Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN YANG MENGUSIK
“Kamu sekarang sudah berani melawan suamimu, ya.”
Nada suara Purbaya rendah, tapi penuh tekanan.
Eva menatapnya dengan mata yang mulai memanas.
“Aku tidak melawan, Mas,” jawabnya. “Kalau aku bicara sekarang, itu karena ada sebabnya.”
Purbaya mengerutkan kening.
“Maksudmu apa?”
Eva menarik napas, lalu berkata dengan nada yang lebih tajam.
“Mas... ada keperluan apa kamu ke hotel siang-siang, kemarin?”
Purbaya sedikit tersentak, tapi segera menguasai diri.
“Hotel?” ia tertawa sinis. “Kamu menuduhku?”
“Aku tidak menuduh. Aku bertanya.”
“Tidak, Eva. Itu jelas tuduhan.” Nada suara Purbaya mulai meninggi. “Dan kamu menuduh tanpa bukti.”
Eva langsung mengambil ponselnya dari tas.
Jemarinya membuka sebuah chat, lalu ia mengangkat layar itu ke arah Purbaya.
“Ini.”
Purbaya membacanya sekilas.
Pesan dari Bu Ratna:
“Eva.. say maaf ya aku chat mendadak. Ini aku barusan banget lihat Mas Pur di hotel daerah Kaliurang. Sama perempuan. Aku sampe lihat dua kali, takut salah orang. Tapi kok kayaknya bener Mas Purbaya deh.. Soalnya mereka keluar bareng dari dalam hotel. Maaf banget ya kalau aku lancang."
Purbaya membaca cepat, lalu mendengus.
“Hanya ini?”
Eva menatapnya.
“Temanku yang melihat.”
“Temanmu?” Purbaya menggeleng sambil tertawa pendek. “Eva, ini bukan bukti.”
Eva tidak menjawab.
“Tidak ada foto. Tidak ada apa-apa.” Purbaya mengangkat bahu. “Hanya cerita seseorang.”
Ia menatap Eva tajam.
“Kamu percaya begitu saja?”
Eva masih memegang ponselnya.
“Aku hanya ingin penjelasan.”
“Penjelasan apa?” potong Purbaya cepat. “Bahwa temanmu mungkin salah lihat?”
Ia mendekat satu langkah.
“Atau mungkin... dia memang ingin membuat masalah.”
Eva mengerutkan kening.
“Maksud kamu?”
“Sejak kapan Bu Ratna begitu peduli dengan rumah tangga kita?” suara Purbaya mulai keras. “Jangan-jangan dia memang sengaja memancing kamu.”
Eva menatapnya tidak percaya.
“Mas...”
“Tidak aneh kalau orang suka membesar-besarkan cerita.” Purbaya menunjuk ponsel Eva. “Apalagi kalau cuma melihat sekilas.”
Ia menggeleng dengan wajah kesal.
“Dan kamu langsung percaya begitu saja.”
Eva menurunkan ponselnya perlahan.
Udara di ruang keluarga terasa tegang.
“Menarik,” katanya pelan.
“Jadi sekarang kamu lebih mempercayai temanmu itu dari pada aku suamimu sendiri?”
Eva menurunkan ponselnya perlahan.
Matanya masih menatap Purbaya, tapi kali ini ada sesuatu yang mulai retak di sana.
“Ta–tapi, Mas...” suaranya tidak lagi setenang tadi. “Cerita miring tentangmu sudah terlalu sering aku dengar.”
Purbaya langsung memotong.
“Cerita miring?” ia mengulang dengan nada tajam.
Eva mencoba menepis keraguannya sendiri.
“Aku tidak pernah percaya semuanya. Aku selalu mencoba mengabaikannya. Tapi sekarang...”
“Tapi sekarang apa?” potong Purbaya lagi.
Eva terdiam sesaat.
“Sekarang kamu mulai percaya?” lanjut Purbaya dengan senyum tipis yang sinis.
Eva tidak menjawab.
Purbaya melangkah mendekat.
“Apa semua gosip murahan yang kamu dengar selama ini... sudah ada buktinya?” katanya pelan tapi menekan.
Hening.
Eva membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar.
Purbaya menunggu.
"........."
Tidak ada jawaban.
Tatapan Eva akhirnya turun.
Dan di situlah Purbaya tahu--untuk saat ini... penyangkalannya berhasil.
Eva masih berdiri di tempatnya, ponsel di tangannya sudah ia turunkan. Kata-kata Purbaya barusan membuatnya kehilangan jawaban.
Sementara di bagian lain rumah itu, tanpa mereka sadari, Mbok Sri sempat mendengar nada suara yang meninggi dari ruang tengah.
Perempuan tua itu berhenti sejenak di depan kamar mandi tempat Noya tadi ia ajak masuk. Ia tidak mendengar jelas kata-katanya, tapi cukup tahu bahwa suasana di rumah sedang tidak baik.
Mbok Sri menghela napas pelan.
“Noya, sini dulu, Le,” katanya lembut.
Noya yang baru selesai mandi menoleh, lalu berjalan kecil mendekatinya sambil membawa bus mainannya.
Mbok Sri tersenyum dan mengajaknya untuk tetap di kamar.
“Kita main di sini dulu, ya.”
Noya menurut saja. Ia duduk di lantai sambil mulai menjalankan bus kecilnya di atas karpet.
Mbok Sri ikut duduk di dekatnya, pura-pura memperhatikan permainan itu.
Sesekali ia masih mendengar suara samar dari ruang tengah.
Ia mengelus kepala Noya pelan.
“Main sama Mbok dulu saja, ya, Le.”
Noya mengangguk kecil, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar kamar itu... kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.
Kembali pada ketegangan mereka.
Purbaya menatap Eva dengan rahang yang menegang.
Beberapa detik mereka saling diam, tapi ketegangan di antara mereka justru semakin terasa.
Akhirnya Purbaya berkata dengan nada rendah yang mulai kehilangan kesabarannya.
“Harusnya kamu yang introspeksi diri, Eva.”
Eva mengangkat alisnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Apa maksudmu?”
Purbaya tertawa pendek, tapi tawa itu terdengar pahit.
“Sebagai suami, aku juga punya kebutuhan, tapi kamu sendiri tahu selama ini bagaimana,” katanya pelan namun menekan.
Eva menatapnya tajam.
“Jangan dibalik, Mas.”
“Aku tidak membalik apa pun.” Purbaya memotong cepat. “Aku hanya mengatakan kenyataannya.”
Ia berjalan beberapa langkah di ruang keluarga, seolah berusaha menahan emosinya.
“Sering sekali kamu menolak aku?” lanjutnya. “Berapa kali kamu bilang capek, tidak mood, atau pura-pura tidur?”
Wajah Eva mulai memerah, antara marah dan tersinggung.
Purbaya menatapnya lagi.
“Jadi jangan heran kalau suatu saat seorang suami merasa...
tidak lagi dihargai di rumahnya sendiri.”
Eva menggeleng tidak percaya.
“Jadi sekarang kamu membenarkan itu?”
“Aku tidak bilang membenarkan.” suara Purbaya meninggi. “Aku bilang itu wajar kalau seorang pria mencari tempat lain ketika di rumahnya sendiri dia tidak mendapatkan apa-apa.”
Kalimat itu jatuh keras di antara mereka.
Eva menatapnya seolah baru pertama kali melihat laki-laki di depannya itu.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Lalu Eva berkata pelan, tapi penuh luka,
“Jadi itu alasanmu?”
“Alasan?” Purbaya mendengus. “Tidak semua hal harus disebut alasan. Kadang itu hanya akibat.”
Hening kembali memenuhi ruangan.
Eva tidak menjawab lagi. Ia hanya berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mereka.
Langkahnya tergesa, bahunya terlihat bergetar. Begitu sampai di kamar, ia langsung duduk di tepi ranjang.
Air matanya akhirnya jatuh.
Di ruang tengah, Purbaya berdiri beberapa detik sebelum akhirnya menyusul.
“Eva--”
Pintu kamar sudah terbuka ketika ia masuk.
Eva duduk membelakanginya di tepi ranjang, kedua tangannya menutup wajahnya. Tangisnya tertahan, tapi jelas terdengar.
Beberapa saat Purbaya hanya berdiri di dekat pintu lalu menutupnya.
Eva menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Namun justru kalimat Purbaya tadi kembali terngiang di kepalanya.
Berapa kali kamu menolak aku?
Eva tahu... ada bagian dari itu yang benar.
Kesibukan kerja. Kelelahan. Pikiran yang selalu penuh. Berkali-kali ia menolak tanpa benar-benar memikirkan apa yang dirasakan suaminya.
Perlahan Eva berdiri.
Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu berbalik menghadap Purbaya.
Tatapan mereka bertemu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Eva mulai melepaskan satu per satu benda yang masih melekat di tubuhnya.
Gerakannya tidak tergesa, tapi juga tidak ragu.
Purbaya menegang.
“Dek, apa yang kamu lakukan?” suaranya rendah.
Eva tidak menjawab. Matanya masih basah.
Ia hanya berkata pelan, suaranya bergetar,
“Kalau itu yang Mas butuhkan... lakukan saja.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dada Purbaya bergetar keras.
Pemandangan di depannya, emosi yang sejak tadi memuncak, dan kedekatan yang selama ini jarang mereka rasakan... semuanya bercampur menjadi satu.
Purbaya melangkah mendekat.
Tangannya meraih bahu Eva, menariknya ke dalam pelukan yang kasar dan penuh emosi.
Ketegangan yang sejak tadi mereka tahan... akhirnya pecah di antara keduanya.
Di kamar itu, tidak ada lagi kata-kata. Hanya napas yang memburu.
Purbaya menarik Eva ke dalam pelukannya. Nafas mereka sama-sama berat, emosi yang sejak tadi saling berbenturan kini berubah menjadi sesuatu yang lain.
Eva tidak lagi melawan. Tangisnya masih tersisa di sudut matanya, namun ia membiarkan Purbaya mendekat.
Beberapa detik ruangan itu dipenuhi hasrat yang menggelora.
Tetapi... tiba-tiba.
Tok... tok... tok.
Ketukan di pintu kamar membuat keduanya tersentak.
Purbaya mengerutkan kening.
“Pak...” suara Mbok Sri terdengar dari balik pintu.
Purbaya menahan napasnya sejenak.
“Pak, nyuwun sewu. Wonten tamu badhe ketemu Bapak.”
Eva dan Purbaya saling menatap sekilas.
“Siapa?” tanya Purbaya dengan suara tertahan.
Beberapa detik hening dari luar pintu.
Lalu Mbok Sri menjawab ragu,
“Katanya... namanya Mbak Alya, Pak.”
Kalimat itu seperti jatuh tepat di tengah ruangan.
Purbaya langsung menegang.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄