Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 14.Kunjungan Mertua Part 2
“Lama sekali kalian pulang.”
Alessia dan Vellano saling pandang.
Malam yang mereka kira sudah selesai ternyata baru saja dimulai.
Alessia refleks bersembunyi sedikit di belakang Vellano. “Jangan bilang pencuri.”
Vellano menatap pria itu tajam. “Axel?”
Pria di sofa tersebut mengangkat tangan santai. “Hai, pengantin baru.”
Vellano mengerutkan kening. “Bagaimana kau bisa masuk?”
Axel menunjuk ke meja. “Tenang. Aku tidak membobol rumahmu. Ibumu yang memberikan password.”
Vellano terdiam.
Alessia langsung menoleh kepadanya. “Ibumu memberikan password rumah kita kepada orang lain?”
“Sepertinya begitu.”
“Hebat,” gumam Alessia. “Privasi keluarga ini benar-benar luar biasa.”
Axel tertawa. “Aku juga tidak berniat mengganggu. Aku datang untuk menyerahkan beberapa dokumen penting. Besok aku mulai cuti beberapa hari karena ada perjalanan bisnis.”
Vellano kemudian menepuk dahinya.
“Ah, benar. Aku hampir lupa.”
Alessia meliriknya. “Kau hampir lupa pekerjaanmu sendiri?”
“Bukan pekerjaan. Jadwal Axel.”
Axel langsung menyela, “Tenang, Vellano. Setelah menikah memang otak biasanya mengalami penurunan fungsi.”
Alessia menahan tawa.
Vellano menatap sepupunya datar. “Kau datang untuk menyerahkan dokumen atau menghina aku?”
“Keduanya. Paket lengkap.”
Setelah menyerahkan dokumen, Axel berdiri. Sebelum pergi, ia sempat menatap Alessia lalu tersenyum jahil.
“Jaga sepupuku baik-baik, ya.”
Alessia mengangkat alis
"Justru dia yang harus dijaga.”
Axel tertawa keras.
“Wah, cocok sekali kalian.”
Vellano hanya menghela napas, sementara Alessia tersenyum puas. Axel akhirnya pamit, meninggalkan pasangan itu kembali dalam keheningan yang sedikit canggung—dan Vellano yang mulai menyesal pernah memperkenalkan sepupunya kepada Alessia.
Setelah Axel akhirnya pergi dan suara pintu depan tertutup, rumah kembali sunyi.
Alessia mengembuskan napas lega. “Sepupumu benar-benar menyebalkan.”
“Dia memang begitu sejak kecil,” jawab Vellano datar.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka akhirnya naik ke kamar. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, suasana di kamar utama perlahan menjadi tenang. Alessia mengenakan piyama tidurnya, kemudian naik ke tempat tidur dan menarik selimut hingga ke dada.
Vellano masih berdiri di dekat lemari, memastikan semua sudah beres sebelum mematikan lampu.
Ketika menoleh, ia melihat Alessia sudah memejamkan mata.
Entah mengapa, langkah Vellano terhenti.
Wajah perempuan itu tampak begitu damai ketika tidur. Tidak ada ekspresi kesal, tidak ada tatapan tajam, bahkan tidak ada ocehan yang sejak tadi memenuhi perjalanan pulang mereka.
Vellano berjalan mendekat.
Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi, memastikan bahu Alessia tertutup dengan baik.
Tatapannya kemudian terdiam beberapa saat.
“Apakah aku sudah jatuh cinta?” gumamnya pelan.
Ia sendiri terkejut mendengar pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
Vellano segera menggeleng.
“Atau mungkin aku hanya mulai terbiasa peduli karena kami tinggal bersama.”
Ia menatap Alessia sekali lagi sebelum buru-buru mengalihkan pandangan.
“Sudahlah. Jangan berpikir macam-macam.”
Vellano kemudian mengambil bantal dan berjalan menuju sofa di sudut kamar.
Mereka memang sudah menikah, tetapi belum benar-benar tidur seranjang.
Ia merebahkan tubuhnya di sofa, menarik selimut, lalu memejamkan mata.
Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali terbuka.
Pandangannya otomatis tertuju pada Alessia.
Vellano menghela napas panjang.
“Ini gawat.”
......................
Pagi harinya, suasana rumah jauh lebih tenang. Karena akhir pekan, Vellano tidak perlu pergi ke kantor. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia turun ke ruang makan bersama Alessia.
Mereka baru saja menyelesaikan sarapan ketika bel rumah berbunyi.
Alessia menoleh. “Siapa?”
Vellano mengangkat bahu. “Aku tidak mengundang siapa pun.”
“Semoga bukan Axel.”
“Kalau Axel, aku pura-pura tidak ada di rumah.”
Alessia hampir tertawa.
Vellano akhirnya membuka pintu. Begitu melihat siapa yang berdiri di sana, ekspresinya langsung berubah.
“Mom? Dad?”
Nyonya Anne langsung tersenyum lebar, sementara Tuan Benedict berdiri di sampingnya dengan ekspresi jauh lebih tenang.
“Selamat pagi, anakku!” seru Anne sambil langsung masuk tanpa menunggu dipersilakan.
Benedict menghela napas. “Anne, setidaknya beri mereka kesempatan bernapas.”
“Ini rumah anakku sendiri.”
Vellano memejamkan mata sebentar. “Aku sudah tahu pagi ini akan panjang.”
Alessia menyambut mereka dengan sopan. Namun baru beberapa menit mereka duduk, suasana berubah menjadi jauh lebih ramai.
Nyonya Anne mulai berbicara dengan Alessia, menanyakan kabarnya, bagaimana kehidupan mereka setelah menikah, hingga akhirnya topik yang membuat wajahnya berubah muncul.
“Kecelakaan mu di sirkuit beberapa minggu lalu.”
Alessia langsung terdiam.
Vellano yang sedang minum kopi hampir tersedak.
Anne menatap mereka bergantian. “Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
“Mom—” Vellano mencoba menyela.
“Aku tahu dari besan!” lanjut Anne dengan nada penuh protes. “Kalian menyembunyikan anakku yang terluka dari kami?”
Alessia segera menggeleng. “Bukan begitu, Nyonya Anne. Saya memang tidak memberi tahu siapa-siapa. Saya tidak ingin merepotkan banyak orang.”
Anne menatapnya tidak percaya.
“Tidak ingin merepotkan?”
Alessia mengangguk pelan. “Lagipula ada Vellano.”
Seketika ruangan hening.
Vellano menoleh cepat.
Benedict menahan senyum.
Anne justru memegang dadanya dramatis. “Ya Tuhan! Jadi sekarang anakku sudah menjadi orang pertama yang kau andalkan?”
Wajah Alessia memerah.
“Bukan begitu maksud saya.”
Vellano berdeham. “Mom, jangan mulai.”
“Aku belum mulai.”
“Justru itu yang membuatku takut.”
Benedict akhirnya tertawa kecil.
Anne kemudian menatap putranya dengan senyum penuh arti. “Vellano, ternyata pernikahan membuatmu berguna juga.”
Vellano menatap ibunya datar.
“Terima kasih, Mom.”
Alessia buru-buru menunduk menyembunyikan tawanya.
Dan pagi yang seharusnya tenang itu pun berubah menjadi sesi interogasi keluarga—lengkap dengan godaan tentang pasangan pengantin baru yang membuat Vellano berkali-kali berharap Axel tidak pernah memberitahunya bahwa akhir pekan adalah waktu untuk beristirahat.
Suasana ruang makan masih dipenuhi tawa setelah percakapan tentang kecelakaan Alessia. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Nyonya Anne tiba-tiba membuka tas kecil yang dibawanya.
“Alessia, sebenarnya Ibu membawa sesuatu untukmu.”
Alessia tampak bingung ketika Anne mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna emerald kecil.
Begitu kotaknya dibuka, terlihat sebuah gelang berlian cantik dengan desain elegan dan berkilau lembut.
“Ini gelang keluarga kami,” ujar Anne. “Sudah turun-temurun sampai empat generasi.”
Alessia terdiam, jelas terkejut.
“Untuk saya?”
Anne mengangguk hangat. “Tentu. Sekarang kamu bagian dari keluarga kami.”
Alessia menerima gelang itu dengan hati-hati. “Terima kasih banyak, Nyonya Anne. Saya akan menjaganya baik-baik.”
Anne tersenyum puas.
“Dan suatu hari nanti, kalau kamu sudah punya anak…”
Alessia membeku.
Vellano yang sedang minum kopi langsung berhenti.
“…gelang itu bisa diberikan kepada anak kalian.”
Benedict menoleh kepada istrinya. “Anne.”
“Apa?”
“Kau bahkan belum memberi mereka kesempatan menikmati pernikahan.”
Anne mengabaikannya. “Ibu ingin punya cucu.”
Vellano langsung tersedak kopi.
“Mom!”
Alessia menunduk, wajahnya mulai memerah.
Anne malah semakin bersemangat. “Kenapa? Salah?”
“Bukan salah,” jawab Vellano cepat. “Hanya saja terlalu cepat.”
Benedict menahan tawa. “Menurutku Anne sudah membuat jadwal cucu sebelum jadwal bulan madu.”
Seolah belum cukup, Anne tiba-tiba melanjutkan dengan santai, “Oh iya, kalian jadi berangkat ke Maladewa, kan?”
Alessia langsung menoleh kepada Vellano.
Vellano membeku.
“Mom, kenapa semua orang tahu?”
Anne tertawa. “Berita bulan madu kalian sudah beredar di grup keluarga.”
Alessia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Vellano hanya menatap langit-langit.
Pagi itu, ia sadar satu hal: menghadapi rapat direksi ternyata jauh lebih mudah daripada menghadapi keluarganya sendiri.
......................
Malam pun tiba. Setelah seharian rumah mereka dipenuhi suara Nyonya Anne, akhirnya keluarga kecil itu duduk bersama menikmati makan malam.
Hidangan tersaji lengkap dan menggugah selera. Alessia bahkan sempat memuji masakannya beberapa kali.
Namun, ketenangan itu kembali terusik ketika Nyonya Anne tiba-tiba tersenyum jahil.
“Alessia, Ibu punya cerita lucu tentang Vellano waktu kecil.”
Vellano yang sedang mengambil lauk langsung berhenti.
“Mom. Jangan.”
Anne justru semakin bersemangat.
“Waktu kecil, Vellano pernah merajuk dengan Axel gara-gara makan malam keluarga.”
Alessia langsung menoleh penasaran.
“Merajuk?”
Benedict sudah menahan tawa.
Anne mengangguk. “Axel waktu itu mengambil potongan ayam terakhir yang sebenarnya Vellano incar.”
Vellano menutup mata.
“Dan karena kesal, Vellano tidak mau bicara dengan Axel selama hampir dua jam.”
Alessia mulai terkikik.
“Bukan cuma itu,” lanjut Anne. “Dia bahkan memindahkan kursinya menjauh dari Axel.”
Alessia akhirnya tertawa terbahak-bahak.
“Serius?!”
Vellano menatap istrinya dengan wajah memerah. “Aku masih kecil!”
Anne tertawa. “Yang paling lucu, ketika Axel menawarkan ayam lain sebagai permintaan maaf, Vellano menjawab—”
Anne menirukan suara anak kecil, “Aku tidak mau ayam dari pengkhianat!”
Alessia hampir tersedak minumannya.
Benedict akhirnya ikut tertawa keras.
Vellano menutup wajahnya dengan satu tangan. “Kenapa kalian masih mengingatnya?”
“Karena sangat lucu,” jawab Anne.
Alessia masih tertawa sampai matanya berair. “Jadi ternyata Tuan Vellano yang sok cool sekarang dulu cuma anak kecil yang perang dingin gara-gara ayam.”
“Alessia.”
“Iya?”
“Berhenti tertawa.”
“Aku tidak bisa!”
Setelah makan malam selesai, Anne dan Benedict akhirnya bersiap pulang.
Anne memeluk Alessia sebelum pergi. “Lain kali Ibu ceritakan lebih banyak rahasia masa kecil Vellano.”
Vellano langsung menyela, “Tidak perlu!”
Pintu akhirnya tertutup.
Rumah kembali sunyi.
Alessia masih tersenyum lebar.
Vellano menatapnya curiga.
“Jangan pernah menceritakan cerita ayam itu kepada siapa pun.”
Alessia mengangkat tangan seolah bersumpah.
“Tentu.”
Lalu ia terkikik lagi.
Vellano menghela napas.
Ia tahu, rahasia masa kecilnya baru saja jatuh ke tangan orang yang paling suka menggodanya.
......................
Setelah Nyonya Anne dan Tuan Benedict pulang, rumah kembali sunyi. Alessia dan Vellano akhirnya naik ke kamar. Namun, malam itu mereka tidak langsung tidur.
Alessia membuka pintu balkon, lalu duduk di salah satu kursi. Vellano menyusul beberapa saat kemudian.
Di hadapan mereka terbentang halaman mansion yang luas, diterangi cahaya lampu taman. Langit malam begitu indah, dihiasi bintang-bintang yang terlihat jelas.
“Tenang sekali,” ujar Alessia pelan.
Vellano mengangguk. “Biasanya rumah ini tidak pernah benar-benar tenang.”
Alessia terkekeh. “Terutama kalau ibumu datang.”
Vellano langsung menghela napas. “Jangan mengingatkanku.”
Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal kecil. Tentang makanan yang mereka sukai, kebiasaan masa kecil, bahkan tentang Axel yang menurut Alessia terlalu suka mengganggu.
Entah bagaimana, percakapan itu membuat jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Mereka saling menatap.
Awalnya hanya beberapa detik.
Namun tak ada yang bergerak menjauh.
Vellano sedikit mendekat.
Alessia pun tanpa sadar melakukan hal yang sama,lalu...........
...****************...
Kira-kira apa yang terjadi ya ?Mereka ngapain di balkon?
Stay tune terus ya ,jangan lupa tinggalkan jejak dan terimakasih untuk yang sudah mampir.
Salam hangat dan damai🥰