Namaku adalah Rida,usiaku 21 tahun.
hidupku selalu penuh dengan cerita yang tak terbaca, penuh kejutan dan misteri yang harus aku jalani.
hingga aku harus tersesat di sebuah dimensi lain dan bertemu dengan beberapa orang asing di sana.
namun yang membuatku merasa debaran aneh adalah sang kaisar yang selalu membuatku menjadi seorang yang acuh karena sikapnya.
mohon bijaksana dalam membaca, karena ini hanyalah cerita fiksi belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku gadis penyelamat?
Akhirnya Rida menghentikan pertarungan mulutnya dengan komandan Zhao.
"Hahaha... dalam hal berbicara ataupun bernegosiasi soal perang, komandan zhao adalah ahlinya." seru kaisar Zain Sambil tertawa lepas.😆😆😆
"Bahkan perang mulut pun dia sangat lihai." guman Ridha sambil melirik jenderal Zhao.😒😒😒
"Hahaha.. Kau sangat benar Nona, mulutmu tidak bisa berkata bohong rupanya!" seru kaisar Zain yang kembali tertawa.
"Komandannya saja seperti ini, gimana sama pimpinannya." sindir Ridha sambil melirik Kaisar Zain.
Hal itu membuat kaisar Zain dan dua orang itu terdiam seketika.
"Mulut gadis ini benar-benar sangat tajam, bahkan kaisar pun kena sindir." guman peramal itu.😓😓
"Kenapa kalian bertiga diam?" tanya Ridha seperti seorang gadis tanpa dosa.
"Sudah menyindir Kaisar, tapi masih bertanya, gadis seperti apa ini?" guman Komandan Zhao.
"Oh ya kaisar, katanya tadi ingin berbicara." tanya Ridha pada kaisar Zain.
"Oya.. aku lupa." jawab kaisar Zain.
Akhirnya Kaisar Zain mengajak Ridha, Komandan Zhao dan sang peramal Zi.
"Kenapa anda berpikir saya dapat membantu kerajaan ini?" tanya Ridha pada sang peramal.
"Karena seperti itulah ramalannya, nona." jawab sang peramal Zi.
"Memang ramalan harus begitu ya?" tanya Ridha kepada sang peramal Zi.
"Memang ada apa, Nona Ridha?" tanya Kaisar Zain kepada Ridha.
"Lalu kapan aku pulangnya?" tanya Ridha kepada Sang Kaisar.
"Setelah kamu bisa mengembalikan Kerajaan ku seperti kondisi semula." jawab sang peramal yang dianguki oleh Kaisar.
"Benarkah? setelah aku membantu kalian.. aku boleh kembali pulang ke tempatku." Ridha yang merasa bahagia setelah mendengar perkataan itu, dalam hatinya ia ingin sekali bertemu teman-temannya dan bekerja lagi.
"Baiklah!! aku akan membantu kalian. Setelah itu kalian bantu aku pulang kembali ke tempat asalku." jawab Ridha dengan suara yang bahagia.
Kaisar Zain sangat senang setelah mendengar perkataan Ridha, karena tak mungkin baginya untuk melepaskan gadis itu di saat kerajaannya dalam kondisi seperti ini.
"Tuanku, apakah kita harus membohonginya, seandainya Kerajaan kita sudah terbebas dari semua masalah ini. Dan gadis itu meminta kembali ke tempat asalnya, bagaimana kita akan melakukannya? tanya peramal Zi kepada sang Kaisar.
"Kita akan menahan nya sampai saat yang tidak tak terbatas, hingga masalah ini selesai." jawab sang Kaisar Zain.
"Sampai kapan yang mulia?" tanya Komandan Zhao.
"Kita tidak usah membahasnya, kita fikirkan nanti saja." jawab Kaisar Zain.
entah apa yang ada dipikiran kaisar Zain, tapi dia memilih untuk menahan Ridha dari pada mengembalikannya. Itupun kalau dia bisa mengembalikannya, karena Ridha datang bersama petir yang maha dahsyat yang turun di kerajaannya.
Akhirnya.. Ridha bersedia tinggal di Kerajaan itu, dengan membantu mereka, lebih cepat dia membantu mereka, maka dia bisa kembali dengan cepat pula.
"Yang Mulia, kau akan mengajakku kemana?" tanya Ridha kepada kaisar Zain.
"Aku akan mengajakmu ke sebuah desa yang kondisinya sedang mengenaskan." jawab kaisar Zain yang menarik tangan Ridha.
"Kita akan naik apa? apa kita akan berjalan kaki? oh no.. Yang Mulia, jalan saja sendiri.. aku tetap di sini," jawab Ridha.
"Di kerajaan ini ada banyak kuda dan kereta kuda, buat apa kita berjalan kaki." jawab kaisar Zain.
Setelah itu mereka pergi menuju gerbang istana, di sana mereka sudah ditunggu oleh Komandan Zhao.
"Apakah dia juga ikut bersama kita?" tanya Ridha kepada kaisar Zain.
"Tentu, kalau kita keluar istana tidak ada yang mengawal, bisa-bisa hidupku dalam bahaya." jawab Kaisar Zain sambil menatap Ridha.
"Oo..," jawab Ridha.
"Mari Yang Mulia, kita harus segera bergegas!" seru Komandan Zhao.
Akhirnya Ridha, kaisar Zain dan komandan Zhao pergi ke desa yang dikatakan Kaisar Zain. sebuah desa kumuh yang penuh dengan kekeringan.
Satu jam kemudian..
Ketiga orang itu telah sampai di desa itu.
"Lihatlah desa ini, Nona Ridha." ucap Sang Kaisar kepada Ridha.
"Apakah ini desa atau rumah pemakaman?" tanya Ridha saat melihat desa itu.
"Ini adalah desa yang sama seperti Kerajaan, sama-sama mengalami kekeringan panjang," jawab komandan Zhao.
Saat melihat pemandangan di depannya, Ridha seperti melihat pemakaman yang luas dan tak ada kehidupan.
Sebuah tempat yang penuh dengan orang-orang yang sangat mengenaskan, kondisi yang mengenaskan, tempat yang mengenaskan, dan bau yang sangat menyengat hidung.
"Hidup di seperti tempat seperti ini.. bisa-bisa aku akan mati tanpa dimakamkan, sudah menjadi tanah sebelum ada orang yang menemukan ku," ucap Ridha.
"Apa yang kau lihat?" tanya Kaisar Zain saat melihat wajah yang sangat kebingungan dari Ridha, saat dia melihat orang-orang yang berada di tempat itu. yang terlintas di benak Ridha adalah kalau tempat itu seperti tempat pembuangan orang-orang yang sakit keras.
biar ceritanya bedah dr yg sudah"
kosa katanya kayak terjemahan bahasa Inggris