NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat Belas.

Sinta masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk. Ia kesal melihat Bayu menghina masakan yang susah payah dia buat.

"Memangnya rasanya seasin itu." gumamnya, lalu mencicipi sedikit masakannya.

"Puahh... Asin..." ia memuntahkan kembali makanan itu.

Ternyata rasanya memang terlalu asin.

Ia jadi malu sendiri pada Bayu.

Namun, ketika ia hendak kembali melangkah, Lani memanggilnya.

"Kenapa kau berjalan tergesa-gesa seperti itu? Memangnya ada masalah apa?" tanyanya Sinta penasaran.

Wajah Lani tampak cemberut, menahan kesal. Tangannya terkepal, seolah sedang menahan rasa amarah yang hampir meledak.

Ia menceritakan pada Sinta apa yang tadi ia lihat di lantai dua. Alya jelas-jelas sedang merayu tuan mudanya. Bahkan pria itu mencubit hidungnya.

"Benarkah?" tanya Sinta, menahan geram. "Gadis itu memang seorang penggoda." lanjutnya dengan nada sinis. "Setiap malam, ia selalu dibonceng oleh Bayu. Sekarang, ia terang-terangan menggoda Tuan muda."

"Benar-benar gadis licik." geram Lani, ikut merasa kesal.

Ia lalu melirik ke arah Sinta, dan berbisik di telinganya.

Keduanya lantas tersenyum lebar, penuh arti.

"Lihat saja nanti!" desis Sinta tajam. "Gadis itu pasti akan di pecat dari rumah ini."

🌺🌺🌺

Malam harinya ketika Alya baru saja tiba di klub, Madam Choo memanggilnya ke dalam ruangannya.

"Iya, Madam." ucap Alya begitu sampai di ruangannya.

"Oh, kau sudah datang. Kemarilah, darling." ucapnya lembut sambil merangkul pundaknya.

"Dengar, darling. Malam ini ada seorang tamu spesial yang akan datang ke klub kita. Dia punya sedikit saham di sini." kata-katanya terhenti sejenak. Ia mencondongkan kepalanya, mendekat ke telinga Alya. "Tolong layani dia dengan baik." ucapnya pelan, dengan nada yang menekan.

Alya mengernyit halus. "Maksud Madam?"

"Haha..." wanita berpenampilan mencolok itu tertawa keras. "Maksudnya layani saja seperti biasa." jelasnya dengan nada santai.

"Pergilah sekarang." pintanya pada Alya.

Walaupun sebenarnya Alya masih merasa bingung, ia tetap mengundurkan diri dari hadapannya.

Ia segera mengganti seragamnya, dan kembali bekerja.

Untungnya, ia bersama Bayu saat ini. Jadi, ia bisa sedikit merasa tenang.

"Kenapa kau tampak gugup seperti itu?" tanya Bayu padanya, ditengah perjalanan mereka menuju ruangan yang dimaksud oleh Madam Choo tadi.

"Entahlah! Perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak."

"Santai saja. Tidak akan terjadi apa-apa. Tuan itu sudah sering kemari." ucap Bayu santai, mencoba menenangkan Alya. "Aku akan menjagamu. Oke."

"Iya."

"Tersenyumlah." ucapnya lembut. "Pelanggan tidak suka pelayan yang wajahnya ditekuk."

Alya terlihat memaksakan senyumnya.

Entah kenapa lorong itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Langkah mereka berhenti di ruangan yang temaram itu.

Bayu lebih dulu masuk. Disusul oleh Alya yang berjalan di belakangnya.

Alya seperti biasa, langsung meletakkan pesanan minuman di atas meja, tanpa memperhatikan wajah para tamunya.

Ia bahkan tidak sadar jika keberadaannya tengah di pindai oleh seseorang.

Ketika Alya dan Bayu hendak meninggalkan ruangan itu, suara bariton seorang pria yang memanggil Alya, seketika menghentikan langkahnya.

"Nona!" serunya dengan seringai tipis di wajahnya. "Kau mau pergi kemana buru-buru begitu?" nada bicaranya terdengar santai, namun matanya tak lepas menatap Alya.

Ia seolah tengah memindai tubuhnya, dari atas kepala hingga ujung kakinya.

"Kemari!" panggilnya.

Alya melirik Bayu sekilas, seolah meminta persetujuan darinya.

Bayu mengangguk singkat.

"Apa dia kekasihmu?" tanya pria itu pada Alya.

"Bukan."

"Lalu kenapa kau meminta persetujuannya lebih dulu?" tanya pria paruh baya itu.

Alya melangkahkan kakinya dengan penuh keraguan. Ia berdiri di depan pria itu.

Pria itu hanya duduk sendirian, terpisah dari para temannya yang lain, yang sedang asyik bermesraan dengan para wanita.

"Tuangkan minumannya untukku." perintahnya.

Aura pria itu tampak berbeda. Ia duduk dengan tenang, namun sikapnya memancarkan wibawa. Setiap gerakan, setiap tatapan, seakan memberi perintah tanpa suara, dan membuat orang disekitarnya menahan diri untuk tidak mengganggu.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alya membuka botol dan menuangkan minuman itu perlahan ke dalam gelas.

"Jangan takut, sayang. Aku hanya meminta mu untuk menuangkan minuman." ucapnya datar, tanpa ekspresi sedikitpun.

Sementara Bayu, masih berdiri di depan pintu. Mengawasi, sambil menunggu pesanan lainnya.

"Tuangkan lagi!" perintahnya lagi pada Alya, ketika gelasnya sudah kosong.

Alya terus menuang minuman ke dalam gelas pria itu sampai isinya habis.

"Sudah habis, Tuan." ucap Alya, penuh kehati-hatian. "Apa mau ditambah lagi, Tuan?"

Pria itu terdiam sejenak, seolah sedang berpikir.

Ia kembali menatap Alya sejenak. Lalu tiba-tiba menghela napas cepat. Tampaknya pria itu sudah mabuk.

"Tuan!" panggil Alya sekali lagi, untuk memastikan.

Tapi pria itu malah bersandar di sofa, lalu memejamkan matanya.

Alya melirik ke arah Bayu, seolah mencari kepastian.

Bayu hanya mengangkat bahu. Ia juga terlihat bingung.

"Hei, gadis!" pria lainnya memanggil Alya.

Alya lalu menghampiri pria itu. "Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu."

Pria itu sepertinya juga sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Tangannya terulur, menarik paksa tangan Alya hingga membuatnya terduduk di sampingnya. Padahal, di sisi kirinya ada seorang wanita cantik yang tengah bergelayut manja di lengannya.

"Tuangkan minuman juga untukku, cantik." ucapnya dengan sorot mata yang genit. Ia tersenyum lebar, hingga menampilkan deretan giginya yang menguning. Entah karena rokok, atau minuman beralkohol.

Alya tampak menahan napas karena tidak tahan dengan bau mulutnya yang menyengat. Tetapi, ia tetap harus bersikap profesional. Ia sudah sering mengalami hal seperti ini sebelumnya.

Ia yakin bisa mengatasinya dengan baik.

Alya segera menuangkan. Namun, tangan pria itu tiba-tiba menyentuh pipinya. "Pipimu sangat lembut."

"Maaf, Tuan. Tolong jaga tangan Anda." ucap Alya tegas.

"Jangan sombong! Kau hanya pelayan di sini." Ia merangkul pundak Alya.

Bayu masih memperhatikan keadaan. Ia yakin Alya bisa menghadapinya.

Alya menatapnya dengan tajam, tak sedikit pun gentar. "Saya mungkin hanya seorang pelayan, tapi saya bukan orang yang bisa Anda main-mainkan." jawabnya tegas, suaranya dingin tapi penuh keyakinan.

Ia menepis tangan pria itu dari pundaknya. Lalu, segera beranjak dari sofa.

Ia menunduk, lalu menatap pria di hadapannya itu dengan penuh rasa hormat."Maaf atas kelancangan saya, Tuan." pintanya. "Jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan, saya mohon undur diri." pamitnya sopan. "Permisi, Tuan."

Alya berbalik, lalu melangkah menuju pintu keluar.

Pria itu tampak marah, ia lalu beranjak dari sofa, melangkah mendekatinya.

"Dasar wanita sia..."

"Hei!" suara bariton pria baya itu tiba-tiba di menggema di seluruh ruangan, menghentikan tangan pria muda itu yang hampir menyentuh pundak Alya. Tatapan pria itu, termasuk semua orang, kini tertuju padanya.

"Kau mengganggu tidurku." desisnya tajam, menatap pria itu dengan sorot matanya yang dingin.

Amarah pria itu seketika menciut. Ia langsung tertunduk patuh. "Maaf, Tuan!" pintanya dengan suara gemetar.

"Bukan padaku." ucapnya tegas. "Pada gadis itu."

"Baik, Tuan."

Pria itu lalu terduduk di lantai, dan memohon maaf padanya. Alya hanya menunduk ragu.

Pria paruh baya itu sepertinya orang yang sangat disegani di ruangan ini.

Ia menyuruh Alya dan Bayu untuk segera pergi dan membawakan beberapa botol minuman lagi.

Begitu mereka pergi, pria itu kembali menatap Alya.

Tatapan itu terlihat penuh arti.

🌺🌺🌺

1
Kamsia
pelayan yg lama rese tuch sm" krj ky bos aj
-Thiea-: iya. emang rese banget mereka.
total 1 replies
Miu.Nuha
gabut pak ✌
Miu.Nuha
ish jonathan, mau mencari kesempatan dalam kesempitan ya 😑😑😑
Miu.Nuha
syukurlah Alya punya sahabat yang begitu baik. semoga kekal ya dn gk ad yg main belakang 😣
Mega Siregar
cie... pake privilege Otoritas nih ye🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh ada ko Bu penggantinya, cuma anak ibunya aja yg rese kan bikin bete si Al.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
haaaa tuh kan, apa kata gw 🤣😏 yg jadi ibumu author coba tanyakan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hemm kayaknya ada maksud terselubung si max.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
gw heran ya kenapa org cantik suka muji org cantik
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya iyalah udh besar, ya kali masuk lagi 🤣
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
memang faktanya
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
idih ih
Teteh Lia
Perbedaan status, terkadang jadi tembok tinggi, ya
Three Flowers
fyuhh syukurlah, kukira ada apa...
Xlyzy
instruksi langsung dari bos besar nih jadi jangan ada yang macam macam ya
Three Flowers
kalo gitu kasih dia pekerjaan lain yang lebih baik buat tambahan penghasilan
Xlyzy
Max ini mata nya elang sekali
Three Flowers
tapi ini kan di luar jam kerja di rumah nya
Miu.Nuha
semoga Alya bisa jaga diri 😭
Miu.Nuha
aduh... semoga gk diapa2in
kalo iya semoga lekas ditolong maxime 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!