Cinta Caca mengajarkan Alex arti kehidupan, kebahagiaan dan kehilangan.
Namun siapa sangka, Caca meninggalkan Alex dan membawa cinta mereka ke surga.
Begitu banyak kenangan dan kebaikan yang ditinggalkan Caca.
Dia mendonorkankan matanya untuk Meli. Bahkan dia juga menitipkan cintanya pada Meli.
Akankah Meli menggantikan posisi Caca di hati Alex?
Ikuti terus kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Genik Amarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata ini untuk Meli
Setelah makan siang bersama, Meli membantu bibinya untuk mencuci piring dan membereskan dapur. Ayah dan ibu Caca terus memandangi Meli yang sedang beberes itu. Mereka merasa Caca seperti hidup di dalam tubuh Meli. Tatapan matanya sama dengan tatapan mata Caca. Mungkin itu karna memang mata itu mata Caca. Tetapi senyuman Meli kini juga sangat persis dengan senyuman Caca. Padahal sebelumnya senyuman Meli sangat berbeda dengan Caca. Meli lebih sering tersenyum lebar dan tertawa lepas. Sedangkan Caca biasanya tersenyum dengan senyuman yang kecil tapi bermakna. Bisa jadi karna orang tua Caca yang terlalu merindukan putrinya. Yang pasti mereka merasa ada Caca didalam diri Meli yang sekarang.
“Paman...bibi kenapa liatin Meli ters sih?” tanya Meli penasaran.
“Nggak kenapa-napa kok sayang, sini istirahat dulu.” Jawab bibinya lembut.
Ayah Caca beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar. Tak lama kemudian ayah Caca datang lagi dengan sebuah amplop di tangannya. Lalu surat itu diberikan kepada ibu Caca yang tengah berbincang dengan Meli. Ayah Caca duduk kembali ke kursinya.
“Sayang... ini ada surat dari Caca. Dia menulis banyak surat untuk orang-orang yang disayanginya. Caca berpesan dalam surat kami, untuk menyerahkan surat ini jika kamu sudah bisa melihat lagi.” Ucap ibu Caca menjelaskan.
“Trimakasih bibi,” ucap Meli tersenyum menerima surat itu.
Meli sangat senang menerima surat itu dan segera menyimpannya ke dalam tas. Meli ingin membaca suratnya di rumah bersama ibunya. Meli melepas celemek yang masih menggantung di lehernya. Dia berpamitan kepada paman dan bibinya.
Sebelum kembali ke rumah, Meli bermaksud mengunjungi makam Caca. Meli menaburkan bunga yang dia beli di depan pemakaman tadi. Lalu dia duduk bersimpuh di samping makam Caca.
“Ca... maaf aku baru bisa kesini lagi hari ini. Paman dan bibi sudah menceritakan semuanya tentang pendonor mata. Surat darimu juga sudah ku terima, aku akan membacanya nanti di rumah bersama ibu. Ca... trimakasih atas kebaikanmu yang tulus. Aku berjanji akan menjaga mata ini baik-baik. Maafkan aku karena tidak menemanimu disaat terakhirmu. Sebanyak apapun ucapan terima kasih ini tak akan sebanding dengan kebaikan dan pengorbananmu. Trimakasih Ca. Aku menyayangimu. Berbahagialah di surga.” Ucap Meli sambil mengusap air matanya.
Meli mengambil kaca mata hitam di dalam tas lalu memakainya. Dia mengucapkan selamat tinggal dan berjalan meninggalkan makam Caca. Saat berjalan belum jauh dari makam Caca, dia berpapasan dengan seorang laki-laki. Ya... laki- laki itu adalah Alex. Meli melajukan motornya dengan perlahan meninggalkan pemakaman. Alex tiba di makam Caca dan melihat taburan bunga yang masih segar. Saat dia datang, hanya ada wanita yang berpapasan dengannya tadi. Tapi siapa dia? Alex tak mengenalnya.
Sesampainya di rumah , Meli memeluk dan mencium kening ibunya. Dia menceritakan bahwa ternyata pendonor itu adalah Caca. Ibunya sangat terkejut, seperti halnya Meli. Perasaannya bercampur aduk. Air matanya berlinang, bibirnya bergetar tak sanggup berkata-kata. Meli menenangkan ibunya dan menunjukkan surat itu.
“Ibu, paman dan bibi bilang kita harus tersenyum agar Caca juga tersenyum di surga. Tersenyumlah ibu.” Ucap Meli tersenyum sambil menghapus air mata ibunya.
“Baik, ibu tidak akan menangis,” ucap ibu Meli berusaha tersenyum.
“Bu, ini ada surat dari Caca untuk kita, Meli akan bacakan.” Ucap Meli tersenyum.
“ Baiklah... cepat bacakan!” pinta ibu Meli antusias.
Halo bibiku sayang...
Halo Meli ku sayang...
Semoga kalian sehat selalu
Bibi... trimakasih sudah melimpahi Caca dengan kasih sayang
Trimakasih sudah sabar menghadapi Caca yang jahil sejak kecil
Maafkan Caca karna Caca pergi begitu saja
Bibi tak perlu berfikir apapun tentang donor mata
Caca ikhlas mendonorkannya untuk adikku sayang
Jika bibi merindukanku maka tataplah Meli dan peluklah diab
Karna aku akan selalu bersama nya
Jaga kesehatan ya... dan tersenyumlah untuk Caca.
Meli... Trimakasih atas kasih sayangmu
Trimakasih atas semua kenangan kita
Suka, duka, canda, tawa dan segalanya
Maafkan aku meninggalkanmu tanpa pamit
Tapi walaupun aku sudah tiada, aku akan selalu mendengar ceritamu
Karna aku melekat pada dirimu dan aku ada bersamamu
Jangan jadikan mata itu sebagai beban hatimu
Sungguh aku ikhlas memberikannya untukmu
Kini kau bisa melihat kembali dunia yang indah ini
Sayang...kau tak perlu menangisi pria itu lagi
Teman\=temanmu yang telah menyakitimu juga tak mpantas kau tangisi
Karna cinta yang tulus akan menerima apapun kondisimu
Dan teman yang baik tidak akan meninggalkanmu dalam keterpurukan
Lihatlah dunia dan teruslah berkarya
Salam sayang dari Caca.
Mereka tersenyum haru membaca surat dari Caca. Ibu dan anak itu saling berpelukan dengan air mata yang membasahi pipi mereka.
Sejak hari itu Meli menjalani hari-harinya dengan semangat dan ceria.
Anton mendekatinya lagi dan meminta Meli kembali menjadi pacarnya. Tapi Meli tidak menghiraukannya. Star band meminta Meli untuk menemui mereka di kafe. Sebenarnya Meli tidak ingin menemui mereka, tapi bagaimanapun juga mereka pernah sangat dekat dan berkarya bersama.
Anton dan anggota Star yang lain menyambutnya dengan senyum. Mereka memperlakukan Meli dengan baik bahkan sedikit berlebih. Hal itu malah membuat Meli merasa risih. Teman-teman bertopeng nya itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
Anton menggenggam tangan Meli dan melontarkan kata-kata manisnya. Tapi dengan cepat Meli segera melepaskan tangannya. Anton terus membujuk Melly untuk kembali menjadi pacarnya. Begitu juga dengan Star band, mereka ingin Meli kembali.
"Wow kalian luar biasa! Setelah membuangku begitu saja bahkan kalian masih punya nyali untuk memungutku lagi." ucap Meli dengan senyum miringnya.
"Kau salah paham Mel, waktu itu kami hanya ingin kamu beristirahat dulu, kami sangat mengkhawatirkanmu." ujar Jihan membodohi.
"O ya? Seingatku tak ada satupun dari kalian yang menjengukku saat aku benar-benar terpuruk." sangkal Meli dengan mata berkaca-kaca.
"Kami sebenarnya berencana menjengukmu tapi jadwal kami sangat padat saat itu," Rendi menimpali.
"Oh oke, lalu bagaimana dengan sekadar chat atau telfon? Apa ponsel kalian hilang bersamaan saat itu?!" sindir Meli.
Mereka tak berkutik lagi dengan ucapan Meli yang terus memojokkan mereka.
"Sudahlah sayang, bagaimanapun kita semua kan sahabat," bujuk Anton membelai kepala Meli.
"Sahabat??? Bahkan kalian tak pantas menyandang gelar itu!" Sahut Meli mengibaskan tangan Anton.
"Dan kau, jangankan cintaku, bahkan kau tak pantas mendapatkan senyumanku!" ucap Meli dengan nada tinggi.
Anton memgeluarkan jurus andalannya. Berbait-bait pujian dan ucapan manis telah dia lontarkan. Dengan penuh percaya diri, dia yakin jika Meli pasti akan kembali padanya. Tapi na'asnya Meli tak mengindahkan keyakinannya. Meli berdiri dan menyiramkan minumannya pada pria brengsek itu. Dia sudah muak dengan para parasit yang ada di hadapannya. Meli mengmbil foto-foto kebersamaan mereka dari dalam tas dan merobeknya. Dengan kesal, dia meletakkan robekan foto itu diatas meja lalu meninggalkan tempat itu.
Anton sangat kesal dan malu dengan apa yang barusan terjadi padanya. Mereka terkaget-kaget melihat Meli yang sangat menakutkan. Biasanya dengan sangat mudah mereka selalu membodohi Meli.
Disepanjang jalan Meli menangis sambil terus melajukan motornya. Perasaan Meli bercampur aduk, dia terluka karena perlakuan orang-orang yang dianggapnya sahabat selama ini. Dia sedih karna selama ini orang yang dia anggap mencintainya ternyata hanya seorang pria brengsek. Tapi dia juga merasa lega karna telah melepaskan diri dari ikatan palsu para parasit itu.
"Huh mereka membuang waktuku saja," umpatnya sambil memarkirkan motor di garasi rumah.
Ibunya memandang anaknya heran. Raut wajah anaknya yang kesal dan cemberut mengisyaratkan moodnya yang sedang tifak baik. Meli menghampiri ibunya dan menjabat tangannya.
Halo teman-teman maaf ya episode kali ini tak sebanyak biasanya. Mohon dukungannya ya biar author semangat up nya.
Jangan lupa like nya, krisarnya, rate 5 nya dan vote nya ya. Jempol merahmu adalah semangatku.
Salam sayang dariku.
tulisan rapi. ditambah menjabarkan adegan bagus banget