Warning+++ cerita Dewasa!
Bijaklah dalam memilih bacaan
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itulah pepatah yang tepat ditunjukkan untuk Valeno Waradhana, yang mengikuti jejak sang daddy di masa mudanya.
Bagaimana tidak, karena setiap malam Valeno selalu ditemani wanita yang berbeda untuk memuaskan nafsunya di atas ranjang.
Tinggal jauh dari kedua orang tua dan juga kedua saudaranya, membuat Valeno leluasa melakukan apa yang di inginkannya.
Hingga Valeno harus menerima perjodohan saat dirinya kembali ke Indonesia, dengan Fillea Abraham gadis yang ditemuinya di club malam. Yang membuat kesepakatan dengan dirinya.
Fillea Abraham gadis arogan yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.
Karena kesepakatan keduanya harus menjadi sepasang suami istri dan terjebak di dalamnya.
Saat keduanya baru menyadari bahwa keduanyalah yang di jodohkan oleh kedua orang tua masing-masing.
Bagaimana keduanya menjalani rumah tangga karena perjodohan?
Akankah ada cinta yang tumbuh di antara keduanya? Atau sebaliknya?
Cover by Enka Idris
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaruMini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Stroke
"Tidak," jawab Valeno singkat.
Kemudian Fillea langsung melempar surat perjanjian milik Valeno di atas meja.
"Kalau bukan bercanda ini namanya apa?" tanya Fillea sambil menunjuk surat perjanjian Valeno yang baru saja dirinya lempar yang hanya terdapat satu tulisan itu pun bukan syarat seperti Fillea tulis melainkan mengiyakan dan akan mengikuti semua syarat yang Fillea tulis di surat perjanjian miliknya.
"Bagus bukan aku akan mengikuti apa yang kamu inginkan, karena aku tidak sama sekali tertarik dengan wanita aneh seperti dirimu," ujar Valeno yang langsung menandatangani surat perjanjian miliki Fillea dan langsung beranjak dari duduknya meninggalkan Fillea bersama Mario.
"Baguslah dasar buaya kampret aku juga tidak akan tertarik kepada dirimu," gerutu Fillea yang langsung menandatangani surat perjanjian milik Valeno dan menyerahkan kepada Mario dan langsung pergi meninggalkan Mario yang sedang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Awas saja kalian berdua terkena sindrom bucin baru tahu rasa,"
*
Bruk
Fillea yang baru keluar dari cafe tersebut dengan terburu buru langsung mengaduh kesakitan saat dirinya bertabrakan dengan seseorang.
"Jalan itu menggunakan mata," ucap Fillea kesal sambil memegangi kepalanya.
"Bodoh, jalan itu menggunakan kaki, mata itu untuk melihat, selain tidak menarik kamu juga bodoh,"
"Sial ternyata kamu, apa kamu sedang mengataiku?"
"Itu kenyataan," jawab Valeno sambil membetulkan kemeja yang dikenakannya.
"Bodo amat, minggir percuma bicara denganmu," ujar Fillea sambil menyingkirkan tubuh Valeno membuat Valeno reflek memegang tangan Fillea.
"Najis, lepaskan tanganmu," ucap Fillea membuat Valeno langsung melepas tangannya yang masih memegang pergelangan tangan Fillea dan Fillea langsung pergi menuju parkir mobilnya tidak mendengarkan apa yang akan Valeno katakan padanya. Membuat Valeno langsung menghampiri Fillea dengan terburu buru.
"Lea tunggu!" teriak Valeno sambil menahan pintu mobil saat Fillea akan menutup pintu mobilnya.
"Apa?"
"Nanti malam aku jemput, mommy ingin makan malam bersama denganmu," ujar Valeno tapi tidak dihiraukan oleh Fillea yang langsung menutup pintu mobilnya dan menyuruh sopirnya untuk melajukan mobilnya.
"Sial, kenapa aku harus mengenal perempuan sepertinya, terlebih lagi aku harus hidup bersama selama tiga bulan dengannya, bisa stroke mendadak, sial,"
"Jangan berkata seperti itu pak, nanti bisa tinggal bersama selamanya loh," sambung Mario yang tiba-tiba muncul tepat di belakang Valeno.
"Jangan banyak bicara aku butuh pelampiasan kamu carikan yang aku butuhkan,"
"Tidak pak, aku tidak ingin mengambil resiko, kita di negara dimana daddy dan juga mommy pak Leno berada, aku tidak ingin kebiasaan buruk pak Leno diketahui," jelas Mario tahu apa yang dibutuhkan oleh Valeno.
"Ahhh sial, kenapa hidupku menjadi sial seperti ini," ucap Valeno sambil mengacak acak rambutnya dan langsung menuju dimana mobilnya berada.
*
Fillea yang baru selesai menerima panggilan telepon langsung menyuruh sopir pribadinya untuk memutar balik mobil yang dikendarainya dan mengikuti petunjuk arah yang Fillea tunjukkan, dan berhenti di sebuah rumah sakit.
"Pak Budi pulang terlebih dahulu, nanti aku pulang naik taksi,"
"Tapi non…"
"Pak Budi santai saja nanti aku telepon papah, sekarang pak Budi pulang lah," ucap Fillea memotong perkataan pak Budi dan langsung turun dari mobilnya dengan terburu buru dan langsung berlari masuk kedalam rumah sakit menuju ruang IGD.
"Bagaimana keadaan Riki? Kenapa ini bisa terjadi? Kalian balapan di sirkuit kan? Pasti ada yang sengaja melakukannya," pertanyaan dari mulut Fillea bertubi-tubi yang ditujukan kepada dua orang temannya yang sedang berada di depan ruang IGD.
"Mereka ingin balapan dengan mu," ucap salah satu dari mereka membuat Fillea langsung tersenyum sinis dan langsung menyambar jaket, helm dan juga kunci motor milik temannya tersebut.
"Lea aku mohon jangan hiraukan tantangan mereka," ujar Rama sambil menahan tangan Fillea yang akan meninggalkan rumah sakti.
"Kamu jangan melarangku lagi Rama, aku tidak ingin teman kita satu persatu tidak bisa berjalan, kamu tahu Rio sampai sekarang tidak bisa berjalan itu semua karena kesalahan aku yang tidak menerima tantangan mereka," ucap Fillea sambil menyingkirkan tangan Rama yang masih memegangi tangannya. "Dan kalian tenang saja aku pastikan aku akan menang," ucap Fillea lagi yang langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Diikuti salah satu temannya yang bernama Raka.
*
*
*
Bersambung................
JD ingat kisah hidupku yang ditinggal bercerai orang tua,,aku jg adekku ketika itu msh blm TK,,dan BPK merawat kami berdua
pus kus...kek aneh wae rasane.
kakak ipar mario...👍