Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Kamar pengantin itu menjadi gelap. Tisha pun kembali ke sisi ranjang. Dengan niat yang mantap, Tisha melafalkan doa sebelum tidur, lalu memejamkan matanya dan berharap untuk segera bisa tertidur.
Willie yang sejak tadi berpura-pura tidur membuka matanya sedikit. Ujung bibirnya sedikit naik. “Ternyata gadis ini lucu juga,” batinnya.
Ia membiarkan keheningan mengalir sesaat, lalu menatap ke arah Tisha yang mulai terlelap. Nafas perempuan itu kini terdengar lembut dan teratur.
“Sayang sekali ini cuma pernikahan kontrak,” gumam Willie lirih. Sebagai lelaki, tentu saja ia merindukan belaian dan perhatian. Tapi ia juga tahu batas.
Pandangan matanya terarah pada siluet wajah Tisha yang terlihat samar di balik guling. Ia mendekat hingga wajah mereka berjarak tidak sampai sejengkal.
Mata Willie terus menelusuri tiap centi wajah Tisha. Ia mengukur wajah gadis itu, lebih kecil dari telapak tangan Willie. Hidung mancung Tisha terlihat mungil, wajahnya anggun dan tenang.
“Masya Allah, cantik sekali,” bisiknya tanpa sadar.
Tapi seketika, rasa bersalah menyesak dadanya. “Astagfirullah…” desisnya, cepat-cepat ia memalingkan wajahnya.
Bayangan almarhum istrinya, langsung melintas di benaknya. “Maafkan aku, Vira. Aku tak bermaksud menduakanmu,” batinnya.
Lalu, dalam keheningan itu, matanya perlahan terpejam di antara rasa syukur, rindu, dan kebingungan yang ia sendiri tak tahu bagaimana harus menguraikannya.
***
Pagi itu Tisha sudah bersiap-siap hendak ikut Willie pulang kerumah mereka. Ratna, berdiri di depan pintu dengan mata berkaca-kaca. Sementara ayahnya menatap dari belakang, berusaha terlihat tegar meski sorot matanya sendu sama sekali tak bisa disembunyikan.
“Nak…” Ratna menggenggam tangan putrinya erat, seolah belum rela melepasnya begitu cepat. “Semoga Tuhan memberkati pernikahan kalian.”
Tisha mengangguk pelan. “Amin, Terimakasih Bu.”
Bahri menatap Willie. Tatapannya tegas layaknya seorang ayah yang mempercayakan separuh jiwanya kepada lelaki asing.
“Tolong jaga anak kami baik-baik. Jangan sakiti dia. Dia mungkin terlihat kuat tapi hatinya lembut sekali.”
Willie menunduk hormat. “InsyaAllah, Pak. Saya akan menjaga Tisha sebaik mungkin.”
Setelah pamit dan melambaikan tangan, mereka bertiga masuk ke dalam mobil. Alia dan Ratih duduk di kursi belakang, kakinya menendang-nendang udara penuh semangat.
Dari tadi ia terus tertawa, wajahnya berseri-seri seperti anak yang baru memenangkan hadiah besar.
"Hore Bu Tisha tinggal dirumah kitaaa!” serunya riang.
Tisha menoleh, tersenyum kecil melihat kebahagiaan polos itu. Willie hanya menghela napas lega, anaknya benar-benar bahagia hari ini.
Setibanya di rumah besar milik Willie. Bi Ratih kemudian menuntunnya masuk, menuju kamar tamu yang berada tak jauh dari kamar Alia.
“Bapak menyuruh saya menyiapkan kamar ini untuk Ibu,” jelas Bi Ratih sambil membuka pintu kamar yang bersih dan wangi.
Tisha mengangguk pelan. Lalu matanya bergerak ke seluruh ruangan itu. “Kamar ini bagus sekali. Terima kasih ya, Bi.”
"Kalau butuh apa-apa, panggil saya saja Bu." Ujar Bi Ratih, Namun ia masih berdiri di sana dengan tampak ragu. Ada sesuatu yang menganjal di pikirannya. Akhirnya ia bertanya juga, “Maaf sebelumnya Bu. Kalian kan suami istri, tapi kenapa harus pisah kamar?”
Tisha terdiam sesaat. Ia tahu Bi Ratih tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tangga dan itu memang pertanyaan wajar. Ia menarik napas dalam, menata kata-katanya sebaik mungkin.
“Saya, tidak mau menggantikan tempat Bu Vira begitu saja, Bi.”
Kalimatnya keluar tanpa ragu. Bi Ratih terhenyak. Sejenak kamar itu hening, hingga akhirnya Bi Ratih mengangguk paham.
“Baik, Bu. Saya mengerti. Ibu pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri.”
Di wajah Bi Ratih muncul senyum yang mengandung rasa hormat kepada perempuan yang tahu menempatkan diri.
Dan di luar kamar, Willie sempat mendengar percakapan itu tanpa sengaja.
“Tisha...gadis ini memang berbeda.” gumamnya.
Willie naik perlahan ke lantai dua menuju kamarnya. Begitu pintu kamarnya tertutup, ia menjatuhkan diri ke atas ranjang besar. Ranjang yang selama ini hanya ditempati dirinya dan kenangan masa lalunya.
Semalaman ia tak bisa tidur. Ia berusaha berbaur dengan kamar yang bukan sepenuhnya miliknya dan pikirannya terus berputar tentang pernikahan kontrak mereka dan tentang bagaimana ia harus bersikap pada Tisha.
Bibirnya tak sengaja tersenyum membayangkan tingkah gadis itu semalam. Awalnya Tisha memang memberi batas tidur mereka dengan bantal guling.
Namun, begitu Tisha terlelap, Tisha tidak sadar memindahkan guling itu ke pelukannya dan tidur miring kanan kiri sesuka hatinya.
Willie sempat kaget melihat kebiasan tidur Tisha yang sedikit rusuh. Bahkan sesekali Tisha tak sengaja melemparkan kakinya hingga mengenai Willie.
Willie membiarkan saja, ia paham betapa lelahnya Tisha mengurus Alia dan juga ikut turut menyiapkan pernikahan.
Sekarang, ia menatap langit-langit kamarnya. Kepalanya terasa berat, Ia bangkit dan berjalan ke depan cermin. Lingkaran mata hitamnya tampak jelas, rambutnya berantakan dan wajahnya kusut.
“Ya ampun…” gumamnya, memiringkan kepala. “Mataku kelihatan lelah banget.”
Ia teringat bagaimana Bi Ratih yang dari tadi pagi menatapnya dengan senyum yang ambigu. Willie menutup wajahnya dengan tangan.
“Pantesan, mungkin Bi Ratih pikir aku bekerja keras semalam…”
ia menghentikan kalimat itu sendiri. “Ah, memalukan.”
Ia bergegas mencuci mukanya. Setelah selesai, ia menjatuhkan diri lagi ke atas kasur, membenamkan separuh wajahnya ke bantal.
“Aku harus tidur sebentar,” gumamnya, sebelum akhirnya kelopak matanya benar-benar mulai kalah melawan rasa lelah yang menumpuk sejak semalam.
***
Di kamar tamu yang kini menjadi ruang pribadinya, Tisha duduk di tepi ranjang. Di depannya, kotak seserahan yang sejak kemarin belum sempat ia buka masih rapi.
Ia menarik napas, lalu membuka tutupnya perlahan. Di dalamnya, tersusun beberapa barang pribadi, parfum beraroma lembut, Kerudung cantik, set perawatan tubuh, dan beberapa pakaian tidur yang elegan namun sopan.
Semuanya tampak dipilih dengan cermat, penuh perhatian. Tisha menyentuh salah satu kain. Senyum kecil muncul di bibirnya. Barang-barang itu cantik sekali. Namun senyum itu tak bertahan lama. Ada bayangan ragu yang muncul di matanya.
“Apakah aku pantas memakai semua ini?” batinnya lirih.
Pikirannya campur aduk antara senang dan mencelos karena ini bukan pernikahan sebenarnya. Ia hanya menempati ruang yang pernah menjadi milik perempuan lain untuk sementara waktu.
Ia menutup kotak itu perlahan, seolah takut bersikap terlalu Berhak. Tisha menghela napas panjang dan menatap kosong ke depan.
“Aku hanya ingin menjalani ini dengan benar, tanpa mengurangi rasa hormat pada siapapun.” ucapnya pada diri sendiri.
Ia merapikan barang itu satu per satu, lalu memasukkannya ke dalam lemari dan menutupnya rapat-rapat seolah menunjukkan bahwa ia menghargai pemberian tersebut, meski ia belum tahu apakah ia sudah pantas menyimpan semua itu sebagai miliknya.