Haii Readers...
Ini karya Ku yang ke empat semoga kalian suka...
"Dasar wanita ja**ng, aku menyesal menikahimu." Abbas menarik rambutku.
Ppllaakk.
Abbas menampar ku hingga bibir ku mengeluarkan darah segar.
"Mas, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku memegangi lutut suami ku.
"Cepat kamu ceraikan dia, Mommy ngga sudi mempunyai menantu miskin, ja**ng dan mandul seperti dia." Usir Mommy mertua ku.
Air mata ku mengalir deras, Daddy mertua ku hanya diam saja.
Bagaimana kelanjutannya kisahnya?
Kisah ini diambil dari seorang sahabat, bukan plagiat ini kisah nyata. Semoga kalian menyukainya...
Jangan lupa Vote, like dan komentarnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trianti Fersa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahagia Bersamamu
Abbas membawakan sarapan untuk Alsava, ia merasa bersalah akibat ulahnya Alsava tidak bisa berjalan. Karena daerah intimnya bengkak.
"Sayang, kamu makan dulu ya. Aku sudah menyiapkan khusus untuk mu." Abbas membelai pipi Alsava yang sedang tertidur nyenyak.
"Mmm." Alsava merenggangkan otot.
"Terimakasih, mas. Ss... Aauuww..." Alsava mencoba bangun tapi daerah intimnya terasa sakit.
"Masih sakit, Yank." Abbas khawatir.
"Iya, punya mu gede banget si dan kamu juga ngulang 3 x. Bagaimana aku ngga sakit, jadi aku juga berjalan agak susah." Alsava sewot.
"Maafin aku, ya Yank. Nanti kita kedokter aja, ya." Abbas merasa bersalah.
"Ngga mau, aku malu. Masa aku sakit gara-gara aku abis di anuin sama kamu, kan ngga lucu." Alsava menepis tangan Abbas.
"Tapi aku benar-benar ngga tega sama kamu, Yank."
"Mmm, lebih baik nanti aku ketempat mba Ita."
"Mba Ita siapa, Yank?."
"Itu sepupu aku, dia kan dokter kandungan jadi aku lebih leluasa nanya sama dia. Mas."
"Ya, udah. Aku bahagia banget sekarang bisa bersama kamu, terimakasih sudah menerima aku." Abbas mencium kening Alsava.
"Iya, aku juga bahagia." Alsava memeluk Abbas.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Abbas dan Alsava mendatangi ke rumah sakit Mba Ita bertugas. Antrian pasien Mba Ita lumayan panjang, hingga Abbas mengeluh.
"Ini mau antri ambil sembako atau mau periksa juga ngga sih? lumayan banyak juga." Gerutu Abbas.
"Mba Ita itu dokter kandungan yang terkenal di kota ini, Mas. Wajar pasiennya banyak, kamu kalau ngga mau menunggu lebih kamu pulang aja sendiri. Biar aku periksa sendiri." Alsava cemberut dan melipat kedua tangan di dadanya.
"Jangan gitu dong, Yank. Aku tuh ngga tega kamu menunggu lama." Abbas memegang tangan Alsava.
"Sabarlah Mas, ini ngga akan lama kok."
"Baiklah, demi kamu apapun kulakukan."
Beberapa jam kemudian nama Alsava akhirnya di panggil, Abbas dan Alsava langsung masuk kedalam.
"Assalamualaikum, Mba." Alsava mencium punggung tangan Mba Ita.
"Wa'alaikumsalam, maaf ya. Al, kamu dan suami kamu pasti menunggu lama." Mba Ita ramah.
"Ah! ngga apa-apa kok."
"Oia, silakan duduk. Ada keluhan apa kamu, Al?." Mba Ita siap mau menulis keluhan sakit Alsava.
"Aduh! aku malu, Mba. Ngomongnya, mas kamu aja yang ngomong." Alsava merona.
"Loh! wajah kamu merah, Al. Emang apa yang terjadi, coba kamu Abbas bisa jelaskan kesaya." Mba Ita menatap bingung ke Alsava.
"Itu, anu. Mba dokter, kami sudah melakukan malam pertama. Akibat ulah saya Alsava ngga bisa bangun dari tempat tidur dan itunya Alsava bengkak, padahal aku sudah beri salep. Tapi masih aja bengkak, Mba dokter." Abbas menceritakan dengan lantang tanpa ada rasa malu, beda dengan Alsava. Wajahnya merah merona malah tambah merah, Abbas menceritakan semuanya.
"Mmm...Biar Mba periksa dulu, kamu berbaring aja kesana." Mba Ita menunjukkan ruang periksa.
Alsava menuruti berbaring di tempat periksa. Ketika Mba Ita melihat daerah Intim Alsava, dia kaget.
"Astaghfirullah, Al. Ini mah bengkak banget, apa punya suami kamu itu gede banget, ya. Dan kamu berapa ronde melakukannya." Bisik Mba Ita
"I-iya, Mba. Lumayan mba 3 Ronde." Alsava merah.
"Nafsu juga, ya. Si Abbas sama kamu Al."
"Ish! malu juga mba."
"Hahaha, gimana rasanya enak kan." Mba Ita menggoda Alsava.
"Enak gimana sakit begini, Mba. Tolong mba biar cepat sembuh gimana caranya, aku tersiksa nih setiap buang air kecil. Sakitnya luar biasa."
"Ya-ya, Mba akan berikan resep salep dan vitamin." Mba Ita membantu Alsava turun dari tempat tidur.
"Mba dokter, bagaimana itunya istri saya?." Abbas berdiri, ketika Alsava dan Mba Ita keluar dari ruang periksa.
"Gini, Bass. Untuk seminggu kamu jangan melakukan itu dulu, sampai daerah intimnya Alsava sembuh."
"Apa!!!, lama banget mba dokter. Apa ngga bisa d percepat, Mba. Kasihan si naga baru merasakan goa yang begitu indah." Ucapan Abbas membuat Alsava blushing, Mba Ita tertawa geli.
"Hahahaha... kalian lucu. Kamu harus bertahan, Bass. Kalau mau istri mu cepat sembuh."
"Baiklah, aku akan menuruti perintah mba dokter aja. Yang terpenting Si naga bisa masuk ke dalam Goa yang indah dan memabukkan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like, vote, Komentar dan berikan penulis hadiah biar semangat Upnya terimakasih... See you