Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.
—
Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.
Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.
—
5 Tahun setelah Tragedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Pencocokan Nama
Merasa penyamaran mereka sudah 100% aman dan tak lagi mencolok seperti sekumpulan pembunuh bayaran misterius, mereka kompak melepaskan tudung jubah hitamnya. Dengan kepala terbuka, mereka mulai berjalan santai membelah hiruk-pikuk pasar menuju area kedai makan.
"Bagaimana jika kita mencocokkan nama samaran sesuai dengan warna rambut atau mata kita?" saran Kael tiba-tiba sembari menyibak rambut biru navy barunya ke belakang dengan gaya narsis.
"Aku? Aku? Bagaimana dengan nama kita?" sahut Kazel tak kalah bersemangat, sepasang mata biru lautnya berbinar senang memikirkan nama baru yang keren untuk dirinya sendiri.
Eric dan Vincent hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah heboh dua rubah Vynloc tersebut. Namun sebelum si kembar sempat berdebat lebih jauh, sebuah suara lembut menyela dari barisan depan.
"Lakukan sesuka kalian saja," timpal Elouis, yang kemudian mengetuk dagunya pelan dengan gestur berpikir, sepasang mata ruby-nya berkilat jenaka. "Aku... Ruby?"
Kael dan Kazel sontak terpekik pelan dengan mata berbinar-binar. "Wah! Nama yang sangat cocok untukmu, Lady—maksudku, Kak Ruby!" seru Kael heboh.
"Kalau begitu, karena rambutku biru langit, panggil aku Kzyen!" sahut Kazel bangga, merujuk pada warna cyan pada rambutnya namun dengan ejaan yang diselaraskan.
Kael langsung menoleh, tidak mau kalah dari kembarannya. "Kalau kau Kzyen, berarti namaku... Kavyn! Biar mirip, dan pas dengan warna rambut navy-ku!" timpal Kael penuh semangat.
"Kzyen dan Kavyn... Hm, tidak buruk untuk sepasang rubah pembuat onar," kekeh Eric yang berjalan di samping Vincent. "Kalau begitu, panggil aku Verdo," ucap Eric, memilih nama yang menyerupai warna hijau pada rambut dan matanya saat ini.
Semua mata kini tertuju pada Vincent yang berjalan paling belakang dengan rambut hitam pekatnya. Vincent membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum tipis. "Karena aku berambut hitam dan bertugas menyaring informasi... panggil saja aku Cole."
Kini, mereka tidak lagi menutup kepala mereka dengan tudung hitam yang mencurigakan. Dengan langkah santai, mereka berjalan menuju sebuah kedai makan yang bernuansa hangat dan ramah anak. Vincent sengaja memilih tempat ini; sebuah kedai keluarga adalah tempat persembunyian terbaik karena tidak akan pernah dicurigai oleh para pemburu dari akademi.
Begitu masuk, mereka langsung mengambil posisi di meja paling ujung yang letaknya strategis—cukup tersembunyi, namun dekat dengan pintu keluar jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.
Sembari menunggu pesanan datang, mereka mulai membiasakan diri dengan saling memanggil menggunakan nama baru mereka. Suasana tegang yang sempat menyelimuti mereka sejak keluar dari Hutan Nacht seketika mencair, digantikan oleh canda tawa hangat, terutama dari dua bersaudara Vynloc yang senantiasa menjadi pencair suasana di dalam tim.
"Hahaha! Lucu sekali, aku tidak kuat lagi, hahaha!" pekik Kzyen. Ia tertawa begitu lepas sampai-sampai tubuhnya terhuyung dan menabrak bahu Kavyn yang juga sedang tertawa terpingkal-pingkal akibat lelucon mereka sendiri.
"Hei, berhenti tertawa! Hahahahaha!" balas Kavyn sembari mencoba mendorong kembarannya, walau ia sendiri tidak bisa berhenti menyeringai lebar hingga mata navy-nya menyipit.
Cole—yang kini berambut hitam pekat—hanya bisa menghela napas maklum sembari memegang lembar menu, sementara Verdo di sebelahnya terkekeh pelan melihat kelakuan dua rubah tersebut. Di ujung meja, Ruby hanya menopang dagu dengan satu tangan, mengamati mereka berdua dengan binar mata ruby-nya yang tampak jauh lebih rileks dari biasanya.
"Cepat, kalian berdua ingin memesan apa sebelum pelayannya datang?" tanya Cole, mencoba menghentikan kegaduhan kecil itu dengan mengetukkan jarinya di atas meja menu.
Kavyn langsung menegakkan tubuhnya, menahan sisa tawa. "Dua sup bubur ayam! Tapi yang satu jangan pakai sayur sama sekali, ya!" seru Kavyn, melirik Kzyen yang langsung mendengus setuju karena memang benci sayuran.
Setelah pelayan kedai pergi sembari membawa catatan pesanan mereka, suasana di meja ujung itu masih belum sepenuhnya tenang. Kavyn dan Kzyen benar-benar masih tidak bisa menghentikan sisa tawa mereka, sesekali saling berbisik lalu tertawa terpingkal-pingkal lagi.
"Kalian berdua... Apa tidak bisa berhenti tertawa barang sebentar pun?" keluh Cole, yang tangannya sudah merasa gatal karena menahan diri untuk tidak membungkam mulut kedua rubah di depannya itu dengan sapu tangan.
Kavyn mendongak, menyeka air mata di sudut matanya akibat terlalu banyak tertawa. "Tidaakk! Apa kau tahu, Cole? Ada banyak hal lucu yang kami berdua lihat di pasar sebelumnya!" balas Kavyn membela diri.
"Dan kebanyakan dari hal itu membuat kami tidak bisa berhenti memikirkannya sampai sekarang, hahahaha," sambung Kzyen, ikut menimpali sembari menutupi mulutnya, berusaha tertawa pelan agar tidak menarik perhatian pengunjung kedai lainnya.
Cole hanya bisa menghela napas pasrah, memijat pelipisnya perlahan karena nasib sialnya yang harus duduk tepat di antara dua biang onar ini. Ia melirik ke arah Verdo yang justru asyik menonton penderitaannya sambil tersenyum geli, sementara Ruby di ujung meja hanya menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan anggota timnya.
Saat keduanya masih tertawa lebih pelan dengan saling berbisik, Cole dan Verdo sempat saling bertemu pandang. Cole hanya bisa menghela napas frustrasi sembari membetulkan letak kacamatanya, sedangkan Verdo menyunggingkan senyum gelinya, menganggap penderitaan Cole sebagai hiburan gratis.
Namun, atmosfer hangat itu hancur dalam sekejap.
BRAKK!!
Tiba-tiba saja, segerombolan anak laki-laki berpakaian agak lusuh, tipikal berandalan pasar lokal datang dan langsung menggebrak meja kayu mereka dengan kasar.
Seketika itu juga, tawa Kavyn dan Kzyen terhenti total. Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti meja ujung tersebut. Duo kembar Vynloc itu perlahan mendongakkan kepala mereka ke atas, menatap tajam dengan sorot mata navy dan cyan yang mendadak sedingin es, menusuk langsung ke arah wajah anak yang berani mengganggu ketenangan mereka.
Tidak hanya si kembar, Ruby, Verdo, dan Cole pun turut menatap tajam ke arah anak-anak yang kini mengerumuni meja mereka. Hawa keberadaan The Shadow Eagle yang tadinya disembunyikan rapat-rapat, samar-samar mulai menguar berbahaya di sudut kedai yang remang itu.
"Apa-apaan kalian mengganggu meja kami?" tanya Verdo dengan nada suara yang terdengar sangat ketus dan dingin. Tangan sang navigator diam-diam sudah turun ke bawah meja, bersiap jika ada tanda-tanda bahaya.
Salah satu anak laki-laki yang berbadan paling besar di gerombolan itu maju selangkah, berkacak pinggang dengan ekspresi menantang. "Heh, anak-anak asing berambut aneh! Meja ini adalah tempat duduk langganan kelompok kami setiap sore. Angkat kaki kalian sekarang kalau tidak mau cari masalah!" gertaknya kasar.
Mendengar gertakan kasar dari berandalan pasar itu, bukannya takut, Ruby justru berdecak kesal. Di luar dugaan semua orang, sang Kapten yang biasanya tenang dan penuh perhitungan itu tiba-tiba berdiri dari kursinya. Ia menatap lurus dengan pandangan luar biasa jengkel ke arah anak-anak di depannya, lengkap dengan pose kedua tangan yang berkacak pinggang di panggulnya.
"Aduhh, kalian ini berisik sekali, ya! Lihat di sana, masih ada banyak tempat kosong untuk kalian duduk!" omel Ruby dengan nada bicara yang sengaja ia lengkingkan, persis seperti anak perempuan biasa seumurannya yang sedang merajuk karena kesal.
Gerombolan anak laki-laki itu seketika melongo, tidak siap dengan respons omelan yang begitu blak-blakan dari gadis berambut merah darah di depan mereka.
Ruby menyipitkan mata ruby-nya yang berkilau, lalu menunjuk ke arah barisan meja kosong di dekat jendela kedai. "Kalian ini tidak punya sopan santun ya pada sesama pelanggan?! Dasar bodoh!" sentaknya ketus di akhir kalimat, sukses membungkam seluruh gerombolan berandalan kecil tersebut.
Di tempat duduk mereka, Kavyn dan Kzyen langsung mematung dengan mulut setengah terbuka. Sepasang kembar Vynloc itu saling bertukar pandang dengan horor, seolah-olah baru saja melihat hantu. 'Apakah ini benar-benar Kapten kita yang mengerikan itu?!' jerit batin mereka berdua kompak.
Bahkan Cole sampai harus membetulkan letak kacamatanya berkali-kali untuk memastikan dia tidak salah lihat, sementara Verdo mati-matian menahan kedutan di bibirnya agar tidak menyemburkan tawa melihat sandiwara totalitas dari sang Kapten demi melebur dengan penyamarannya.
Mendengar sentakan keras dari Ruby, salah satu anak dari gerombolan itu mendengus, merasa harga dirinya terluka di depan teman-temannya. Matanya menatap kesal ke arah Ruby, lalu dengan kasar tangannya menjulur ke depan, mencoba untuk merenggut rambut merah darah milik gadis itu.
Melihat pergerakan tersebut, Ruby tidak menghindar dengan gerakan bela diri. Sebaliknya, ia sengaja menunjukkan ekspresi wajah yang ketakutan dan melangkah mundur beberapa senti. Sebuah sandiwara yang luar biasa mulus untuk memperkuat perannya sebagai anak gadis polos di kedai keluarga.
Namun, akting tetaplah akting. Bagi Kavyn dan Kzyen, keselamatan sang Kapten adalah harga mati. Mereka tidak akan membiarkan tangan kotor mana pun menyentuh sehelai pun rambut Ruby.
Tepat saat jemari anak itu semakin dekat dan bersiap menarik rambut merah tersebut—
PLAK!!
Kavyn bergerak secepat kilat, menepis kasar tangan anak itu hingga terhempas ke udara. Di detik yang sama, Kzyen sudah melangkah maju, memasang badannya yang tegap tepat di depan Ruby, memisahkan gadis itu dari jangkauan si berandalan.
"Mau apa kau dengan tangan kotor itu, hah?" tanya Kavyn ketus. Ia kini berdiri tegak di samping Kzyen, memberikan tatapan mengintimidasi yang sangat dingin. Atmosfer di sekitar si kembar langsung berubah drastis dari remaja periang menjadi sepasang serigala muda yang siap menerkam mangsanya.
Ketua gerombolan berandalan itu memegangi pergelangan tangannya yang terasa panas dan memar akibat tepisan keras Kavyn. Melihat tatapan membunuh dari Kavyn dan Kzyen, ditambah Cole dan Verdo yang kini ikut berdiri dengan aura yang tak kalah menekan, nyali gerombolan itu seketika menciut drastis. Mereka sadar, anak-anak asing berambut warna-warni ini bukanlah lawan yang bisa mereka remehkan.
"Cih! Awas saja kalian!" balas anak itu dengan wajah memerah menahan malu dan takut.
Tanpa membuang waktu lagi, gerombolan berandalan pasar itu langsung berbalik arah dan terbirit-birit pergi meninggalkan kedai, mencari meja lain yang jauh dari jangkauan kelompok The Shadow Eagle.
Saat anak-anak berandalan itu menjauh dan sibuk mencari meja lain, Ruby kembali duduk dengan tenang di kursinya. Ia menghela napas lembut sembari merapikan sedikit ujung pakaiannya, diam-diam merasa sangat bangga dengan kesuksesan sandiwara spontan nya barusan.
"Huft... Tidak aku sangka, ada saat di mana aku bisa menunjukkan kemampuan sandiwara ku," ucap Ruby pelan, nadanya terdengar begitu puas.
Verdo yang duduk paling dekat dan mendengar gumaman tersebut tidak bisa menahannya lagi. Bahunya berguncang pelan, dan sedetik kemudian gelak tawanya yang renyah mulai lepas begitu saja di sudut kedai.
"Hahahaha! Kau bangga sekali, ya?" tanya Verdo di sela-sela tawa pelannya, mengusap setitik air mata geli di sudut matanya. Ia benar-benar tidak menyangka sang Kapten bisa se-narsis itu soal kemampuan sandiwara.
Cole sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pemandangan langka itu, ikut terkekeh pelan di balik punggung tangannya.
Sementara itu, si kembar Vynloc masih melongo di tempat duduk mereka. Kavyn dan Kzyen saling memandang satu sama lain selama beberapa saat, lalu serempak mengangguk paham setelah menyadari satu fakta penting.
"Kau... tadi itu cuma sandiwara, ya?" tanya Kzyen memastikan, matanya yang berwarna cyan menatap Ruby dengan pandangan menyelidik.
"Iya, kenapa?" balas Ruby dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin, lengkap dengan kedipan mata yang tampak tak berdosa.
Melihat ekspresi itu, Verdo langsung memukul meja pelan saking gelinya. "Bahkan sekarang pun kau masih melanjutkannya... Hahahaha!" sahut Verdo, tawanya makin pecah melihat bagaimana Ruby dengan sengaja menjahili si kembar menggunakan wajah polos palsunya itu.
Kavyn langsung menghela napas dramatis, menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. "Astaga, Ruby... kami berdua sudah telanjur pasang badan dengan gaya super keren tadi!" gerutu Kavyn yang langsung disambut tawa oleh anggota tim yang lain.
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍