NovelToon NovelToon
OBSESI CINTA PERTAMA

OBSESI CINTA PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Kriminal dan Bidadari / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andara prina Larasati

"I think I'm addicted to your body"-Jeffranz Altair-


Sherra menyesali keputusannya malam itu. Malam dimana ia menyerahkan tubuhnya pada cinta pertamanya---Jeffranz Altair si Perisai PASBARA yang terkenal dingin dan kasar.

Sherra menyesal. Karena setelah hari itu sikap Jeff berubah. Yang awalnya benci menjadi terobsesi.

Jeff menghancurkan masa depan Sherra dengan mengurung gadis itu dalam hubungan rahasia.

Sherra terpaksa menjadi selingkuhan.
Diperlakukan layaknya binatang.
Hingga dianggap wanita murahan.

Hidupnya hancur berantakan. Namun Jeff sama sekali tak peduli.

Karena bagi Jeff apa yang ia lakukan pada Sherra, adalah hukuman karena gadis itu berani mengusiknya.







-----

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara prina Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Penawaran Gila

...TOXICSERIES...

Sherra selalu ingin hidup seperti orang orang diluar sana. Yang tak perlu memikirkan hari ini makan apa dengan uang seadanya. Sherra ingin hidup serba kecukupan, minimal bisa makan dan punya tabungan masa depan.

Ya, impiannya sesimpel itu. Namun sult terwujud ditengah tengah keadaan keluarga yang seperti ini.

Ibunya sakit.

Uang tabungannya harus raib untuk membayar hutang.

Usahanya pun ikut terbengkalai.

Entah apalagi yang harus Sherra lakukkan untuk mendapatkan uang. Disatu sisi mereka membutuhkan sesuap nasi untuk bertahan hidup. Tapi disisi lain ia juga tak bisa meinggalkan ibunya sendirian.

Sherra benar benar berada dalam pilihan yang sulit.

"Tuhan, apa yang harus Sherra lakukan?" batinnya menatap langit. Langkah menuju rumah milik Bu Jena terasa berat. Padahal Sherra hanya membawa uang tabungan mereka, namun entah mengapa rasanya seperti akan menyerahkan diri ke neraka.

TOK

TOK

TOK

"Selamat Pagi, Bu Jena nya ada?" Terlihat seorang Wanita tua membukakkan pintu.

"Ada Nak, silahkan masuk dulu. Saya panggilkan" Sherra tersenyum sambil melangkahkan kaki ke rumah besar dengan interior mewah tersebut. Seingatnya dari tetangga yang ia tanya tadi malam, ibu Jena ini adalah istri dari pengusaha tersohor di kompleknya. Wanita itu juga berprofesi sebagai psikolog. Tak heran uangnya mengair deras.

Pantas saja ibunya berani meminjam uang pada saudagar kaya tersebut.

"Siapa ya?" Sherra tertegun melihat pemandangan di depannya.

Wanita dewasa yang masih terlihat jelita. Datang dari lantai atas melewati tangga dengan kimono merahnya. Sambil menoleh kearahnya dengan elegant.

Benar benar aura orang kaya.

Sherra menggelengkan kepalanya aaat wanita yang dipanggil Ibu Jena itu mendekat kearahnya.

"S-saya anak dari Bu dinda" Waita itu membenarkan letak cepolannya dengan kening yang mengernyit.

"Oh tukang bunga itu ya? Kamu anaknya?" Sherra mengangguk. Jena kemudian mengisyaratkan Sherra untuk duduk begitupun dirinya.

Sherra pun mulai mengeluakan uang tabungannya dari kantong yang sudah ia bawa. Dengan gemetar ia menghitung jumlah uangnya sebelum memberikannya pada Jena.

"10 juta" Ujar Sherra menyerahkan sekuruh uangnya. Jena mengangguk anggukkan kepala dan menatapnya rapi diatas meja. Sherra mencengkram kedua tangannya diatas celana jeans yang ia pakai ambil mengigit bibirnya.

"Sudah? Apa adalagi yang ingin kamu bicarakan dengan saya?" Sherra sepertinya lupa jika Jena adalah psikolog yang jago melihat gerak gerik lawan bicaranya. Karena sedari tadi Sherra benar benar gemetaran dan sorotnya terlihat penuh pertimbangan untuk mengucapkan sebuah kata.

"Maaf bu saya ingin meminta maaf sebelumnya"Ucap Sherra takut. "Apa boleh saya meminjam uang lagi?"

Air wajah Jena yang semula tenang berubah mengintimidasi. Sherra dengan cepat menggerakkan tangannya.

"Ma-maksud saya. Be-begini bu, Mama saya beberapa hari ini dirawat dirumah sakit. Mama saya mengidap penyakit serius. Jadi niat saya meminjam uang untuk biaya pengobatan Mama.... Ta-tapi kalau memang ibu keberatan saya juga tidak memaksa kok bu" kata Sherra cepat dan lengkap. Agar Jena tak salah kaprah.

Namun sepertinya niat baiknya tak semudah itu di terima. Karena kini Jena langsung bangkit berdiri seraya melempar tatapan tajam kearahnya.

"Bagus ya, baru juga lunas sudah mau minjem uang lagi. Yang kemarin saja lunasnya lama! Kalau memang kamu butuh uang ya kerja! Jangan coba coba membohongi saya!" Hardik Jena. Sherra ikut berdiri sambil menatap Jena sendu. Berharap wanita itu berbelas kasihan padanya

"Saya gak bohong bu. Mama sedang sakit dan saya butuh u-"

"Halah mana buktinya? Lagian asal kamu tau ya, Dinda itu sudah telat bayar hutang ini dari satu tahun lalu!"Tekan Jena membuat Sherra tertunduk.

"Sekarang kamu pergi! Saya gak mau kamu atau Dinda datang kesini lagi. Apalagi untuk meminjam uang!" Tandas wanita itu tega sambil menunjuk pintu keluar.

"Saya bukan bank!" Setelah Sherra benar benar keluar dai rumah itu Jena langsung menutup pintunya kasar hingga membuat Sherra terlonjak sambil memegang dadanya. Netra gadis itu mengabur karena air mata.

Dengan langkah pasrah ia keluar dari pekarangn rumah mewah tersebut sambil membawa harapan yang pupus ditengah jalan.

Tanpa gadis itu sadari seseorang dari balkon lantai dua diam diam mendengar percakapan mereka. Dengan seringaian licik ia menghembuskan asap rokoknya ke udara.

"I got you"

...TOXICSERIES ...

Keesokan harinya Sherra pergi kesekolah seperti biasa dengan diantar Kai tentunya. Gadis itu menghela nafas pelan sambil mendudukkan dirinya di bangku, kemudian membuka buku novelnya.

"Sher minggu depan ada konser nih, gue sama Zara mau nonton kesana. Lo mau ikut gak?" Sherra menoleh.

"Konser apaan?"

"Itu loh Mahadewi! Band kesukaan lo kan?" Netra Sherra membola.

"Seriusan?"Mona mengangguk. Tak berselang lama Zara datang sambil menguap lebar berjalan kearah sahabatnya.

"Eh Zar minggu depan jadi kan?"

"Yoi" balas Zara. "Lo ikut gak nyet?" tanyanya pada Sherra. Gadis itu menghela nafas sebentar.

"Liat sikon dulu. Nyokap masih sakit" balasnya. Zara dan Mengangguk anggukkan kepalanya.

"Eh lo tau gak? Katanya tunangannya si Jeff gabung sama gengnya si Sonya masa?" Zara si sumber informasi sudah pasti membawa kabar baru, yang sudah pasti juga pasti bersangkutan dengan Pasbara.

"Dih? Bisa banget pansosnya tuh orang"Sahut Mona.

"Gagal jadi anggota ternyata mau masuk lewat jalur orang dalem" lanjutnya meremehkan. Seketika itu juga Sherra tak mood untuk melanjutkan obrolan mereka. Apalagi saat mendengar nama tunangan Jeff. Entahlah, rasanya masih sakit jikalau mengingat kenangan pahit itu walau sudah ribuan detik terlewati.

"Eh Sher, si Jojo nanyain. Lo kok jarang nyamperin si Jeff? Katanya lo udah ada cowo ya?" tanya Zara.

"Emangnya kenapa kalau gue udah ada cowo?" balas Sherra. Zara mengendikkan bahunya acuh.

"Tau tuh si gondrong. Mau ngedeketin lo kali" Mona yang sedang membenarkan cepolan rambutnya mengangguk.

"Si Jojo kayaknya emang naksir sama lo deh" Zara menunjuk Mona cepat.

"Sumpah, keliatan banget kan?" Sedangkan Sherra mengernyitkan keningnya.

"Ah gak mungkin. Perasaan lo berdua aja kali"balasnya masa bodoh, kembali fokus pada novelnya.

"Tapi beneran deh Sher. Banyak tau cowo yang suka sama lo, cuman lo nya aja gak peka! Bucin tolol sama si Jeff" Tukas Zara.

"Sekarang udah enggak" balas Sherra.

"Beneran? Gak hoax nih?" Sherra mendengus.

"Terserah kalau gak percaya" mendengar itu Zara dan Mona saling menukar pandang. Mona mengendikkan bahunya kemudian merangkul pundak Sherra di sampingnya.

"Bagus! Gue dukung lo! Tuh cowo emang sampah, gak pantes buat cewe baik kaya lo" Sherra terdiam seketika.

Cewe baik ya?

Apakah saat kedua sahabatnya ini mengetahui kenyataannya. Masihkah ia di cap sebagai perempuan baik baik?

...TOXICSERIES...

"Pulang sekolah nanti aku mau nge mall sama Sonya boleh kan?"

"Hn, oke. Tapi jangan aneh aneh ya? Pulangnya jangan kemaleman! Atau perlu aku jemput?" Caca menggelengkan kepalanya.

"Gausah, aku nebeng Sonya aja"

"Oke" keduanya telah sampai di depan kelas Caca. Jeff mengusap pucuk kepala Caca begitupun gadis itu yang melepas genggaman tangan mereka.

"Masuk gih, udah bell" Titah Jeff.

"Kamu juga... Awas jangan bolos lagi! Kalau sampe aku tau kamu bolos? Aku aduin ke Mama!" Jeff terkekeh mencubit pipi Caca.

"Iya iya bawel! ku kekelas dulu ya..."

"Dadah!"Caca melambaikan tangan lucu saat Jeff hendak melangkah pergi. Lelaki itu tersenyum kecil kemudian melangkah menuju kelasnya di lantai dua.

Namun kebetulan. Tepat saat ia hendak menaiki tangga ia berpapasan dengan Sherra yang akan turun dari lantai atas. Sherra yang tak sengaja berkontak mata dengan Jeff buru buru memalingkan wajahnya dan turun dengan acuh.

Namun Jeff yang merasa di abaikkan langsung menarik tangan Sherra dan membawa gadis itu ke sudut gudang yang ada di ujung koridor utama. Tepat di samping pintu taman belakang.

Jeff tiba tiba membawanya kemudian menghempaskan tubuh Sherra ke tembok hingga mebuat gadis itu meringis sakit.

"Jeff kamu apa apaan? Lepas gak?!"Sentak Sherra. Jeff semakin mendekatkan tubuhnya, mengukung Sherra hingga gadis itu kesulitan untuk bergerak.

"Jujur sama gue, lo lagi butuh duit kan?" Sherra mendorong dada Jeff kasar.

"Bukan urusan kamu!!"Tukas Sherra. Bersiap pergi, tapi lagi dan lagi Jeff kembali menahan tangannya.

"Gausah sok kaya. Gue tau lo miskin. Tinggal jawab iya aja ribet banget" Sherra menatap Jeff nyalang.

"Kalaupun iya, apa urusannya sama kamu?"Sudut bibir Jeff terangkat. Lelaki itu menatap Sherra penuh arti.

"Berapa" Netra Sherra terbelalak.

"Sebut nominalnya!" kening gadis itu mengernyit tak mengerti.

"Buat apa?"

"Sebut aja, gue tau lo lagi butuh duit buat pengobatan nyokap lo kan?" Sherra melepas cekalan Jeff sambil mencengkram roknya.

"Tau darimana aku lagi butuh uang? Kamu mata matain aku?" Jeff tertawa.

"Sherra... Sherra.... Kalau gue jawab iya, lo mau apa?"

"Buat apa kamu mata matain aku? Belum puas kamu sama aku?" Jeff terkekeh sinis.

"Maybe, yes"Netra Sherra terbelalak. Jeff kembali melangkah mendekat, menghimpit tubuh Sherra dan memperpendek jarak keduanya.

"I think I'm addicted to your body" Bisik Jeff dengan lidah menyapu daun telinga Sherra. Tubuh gadis itu meremang bersama netranya yang membulat tak menyangka.

Tubuh Sherra gemetaran kala Jeff kembali menyentuhnya se intens ini. Sudut hatinya berdrnyut sakit saat ingatan malam itu kembali terputar di kepalanya..

"Sebenernya alasan gue bawa lo kesini. Untuk menawarkan sebuah kesepakatan tapi sebelumnya, lo harus liat ini" Tutur Jeff menjauhkan bibirnya. Kemudian menatap netra hazel gadis itu. Dengan gerakan cepat ia mengeluarkan ponselnya. Lalu memutar sesuatu yang ditunjukan langsung untuk Sherra.

Tubuh gadis itu membeku saat melihanya potongan video malam panas mereka beberapa waktu lalu terputar di hadapannya. Melihat respon Sherra yang terkejut Jeff justru tertawa penuh kemenangan. Lelaki itu kemudian mematikkan ponselnya saat dirasa Sherra semakin menegang lalu gemetaran.

"Kamu gila? Hapus Vidionya!" Sherta berusaha meraih ponsel Jeff namun dengan cepat lelaki itu memasukkannya kedalam saku celana. Lalu menangkap dua lengan Sherra yang langsung dibawanya keatas kepala.

"Gimana? Lo masih bisa merasakan betapa panas permainan kita malam itu,hm?" Sherra hendak menangis. Ia benar benar di jebak oleh iblis di depannya. Seluruh tombak hidupnya kini berada di tangan lelaki itu.

"Apa mau kamu sebenarnya, Jeffranz Altair?" Cetus Sherra. Inilah yang Jeff tunggu dari tadi. Lelaki itu meraih dagu Sherra sambil membisikkan sebuah kalimat. Yang sukses menghujam hati kecil gadis itu.

"Simple, be my sex slave"Bisik lelaki itu sambil mengusap bibir Sherra sensual.

"And you will get what you want" lanjutnya tanpa rasa bersalah.

Sherra terdiam. Demi tuhan hatinya berdenyut sakit saat Jeff dengan mudah menginjak harga diri yang sudah ia bangun setinggi benteng di langit. Dengan berani dan tanpa ragu, ia meludahi wajah tampan itu seraya melempar tatapan bengisnya.

Cuih.

"Brengsek! Sampai kapanpun aku gaakan pernah jadi pemuas nafsu kamu! Dasar binatang!"Cela Sherra. Mendapat penolakan, Jeff memejamkan matanya sebentar lalu seperkian detik kemudian netranya kembali terbuka menunjukkan sebuah amarah yang besar.

"Sayangnya, gue benci penolakan!'

BUGH

BUGH

BRAK

"Akh..... "

______________________________________

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!