Aku bisa melihat mereka 2
Inara seorang gadis indigo, yang ternyata hidupnya di incar oleh seorang iblis yang menginginkannya menjadi ratu iblis.
Dapatkah Inara bisa lepas dari jerat iblis itu?
Lalu bagaimana dia menghadapi musuh lama keluarganya, yang selalu meneror dirinya dan keluarganya?
Bagaimana ceritanya? Ikuti terus ya Aku bisa melihat mereka 2.
Selamat Membaca 📖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Un.Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sudah tiga hari Inka di rawat di rumah sakit, tapi dia belum sadarkan diri. Inara sudah bolak-balik ke rumah sakit untuk menemui Inka dan berharap dia sudah sadar.
Hari ini Inara sudah mulai masuk sekolah, selama Inka masih di rumah sakit Inara tinggal di rumah Penty, biar Penty bisa mengurus semuanya termasuk Inara.
"Sayang sarapan dulu ya, nanti biar kak Rafa anter dedek sekolah!" Ujar Penty. Inara mengangguk.
Inara sarapan bersama Arvi. Arvi juga tidak tega melihat kesedihan Inara, dia kehilangan Inara yang selalu ceria dan periang. Dia kangen ribut lagi dengan Inara, dia kangen di jewer, di gigit jarinya dan di bawelin.
Selesai sarapan Inara bersiap untuk berangkat. Rafa pun sudah siap untuk mengantar.
"Mah aku berangkat anter dedek ya."
"Iya kak hati-hati ya." teriak Penty dari dapur.
"Assalamualaikum mah.."
"Waalaikumsalam.."
Inara berjalan lebih dulu ke mobil lalu Rafa menyusulnya. Dia melajukan mobilnya menuju sekolah Inara, sepanjang perjalanan Inara hanya terdiam sambil menatap kosong keluar. Rafa menghela nafas.
"Dek, nanti sore kita jenguk bunda ya!" Ucap Rafa. Inara menoleh lalu mengangguk dan tersenyum.
Rafa mengusap kepala Inara, hanya Inka yang bisa membuat Inara kembali tersenyum. Sesampainya di sekolah Inara pamit pada Rafa.
"Tunggu dek!"
Inara menoleh dan tak jadi membuka pintu mobil.
"Kenapa kak?"
Tiba-tiba Rafa mencondongkan tubuhnya mendekati Inara dan membuat Inara kaget dan tegang, apa lagi saat melihat wajah Rafa sangat dekat, jantung Inara berdebar kencang. Tiba-tiba tangan Rafa terangkat dan mengambil sesuatu di bawah mata Inara.
"Bulu mata dedek jatuh." ucap Rafa sambil menunjukan bulu mata itu. Inara bernafas lega, dia sangat gugup berdekatan dengan Rafa.
"Ya udah dedek masuk sana!" Inara mengangguk lalu dia keluar, dia memegangi dadanya yang berdebar tidak karuan, dia sangat malu pasti saat ini wajahnya memerah, karena tadi dia sempat berfikir macam-macam.
"Bodoh kau Inara mana mungkin kak Rafa melakukan itu." Gerutunya.
Sesampainya di koridor tiba-tiba Siska memanggilnya. Inara menoleh lalu Siska menghampiri Inara dan memeluk Inara.
"Kamu pasti bisa melewati ini semua, kamu sabar ya!"
"Makasih ya sis." Siska mengangguk.
"Ayo Ra masuk banyak banget yang ingin aku ceritakan sama kamu, selama kamu gak masuk banyak hal yang terjadi." Ujar Siska. Inara mengangguk lalu mereka masuk kelas.
Sesampainya di kelas beberapa anak mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya ayah Inara. Inara sedih lagi, tapi teman-temannya berusaha menghibur Inara.
***
Saat istirahat Siska sudah bersiap untuk bercerita di taman sekolah sambil makan cemilan. Mula-mula dia memberikan ponsel pada Inara.
"Apa nih sis?" Tanya Inara heran.
"Coba kamu liat Video itu!" Inara melihat video yang di tunjukan Siska. Inara terbelalak.
"Ini bohong kan sis?" Siska menggeleng.
"Kejadiannya di hari yang sama dengan kepergian ayah kamu." Ucap Siska.
Ketakutan Inara akhirnya jadi kenyataan, kejadian yang ada di dalam video itu sama persis dengan apa yang ada di pikirannya. Karena terlalu sibuk dengan keluarganya, Inara jadi melupakan Dito.
"Maafin aku Dito!" lirih Inara. Dito mengalami kecelakaan di hari yang sama Iqbal meninggal dan dia juga meninggal di tempat.
"Oh iya, Dinda juga pindah ke kampung bibinya. Kemarin Dinda datang nemuin aku, dia bilang dia akan ikut bibinya ke kampung dan mungkin tidak akan kembali lagi kesini."
Inara menarik nafas panjang. Banyak hal yang dia lewatkan selama tidak masuk sekolah.
"Terus kemarin lusa juga guru kita ada yang meninggal, meninggalnya persis sama dengan meninggalnya mang Agus, mamangnya Dinda. Dia di bunuh dan jantungnya hilang."
Inara menghela nafas lesu, bahkan dia tidak tau soal kematian gurunya.
"Terus apa ada hal lain lagi?" Siska mengangguk.
"Tiga hari yang lalu ada yang kesurupan lagi, kesurupan massal Ra, aku merinding banget, untung aja aku gak kesurupan, hampir sepertiga penghuni sekolah kesurupan." Inara terbelalak.
"Kamu serius sis?" Siska mengangguk.
"Semua yang kesurupan memanggil-manggil tuan putri gitu, sampe pak kepsek manggil beberapa ustadz itu juga mereka kewalahan ngadepinnya." Ucap Siska.
Inara terdiam, entah kenapa dia merasa aneh dengan kejadian kesurupan itu.
"Tuan putri!" gumamnya.
Setelah cukup lama mereka mengobrol, mereka kembali ke kelas. Tapi Siska pamit ke toilet saat sudah sampai pintu kelas. Inara masuk, saat ingin duduk di kursinya tak sengaja dia melihat secarik kertas di tasnya yang menyembul keluar, Inara mengambilnya dan membukanya, lagi-lagi kata-kata itu yang tertulis
Aku tau siapa kamu!
Inara mengernyit heran, siapa yang menaruh kertas itu di dalam tasnya dan apa maksudnya tulisan itu 'Aku tau siapa kamu!' .
Inara menatap kertas itu, lalu dia meremasnya dan membuanganya sembarangan.
"Gak jelas!" gumamnya.
Tak lama Siska datang bersamaan bel masuk. Mereka pun memulai pelajaran lagi. Inara masih memikirkan tulisan di kertas tadi, tapi dia berusaha mengabaikannya dan fokus belajar.
***
Inara dan Siska berdiri di depan gerbang menunggu jemputan mereka masing-masing. Tak lama sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.
Ternyata itu jemputan Siska. "Ra aku duluan ya!"
"Hati-hati ya sis." Siska mengangguk.
Mobil melaju meninggalkan Inara. Inara masih menunggu Rafa menjemput. Tak lama mobil Rafa datang, Inara langsung masuk.
"Kita pulang dulu ya, baru ke rumah sakit. Dedek makan dulu terus ganti baju."
"Iya kak." jawab Inara tersenyum.
"Gitu dong senyum, kan cantik!" ucap Rafa. Membuat Inara tertunduk malu.
"Berarti kalo Inar gak senyum, Inar jelek ya kak."
"Iya jelek banget, makanya dedek harus senyum terus." Balas Rafa sambil melajukan mobilnya.
Inara mengerucutkan bibirnya sebal karena di bilang jelek. Rafa terkekeh melihat Inara sebal seperti itu, dia senang akhirnya Inara sudah bisa tersenyum dan bercanda lagi. Rafa mengusap kepala Inara.
"Gak kok kakak cuma bercanda. Dedek itu wanita paling cantik di dunia." Ucap Rafa membuat Inara tersipu dan mengalihkan pandangannya karena malu.
Sesampainya di rumah, Inara langsung bergegas berganti baju setelah itu makan siang. Selesai makan dia menemui Rafa di kamarnya.
"Kakak ayo ke rumah sakit!" Ajak Inara.
"Dedek udah makan." Inara mengangguk.
"Ya udah kakak ganti baju dulu." Inara pun keluar kamar dan menunggu di depan.
Tak lama Rafa sudah siap. "Ayo kita berangkat!" Inara mengangguk dan tersenyum. Senyuman terus mengembang di bibirnya setiap akan bertemu Inka.
Dia berharap hari ini Inka sadar. Sepanjang perjalanan Rafa hanya terdiam, biasanya dia terus mengajak ngobrol Inara dan itu membuat Inara bingung.
Inara menatap Rafa yang sedang fokus menyetir.
"Kak Rafa kenapa ya, kok diem aja!"
Tak lama mereka sampai di rumah sakit, tapi saat Inara dan Rafa akan masuk ke rumah sakit, tak sengaja Inara melihat seseorang yang pernah dia lihat, keluar dari rumah sakit.
Inara menatap orang itu sampai menghilang dari pandangannya.
"Itu kan bapak-bapak yang melihara tuyul itu, yang waktu itu marah-marah sama ayah." Batin Inara.
Inara flashback kejadian saat bapak itu datang dan marah-marah sama Iqbal. Bapak-bapak itu pun mengancam Iqbal.
"Jangan-jangan dia pelakunya, yang sudah mengirim iblis itu ke rumah dan melukai ayah dan bunda."
Darah Inara mendidih, dadanya terasa penuh karena amarah, bola matanya perlahan berubah, tangannya mengepal kuat. Tapi tiba-tiba seseorang menabrak Inara sehingga pikirannya buyar dan tidak jadi mengeluarkan amarahnya.
Rafa yang berjalan lebih dulu, menoleh saat mendengar suara rintihan.
"Dedek!" Rafa menghampiri Inara. Yang jatuh terjerembab ke belakang.
"Dedek gak apa-apa?" Inara mengangguk.
Orang yang menabrak tadi pergi entah kemana tanpa meminta maaf. Tapi Inara seperti mengenal orang itu meski dia tidak bisa melihat wajahnya karena dia memakai masker dan topi, tapi dia seperti mengenal bentuk tubuhnya, tapi Inara lupa siapa orangnya.
Rafa membantu Inara untuk berdiri.
"Ada yang sakit gak dek?"
"Gak kak, Inar baik-baik aja." Rafa mengangguk dan tersenyum lalu mengajak Inara ke ruangan Inka.
Tapi seseorang sedang menatap Inara dari kejauhan.
"Jangan sampai dia mengeluarkan amarahnya di depan umum." gumam orang itu.
"Aku harus segera membawa dia ke rumah kakek!" lanjutnya lalu dia pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Bersambung..