Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Balian
Hari bahagia yang di tunggu oleh Dwi dan Nyoman Sari seta suaminya Putu Angga yang sedang mempersiapkan acara pernikahan sekaligus metatah demi menghemat biaya.
Kadek Satya yang menjadi suaminya terlihat bahagia, dan baginya mendapatkan Dwi adalah sebuah anugerah, karena kecantikannya layaknya seorang artis korea.
Para tamu dan keluarga sudah berkumpul. Saraswati, Kadek Dharma, Komang Shinta, dan juga bapaknya Kadek Arya turut hadir di acara tersebut, sebab bagian keluarga dari Nyoman Sari adalah adik dari ibu Saraswati.
Suasana cukup meriah. Kadek Arya melihat acara berlangsung tanpa adanya balian yang menjaga prosesi acara.
Hatinya sebenarnya ragu. Tetapi ia sudah di hardik saat menyampaikan permasalahan ini waktu malam itu, sehingga membuatnya tak ingin lagi ikut ikut campur.
Sedangkan Saraswati berbaur dengan para tamu lainnya. Kebaya putih sebatas pinggul dengan kain jarik pas boddy, dan di padu dengan stagen khas Bali, menjadi pilihannya.
Rambutnya tergerai begitu saja, dan ia cukup cantik hari ini, seolah auranya begitu kuat dalam kharisma.
Pagi ini acara metatah di mulai. Dwi begitu cantik dengan riasan yang sederhana. Saat ia berbaring di bale dan sedang di kikir giginya, mendadak petir menggelegar di langit. Sedangkan langit sangat cerah saat ini.
Duuuaar!
Tanpa sengaja, hal ini mmebuat Dwi menutup matanya. Sedangkan ritual mengikir gigi tidak boleh memejamkan mata bagi pesertanya.
Deeeegh!
Saraswati melihat jelas Dwi memejamkan matanya, tetapi yang lainnya melihatnya biasa saja.
Saras beranjak dari tempatnya, lalu mencari Kadek Arya. Meskipun ia belum sepenuhnya mengingat tentang pria itu, tetapi ketika terus berada dalam satu rumah yang sama, membuat ia secara perlahan mengingat jika itu adalah ayahnya.
Dengan langkah yang terburu-buru, ia menghampiri Kadek Arya yang sedang berdiri di dekat bale bersama Komang Shinta sang ibu.
Sedangkan Nyoman Sari dan Putu Angga memegangi pundak Dwi untuk memberikan dukungan semangat.
"Pak, mengapa Dwi memejamkan mata saat di kikir giginya?" bisiknya dengan cukup pelan, sembari mencolek lengan ayahnya.
"Hah! Masa sih?" Kadek Arya melirik ke arah Dwi, ia melihat ponakannya menutup mata, dan ini adalah hal yang tidak boleh di lakukan, sebab merupakan pantangan.
Dimana dianggap belum siap untuk menjadi dewasa, dan tidak menghormati Sang Hyang Widhi sebagai Dewa mereka.
Bahkan itu sama saja menyerupai sosok mayat jika sedang metatah sembari memejamkan mata.
Ingin rasanya ia membangunkan keponakannya itu, tetapi akhirnya ia mengundurkan niatnya. "Putu. Ingat, jangan ikut campur jika tidak di libatkan dalam urusan orang lain." pesan sang ayah pada puterinya.
"Tapi, Pak. Dia sepupuku, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" Saras terlihat gelisah.
"Mereka sudah memilih, maka saat ini tinggal menerima apa yang menjadi pilihan mereka," Kadek Arya terus menekan puterinya.
Perbincangan mereka terjeda oleh tabuhan gamelan yang mengiringi acara tersebut.
Saraswati terpaksa diam, meski hatinya cukup berisik. Suasana terasa sangat berbeda, dan ia sangat gelisah.
Menut berikutnya, Dwi selesai dengan acara ritual metatahnya. Ia kemudian di hidangkan makanan dengan enam rasa yang merupakan simbol dari kehidupan dan harus siap untuk menjalaninya.
Setelahnya, pernikahan di mulai. Dwi menggunakan pakaian ada Payas Agung. Sama seperti mimpi Saras malam itu.
ia berjalan menuju Pura di halaman rumah, dan kecantikannya sungguh luar biasa. Gelung Agung di kepalanya menjulang tinggi. Kembang cempaka dan juga kenanga menjadi penghias rambutnya.
Tabuhan gamelan yang mengiringi acara ritualnya membuat ia bagaikan bak puteri raja.
Sedangkan Kadek Satya terlihat tersenyum sepanjang prosesi ritual.
Penari pendet dan juga rejang menampilkan kelincahannya, dan membuat semua tamu semakin terpukau.
Rangkaian acara terus berlanjut. Sedangkan Saraswati merasakan kepalanya mendadak pusing, dimana trisula yang ia sembunyikan di balik stagen (Ikat pinggang dari selendang) bergetar dan membuat dadanya cukup sesak.
Keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya, dan wajahnya memucat. bayangan dalam mimpinya semalam tentang Dwi berjalan menggunakan Payas Agung ke arah Pura Dalem kembali hadir.
Para tamu berdecak kagum, dan tak henti-hentinya memuji Dwi. "Cantiknya sungguh kuar biasa. Pantas saja Kadek Satya sampai mengejarnya," bisik para tamu.
Sementara itu, sajen canang sari yang di letakkan di tepi jalan mulai layu. Angin dari tepi hutan berhembus cukup dingin.
Dwi yang sedang duduk bersama dengan Kadek Satya yang sudah sah sebagai suaminya menjalani ritual sembahyang di pura halaman rumah, sebagai penutup acara resepsi pernikahan, dan di pimpin tokoh agama.
Akan tetapi, matanya terlihat kosong, meskipun ia tersenyum, namun ada sesuatu yang janggal.
"Satya... Aku ingin ke Pura Dalem. Aku mau sembahyang sebentar," bisik Dwi tiba-tiba.
Mahendra terdiam. Lalu menatap ke arah sang istri yang baru saja sah menjadi istrinya.
"Sayang... Ini bukan waktunya untuk sembahyang ke Pura Dalem. Tidak ada acara kematian (ngaben) atau Piodalan (Perayaan ulang tahun Pura), ini hari pernikahan kita, cukup sembahyang di Pura Merajan keluarga," sahutnya, dan hatinya mendadak tak nyaman.
Dwi terdiam untuk sesaat, tetapi saat ini, ia seperti sedang gelisah .
Acara berlangsung hingga selesai, dan Dwi mulai memperlihatkan keanehannya.
*****
Malam beranjak. Sepasang pengantin baru sedang berada di kamarnya yang di hiasi oleh bunga taburan kelopak mawar.
Ornamen kain cepuk dan juga endek menjadi pelengkapnya.
Janur kuning yang di rangkai indah menambah kesan romantis dan sakral.
Putu Dwi sudah mengenakan pakaian dinas malamnya. Kadek Satya sudah tak sabar ingin memulai pertempuran mereka yang mendebarkan.
Akan tetapi, sikap Putu Dwi terlihat dingin sejak acara metatah pagi tadi.
Namun, hasrat Satya tak dapat di cegah, ia mengecup bibir sang istri, dan ingin mengambil jatahnya sebagai pemilik yang sah.
Suara lolongan anjing dan juga aroma anyir sedang mengiringi prosesi buka segel malam ini.
Satya yang sudah menggebu, memacu tubuhnya untuk menuntaskan hasrat yang sudah berada di ujung ubun-ubunnya.
"Aaach... Sayang. Kamu sangat luar biasa," bisik Kadek Satya, dan mengecup kening sang istri.
Putu Dwi hanya tersenyum, dan ia menatap ke arah jendela. Meskipun Satya masih liar menggahi tubuhnya, tetapi jiwanya seolah pergi entah kemana.
Kadek Satya sudah tertidur dengan pulas, setelah bertempur sebanyak tiga ronde.
"Putu Dwi...." suara bisikan di luar jendela terdengar begitu nyata. Ia sedang menatap sang suami yang tertidur pulas.
Sedangkan ia tak dapat tidur malam ini, dan suara panggilan itu terdengar cukup jelas.
"Putu Dwi.... Aku datang menjemput kamu..."
Suara seseorang yang sangat berat, dan diiringi oleh aroma anyir yang sangat kuat memenuhi ruangan kamar.
Dwi beranjak dari kamarnya, dan langkahnya menuju jendela, tempat dimana ia mendengar suara panggilan yang terdengar cukup jelas.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh