Ini karya pertamaku...
Ada seorang gadis bernama Alsaqueen Azkira Argawijaya mempunyai sifat baik, ramah, murah senyum, manja, dan jail kesemua orang tapi itu DULU. Sekarang namanya Alqueena Azkiya Argawijaya sifatnya sekarang kejam, dingin, datar, dan dia gak akan segan-segan membunuh orang yang telah bermain-main dengan dia mau itu cewek, cowok, tua, muda, anak-anak, maupun bayi. Tapi sifat itu tidak berlaku dengan paman, tante, abang angkat, dan juga sepupu gue.
Dia berubah karena ibunya meninggal dibunuh oleh seorang wanita berumur yang hampir sama dengan ibunya dibantu juga oleh anak perempuannya.
.
.
.
Kalau gak nyambung maaf baru belajar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni rahayu devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertembak
Masih ditempat yang sama, Al dkk saling pandang seperti sedang berbicara lewat mata.
"Gimana ini?" tanya Kevin gelisah karena tidak mungkin mereka pergi untuk mengganti jubah mereka.
"Kita tolong setelah melihat apa yang mereka lakukan kepada keluarga Rizky dkk dan Naila dkk" ucap Al.
"Tanpa mengganti baju?" tanya Kevin.
"Iya" jawab Al.
"Kalian nanti jaga keluarga Rizky dkk dan Naila dkk biar gue yang lawan mereka semua" suruh Al yang dapat anggukan dari mereka berdua.
Tak lama keluarga Rizky dkk dan Naila dkk datang bersama Satria. Mereka semua baru pulang dari luar kota subuh tadi.
"Lepaskan anak kami!" ucap tuan Rian Abiansyah tegas.
"Tidak akan!" ucap pemimpin tersebut yang tak lain adalah leader mafia black rose mafia terkejam ke 13 didunia yang bernama Max.
"Apa salah kami denganmu!?" tanya tuan Doni tegas.
"Kalian tidak ada salah denganku tapi dengan tuanku!" ucap Max tegas.
Sifa dkk menangis ketakutan, sedangkan Rizky dkk dan Naila dkk memberontak minta dilepaskan tapi mereka semakin mempererat pegangannya membuat mereka meringis kesakitan. Ibu mereka hanya bisa menangis sesenggukan melihat anak mereka menjadi korban.
"Siapa tuanmu!?" tanya Satria tegas.
"Kau tidak perlu tau!" jawab Max.
"Kalian serahkan perusahaan kalian baru tuan kami akan melepaskan anak kalian!" ucap Max.
"Gimana ini mas?" tanya nyonya Zahra Abiansyah sambil menangis.
"Aku tidak tau" jawab tuan Rian frustasi.
"Kalau kalian tidak mau memberikannya tidak masalah" ucap Max.
"Benarkah?" tanya tuan Doni.
"Iya, tapi anak kalian mati ditanganku!" jawab Max sambil menodongkan pistolnya ke Rizky dkk, Naila dkk, dan Sifa dkk membuat mereka bergetar, Sifa dkk menangis semakin kuat, Rizky dkk dan Naila dkk tidak bergerak sama sekali karena takut, para Ibu menangis dan para Ayah tidak bisa berbuat apa-apa.
"STOP!!!" teriak Al tegas karena dia sudah muak melihat kejadian yang menurutnya hanya butiran debu. Posisi Al masih duduk dibangkunya bersama Chandra dan Kevin, semua orang yang mendengar teriakan Al langsung melihat kearah Al.
"Kenapa, apa kau mau juga bocah bau kencur?"tanya Max mengejek.
"Siapa yang kau panggil bocah tuan eh maksudnya pak?" tanya Al lalu berdiri diikuti Chandra dan Kevin.
"Tak cocok dipanggil pak" ucap Kevin.
"Lalu dipanggil apa?" tanya Chandra mereka bertiga lalu saling pandang.
"Kakek" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Kalian berani sekali denganku, apa kalian tau aku siapa!?" tanya Max marah.
"Leader mafia black rose, mafia terkejam ke 13 didunia" jawab mereka bertiga bersamaan dengan santai, siswa/siswi yang mendengar itu bergidig ngeri karena mendengar mafia.
"Kalian tau rupanya" ucap Max.
"Lepaskan mereka semua!" suruh Al tegas.
"Hahaha kau bercanda gadis cantik?" tanya Max tertawa.
"Apa mukaku terlihat bercanda?" tanya Al dengan muka datar, dingin dan tatapan seperti elang yang melihat mangsanya.
"Jangan memasang muka seperti itu, karena aku tidak akan takut" ucap Max mengejek.
"Dilihat-lihat kau cantik juga, apa kau mau bermain-main denganku sebentar" ucap Max lagi sambil berjalan menghampiri Al.
"Bermain-main ya?" tanya Al tersenyum smrik sambil berjalan menghanpiri Max diikuti Chandra dan Kevin.
"Iya bermain-main" jawab Max yang ingin memegang wajah Al tapi dengan cepat Al langsung mencekal tangan Max dan langsung memutarnya kebelakang.
Krek...
Suara tulang tangan kanan Max patah.
Akh...
Teriak Max kesakitan.
"Chan, Vin lakukan!" perintah Al, Chandra dan Kevin langsung menghampiri anggota keluarga Rizky dkk dan Naila dkk.
"Ayo" ucap Kevin membawa mereka kepojok kantin dan menyuruh mereka duduk.
"Bang jaga dulu mereka kami akan membawa Rizky dkk, Naila dkk dan Sifa dkk kesini" ucap Kevin lalu pergi dari sana.
Chandra dan Kevin membawa Rizky dkk, Naila dkk dan Sifa dkk dengan mudah karena semua mafioso sedang sibuk dengan Max.
"Tenang semuanya, kalian tidak akan apa-apa" ucap Kevin yang diangguki mereka semua.
Naila dkk langsung memeluk orang tua masing-masing.
"Si Al gimana?" tanya Rizky khawatir.
"Dia gak akan kenapa-kenapa, kami disuruh menjaga kalian dan dia yang akan melawan mereka semua" ucap Kevin tenang.
"Kenapa kalian bertiga bisa setenang ini melihat Al disana?" tanya Dion melihat Chandra, Kevin dan Satria yang terlihat tenang.
"Udah kalian liat aja pertunjukkannya" ucap Satria melihat kearah Al.
Disisi lain Al berdiri dengan santai melihat mereka semua yang sedang membantu Max duduk di bangku kantin.
"Kau sudah berani melukai leader kami!" ucap tangan kanan leader mafia yang bernama Jeki.
"Alah lemah!" ucap Al tegas bergema diseluruh kantin.
"Kau!!!" ucap Jeki geram sambil menunjuk Al.
"Semuanya serang dia!" teriak Jeki bergema, siswa/siswi sangat takut, Rizky dkk dan Naila dkk panik karena melihat mafioso yang banyak sekitar 50 orang ingin menyerang Al, semua ortu Rizky dkk dan Naila dkk merasa bersalah, Sifa dkk senang karena Al akan diserang oleh 50 mafioso, sedangkan Chandra, Kevin, dan Satria terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa malahan mereka asik makan cemilan.
Semua mafioso yang ada disana langsung menyerang Al secara bersamaan semua siswi disana menangis sesenggukan sedangkan siswa mereka kasihan melihat Al bertarung disana tetapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kalian kenapa santai banget sih!? Al dikeroyok disana kenapa kalian gak ada khawatirnya sama sekali!?" tanya Rizky tegas dia sangat khawatir terjadi apa-apa sama Al.
"Sayang tenang aja pasti Al gak apa-apa kok, kalau kenapa-kenapa juga biarin aja, seharusnya kamu itu khawatir sama aku bukan sama dia" ucap Sifa bergelayut manja ditangan Rizky.
"Lepasin gue, lo bukan siapa-siapa gue, jangan panggil gue sayang!" ucap Rizky tegas menepis tangan Sifa dari tangannya.
"Aku tidak suka dengan kelakuannya"batin nyonya Zahra Abiansyah.
"Apa dia tidak melihat situasi disini, bisa-bisanya dia bilang kalau cewek tersebut kenapa-kenapa biarin aja, dan kelakuannya sungguh tidak sopan, aku sangat tidak menyukainya padahal ini baru pertama kali aku melihatnya"batin tuan Rian Abiansyah, Kevin yang mendengar batin tuan dan nyonya Abiansyah tersenyum senang didalam hati didunia nyata mukanya masih saja datar.
"Udah mending lo nonton mumpung gratis, beberapa menit lagi ni bakal selesai ntar lo nyesel" ucap Kevin yang masih sibuk memakan cemilannya.
"Kalian aneh, gue khawatir sama Al, pokoknya gue harus nolongin Al" ucap Rizky yang ingin pergi tapi ditangannya ditahan oleh Chandra.
"Diem disini, kalau lo kesana lo bakal jadi tahanan mereka dan Al bisa lakukan yang lebih berbahaya dari ini untuk nyelamatin lo!" ucap Chandra dingin membuat Rizky mengurungkan niatnya.
"Kita diam aja disini diperintahkan oleh Al untuk menjaga kalian semua, kalau kita gak ngikutin apa yang diperintahin Al kita yang bakal kayak mereka" ucap Satria sambil menunjuk mafioso yang sedang menyerang Al, sudah ada beberapa mafioso yang terbaring lemas disana.
"Gue tau lo suka sama Al, tapi lo harus tenang, karena kalau lo kesana lo jadi sasaran mereka" ucap Kevin membuat Rizky diam.
"Anak gue suka sama cewek yang lagi berantem disana, gue setuju, padahal gak kenal tapi kenapa gue setuju gak kayak cewek yang tadi"batin tuan Rian Abiansyah.
"Ya ampun anak Bunda ternyata lagi suka sama cewek"batin nyonya Zahra Abiansyah. Kevin yang mendengar itu lagi-lagi hanya bisa tersenyum didalam hati.
5 menit kemudian 50 mafioso sudah babak belur semua. Membuat semua orang yang ada disana ternganga tidak percaya kecuali Chandra, Kevin dan Satria.
"Liatkan Al bisa ngatasin semuanya" ucap Kevin.
"5 menit" ucap Chandra melihat jam tangannya.
"50 mafioso cuman membutuhkan waktu 5 menit buat bikin mereka babak belur" ucap Satria.
"Itu beneran Al?" tanya Naila tidak percaya.
"Gue masih belum percaya" ucap Dion.
"Astaga si Al udah jago main basket, bawa mobil kayak pembalap, sekarang jago beladiri" ucap Fatur.
"Gila idaman banget itu mah" ucap Putra.
"Alah begitu doang gue juga bisa" ucap Sifa sombong.
"Kalau bisa kenapa lo gak lawan tadi pas dipegang mereka?" tanya Rosa malas.
"Em itukan gue kaget jadi diem aja" ucap Sifa.
"Diem apaan lo nangis kuat banget tadi" ledek Fatur membuat Sifa malu.
"Udah mending kita samperin Al, kan mereka udah kalah semua" ucap Rizky yang ingin pergi tapi ditahan oleh Kevin.
"Jangan! masih ada leadernya sama tangan kanannya" ucap Kevin.
"Iya sayang kamu tenang ya" ucap nyonya Zahra lembut sambil mengelus punggung Rizky.
"Masih bahaya bang" ucap tuan Rian menepuk pundak Rizky, Rizky hanya mengangguk.
Yang lainnya mereka hanya menyimak tidak berniat untuk berbicara karena masih syok.
Setelah mengalahkan 50 mafioso Al duduk dibangku yang tadi dia duduki lalu meminum minumannya dengan santai.
"Gimana mau lanjut?" tanya Al lembut tapi mencekam.
"Kau berani-beraninya membuat 50 mafiosoku babak belur!" ucap Max geram.
"Siapa kau sebenarnya!?" tanya Max tegas.
"Anda mau tau siapa saya?, emm apa saya harus menjawabnya?, bukannya anda adalah leader mafia?, cari tau sendiri siapa saya sebenarnya" jawab Al.
"Mana mungkin dia bisa tau siapa lo sebenarnya Al" ucap Kevin mengejek.
"Dia bakal tau cuman nama Al aja itu juga gak ada marganya sama status Al sebagai mahasiswa" jawab Satria.
"Sekitar 1 bulan lagi dia bakal tau semuanya kok" ucap Chandra tersenyum miring.
"Ahh kalian benar" ucap Kevin santai lalu meminum minumannya.
"Kalian berempat awas saja aku akan membalas kalian berempat nanti" ucap Max geram.
"Kenapa nanti, kenapa gak sekarang aja?" tanya Al yang seperti orang bodoh sambil tersenyum miring.
"Oh mau sekarang ya, Jeki kau urus dia!" suruh Max tegas. Jeki lalu berjalan menghampiri Al yang sedang duduk santai memandang Jeki yang berjalan kearah Al.
Jeki lalu melayangkan tinjuannya tapi tangannya langsung dicekal oleh Al lalu diputar kebelakang dengan sekali putaran lalu Al menendang tubuh Jeki.
Krek
Akhh
Brug
Awh
Posisi Al waktu Jeki ingin melayangkan tinjuannya masih sama duduk santai sampai Jeki terjatuh pun dia masih duduk santai membuat siswa/siswi kaget tidak percaya dengan apa yang dilakukan Al.
"Itu masih duduk santai aja dia" ucap Fatur kagum.
"Kita aja tegang disini, eh dia ngehajar tu orang sambil duduk kalah tu orang apalagi dia berdiri bawa senjata mati mungkin" ucap Risa tak percaya.
"Gak salah anak gue suka sama dia, hebat banget dia milihnya kayak bapaknya dulu"batin tuan Rian Abiansyah. Kevin yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, Al yang mendengar itu hanya diam saja.
"Kau!" ucap Jeki sambil menunjuk Al, Al pun berdiri lalu membantu Jeki berdiri dengan menarik kerah baju Jeki.
"Kenapa?" tanya Al pada saat Jeki sudah berdiri dia lalu melepaskan pegangannya.
Jeki lalu menyerang Al bertubi-tubi tapi Al terus menghindar saat Al terus menghindar dari pukulan Jeki, Al melihat Max sedang menodongkan pistolnya mengarahkan tepat dijantung Fatur. Semua orang tidak menyadarinya jadi itu kesempatan bagi Max untuk melancarkan aksinya.
"5 detik lagi anak itu akan mati" batin Max, Al yang mendengar itu panas, sedangkan Kevin dia tidak mendengarnya karena dia sedang sibuk mengobrol dengan yang lainnya.
"Kenapa kau terus menghindar lawan aku!" suruh Jeki.
"5"batin Max menghitung.
"Permintaan diterima" jawab Al.
"4" batin Max.
Lalu Al menghajar Jeki tanpa memberi celah sedikitpun untuk melawan.
"3" batin Max.
Al sudah melumpuhkan Jeki sekarang Jeki sudah terduduk lemas tak berdaya.
"2" batin Max.
Al lalu berlari kearah Fatur dengan cepat.
"1" batin Max lalu menarik pelatuknya.
Greb
Dor
"AL" teriak Chandra, Kevin, Satria Rizky dkk(-Fatur), Naila dkk dan para orang tua.
"AKHHH" teriak siswa/siswi
Fatur diam mematung tidak percaya dengan apa yang dilakukan Al tiba-tiba air matanya terjatuh tanpa disuruh.
"Ngapain lo nangis?" tanya Al melihat Fatur nangis, Al lalu melepas pelukannya memandang wajah Fatur. Dia sama sekali tidak merasakan sakit sedikitpun. Max dan yang lainnya kabur tanpa sepengetahuan mereka semua.
"Lo kena tembak" ucap Fatur yang masih meneteskan air mata tubuhnya terasa sangat kaku.
"Iya emang kenapa?" tanya Al santai.
"Lo masih bilang kenapa? kenapa lo bilang? dan lo santai banget seperti gak ada apa-apa" jawab Fatur lalu memeluk Al dengan erat, Al membalas pelukannya sambil mengelus punggung Fatur lembut supaya dia tenang, yang melihat itu Rizky cemburu tapi dia tau situasinya.
"Kenapa lo nolongin gue? apa kena tembak gak sakit? lo gak apa-apakan? pasti sakit banget, maafin gue karena nolongin gue lo jadi kena tembak" ucap Fatur sambil menangis membuat baju Al basah karena darah dan basah karena air mata Fatur. Al lalu melepas pelukannya perlahan lalu memandang wajah Fatur.
"Kalau nanya satu-satu, yang pertama kalau gue gak nolongin lo nanti peluru itu akan kena tepat dijantung lo,yang kedua ya pasti sakit kena tembak peluru mau coba lo? yang ketiga gue gak apa-apa buktinya gue ada didepan lo, yang keempat gak terlalu sakit tenang aja, yang kelima lo gak perlu minta maaf sama gue" jawab Al lembut tapi masih dengan muka datarnya.
"Suara lembut tapi muka masih masang wajah datar" ledek Satria.
"Terserah guelah" jawab Al.
"Nak makasih ya udah mau ngorbanin diri kamu untuk nolongin Fatur" ucap tuan Fikri Kurniawan yang dijawab anggukan oleh Al.
"Sayang makasih banyak kamu udah nolongin Fatur, kami berhutang nyawa sama kamu, katakan kamu mau apa?" tawar nyonya Selvi Kurniawan.
"Saya minta tuan, nyonya dan Fatur jaga diri baik-baik, itu saja" jawab Al dengan datar membuat semua orang terkejut dengan permintaan Al.
"Kami pasti jaga diri kami baik-baik, tapi apa kamu tidak mau yang lain?" tanya tuan Fikri.
"Tidak" jawab Al singkat.
"Kamu sangat baik sayang" ucap nyonya Selvi lalu memeluk Al, Al yang dipeluk secara mendadak terkejut tapi dia langsung membalas pelukan tersebut.
"Lo memang orang baik Al, tapi luka lo gimana" batin Rizky.
"Kamu sangat baik Al, kamu sudah mau menolong teman kamu sendiri dengan mengorbankan dirimu sendiri, dan pada saat ditanya kamu mau apa kamu malah menyuruh keluarga Kurniawan untuk menjaga dirinya" batin nyonya Zahra kagum, Al dan Kevin yang mendengar batin mereka saling lirik.
"Bun udah itu lukanya diobatin dulu, kita bawa kerumah sakit" ucap tuan Fikri.
"Eh iya lupa, yaudah ayo kita kerumah sakit" ucap nyonya Selvi yang sudah melepaskan pelukannya.
"Tidak usah repot-repot, dokter sedang diperjalanan kearah mansion Al" jawab Al datar menolak halus dia tidak mau merepotkan mereka, karena dia juga sudah terbiasa terkena peluru bahkan dia pernah terkena 20 peluru sekaligus tapi dia masih saja santai, dia tidak pingsan tapi dia sedikit kurang keseimbangan karena darah yang terus mengalir.
"Kita gak merasa direpotkan kok Al, lo udah nolongin gue" ucap Fatur membujuk.
"Gak" ucap Al datar singkat.
"Emang siapa yang mesan dokter? kenapa lo bisa tau kalau dokter sedang diperjalanan?" tanya Dion.
"Gue yang mesen, dokter itu adalah sahabat kita dan orang yang selalu ngerawat kita kalau kita kenapa-kenapa" jawab Kevin.
"Yaudah mending kita semua pulang kemansion masing-masing, istirahat karena hari ini sangat melelahkan" ucap Satria.
"Iya ayo kita pulang" ucap tuan Doni lalu pergi dari sana diikuti ortu Naila dkk, Sifa dkk. Disana cuman tersisa tuan, nyonya, dan tuan muda Abiansyah dan juga tuan, nyonya dan tuan muda Kurniawan bersama Al dkk.
"Sayang kamu yakin gak mau ke rumah sakit?" tanya nyonya Selvi.
"Gak tante" jawab Al singkat.
"Kalau kamu kenapa-kenapa bilang sama Fatur nanti Fatur akan bilang sama kami, siapa tau kami bisa bantu, pintu mansion kami terbuka lebar untukmu" ucap tuan Fikri.
"Iya om" jawab Al.
"Yasudah kalau gitu kami pamit dulu" ucap tuan Fikri yang dapat anggukan dari Al, keluarga Kurniawan pun pergi dari sana.
"Al kami mau berterima kasih sebesar-besarnya sama kamu karena kamu sudah menolong kami semua" ucap tuan Rian.
"Tidak masalah om" jawab Al singkat.
"Jangan panggil om panggil Ayah aja" ucap tuan Rian membuat Al dkk terkejut tapi masih dengan muka datar mereka.
"Iya om eh maksudnya a Ayah iya Ayah maksudnya" ucap Al datar dan kaku dia sedikit tidak enak karena harus memanggil dengan sebutan Ayah.
"Dan kamu panggil Bunda jangan tante supaya sama kayak Rizky" ucap nyonya Zahta membuat Al sedikit terharu tapi dia masih saja memasang wajah datar.
"Iya tan maksudnya Bunda" ucap Al kaku dan datar.
"Kalau begitu mari kita pulang tuan, nyonya supaya mereka bisa istitahat" ucap Satria.
"Ohh iya Al kan terkena peluru" ucap nyonya Zahra.
"Kami pamit pulang dulu ya" ucap tuan Rian.
"Iya silahkan" ucap Satria mempersilahkan.
"Oh iya kalian ini siapanya Al? dan siapa nama kalian?" tanya tuan Rian.
"Saya Satria dan dia Kevin kami abangnya Al dan yang ini Chandra pacarnya Al" ucap Satria sambil menunjuk Chandra dan Kevin.
"Oh Al sudah punya pacar, ganteng sekali pacarnya" ucap nyonya Zahra.
"Terima kasih nyonya" ucap Chandra sambil menunduk hormat.
"Kalian jangan panggil nyonya atau tante panggil Bunda ya" ucap nyonya Zahra.
"Iya benar panggil Ayah juga ya" ucap tuan Rian.
"Baik" ucap mereka bersamaan kecuali Al dan Rizky.
"Yaudah ayo kita pulang" ucap nyonya Zahra.
"Mari" ucap Satria mempersilahkan jalan duluan.
Mereka pergi keparkiran setelah sampai keparkiran.
"Kalian tinggal dimana?" tanay tuan Rian.
"Waktu kami datang ke Jakarta, kami biasanya tinggal di jalan x tapi 2 hari ini kami tinggal dijalan q didepan mansion Ayah dan Bunda" jawab Kevin ramah tapi masih memasang wajah datar.
"Kalau saya tinggal disekitar sini, supaya dekat dengan sekolah" ucap Satria.
"Ohh jadi yang punya mansion itu kalian?" tanya nyonya Zahra.
"Lebih tepatnya mansion punya Al" jawab Kevin.
"Tapi kenapa Bunda tidak pernah melihat kalian selama ini?, yang Bunda lihat dimansion itu banayk sekali penjaga" tanya nyonya Zahra.
"Kami baru pindah Indonesia, selama ini kami bertiga tinggal di Amerika Bun" jawab Kevin yang dapat anggukan dari nyonya Zahra.
"Yasudah ayo kita pulang, mungkin dokter sudah sampai dimansionnya Al" ajak tuan Rian lalu masuk kemobilnya diikuti yang lainnya mereka masuk kemobil masing-masing.
Diperjalanan pulang lebih tepatnya dimobil tuan Rian.
"Kenapa mereka datar dan dingin apalagi Al?" tanya nyonya Zahra.
"Dari pertama masuk sekolah pun dia emang gitu, dan pernah pas dikantin Naila nanya ortu Al dia langsung pergi tanpa sepatah katapun dan kami diperingati dengan Kevin supaya jangan membahas masalah ortu didepan Al" jawab Rizky.
"Mungkin dia ada masalah dengan keluarganya" ucap tuan Rian.
"Sayang sekali Al sudah punya pacar" ucap nyonya Zahra lesu.
"Emang kenapa Bun?" tanya tuan Rian.
"Kalau belumkan kita bisa jodohkan Al sama anak kita Yah" ucap nyonya Zahra membuat Rizky terdiam.
"Iya benar juga, kalau jodoh gak akan kemana Bun" ucap tuan Rian yang diangguki oleh nyonya Zahra.
"Eh cewek yang tadi deketin kamu siapa bang?" tanay nyonya Zahra.
"Dia Sifa adeknya Dion anak om Doni" jaeab Rizky malas.
"Bukannya anak Doni yang cewek namanya Alsa?" tanya nyonya Zahra.
"Bun Donikan nikah lagi sama Ana istri yang sekarang, dia nikah lagi pada saat Ratu sedang dirumah sakit" jawab tuan Rian.
"Jadi itu anak Ana sama mantan suaminya bukan anak kandung Doni?" tanya nyonya Zahra.
"Bukan Bun" jawab tuan Rian, Rizky hanya menyimak saja.
"Terus sekarang Alsa kemana, setelah Ratu meninggal dia seperti ditelan bumi?" tanya nyonya Zahra.
"Ntahlah Bun, Doni tidak pernah mencari anak kandungnya, dia malah sibuk dengan istri barunya sama anak tirinya" jawab tuan Rian.
"Iya bahkan Dion seperti tidak dianggap ada dimansion itu" ucap Rizky.
"Kasian mereka" ucap nyonya Zahra.
"Iya Bun" ucap Rizky.
"Nama panjang Al dkk itu siapa sebenarnya?" tanay tuan Rian.
"Alqueena Azkiya A, Chandra Alvaro W, Kevin Agatha, Satria Nicolas" jawab Rizky.
"Bukannya Al, Kevin, dan Satria kakak adek kenapa nama belakangnya beda?" tanya nyonya Zahra heran.
"Semua siswa/siswi disekolah gak ada yang tau kalau mereka kakak adek, mungkin nama belakangnya gak disebut supaya siswa/siswi gak curiga" jawab Rizky yang dapat anggukan dati nyonya Zahra.
"Tapi siapa A dan W, dari keluarga mana mereka?" tanya tuan Rian.
"Rizky juga gak tau" jawab Rizky. Setelah percakapan itu hening tidak ada percakapan lagi mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Didalam mobil Al mendengar dan melihat semua apa yang dikatakan dan dilakukan dimobil tuan Rian, karena semua mobil keluarga Rizky dkk dan Naila dkk dipasang CCTV dan penyadap suara tersembunyi.
"Ternyata kalian kenal dengan Alsa" gumam Al sambil fokus menyetir.
Al menyetir sendiri karena dia tidak mau disetir oleh mereka.
Setelah sampai dimansion Al, mereka langsung memasukkan mobil mereka kegarasi, Rizky dan kedua orang tuanya ikut kemansion Al.
"Nona dokter Ken sudah menunggu diruang rawat" ucap penjaga rumah Al yang tak lain adalah mafioso ANGEL OF DEATH.
Disetiap mansion dan markas ada ruang rawat, itu sengaja dibuat oleh Al karena dia malas kerumah sakit.
"Baik" jawab Al.
"Mari masuk" ajak Al kepada tuan Rian dan nyonya Zahra.
Mereka lalu masuk kedalam mansion Al, banyak barang-barang mewah disini membuat mereka kagum.
"Mari kita keruang tamu sambil menunggu Al diruang rawat" ajak Kevin, mereka semua pergi keruang tamu kecuali Al dia pergi keruang rawat yang ada dilantai.
"Bi tolong bawakan minuman sama cemilan" ucap Chandra sambil menekan tombol yang ada dipojok dinding.
"Baik den, tunggu sebentar" suara art dari speaker sebelah tombol tersebut.
"Bisa dipake nih dimansion supaya Bunda gak teriak-teriak"batin tuan Rian.
"Cocok buat Bunda"batin Rizky.
Kevin yang mendengar itu diam saja menahan tawanya.
Tak lama minuman dan cemilan pun datang.
"Silahkan diminum, saya pamit dulu" ucap art tersebut.
"Makasih bi" ucap Chandra dan Kevin.
"Silahkan diminum" ucap Kevin mempersilahkan. Mereka pun meminum minumannya.
"Al gak akan kenapa-kenapakan?" tanya nyonya Zahra khawatir.
"Insya Allah gak" jawab Chandra.
"Bunda yang tenang, Al pasti baik-baik saja" ucap tuan Rian menenangkan, Rizky hanya diam karena dia khawatir dengan keadaan Al.
"Iya Yah" jawab nyonya Zahra.
"Kenapa Bunda ngerasa mukanya Al seperti tak asing?" tanya nyonya Zahra, Chandra dan Kevin saling lirik.
"Mungkin cuman mirip sama orang yang Bunda kenal" jawab Kevin.
"Iya kayaknya" ucap nyonya Zahra.
5 menit kemudian Al datang bersama dokter Ken, dia sudah berganti baju.
"Dokter Ken" panggil tuan Rian.
"Eh tuan Rian, apa kabar?" tanya dokter Ken.
"Alhamdulillah baik, gimana keadaan dokter?" tanya tuan Rian.
"Alhamdulillah baik tuan" jawab dokter Ken.
"Kenapa dokter bisa disini?" tanya nyonya Zahra.
"Saya mengobati Al nyonya" jawab dokter Ken yang dijawab anggukan oleh nyonya Zahra.
"Gimana keadaan Al, dia baik-baik sajakan, lukanya tidak parahkan?" tanya nyonya Zahra.
"Alhamdulillah dia baik-baik aja, lukanya juga tidak parah" jawab dokter Ken.
"Alhamdulillah kalau begitu" ucap nyonya Zahra lega.
"Syukur deh kalau lo baik-baik aja Al"batin Rizky.
"Nyonya dan tuan kenal sama mereka?" tanya dokter Ken.
"Baru tadi kenalnya, Al nolongin kami dari penjahat" jawab tuan Rian yang dijawab anggukan dari dokter Ken.
"Dokter kenal sama Al?" tanya nyonya Zahra.
"Sahabat baik saya di Amerika nyonya" jawab dokter Ken.
"Ohhh" ucap nyonya Zahra.
Tiba-tiba Riko datang dengan napas yang tak beraturan.
"Al hos dia hos hos haduh itu hos anu hos" ucap Riko ngos-ngosan dia tidak menyadari ada keluarga Abiansyah disana.
"Ngomong yang benar" ucap Al lalu mengambil minumannya untuk diberikan kepada Riko.
"Nih minum" ucap Al lahi sambil memberikan segelas air.
"Gini Al" ucap Riko lalu melihat ternyata ada keluarga Abiansyah.
"Eeh ada tuan sama nyonya maaf mengganggu saya pinjam Alnya sebentar ya" ucap Riko lalu menarik Al pergi, tuan Rian dan nyonya Zahra hanya tersenyum.
"Dia siapa?" tanya nyonya Zahra.
"Abangnya Al" jawab Kevin yang dijawab oh oleh nyonya Zahra. Mereka sibuk berbincang-bincang tapi tidak dengan Chandra dan Rizky mereka hanya diam saja.
"Maaf Chan permisi dulu" ucap Chandra lalu diangguki oleh mereka semua, dia lalu pergi menyusyl Al dan Riko.
Di ruang pribadi Al.
"Kenapa bang?" tanya Al.
"Jadi gini" ucap Riko terpotong karena Chandra tiba-tiba masuk.
"Lanjutkan" ucap Chandra lalu duduk disofa samping Al.
***Bersambung***
kalau disimpan keknya rada ganjal