Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB.15
🌅 PAGI YANG TIDAK TENANG
Matahari baru saja menampakkan sinarnya di ufuk timur. Suasana perkemahan Tim B yang tadinya tenang, tiba-tiba berubah mencekam.
GEDUBRAK! GEDUBRAK!
Derap kaki pasukan yang sangat banyak terdengar memadati seluruh area. Dalam sekejap mata, tenda-tenda Tim B sudah dikelilingi oleh ratusan prajurit bersenjata lengkap dengan baju besi mengkilap. Mereka membentuk formasi lingkaran ketat, menatap anggota Tim B dengan tatapan curiga dan merendahkan.
"KELUAR! SEMUA KELUAR DARI TENDA!" teriak salah satu perwira dengan suara lantang.
Fredrin, Floyen, dan yang lainnya langsung kaget dan memegang gagang senjata mereka.
"Ada apa ini?!" seru Fredrin bingung.
"Mereka siapa? Kok tiba-tiba ngepung kita?" tanya Ji-na mulai panik lagi.
Bahkan Lisa yang biasanya tenang pun mengerutkan keningnya. Dia melangkah keluar dari tenda, matanya yang tertutup menyipit, merasakan aura musuh yang sangat banyak di sekeliling mereka.
'Hah? Pagi-pagi udah ada yang cari masalah?' batin Lisa terkejut dan mulai kesal.
WU-YUAN MUNCUL DENGAN AURA GALAK
Tepat saat ketegangan memuncak, sebuah aura dingin dan menekan meledak keluar.
WUSH!
Wu-yuan melangkah keluar dari tenda utamanya dengan wajah datar tapi matanya memancarkan kilatan bahaya. Dia berjalan santai maju ke depan, tepat berada di barisan paling depan menghadapi ribuan pasukan itu.
"APA-APAAN INI?!" suara Wu-yuan meledak, membuat tanah sedikit bergetar.
"Kenapa kalian berkumpul ramai-ramai di depan tenda kami seperti sekumpulan lalat? Ada perlu apa pagi-pagi begini?"
Dari balik barisan prajurit, majulah seorang pria gagah dengan baju zirah emas yang penuh hiasan. Wajahnya terlihat sombong dan angkuh, seolah dialah orang paling penting di sana. Dia adalah Komandan Pasukan Utama wilayah itu.
"Hmph!" dengus Komandan itu sambil menatap Wu-yuan dari atas ke bawah. "Aku yang harusnya bertanya! Apa yang kalian lakukan di sini?! Ini adalah zona pertempuran utama, bukan tempat bermain atau berkemah untuk kelompok kecil sepertimu!"
Wu-yuan mengangkat alisnya. "Kami adalah Tim B yang dikirim langsung oleh Kekaisaran ke sini untuk membantu membersihkan wilayah ini."
"Omong kosong!" potong Komandan itu keras. "Jika kalian ingin membantu atau ingin beristirahat, kalian harusnya berkumpul di Batalion Utama di bagian Utara! Bukan mendirikan markas sembarangan di sini!"
Dia melangkah maju selangkah, suaranya penuh ancaman.
"Ketahuilah! Jika kalian berkemah di sini dan mengambil posisi strategis, kalian akan dianggap ingin merampas seluruh harta rampasan perang yang seharusnya menjadi milik pasukan resmi! Minggir! Atau kami anggap kalian pemberontak!"
🤣 WU-YUAN KETAWA NGAKAK
Mendengar omongan panjang lebar si Komandan yang sok berkuasa itu wu-yuan malah tidak marah. Justru...
WHAHAHAHAHA!!
Wu-yuan tertawa terbahak-bahak! Tawanya keras, keras, dan sangat mengejek. Dia menepuk-nepuk pahanya sendiri sambil geleng-geleng kepala.
"Harta rampasan perang? Merampas? Hahaha! Astaga, lucu sekali kau ini!"
Wu-yuan berhenti tertawa, lalu wajahnya berubah menjadi sangat dingin dan sinis dalam sekejap.
"Dengar baik-baik ya, Komandan..," ucap Wu-yuan pelan tapi menusuk.
"Aku tidak tahu, dan aku juga tidak peduli dengan aturan batalion atau pembagian harta karun konyol macam apa yang kalian bicarakan."
"Kami ada di sini karena kemarin malam kami sudah menghancurkan markas musuh dan membunuh Ratu Iblis di tempat ini. Jadi secara logika, tempat ini adalah milik kami karena kami yang menaklukkannya dengan darah dan keringat sendiiri dan juga tempat ini bukan lah area kuasa kalian kami sama sekali tidak melangar aturan...
"Jadi... jangan pernah datang ke sini dan menasehati kami seolah kami telah melakukan kesalahan. Mengerti?"
Di belakang Wu-yuan, Lisa mencengkeram lengan bajunya sendiri. Dadanya naik turun menahan emosi.
'Dasar orang menyebalkan... Cuma soal tempat dan harta doang juga ribut,' gerutu Lisa di dalam hati.
'Padahal kemarin pas perang mereka pada kemana? Pas kita bantai habis-habisan mereka nggak ada, pas udah aman eh pada muncul sok atur. Dasar parasit!'
Lisa sangat ingin maju dan meledakkan orang-orang yang berani menekan mereka, tapi dia menahannya. Dia ingat kata-katanya sendiri untuk tidak terlalu mencolok. Lagipula, Wu-yuan sudah menangani dengan sangat baik dan galaknya pas banget!
'Sudah lah... biarkan senior yang urusin orang-orang sombong ini. Kalau mereka nekat... baru aku yang bertindak,' batin Lisa tenang tapi matanya menyala merah samar.
Suasana menjadi sangat tegang. Prajurit-prajurit itu memegang erat senjata mereka, siap menyerang kapan saja. Namun mereka takut bergerak karena aura Wu-yuan yang begitu mengerikan.
Mendengar jawaban santai Wu-yuan tadi, Komandan bermata serakah itu malah tertawa sinis.
"WHAHAHA! Omong kosong! Jangan mengada-ada! Ratu Iblis itu adalah monster tingkat tinggi yang bahkan pasukan utama pun kesulitan melawannya! Mana mungkin kalian sekelompok anak-anak muda ini bisa membunuhnya dalam semalam?!"
Dia menunjuk wajah Wu-yuan dengan jari telunjuknya.
"Aku tahu maksud kalian! Kalian pasti diam-diam menyelinap, mengambil Inti Monster dan Kristal Darah yang berharga! Terutama Inti Ratu Iblis itu! Harganya selangit! Bisa dibuat menjadi perisai pertahanan tingkat dewa atau bahan untuk menciptakan senjata legendaris! Kalian pasti sudah mencurinya!"
Suasana langsung memanas. Anggota Tim B seperti Fredrin dan Floyen sudah memegang gagang pedang mereka erat-erat, wajah mereka merah padam menahan amarah.
"Hei! Jangan asal nuduh dong!" teriak Fredrin tidak terima.
Komandan itu tidak peduli. Dia melambaikan tangannya, dan ratusan prajurit di belakangnya langsung mengangkat tombak dan pedang mereka siap menyerang.
"Dengar sini baik-baik! Karena kalian tertangkap basah sedang mencoba kabur membawa harta rampasan perang milik negara, maka aku menangkap kalian sekarang juga!"
"Serahkan semua inti monster dan kristal yang kalian curi! Lalu ikut kami kembali ke markas untuk diadili! Kalian semua akan dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah seumur hidup! Jangan harap bisa bebas!" teriaknya penuh kemenangan palsu.
Dia mengira dengan ancaman ini, Tim B akan ketakutan dan menyerah.
Namun... Wu-yuan tidak bergerak. Dia hanya berdiri diam. Tapi perubahan terjadi pada auranya.
Wajah yang tadi masih tersenyum mengejek, kini berubah menjadi sedingin es. Matanya memancarkan kilatan mematikan yang membuat suhu udara di sekitarnya turun drastis.
"Kau... bilang apa tadi?" suara Wu-yuan pelan, tapi setiap kata terasa seperti pisau yang menancap di dada.
"Kau bilang... kami mencuri? Dan kau ingin memasukkan aku... dan murid-muridku ke penjara?"
Wu-yuan perlahan mengangkat tangannya dan mencabut pedangnya sedikit saja. Sreeett... Suara besi bergesekan terdengar sangat menyeramkan.
"Dasar sampah manusia bermata serakah... Berani-beraninya kau datang ke wilayah yang kami taklukkan dengan darah kami sendiri, lalu menuduh kami pencuri dan mengancam mau masukkan kami ke penjara?"
"Kau pikir siapa kami ini? Hah?!"
Aura dingin mulai keluar dari tubuh Wu-yuan. Prajurit-prajurit di barisan depan langsung mundur teratur, wajah mereka pucat pasi karena tidak kuat menahan tekanan aurah dingin yang membunuh begitu pekat.
Di belakang, Lisa mencengkeram ujung bajunya sampai keriput. Dadanya naik turun hebat.
'Gila ya orang ini... Udah tau kita yang bantai semalam, eh pagi-pagi dateng nuduh curi terus ngancem penjara segala,' gerutu Lisa di dalam hati.
'Dasar lintah darat! Mata doang gede, pengennya ambil untung doang. Inti Ratu Iblis? Udah hancur lebur kena petirku kemarin! Kalian mau cari bangkainya aja juga nggak ada!'
Lisa sudah sangat kesal. Tangannya sudah siap memanggil energi gelap, siap untuk menghancurkan semua orang yang berani mengganggu mereka.
'Wu-yuan jangan kasih ampun ya... Hancurin aja mereka semua biar puas. Kalau dia nggak sanggup, biar aku yang habisin mereka dalam satu kedipan mata!' batin Lisa sudah tidak sabar ingin bertindak kasar.
Melihat Lisa sudah gemetar menahan emosi dan tangannya siap meledakkan sesuatu, Floyen dengan sigap langsung memegang tangan Lisa perlahan.
"Nona Lisa... tenanglah. Biarkan aku yang bicara," bisik Floyen lembut.
Lisa menoleh, melihat tatapan tenang Floyen, amarahnya perlahan mereda. Dia mengangguk pelan, membiarkan Floyen maju ke depan.
Floyen melangkah santai melewati Wu-yuan. Dia menunduk sedikit sopan kepada gurunya itu.
"Senior Wu-yuan... izinkan aku yang bicara dengan mereka."
Wu-yuan yang wajahnya sudah gelap pekat itu hanya mendengus kasar tapi membiarkan Floyen maju.
Floyen menghadap Komandan yang sombong itu dengan wajah datar.
"Kami mohon maaf jika kami melanggar peraturan yang kalian buat di Batalion ini. Tapi tolong dengarkan dulu," ucap Floyen tenang.
"Kami benar-benar diutus langsung oleh Kekaisaran. Kami adalah murid-murid pilihan dari Akademi Kekaisaran yang ditugaskan khusus untuk membasmi monster di bagian Utara. Kalian pasti sudah menerima surat edaran tentang kedatangan kami, kan?"
Komandan itu terdiam sedikit, tapi masih memasang wajah sinis.
"Kami mendirikan tenda di sini karena kemarin malam tempat ini sudah kami bersihkan. Ratu Iblis memang benar-benar kami yang membunuhnya. Namun untuk Inti Iblisnya... tidak ada. Karena serangan terakhir menghancurkan tubuhnya total hingga menjadi debu. Tidak ada yang tersisa untuk diambil."
"Tapi jika kalian tidak percaya... ini buktinya."
Floyen mengangkat tangannya, dan munculah sebuah Lambang/Giro (Tanda Pengenal) berwarna emas perak yang memancarkan aura resmi milik Akademi Kekaisaran. Itu adalah bukti mutlak bahwa mereka bukan orang sembarangan.
"Baiklah. Karena kalian merasa terganggu dan menganggap kami tidak pantas di sini... kami akan pergi. Tapi ingat, kami pergi bukan karena takut atau salah, tapi karena menghormati permintaan kalian. Dan mulai saat ini... kami tidak akan lagi membantu urusan pertahanan atau masalah apa pun di sekita perbatasan ini."
Melihat bukti otentik itu dan mendengar mereka mau pergi, Komandan itu justru tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Huh! Bagus kalau begitu. Pergilah kalian dari sini!" dengusnya tinggi hati.
"Kami tidak butuh bantuan dari anak-anak muda yang sok hebat dan sombong sepertimu! Urusan kami akan berjalan lancar tanpa campur tangan kalian! Minggir!"
Floyen tidak membalas. Dia hanya menunduk sedikit, lalu berbalik badan.
"Ayo teman-teman... kita pergi dari sini."
Anggota Tim B berjalan pergi dengan wajah kesal dan dongkol. Fredrin sampai menggeram, "Dasar orang buta mata! Nanti kalau ada monster menyerbu baru nyesel!" tapi dia tetap mengikuti langkah kelompok.
Lisa yang berjalan di belakang pun sudah tidak marah lagi. Dia tersenyum tipis.
'Pintar Floyen... Dengan begini, kita tidak melanggar aturan, tapi justru mereka yang menolak bantuan. Kalau nanti mereka mati, itu bukan salah kita,' batin Lisa puas.
Sesampainya di jalan yang agak jauh dari perkemahan musuh, Wu-yuan berhenti. Dia menepuk bahu Floyen.
"Kalian jalan duluan ke arah desa terdekat. Cari penginapan yang layak dan istirahatlah di sana. Aku akan menyusul... ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan dulu."
"Baik, Senior," jawab mereka serempak.
Tim B pun berjalan meninggalkan Wu-yuan sendirian.
Begitu murid-muridnya hilang dari pandangan, mata Wu-yuan langsung berubah tajam.
"Hah! Berani nuduh kami pencuri dan ngusir muridku... mau pergi begitu saja tanpa balesan? Mimpi!"
Wu-yuan langsung mengeluarkan jubah hitam panjang, menutupi seluruh tubuh dan wajahnya hingga hanya tersisa celah untuk mata. Dia juga menekan dan menyembunyikan seluruh auranya sampai tidak terdeteksi sama sekali.
WUSH!
Dia bergerak balik dengan kecepatan kilat menuju ke arah Markas Besar Batalion tadi!
Di markas, para prajurit dan Komandan itu sedang tertawa-tawa merasa menang.
"Hahaha! Dasar anak kemarin sore! Gampang banget dikerjain!"
TRAAK! BUG! DRAAAT!
Tiba-tiba saja, perbekalan makanan meledak, tiang bendera roboh, dan gudang senjata berantakan tanpa terlihat siapa pelakunya!
"Ada penyusup!!" teriak prajurit panik.
Mereka sibuk mencari ke sana kemari tapi tidak melihat siapa-siapa. Padahal di atas atap, Wu-yuan sedang duduk santai sambil mencabut rumput.
"Ini baru bunga... lain kali kalau berani nuduh orang salah, siap-siap markasnya hancur total," bisik Wu-yuan dingin.
Setelah puas membuat mereka ribut dan panik setengah mati, Wu-yuan pun melompat dan menghilang pergi dengan senyum puas.
🏨 SAMPAI DI PENGINAPAN
Malam harinya, di sebuah penginapan nyaman di desa terdekat.
Seluruh anggota Tim B sudah mandi, ganti baju bersih, dan makan kenyang. Wajah mereka sudah kembali ceria meski masih ngomel sedikit soal kejadian pagi tadi.
Pintu terbuka, Wu-yuan masuk dengan wajah santai dan segar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Oh? Kalian sudah semua di sini? Bagus. Istirahat yang cukup... besok kita mulai misi sesungguh
Matahari baru saja menampakkan wajahnya, namun suasana di ruang tamu penginapan sudah penuh semangat. Wu-yuan berdiri di depan peta besar yang dibentangkan di meja.
"Baiklah, dengarkan. Kita diusir dari markas resmi, tapi itu justru lebih baik. Kita bisa bergerak bebas tanpa birokrasi yang menyebalkan," kata Wu-yuan dengan nada santai tapi serius.
Dia menunjuk sebuah titik merah besar di peta, sekitar sepuluh kilometer dari desa.
"Menurut laporan terakhir, ada sebuah desa kecil bernama Desa Oakenshield yang tiba-tiba memutus kontak tiga hari lalu. Tidak ada yang keluar, tidak ada yang masuk. Lokasinya berada tepat di pinggiran Hutan Terlarang."
Fredrin yang biasanya ceria kini wajahnya mengeras. "Jadi kemungkinan besar... mereka sudah diserang?"
"Atau lebih buruk," potong Wu-yuan. "Ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar monster biasa yang sedang bersembunyi di sana. Tugas kita: Selidiki, selamatkan yang masih hidup, dan basmi sumber masalahnya."
Lisa yang duduk di pojok langsung berdiri tegak. Matanya berbinar penuh antusiasme, sisa kekesalan kemarin sudah hilang berganti dengan rasa ingin membuktikan diri.
"Siap, Guru! Kali ini aku tidak akan main-main. Aku mau tunjukkan kalau kami bukan cuma 'anak kemarin sore' seperti kata mereka!" serunya semangat.
Floyen tersenyum kecil melihat semangat adiknya. Dia menepuk punggung Lisa pelan.
"Aku tahu kamu hebat, Lis. Tapi ingat, tetap waspada. Di Utara ini, bahaya bisa datang dari mana saja, bahkan dari tanah yang kita pijak."
Floyen selalu begitu, tenang dan penuh perhitungan. Dia tahu kalau desa itu sudah sunyi selama tiga hari, situasinya pasti sudah sangat mengerika
Mereka segera merapikan perlengkapan. Fredrin mengecek pedang dan perisainya, sementara Floyen memastikan semua ramuan penyembuh dan alat sihirnya lengkap.
Sebelum berangkat, Wu-yuan tiba-tiba menatap mereka tajam.
"Ingat satu hal. Di sana, aturan akademi tidak berlaku. Hukum terkuatlah yang menang. Jika kalian ragu sedikit saja... nyawa kalian yang melayang. Mengerti?"
"MENGERTI!" jawab mereka kompak.
Mereka pun berangkat. Menembus jalanan yang mulai sepi dan berangin dingin. Semakin jauh berjalan, suasana semakin mencekam. Pepohonan mulai tumbuh rapat dan tinggi, menutupi sinar matahari.
🌲 HUTAN YANG MATI
Sesampainya di dekat perbatasan Desa Oakenshield, mereka langsung berhenti. Hening. Sangat hening.
Biasanya hutan pasti terdengar suara burung atau serangga, tapi di sini... sunyi senyap. Seolah-olah seluruh kehidupan di sana telah dibunuh.
"Kalian dengar?" bisik Floyen pelan.
"Apa?" tanya Fredrin.
"Tidak ada suara. Itu yang aneh. Hewan-hewan pasti lari kalau ada monster kuat, tapi ini... terlalu sunyi," jelas Floyen waspada.
Lisa mengeratkan cengkeraman tangannya pada tongkat sihirnya. Aura gelap samar-samar terasa menusuk hidung. Bau busuk dan darah kental mulai tercium.
"Tunggu... lihat itu!" tunjuk Lisa.
Di kejauhan, gerbang desa sudah rusak parah. Papan nama desa itu tergantung miring dan penuh goresan tajam. Namun yang paling mengerikan... tidak ada satu pun mayat atau reruntuhan yang terlihat jelas. Seolah-olah penduduknya hilang ditelan bumi.
Wu-yuan mengangkat tangan memberi kode berhenti. Wajahnya yang biasanya santai kini berubah sangat serius.
"Jangan gegabah. Ada jebakan atau sihir pengikat di sini. Fredrin, kau di depan. Floyen, lindungi sisi kanan dan kiri. Lisa... siap-siap tembakkan serangan terkuatmu kalau ada yang muncul."
Mereka berjalan perlahan memasuki desa yang mati itu. Langkah kaki mereka terdengar sangat keras memecah keheningan.
Tiba-tiba...
WUSSS!
Angin dingin bertiup kencang dari arah balai desa di tengah pemukiman. Di sana, terlihat sebuah bayangan hitam besar sedang duduk santai di singgasana yang terbuat dari tulang-belulang!
"Hahaha... Akhirnya makanan enak datang juga. Kupikir hanya akan memakan daging busuk penduduk desa ini saja," suara itu berat, serak, dan penuh kebencian.
BERSAMBUNG......