hebat. "S-sekamar?"

​Stellan melangkah satu tindak memangkas jarak, menatap Elara dengan pendar keseriusan yang amat hangat.

​"Saya sudah minta Bi Asih memindahkan barang-barangmu ke kamar utama," bisik Stellan rendah, tangannya terulur meraih lembut jemari tangan Elara yang gemetar. "Kamar utama memiliki pintu connecting langsung ke kamar Luna, jadi Luna tetap bisa menjangkaumu kapan saja. Dan kamu... tidak perlu cemas. Saya akan tetap menghormati batas kebebasanmu."

​Stellan memiringkan kepalanya sedikit, menatap mata Elara dari jarak dekat dengan senyuman tipis yang amat langka.

​"Jadi, Nyonya Caelmont... apakah kamu siap pindah ke kamar kita?"

​Elara menatap genggaman tangan Stellan di jemarinya, merasakan desiran hangat yang menguasai seluruh batinnya. Di bawah tatapan lembut pria yang baru belajar mencintai ini, Elara akhirnya mengangguk pelan sembari menyunggingkan senyum manis yang mekar sempurna.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Mei TResna Rahmatika
akhirnya up kak😍
Mei TResna Rahmatika
lanjut kak,baguss ceritanya 😍
Ranaraworld: makasih kak, tungguin terus ya kelanjutan nyaa
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
bab 1 udah menarik kak,lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!