"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga
Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.
Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok
Slow up
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan Freya
Freya tiba-tiba merasakan kehadiran di sekitarnya. Itu Alice.
"Mau apa kau, Alice?" tanya Freya lelah, tidak ingin bermain drama lagi.
Alice tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak bisa Freya artikan. Alice menjentikkan kukunya. "Santai, Freya. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bicara... tentang Arga."
Freya menatap datar. "Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Oh, tentu saja ada. Jangan berpikir aku buta, Atau bodoh, Freya," desis Alice sambil mendekat. "Kau pikir aku tidak melihat cara Danu memegang tanganmu? Kau pikir aku tidak melihat ketegasan Arga ketika dia membiarkanmu membersihkan kaca itu?"
Freya menegangkan. "Aku tidak mengerti maksudmu."
"tidak perlu berpura-pura bodoh! aku tau kalau kau diam-diam menyukai Arga, bukan? aku peringatkan padamu, Freya. jangan bernah bermimpi bisa merebut Arga dari aku" ucap Alice dan langsung berlalu dari sana.
Malam itu, Freya dan Arga berada di ruang keluarga rumah Arga. Suasana tegang, jauh lebih mencekam daripada bentrokan mereka sebelumnya.
Arga duduk di sofa, memijit pelipisnya. Pikirannya dipenuhi oleh ancaman Danu dan kecewa pada dirinya sendiri karena telah membiarkan Danu ikut campur.
"Malam ini, kita harus bicara serius," kata Arga, suaranya dingin dan berat.
Freya mengangguk, duduk di kursi yang jaraknya cukup jauh dari Arga.
“Alice menemui mu?,” Arga langsung menuduh.
Freya terkejut. "Bagaimana kamu tahu?"
"Aku tahu, Freya. Karena Alice tidak bodoh," Arga berdiri, berjalan mondar-mandir di depan Freya. "Dia tidak percaya pada hukuman itu. Dia percaya Danu masuk karena kau menarik perhatian, dan dia tahu gue tidak akan membiarkan orang lain mengganggu urusan kita. Dia curiga ada yang lebih besar di balik sandiwara ini."
Arga berhenti tepat di depan Freya, terdengar tajam dan menghukum.
"Ini semua karena kecorobohanmu," desis Arga, kata-katanya penuh kebencian. "gue menyuruh Lo terlihat kuat. gue menyuruh lo mengabaikan Alice dan Laura. Tapi apa yang lo lakukan? lo terlihat rapuh, lo terlihat seperti korban, dan lo membiarkan Danu membantu."
Arga menatap tajam pada Freya "Danu mengancam akan melaporkan gue ke wali kelas jika gue melukai atau membiarkanmu terluka lagi. Dia mengawasimu, Freya. Dia mengawasiku! Jika dia melihat satu pun keanehan, dia akan mencari tahu, dan semua sandiwara kita akan hancur."
"Aku tidak sengaja membuat Danu peduli padaku!" balas Freya, amarahnya juga tersulut. "Aku tidak memintanya untuk datang! Kau yang kejam! Kau yang membiarkanku mengambil risiko menyakiti diriku sendiri, bahkan setelah aku mengingatkanmu tentang anakmu!"
“Jangan bawa-bawa anakku!” bentak Arga. "Sandiwara ini adalah untuk melindungi dia. Dan kau hampir merusaknya! Kau membiarkan orang baik-baik yang tenang ikut campur, orang yang tidak akan terintimidasi oleh kekuasaanku! Alice sudah curiga. Danu sekarang mengawasi kita."
Arga meraih bahu Freya dan sedikit mengejutkannya, menunjukkan ketakutan yang mendalam.
“gue ulangi, dan ini peringatan terakhir,” suara Arga sangat rendah dan mengancam. "Jauhi Danu. Jauhi dia seolah-olah dia adalah api. Jangan biarkan dia melihat Lo. Jangan bicara padanya. Jangan berikan dia alasan sedikit pun untuk percaya bahwa kau dalam bahaya atau membutuhkan bantuan. Jika dia mulai mengorek, sandiwara kita akan terbongkar. Alice akan tahu. Dan kita akan hancur."
Arga melepaskan Freya, wajahnya menunjukkan kemarahan.
"Dengar, Freya," Arga melanjutkan, suaranya sekarang penuh kebencian yang nyata. "Kau telah menciptakan komplikasi terbesar yang pernah ada dalam sandiwara ini. gue benci lo karena hal itu.gue membenci lo karena kelemahan Lo telah menarik perhatian musuh dan pahlawan. Lo adalah masalah terbesar dalam seumur hidup. Jangan pernah membuat kesalahan ini lagi."
Arga berbalik, meninggalkan Freya sendirian dengan air mata yang mulai menggenang. Dia telah memastikan Freya tahu bahwa segala kebencian dan tekanan yang akan mereka hadapi di masa depan, sebagian besar, adalah kesalahannya.
Sejak kejadian di laboratorium, koridor sekolah terasa berbeda bagi Freya. Bukan hanya karena pandangan mencemooh dari Laura dan Alice yang kini bercampur mengecewakan, tetapi karena kehadiran yang lebih dingin dan tenang. Danu .
Danu, yang biasanya berjalan dengan tenang dan fokus, kini terlihat lebih waspada. Ia tidak pernah mendekati Freya, memperhatikan dan memberikan peringatan atau lebih tepatnya ancaman Arga, tetapi Freya bisa merasakan kehadirannya. menatap yang bukan menyalahkan atau menilai, melainkan mengamati .
Di kantin, di perpustakaan, bahkan saat rapat OSIS, Danu akan selalu berada dalam jangkauan. Jika Freya terlihat lelah, atau jika Arga berbicara terlalu tajam ke arah depan umum, Danu akan segera memberikan suara dingin yang diarahkan lurus ke Arga.
Arga merasakan pengawasan ini dan itu membuatnya semakin kecewa. Sandiwara itu kini bukan hanya tentang menipu Alice dan teman sekolah mereka, tetapi juga tentang melewati pengawasan ketat dari seorang siswa yang terlalu baik dan terlalu bertanggung jawab.
...----------------...
Beberapa hari kemudian, Freya sedang menulis laporan OSIS di ruangan administrasi sepulang sekolah. Arga sedang tidak ada, entah di lapangan basket atau sedang bersama Alice.
Pintu ruangan terbuka dan Danu masuk. Ini adalah kali pertama mereka berinteraksi sendirian sejak kejadian kaca. Jantung Freya berdebar kencang. Dia ingat dengan jelas perintah Arga, Jauhi dia seolah-olah dia adalah api.
"Freya," sapa Danu pelan. Dia mendekati meja Freya dengan tenang.
"Danu," jawab Freya, berusaha terdengar datar. Dia menunduk, pura-pura fokus pada laporan di tangannya.
"Aku hanya ingin mengambil formulir tim basket. Jangan khawatir," katanya, mengambil peta yang dicari dari rak. Dia tidak langsung pergi.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Danu, pelan.
Freya mengangkat bahu tanpa melihat ke atas. "tentu saja. Kenapa tidak?"
Danu menghela napas pelan. "Freya, aku melihat wajahmu waktu itu. Dan aku melihat cara Arga memandangmu sebelum aku datang. Kau tidak harus berpura-pura di depanku."
Freya menahan keinginannya untuk mendongak. "Danu, aku sudah bilang, ini masalah pribadi antara aku dan Arga. Aku membuat kesalahan besar, dan aku dihukum. Itu saja."
Danu letakkan mapnya. "Aku tahu Arga adalah murid paling pintar. Tapi aku juga mengenalnya. Dia berambisi, tapi dia tidak pernah kejam. waktu itu tentang cara dia memperlakukanmu... itu bukan sekadar hukuman,"
"Aku tidak akan mengorek, Freya. Tapi aku punya satu pertanyaan, dan aku ingin kau menjawab nya jujur. Apa yang Arga lakukan padamu sampai membuat Alice dan Laura begitu puas? Kesalahan fatal apa yang sampai membuat dia harus bertindak sejauh itu?"
Freya merasakan tenggorokannya tercekat. Pertanyaan Danu sangat tajam, mengancam untuk mengungkap inti sandiwara mereka. Dia harus menutupnya.
"Itu adalah masalah yang sangat sensitif terkait acara akhir tahun," Freya berbohong, menggunakan ringkasan aman yang diberikan Arga. "Dan aku... aku tidak ingin kau ikut campur lagi, Danu. Itu hanya membuat segalanya lebih terasa lebih sulit. tolong jangan menyulitkan ku"
Freya akhirnya mendongak, menunjukkan ekspresi lelah dan tertekan yang ia harap bisa membuat Danu mundur.
Danu menatapnya lama, menatap wajah Freya yang tidak berubah. Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Aku menghargai batasanmu Freya. Tapi ingat, aku tidak peduli dengan acara akhir tahun. Aku peduli pada sesama siswa yang terlihat tersiksa. Jika kau membutuhkan bantuan, satu isyarat saja, aku akan ada di sana."
Danu pergi, meninggalkan Freya gemetar. Dia tahu Danu belum puas dengan jawaban yang ia berikan.
"6 bulan lagi, setelah itu semuanya selesai. setelah kelulusan aku akan pergi jauh, ketempat dimana Arga tidak dapat menemukanku" batin Freya dengan menahan rasa sakit karna teringat semua perlakuan Arga padanya.
Freya mengusap perutnya, ada nyawa lain yang bertahan disana. "karna kamu tidak pernah menginginkan keberadaanku, akan aku kabulkan, Arga. biar hidupmu bisa kembali seperti yang kamu inginkan"
freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga