Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab empat belas
Randi masih terpaku di tempatnya ketika mendengar bahwa saat ini Dina sedang hamil.
"Mas! Apa kau mendengarku? kenapa hanya diam saja. Katakan sesuatu." Dina terdengar bingung.
"Ah, iya. Maaf, sayang." ia tersadar.
"Kau bilang apa tadi?" tanyanya lagi dengan raut wajah bingung.
"Mas! Aku hamil, mas."
"Kau hamil anakku?" tanyanya masih ragu.
"Apa maksud mu bertanya begitu. Memangnya dengan siapa lagi aku tidur setiap malam kalau bukan dengan mu, mas? Apa kau menuduhku berselingkuh dengan pria lain?" ia terdengar kesal.
"Tidak, sayang. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya kaget mendengarnya." ia lalu tersenyum.
"Aku senang sekali mendengarnya, sayang. Itu bukti jika aku sangat sehat." lanjutnya membanggakan diri.
"Aku akan ke sana sekarang juga. Tunggu sebentar, ya. Aku mandi dulu."
"Iya, sayang. Aku tunggu ya."
Pembicaraan itu lalu berakhir.
"Apa benar yang ibu dengar, Dina hamil?" wanita yang sejak tadi menguping pembicaraan di sebelahnya tampak tersenyum lebar.
"Iya, bu." Randi meletakkan ponselnya di atas meja. "Aku mau pergi ke rumahnya sekarang." ia lalu beranjak dari sofa dan masuk ke kamarnya.
Randi terlihat sangat senang. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya itu.
"Mau apa kau pulang ke rumah?" tanya Yanti pada Wahyu yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
"Aku mau ambil baju, Bu. Aku sudah tiga hari tidak ganti pakaian." jelasnya sambil melirik ke arah ponsel Randi yang tergeletak di atas meja.
"Seenaknya saja kau masuk ke rumah ini tanpa rasa bersalah." Yanti beranjak dari sofa dan menghampirinya.
"Iya, Bu. Aku tahu kalau aku sudah tidak di anggap di rumah ini. Apa aku juga tidak boleh membawa pakaian ku?" tanyanya santai.
"Dasar anak nakal! Cepat ambil pakaianmu. Setelah itu cepat pergi dari sini sebelum kakakmu lihat." Untung saja suasana hati ibu sedang bagus saat ini.
Yanti lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Wahyu sendirian di ruang tamu.
"Ini kesempatan ku. Aku sangat beruntung hari ini." dengan cepat ia mengambil ponsel itu dan pergi ke kamarnya.
"Semoga saja polanya masih sama." ucapnya lalu memasukkan polanya.
Beberapa bulan yang lalu, ia pernah mencoba untuk membuka kunci ponsel kakaknya untuk menggunakan m-banking miliknya. Waktu itu Randi marah besar padanya dan menyita motor kesayangannya.
Wahyu lalu memasukkan pola kunci dan ternyata berhasil. Syukurlah jika kakaknya belum merubahnya.
Ia lalu membuka pesan chat di ponselnya. Wahyu menggeser-geser layarnya untuk melihat siapa saja yang bertukar pesan dengannya.
"Ah! ketemu. " ia membuka pesan chat itu setelah melihat nama D1N4.
Ia lalu mulai mentransfer isi chat tersebut ke ponselnya. Ia juga membuka galeri foto milik kakaknya.
Dan ternyata ada banyak sekali foto-foto dirinya berdua dengan Dina. Bahkan ketika mereka liburan ke luar kota.
"Mas Randi sialan. Aku tidak akan membiarkan kak Amara kembali ke rumah ini." kutuknya dalam hati.
Setelah menyelesaikan urusannya, ia lalu bergegas mengambil pakaian dan meletakkannya ke dalam tas. Ia juga memasukkan buku-buku pelajaran dan seragam bersih di lemarinya.
Ia sudah berjanji pada Amara untuk melanjutkan sekolah hingga selesai.
Wahyu keluar dari kamarnya. Ia terkejut ketika melihat Randi sudah ada di ruang tamu. Ia dengan cepat menyembunyikan ponsel Randi di saku celananya.
"Kau? Mau apa kau datang lagi ke sini? Apa mau ku hajar lagi?" tanyanya kesal.
"Aku hanya pulang untuk mengambil pakaian ku, mas. Aku akan pergi sekarang." Randi tampak menyikapinya dengan sabar.
"Kau pikir bisa seenaknya saja di rumah ini. Pergi sekarang! Sebelum aku menghajar mu lagi." usirnya .
"Aku memang mau pergi, mas." sahutnya tenang.
Randi masih sibuk mencari-cari sesuatu yang sudah pasti itu adalah ponselnya. Wahyu meletakkan ponsel itu di atas sofa begitu perhatian Randi teralihkan darinya.
Wahyu cepat-cepat keluar dari rumah itu.
"Ah, dimana ponsel itu ku letakkan tadi? Kenapa tidak ada di sini? Seingatku aku meletakkannya di atas meja." Randi tampak kebingungan mencarinya.
Yanti yang keluar dari kamarnya menghampiri Randi ketika melihat pria itu tampak kebingungan.
"Kau sedang cari apa, Ran?"
"Ponselku, bu. Tadi aku meletakkannya di atas meja. Sekarang ponsel itu tidak ada. Coba itu hubungi ponsel ku." pinta Randi.
Yanti lalu mengambil ponselnya di kamar dan keluar lagi untuk menghubungi ponsel milik Randi.
"Itu di sofa." tunjuknya setelah melihat cahaya di atas sofa.
"Astaga! kenapa bisa ada di sini? Apa aku yang meletakkannya di sini?" ia tampak heran.
"Ah! Sudahlah. Aku sudah terlambat untuk pergi menemui Dina. Nanti dia bisa merajuk lagi. " ucap Randi lalu berpamitan pada ibunya.
"Titip salam untuk Dina ya, Ran." pesan ibunya.
"Iya, Bu!" pria itu masuk ke dalam mobil dan segera pergi menuju rumah Dina.
...****************...
Sementara itu di toko bunga.
Amara bekerja seperti biasa hari ini. Walaupun saat ini ia tengah di hadapkan dengan masalah yang berat bukan berarti dia bisa lalai dalam tanggung jawabnya.
Ia tetap melayani pelanggan dengan ramah dan senyuman diwajahnya.
"Kak! Apa kakak baik-baik saja?" Lydia rupanya memperhatikannya sejak tadi.
"Kakak baik-baik saja. Ayo kita bekerja lagi." ia tersenyum padanya.
"Iya, kak." gadis muda itu tak berani bertanya macam-macam padanya karena tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
Gadis berusia 19 tahun itu hanya bisa mendoakan ia kuat menjalani semuanya.
"Oh, iya. Bagaimana dengan ibumu? Apa dia suka kuenya?" tanya Amara kemudian mengalihkan suasana.
"Ah, iya. Ibu sangat menyukai kuenya. Dia juga sangat berterima kasih pada kakak karena membelikannya kue seenak itu." Lydia tampak antusias menceritakan tentang ibunya.
Bisa dibilang kedua gadis itu memiliki nasib serupa. Mereka sama-sama ditinggal mati oleh ayahnya sejak mereka kecil. Lydia juga anak tunggal. Karena kondisi ekonomi yang sulit, ia juga hanya mampu menamatkan pendidikan hingga sekolah menengah atas saja.
Padahal ia ingin sekali menjadi seorang dokter. Tetapi ia belum mampu untuk melanjutkannya karena biaya kuliah yang sangat mahal.
Kling!
Lonceng pintu masuk berbunyi.
Seorang pria masuk ke dalam toko. Amara tampak terkejut melihatnya. Itu Reza. Wajahnya masih terlihat datar tanpa ekspresi.
"Selamat datang, tuan!" Lydia membantu untuk menyapanya karena melihat Amara hanya diam saja di tempatnya.
"Aku ingin mengambil pesanan ku." ucapnya dingin.
"Pesanan?" Lydia tampak bingung sejenak. "Oh! Apa anda tuan Reza?" tanyanya setelah teringat sesuatu.
"Iya. Aku ingin mengambil bunga anggrek putih yang ku pesan melalui telepon. Apa pesanannya sudah siap?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Amara yang hanya menundukkan kepalanya sedari tadi.
"Hmm.. iya. Pesanannya sudah siap, tuan.. Sebentar akan saya ambilkan." Lydia lalu pergi ke belakang untuk mengambil pesanan.
Suasana menjadi hening sejenak. Reza menatapnya tajam dan Amara tidak menyadari hal itu.
"Kau bekerja hingga malam hari?" Reza tiba-tiba bertanya padanya.
Amara tersentak mendengarnya. "Hah? Ah . Iya. A-aku bekerja hingga malam hari." ia tampak gelagapan menjawabnya.
Reza lalu kembali diam.
"Istrimu... Pasti sangat menyukai bunga anggrek ya? Dia pasti senang menerimanya. Oh, iya! Apa dia menyukai kartu ucapannya?" Amara memberanikan diri untuk bertanya karena penasaran.
Reza menahan senyum ketika mendengarnya menyebut kata "istri" tetapi Reza membiarkan wanita itu salah paham padanya.
"Iya. Dia sangat menyukainya." ucapnya.
"Baguslah kalau begitu. Apa mau ku buatkan lagi?" tanya Amara.
"Ini pesanannya, tuan." Lydia datang menghentikan pembicaraan mereka.
"Iya." ucap pria itu datar.
"Apa anda mau menuliskan kartu ucapan?" tanya Lydia menawarkan.
"Tidak perlu. Seseorang mengatakan jika cinta sejati tidak memerlukan kata-kata. Hanya ketulusan hati." ia memberi penekanan pada kalimat terakhir.
Amara terdiam mendengarnya.
Reza lalu pergi membawa bunga anggrek itu.
"Ya, hanya ketulusan hati." Amara terdiam melihat kepergian pria itu.
...****************...