NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menjatuhkan pilihan

Ditatap selama itu membuat Evelyn mulai merasa tidak nyaman.

“Kenapa Cristian menatapku seperti itu? Apa dia… mulai mengenaliku?” batinnya gelisah. Ada sesuatu dalam cara pria itu memandang—bukan sekadar menilai, tapi seolah mencari jawaban yang tersembunyi di dalam dirinya.

Refleks, Evelyn menundukkan pandangannya. Ia tidak ingin terlalu lama terjebak dalam tatapan yang entah kenapa membuat jantungnya juga ikut berdebar tak menentu.

Di sisi lain, Lauren jelas tidak menyukai situasi itu.

Sorot matanya menajam, bibirnya sedikit mengeras. Tanpa ragu, ia melangkah maju, berdiri tepat di antara Cristian dan Evelyn, memutus garis pandang yang terasa terlalu lama itu.

Tangannya terangkat, menyentuh lengan kekar Cristian dengan percaya diri, seolah itu adalah hal yang wajar.

“Cristian, lebih baik bekerja padaku,” ucap Lauren dengan nada lembut namun penuh kepastian. “Aku yakin kamu akan merasa nyaman.”

Kalimatnya terdengar ringan, tapi penuh maksud.

Cristian menunduk sedikit, menatap tangan yang kini menempel di lengannya. Sentuhan itu sangat membuatnya terganggu secara fisik. Selama ini, tidak pernah ada wanita yang berani menyentuhnya sembarangan. Ada rasa kesal dan jijik yang muncul dari dalam dirinya—tajam, menekan, namun harus ia tahan mati-matian.

Ia menarik napas pelan. Perannya sekarang… bukan dirinya yang sebenarnya. Ia bukan ketua mafia yang disegani. Bukan juga CEO yang semua orang hormati.

Di sini, ia hanyalah seorang sopir pribadi. Seseorang yang harus tunduk, diam, dan tidak menonjol.

Dengan perlahan, Cristian mengangkat pandangannya kembali. Kali ini bukan ke Lauren… melainkan mencoba sekilas melihat ke arah Evelyn di balik bahu gadis itu.

Perasaan aneh itu masih ada. Belum hilang. Dan semakin ia menahannya, semakin kuat rasa ingin tahunya tumbuh.

Siapa sebenarnya Evelyn?

Dan kenapa… kehadirannya justru menjadi satu-satunya hal yang membuat Cristian hampir lupa pada tujuan utamanya sendiri?

“Maaf, nona Lauren… saya memilih nona Evelyn.”

Ucapan itu terdengar tenang, namun cukup untuk membuat udara di lapangan luas itu terasa berubah. Dengan gerakan halus, Cristian menyingkirkan tangan Lauren dari lengannya—tanpa kasar, tapi jelas penuh batas.

“Apa? Mustahil!” seru Rachel, matanya melebar tak percaya.

Lauren lebih parah lagi. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini menegang. Untuk pertama kalinya, seorang pria menolaknya secara langsung—dan itu terjadi di depan orang lain.

Harga dirinya terasa seperti ditampar.

“Sopir ini… berani sekali,” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar, namun cukup tajam.

Alberto mengangkat tangan, menghentikan potensi keributan sebelum benar-benar terjadi.

“Kalian sudah dengar pilihan Cristian,” ucapnya tegas, nada suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan. “Tidak perlu diperdebatkan lagi.”

Keputusan sudah dibuat. Dan di rumah ini… keputusan Alberto adalah mutlak.

Rachel mendecih pelan, memalingkan wajahnya dengan kesal. Lauren mengepalkan tangannya sesaat, lalu menarik napas panjang, memaksa ekspresinya kembali tenang meski matanya masih menyimpan bara.

Mereka tidak terima. Tapi mereka tidak punya pilihan selain diam.

Di sisi lain…Evelyn justru tersenyum. Senyum kecil, tipis… namun penuh arti.

Tatapannya kembali terangkat, menatap Cristian tanpa ragu kali ini. Tidak ada lagi kegelisahan seperti sebelumnya—yang tersisa justru sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangannya.

Akhirnya. Evelyn berhasil mendapatkannya. Dan setelah ini…Ia akan mencari tahu dan mencoba memperbaiki semuanya. Apa pun caranya. Karena kali ini, Evelyn tidak akan membiarkan sesuatu yang penting… terlepas begitu saja.

Tinggal empat pria yang berdiri berjajar, menunggu takdir mereka ditentukan dalam hitungan detik.

“Charlie, siapa yang akan kau pilih!” perintah Alberto, suaranya tegas. Ia sengaja mendahulukan putra satu-satunya, memberi jeda bagi Rachel dan Lauren yang jelas masih menyimpan ketidakpuasan.

Charlie menyeringai tipis, kedua tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya menyapu satu per satu pria yang tersisa, penuh penilaian.

“Sepertinya… Alex cukup menarik,” katanya santai, namun penuh keyakinan.

Alex, pria berkulit hitam dengan tubuh tinggi dan otot yang terbentuk sempurna, hanya mengangguk pelan. Tatapannya tenang, namun ada kekuatan tersembunyi di balik sikap diamnya.

Alberto lalu mengalihkan pandangannya pada Rachel. Tanpa perlu kata. Rachel sudah mengerti.

Dengan sedikit mengangkat dagu, ia berkata, “Aku memilih William.”

William—pria berkulit sawo matang dengan wajah yang terlihat lebih muda dibandingkan Cristian—memberikan hormat singkat. Sorot matanya lembut, namun tetap waspada.

Tersisa Lauren. Ia terdiam sejenak, matanya masih sempat melirik ke arah Cristian dan Evelyn dengan kilatan tak suka. Namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis.

“Aku memilih… Thom,” ucapnya akhirnya.

Thom, pria berkulit putih dengan rambut perak yang mencolok, membalas dengan senyum ramah. Wajahnya terlihat ramah dan bersahabat, tapi ada ketenangan yang sulit ditebak di balik ekspresi itu.

Satu pria yang tersisa hanya bisa menundukkan kepala. Tanpa pilihan. Tanpa tempat. Ia berbalik dan pergi dari lapangan luas itu, langkahnya terdengar semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dalam keheningan.

Kini semuanya sudah ditentukan.

Setiap anak Alberto memiliki sopir sekaligus bodyguard masing-masing.

Cristian untuk Evelyn, Alex untuk Charlie, William untuk Rachel, dan Thom untuk Lauren.

Namun di balik pembagian sederhana itu… tanpa disadari oleh keluarga Alberto—Mereka baru saja membawa bahaya… sekaligus takdir yang tak terhindarkan… masuk ke dalam rumah mereka sendiri.

Mobil-mobil mewah telah berjajar rapi di halaman gedung kantor, masing-masing siap mengantar tuannya ke tujuan.

Rachel melangkah cepat tanpa menoleh lagi. Pikirannya sudah dipenuhi jadwal dan ambisi. Ia masuk ke mobilnya, menuju butik miliknya—tempat di mana ia menjadi pusat perhatian.

Lauren tak kalah sibuk. Dengan ekspresi yang kembali angkuh, ia berjalan menuju mobilnya sendiri. Pemotretan menunggunya, dan tentu saja… dunia harus melihat betapa sempurnanya dirinya.

Charlie tetap tinggal. Ia berdiri di samping Alberto, membicarakan pekerjaan seperti biasa. Baginya, kantor itu adalah medan tempurnya.

Sementara itu…Evelyn memilih pulang.

Langkahnya pelan, sedikit goyah. Kepalanya terasa berat, pandangannya mulai berkunang-kunang. Dunia di sekitarnya seperti berputar pelan, membuat napasnya ikut tidak teratur.

“Aku kira di kehidupan ini aku bisa lebih sehat… ternyata tetap saja mudah sakit,” batinnya lirih.

Ia berusaha tetap tenang, tidak ingin terlihat lemah.

Di depannya, Cristian sudah lebih dulu membuka pintu mobil untuknya. Gerakannya rapi dan sopan, sesuai peran yang sedang ia mainkan.

“Kita ke mana, nona?” tanyanya singkat.

“Pulang saja… aku merasa tidak enak badan,” jawab Evelyn pelan, suaranya nyaris kehilangan tenaga.

Cristian mengangguk.

Namun saat Evelyn masuk ke dalam mobil, sesuatu dalam dirinya ikut bergerak. Rasa khawatir. Datang begitu saja. Tanpa izin. Tanpa alasan yang jelas.

Ia menutup pintu mobil perlahan, lalu berjalan ke kursi pengemudi. Tangannya sempat terdiam di atas setir beberapa detik.

Aneh...Sangat aneh.

Evelyn bukan siapa-siapa baginya. Hanya putri dari pria yang ingin ia hancurkan. Hanya bagian dari rencana besar yang sudah ia susun dengan rapi.

Cristian adalah seseorang yang terbiasa mengambil keputusan dingin. Menghilangkan nyawa tanpa ragu. Tidak pernah membiarkan emosi mengganggu logika.

Namun sekarang…Hanya karena melihat gadis itu sedikit pucat, langkahnya goyah, dan suara yang melemah—

Hatinya terusik.

Ia menatap kaca spion. Melihat Evelyn yang bersandar lemah di kursi belakang, matanya terpejam seolah menahan rasa tidak nyaman.

Dada Cristian terasa sesak lagi. Perasaan familiar itu kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya.

Kenapa… harus dia? Kenapa dari sekian banyak orang—Justru Evelyn yang membuatnya merasakan hal aneh seperti ini?

Tanpa sadar, Cristian menyalakan mesin mobil dengan lebih cepat dari biasanya.

Satu hal yang ia tahu pasti saat ini—Rencananya mungkin tidak akan berjalan semudah yang ia kira. Karena untuk pertama kalinya… Ada seseorang yang berpotensi menjadi kelemahannya.

1
sasip
penggambaran adegannya begitu detail, jadi berasa lagi nonton neh thor.. mantab.. 👍🏻😍
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!