Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Ingin Jadi Orang itu.
Adit merasa sedikit tidak nyaman karena selama makan, beberapa pelayan berdiri tepat tidak jauh dari mereka. Ternyata tidak enak juga kalau makan harus diperhatikan seperti ini. Pikir Adit. Namun, melihat Devina yang makan dengan lahap, seperti sudah terbiasa dengan semua itu. Tidak heran karena mungkin ia sudah terbiasa dilayani seperti ini. Hanya dengan menatap Devina makan layaknya seorang anak bangsawan membuat Adit semakin kagum. Ia mampu menempatkan dirinya sesuai dengan lingkungan yang di tempati. Ketika di sekolah, ia berbaur seperti orang biasa.
"Kenapa loh gak makan? " tanya Devina.
"Gue udah kenyang. Loh makan saja dengan santai, " jawab Adit.
"Baiklah."
Devina pun menyantap makanannya dengan lahap sampai habis. Ia merasa sangat puas dan kenyang sekali. Sementara Adit hanya memperhatikan Devina sampai selesai makan.
"Setelah ini, loh mau kemana lagi? Gue bisa temani loh, " ujar Adit.
Sejenak Devina terdiam dan memikirkan Aksa. Ia melihat jam dilayar HP nya. Ternyata sudah jam tiga sore. Aksa pasti masih di rumah sakit sekarang. Devina ingin sekali bertemu dengan Aksa dan melihat keadaannya. Jadi, ia kepikiran untuk menelpon asisten rumah yang disiapkan Ayahnya kalau butuh sesuatu. Adit sedikit kecewa karena Devina menghiraukan pertanyaannya.
"Hallo, Pak Gio? Aku mau minta tolong boleh gak? Bisa Bapak carikan info tentang seseorang untuk saya? Namanya Aksa Aksara, dia teman sekelas ku. Tolong cari tahu rumah sakit yang sering dia kunjungi dan untuk apa dia pergi ke sana, " pinta Devina.
"Baik, Nona. "
"Terima kasih, Pak. "
Tut! Devina menutup teleponnya dan melirik Adit yang masih menatap dirinya sambil menopang dagu.
"Gue heran sama loh. Kalau loh memang punya koneksi yang begitu hebat. Kenapa gak dari tadi aja sih?"
Devina sejenak berpikir lalu ia tersenyum. "Iyah, kok gue baru kepikiran sekarang yah? "
"Hadeuh! Parah banget sih loh! "
Devina hanya bisa tertawa kecil melihat Adit yang sedikit frustasi saat ini. Tidak butuh waktu yang lama. Dua puluh menit kemudian Gio menelpon lagi dan memberikan informasi yang ia dapat tentang Aksa kepada Devina. Ia juga mengirimkan berkas datanya lewat email. Devina mengangguk tanda mengerti.
"Terima kasih, Pak Gio. "
Lantas, Devina pun terdiam sejenak karena sedih mendengar informasi yang ia dapatkan itu. Ia baru tahu kalau ayah Aksa sudah koma selama dua tahun dan dirawat di rumah sakit permata. Dan ia baru tahu kalau hari ini Santi berniat untuk menyerah pada hidup suaminya dan menyetujui untuk melepaskan semua alat medis di tubuhnya.
"Ada apa? " tanya Adit saat menyadari kesedihan Devina.
"Tidak papah. Gue mau pergi menemui Aksa. Loh jangan ikut! " jawab Devina.
"Kenapa? "
"Memang kenapa lagi? Keadaan Aksa sedang tidak baik-baik saja. Kalau gue bawa loh ikut bertemu dengannya, keadaannya akan semakin memburuk, " balas Devina dengan tegas dan terdengar kejam.
"Baiklah." Adit hanya bisa menerima dan patuh dengan larangan Devina. Ia sadar diri kalau kehadirannya nanti mungkin akan membuat Aksa tidak nyaman. Apalagi ia tidak tahu situasinya saat ini. Maka dari itu ia memilih untuk berhenti dan tidak memaksakan diri saat ini.
Lantas, mereka pun berpisah didepan gedung hotel bintang lima itu. Devina pergi dengan taksi. Sementara Adit hanya bisa melihat kepergiaan Devina yang begitu tergesa-gesa. Adit hanya menghela nafas ringan sambil menaiki sepeda Ibunya. Walaupun ia sedikit malu dengan warna sepedanya, pinky. Tetapi sebenarnya ia senang bisa menaiki sepeda itu karena ia sangat merindukan sosok Ibunya. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah bertemu lagi dengan Ibunya. Setiap kali ia memikirkan tentang Ibunya hatinya terasa sangat sepi dan kosong. Terlebih lagi, Ayahnya yang tidak pernah peduli kepadanya membuat hati Adit semakin terasa sunyi.
Adit ingin sekali bertemu dengan Ibunya walau hanya sehari saja. Tapi walaupun ia tahu keberadaan Ibunya, ia tidak bisa menemuinya karena Ibunya adalah seorang bintang, artis papan atas. Jadi terkadang saat ia sedang rindu ia hanya bisa melihatnya lewat acara show di TV. Adit berhenti sejenak dan menepi. Ia menatap poster iklan yang terpampang sangat besar di salah satu plang jalan dengan foto Ibunya yang menjadi modelnya. Ia menatap poster itu sangat lama. Lalu ia tersenyum kecil dan melanjutkan perjalanannya dengan sepeda tersebut.
Sementara itu Devina baru saja sampai di rumah sakit permata. Ia turun dari taksi dan bergegas masuk untuk menemui Aksa. Saat Devina sampai di bangsal Ayah Aksa di rawat ia ragu untuk masuk ke dalam. Jadi ia pun mengintip dari celah kaca yang ada di pintu masuk untuk melihat keadaan terlebih dahulu. Tapi pandangannya tidak menangkap sosok Aksa di sana. Hanya ada Santi yang sedang mengelap tangan suaminya itu.
"Loh sedang apa? " tanya Aksa mengejutkan Devina yang sedang mengintip itu. Ternyata Aksa baru saja kembali setelah berjalan-jalan sebentar di lorong rumah sakit.
Devina berbalik dengan senyum canggung. "Eh, Aksa?" Devina nyengir karena gugup sebentar.
"Loh ngapain disitu? Pake ngintip segala? Mau bintitan loh? Gak sopan tahu! Kalau mau masuk, masuk aja, " sahut Aksa sambil bercanda.
Melihat Aksa yang bersikap demikian, Devina sedikit lebih lega. Karena mungkin kekhawatiran Aksa sudah sedikit hilang saat ini.
"Iyah, " balas Devina sambil mengangguk pelan. Lantas, Aksa pun masuk disusul langkah Devina dari belakangnya. Aksa mendatangi Santi dan menyodorkan sebotol air mineral dingin untuk Ibunya.
"Minumlah dulu, Bu, " ujar Aksa.
"Makasih sayang, " balas Santi sambil menerima sebotol air dingin itu dan meminumnya beberapa tegukan kecil.
Devina ingin menyapa namun ia merasa sangat malu dan canggung dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Apalagi ia datang tanpa membawa apa-apa karena terlalu terburu-buru dan mengkhawatirkan Aksa. Devina tidak tahu harus berbuat apa dan hanya terdiam di tempat sambil menggaruk kecil belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Setelah Santi selesai minum dan menaruh botol itu di atas meja. Santi menyadari kedatangan Devina yang terlihat canggung itu dan segera berdiri untuk menyapanya.
"Eh, Devina? Kamu datang kok diam saja? Sini, Nak!"
"Hallo, Tante? Maaf, aku datang tiba-tiba seperti ini. Maafkan aku kalau aku tidak sopan, " resah Devina merasa gugup.
"Ya ampun, sayang! Gak papah. Tante senang malah kamu datang. Makasih yah, udah mau jenguk Om Benny, " balas Santi lagi.
"Iyah, Tante. Aku baru tahu kalau Om lagi sakit. Sebelumnya aku tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi sama Om. Aku baru tahu tadi dan aku langsung kesini karena khawatir sama Aksa, " ungkap Devina.
Aksa terdiam tanpa menoleh ke arah Devina dan hanya fokus membersihkan mengelap kaki Ayahnya. Santi menoleh ke arah Aksa yang terlihat malu dengan Devina. Santi bisa mengerti dengan sikapnya itu. Santi pun tersenyum kecil sambil mengelus lengan Devina lembut.
"Gak papah, sayang. Ibu lupa, sore ini mau ada urusan. Sa? Ibu tinggal dulu yah? " ujar Santi kemudian.
Aksa menoleh ke arah Santi. "Iyah, Bu. "
Santi memeluk Aksa sebentar sambil berbisik sebelum pergi. "Bicaralah sama dia."
Aksa terdiam dan hanya menatap mata Ibunya sejenak. Lantas, Santi pun bergegas pergi memberikan ruang kepada Devina dan Aksa untuk bicara berdua saja. Namun, Aksa tidak bicara dan hanya melanjutkan mengelap kaki Ayahnya yang satunya lagi. Suasana hening itu membuat Devina merasa canggung dan tidak nyaman. Ia merasa Aksa sedikit tidak suka dengan kehadirannya itu. Devina ingin bicara lebih dahulu tapi, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Saat Devina hendak bertanya kabar Aksa terlebih dahulu, Aksa menyela dengan memulai pembicaraan.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Gue gak pernah cerita sama loh."
"Hah? Ah, itu.... gue... " sahut Devina gelagapan. Gue meminta asisten rumah untuk mencari tahu. Gue tidak bermaksud apapun. Gue hanya khawatir sama loh, Sa. Gue pikir loh kenapa-napa. Gue gak bisa fokus karena terus mikirin loh. Gue minta maaf kalau gue udah lancang karena mencari tahu informasi tentang loh tanpa sepengetahuan loh. Gue... "
"Sudahlah, tidak perlu loh jelasin sedetail itu. Gue hanya gak mau loh tahu kelemahan gue. Tapi, sekarang loh udah tahu. Dan gue gak bisa apa-apa lagi. Gue tahu loh merasa kasihan sama gue, kan? Karena itu gue gak pernah cerita sama orang lain, sebab gue gak mau dikasihani oleh orang lain, termasuk loh, " sela Aksa sambil berbalik menatap Devina dengan kesal.
"Gue gak merasa kasihan sama loh. Sedikit pun nggak. Karena gue tahu loh anak yang kuat Sa. Gue gak bilang kalau gue mengasihani loh, gue hanya bilang kalau gue khawatir sama loh. Loh gak seharusnya memikul beban seberat ini sendirian Sa. Gue cuma ingin menjadi sandaran buat loh, ketika loh merasa lelah merasa capek, dan loh gak tahu sama siapa loh mau bersandar. Gue cuma ingin jadi orang itu, Sa, " ungkap Devina berterus terang saja dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gue gak butuh siapapun. Loh gak perlu repot-repot, " balas Aksa dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan membendung air matanya supaya tidak keluar.
Devina tidak menganggap serius perkataan terakhir Aksa. Ia tahu Aksa butuh seseorang untuk bersandar. Jadi, tanpa ragu Devina menghampiri Aksa yang kembali menyibukkan dirinya dengan mengelap kaki Ayahnya. Devina memeluk Aksa dari belakang. Aksa sejenak kaget dengan pelukan yang diberikan Devina.
"Gak papah, Sa. Gue disini, " ucap Devina.
Lantas, tiba-tiba saja Aksa yang selalu terlihat tegar dan keren menangis terisak di depan Devina. Aksa tidak menolak pelukan itu, dan untuk pertama kalinya ia meluapkan semua kesedihannya di depan orang lain. Dan dia adalah orang yang sangat Aksa segani. Orang yang sangat Aksa sukai.