Catherine merasa sangat beruntung memiliki ayah tiri sebaik Agus. Jika banyak berita tentang ayah tiri yang melecehkan anak tirinya, itu tidak terjadi pada Catherine!
Agus benar-benar menyayangi nya seperti anak kandung sendiri, menjaganya seperti anak kandung sendiri. Hingga kemudian, di usianya yang ke dua puluh tahun, Catherine sadar dan paham kenapa ayah tirinya itu begitu menjaganya agar tetap utuh!
Ia dijodohkan paksa dengan laki-laki yang bahkan tidak pernah ia kenal, seorang pengusaha tekstil kaya raya yang usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun!
Duda dengan anak satu itu akhirnya resmi jadi suami Catherine! Lalu bagaimana dengan nasib pacar Catherine, si calon dokter itu? Dan bagaimana Catherine menjalani hari-harinya?
Simak terus kisahnya ya ...
Jangan lupa mampir ke "Cinta Jas Putih" dan "COMPLICATED" ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
"Sudah semua?" tanya Rama ketika mau check out.
"Sudah." jawab Catherine lalu menarik kopernya.
"Sini biar aku yang bawa!" Rama buru-buru meraih koper yang di bawa Catherine. Ia sendiri tidak membawa apapun, President's suit room di hotel itu merupakan kamar khusus untuknya, tidak untuk di sewakan, jadi beberapa barangnya ia tinggal di sana.
"Terimakasih," Catherine tersenyum, ia kemudian melangkah lebih dulu keluar dari kamar itu.
"Mau langsung pulang?" tawar Rama kemudian melangkah di samping Catherine.
"Katanya mau ke UI?"
"Orang suruhan ku sudah ke sana kok, yang satu masih perjalanan dari Jogja." jawab Rama santai.
"Jadi?" tanya Catherine tidak mengerti.
"Tinggal tunggu kabar saja, jadi jangan khawatir." guman Rama sambil membuka pintu mobil untuk Catherine.
Sementara itu supir pribadinya bergegas memasukkan koper Catherine ke dalam bagasi.
"Langsung pulang?" tanya Rama ketika mobil sudah mulai melaju.
"Tentu, bukankah kita ada janji dengan Ayesha?" Catherine menatap sosok yang kini duduk di sebelahnya itu.
"Pak, langsung pulang saja ya!" perintah Rama pada supir pribadinya.
Catherine hanya diam tak banyak bicara lagi, sementara Rama langsung sibuk dengan iPad di tangannya. Catherine mencuri pandang sosok yang kini sudah menjadi suaminya itu. Ia tampak sangat sangat berwibawa, Catherine akui itu. Wajahnya juga masuk kategori tampan, dengan kulit putih, dan body yang ... astaga! Tapi kenapa Catherine tidak bisa dengan mudahnya jatuh cinta pada sosok itu? Apalagi sikapnya yang terkesan santai itu, tidak suka memaksa, namun kenapa tidak juga bisa membuat Catherine jatuh hati?
"Mulai besok akan ada supir pribadi yang mengantar mu kemana-mana, kamu bisa kemana pun yang kamu mau, tapi tidak ke Jogja." guman Rama tegas, matanya masih menatap layar iPad-nya.
"Kenapa?" tanya Catherine kaget.
"Kenapa lagi memang, aku tidak akan mengizinkan istriku bertemu dengan dia." kini Rama menoleh, menatap Catherine dengan tajam. "Kumohon, belajarlah melupakan dia, dan belajarlah mencintaiku!"
"Kalau aku tidak bisa?" tanya Catherine sambil balas menatap mata itu.
"Kau belum mencobanya Sayang, lantas darimana kamu dapat kesimpulan seperti itu?" Rama tersenyum kecut, lalu memasukkan iPad-nya ke tas yang selalu ia bawa.
"Aku hanya takut, jika aku sampai kapan pun tidak bisa melakukan itu."
"Tentu, tentu kamu tidak akan bisa jika kamu tidak mencoba dan keinginan itu tidak datang dari dalam dirimu."
Catherine menundukkan kepala, memang ia tidak ingin! Siapa yang mau menikahi laki-laki di sampingnya ini memang? Catherine tidak mau! Semua ini hanya karena terpaksa bukan?
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu jatuh hati padaku, Cat?" tanya Rama lirih sambil meremas lembut tangan Catherine.
Catherine hanya terpaku diam di tempatnya duduk, memang apa sih yang harus dilakukan olehnya?
"Entahlah, aku tidak tahu!" jawab Catherine asal.
"Baik, aku akan cari tahu sendiri. Dan jangan sebut namaku jika aku tidak bisa membuatmu jatuh hati padaku."
***
Mobil yang ditumpangi Catherine dan Rama tiba pada halaman rumah itu. Rumah dengan arsitektur Eropa itu benar-benar tiga kali lipat lebih besar dari rumah Catherine! Ini hotel atau rumah? Catherine hanya tercengang, hingga kemudian Rama menyenggol lengannya.
"Ayo turun, Sayang!"
Catherine hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Rama turun dari mobil itu. Di depan pintu sudah menanti beberapa wanita yang tersenyum ramah pada mereka.
"Selamat datang, Tuan, Nyonya." sapa mereka kompak.
Catherine hanya tersenyum, ia mengekor mengikuti langkah Rama masuk ke dalam rumah. Dan sekali lagi Catherine tercengang luar biasa. Kini ia percaya kenapa kekuatan Agus kalah jauh dengan laki-laki ini!
"Kamar kita diatas, Sayang!" guman Rama lalu menggandeng tangan Catherine.
"Kita satu kamar?" tanya Catherine terkejut.
"Iya lah, memang sejak kapan suami istri sah tidak boleh tidur satu kamar?"
Catherine menelan ludahnya, astaga itu berarti ia seumur hidup harus tidur bersanding dengan laki-laki ini? Apakah benar setelah ini nanti Rama tetap akan memegang janjinya bahwa ia tidak akan pernah memaksa Catherine melakukan hal itu? Pikiran Catherine jadi terbang kemana-mana.
"Kenapa? Kamu takut tidur seranjang dengan suami mu sendiri?" tanya Rama ketika Catherine hanya diam membisu.
"Bu ... bukan ... tapi ...."
"Aku akan selalu memegang prinsipku, jangan khawatir, aku akan menanti sampai kamu benar-benar siap menerimaku." Rama membuka pintu kamar itu. Kamar yang begitu luas dengan ranjang King size itu benar-benar sangat mewah, bahkan kamar hotel tempat mereka menginap itu pun kalah.
Catherine masuk ke dalam, berapa puluh juta uang yang habis untuk membuat kamar ini?
"Ini kamar kita, semoga kamu suka!" guman Rama sambil duduk di pinggir ranjang.
"Untuk dua orang seluas ini?" tanya Catherine lalu menatap Rama yang hanya duduk sambil tersenyum di pinggir ranjang itu.
"Kenapa tidak? Aku suka ruangan lapang." jawab Rama santai.
"Rasanya aneh saja."
"Dulu aneh, seluas ini hanya sendiri. Sekarang nggak lagi merasa aneh, ada kamu!" Rama bangkit, melangkah mendekati Catherine.
Catherine merasa jantungnya berdegup kencang, apa yang akan dia lakukan? Keringat dingin mengucur membasahi tubuh Catherine. Ia sangat takut.
"Aku harap kita bisa menjadi suami istri yang sesungguhnya, Cat." desis Rama lirih, ia meraih tangan Catherine yang terpaku di tempatnya berdiri itu.
"Aku harap begitu." jawab Catherine yang sontak membuat Rama menatap dalam-dalam wajah di hadapannya itu.
"Kamu serius?"
"Eh ... i ... iya ...." Catherine tergugup, bagaimana bisa ia kelepasan bicara seperti itu? Benarkah ia juga menginginkan hal itu?
Rama tersenyum, ia kemudian meraih kepala Catherine dan mencium keningnya. Sontak tubuh Catherine membeku, apakah setelah ini ....
"Semoga aku bisa secepatnya meyakinkan kamu tentang perasaanku, tentang cintaku untukmu."
***
Catherine terpukau ketika melangkah masuk ke dalam walk in closet yang ada di dalam kamar itu, luar biasa! Itu yang pertama kali keluar dari mulutnya.
Ia memeriksa semua yang ada di sana, isinya baju-baju mahal keluaran butik ternama. Apakah ini milik istri pertama laki-laki itu? Tapi rasanya tidak mungkin. Baju-baju ini masih baru! Lengkap dengan price tag-nya. Begitu pula segala macam tas, sepatu, dan lain sebagainya itu. Jadi ini semua untuknya?
Catherine bergegas masuk ke kamar mandi, memang sih orangtuanya kaya, namun tentu tidak semewah ini rumah dan fasilitas yang diberikan untuknya.
Ia buru-buru memenuhi bathtub dengan air, rasanya ia ingin berendam agak lama. Ia masih belum percaya bahwa mulai hari ini ia harus tinggal di sini, jadi istri laki-laki itu, mempunyai peran dan tanggungjawab baru. Tapi siapa bilang ia akan melaksanakan perannya sebagai istri? Ia belum mau disentuh laki-laki itu, ia masih belum terima harus menikah dengan dia. Sama sekali belum bisa terima.
"Wil ... aku rindu ...."