[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Kantor Rylan, sudut ruangan yang tenang.
"tuan, aku telah menyelidiki kegiatan Calantha akhir akhir ini. Di sana, dia mengunjungi Lion Group tanpa absen sehari pun, kecuali kemarin."
"Lion Group?" Rylan bertanya ringan, mengernyitkan dahinya.
"ya, dia selalu berbincang bincang dengan karyawan, dan karyawan juga tampak senang dengan kehadirannya. Lalu dua hari yang lalu dia juga memeriksa berkas-berkas proyek Lion group di cabang negara N."
"Apa yang dilakukan dengan berkas-berkas proyek itu?"
"Dia memberikan tanggung jawab Salah satu proyek, yaitu pembangunan Mall di daerah selatan Kota kepada Diana Xylaria."
"Namun tanpa terduga saat Diana sedang berdiskusi tentang proyek itu dengan pihak lain, pihak lain tidak benar-benar ingin bekerja sama. Diana hampir dilecehkan pada saat itu"
"Calantha keterlaluan. Ini semua pasti ulah dia. Dia sengaja."
"menurut Calantha, dan semua orang, katanya dia tidak tau" Vino menyanggah.
"itu menurut semua orang. Menurutku, tidak begitu."
"baiklah tuan, aku mendengarkanmu."
"ada apa sebenarnya antara dia dengan Diana? "
Rylan menyeringai. Suatu rencana seru muncul di pikirannya.
"dia tak ingin mengungkapkannya. Kalau begitu, aku yang akan menggalinya."
Rylan tertawa kecil, menggoyangkan segelas wine di tangannya.
"Promosikan Diana ke posisi wakil direktur perusahaan pusat. Suruh dia mulai bekerja besok."
Vino membungkuk, lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
...----------------...
Aku sampai di kantor juga akhirnya. Suasana masih tenang, angin semilir menerpa wajahku. Entah Grace ada atau tidak.
"hari ini Miss Calantha datang atau tidak?"
"ayo taruhan. Aku bertaruh dia tidak datang, meski aku berharap yang sebaliknya."
"menurutku dia datang. Dia kan kemarin tidak datang, makanya hari ini dia pasti datang."
Hah. Kenapa pakai acara taruhan segala. Tidak penting. Aku menatap meja Grace. Kosong. Tak ada tanda tanda kehadirannya.
Kaki ku segera melangkah menuju lantai enam.
"selamat pagi Direktur Katrina, apa Grace ada memberikan surat izin, atau pemberitahuan?"
Direktur Katrina menggeleng.
"Apa dia tidak masuk lagi hari ini?"
"ya, tak ada dia sama sekali tadi" aku menjawab kecewa sekaligus khawatir.
"hm.. Akan aku lihat nanti." Direktur Katrina meraih sepucuk surat dan memberikannya padaku.
"ini kabar baik untuk mu. Buka dan lihatlah."
Aku melihat bagian luar surat itu. Surat dari perusahaan. Tanganku meraih penutup surat itu, membuka nya perlahan, membaca isinya.
Mataku melebar, aku senang sekaligus bingung. Aku di promosikan ke kantor pusat? Sebagai wakil direktur? Ini berarti aku akan bekerja langsung di bawah arahan CEO Rylan.
Aku memandang Direktur Katrina heran. Seolah tak percaya apa yang terjadi. Gajiku akan naik 3 kali lipat. Direktur Katrina mengangguk padaku.
"terima kasih Direktur Katrina!" aku membungkuk. Jika bukan karena dia, aku tidak akan bekerja di sini.
"bukan apa apa. Ini semua juga karena usaha mu sendiri. Hargai itu." Direktur Katrina membesarkan hatiku.
Aku benar benar gugup untuk hal ini. ini adalah kesempatan yang tidak pernah aku harapkan, tapi aku bisa mendapatkannya. Suatu keberuntungan.
Mataku beralih ke meja kerja ku. Saatnya merapikannya kembali. Surat promosi itu aku simpan baik baik ke dalam tas.
Apa yang akan terjadi pada hidupku selanjutnya?
Aku harus beradaptasi lagi. Mencari tempat tinggal baru, mempelajari budaya baru, sistem baru, pasar baru dan segala hal baru disana.
Seperti apa lingkungannya? Orang orangnya? Topografinya?
Hatiku sudah tidak sabar untuk belajar hal hal baru. Aku memang tipe orang yang suka belajar.
Baiklah. Aku akan memikirkan itu nanti. Pikiranku kembali terusik tentang Grace.
Dimana dia?
Tanganku meraih ponsel, segera meneleponnya. Tidak ada jawaban. Ponselnya mati, tidak aktif.
Mungkin dia di rumah sakit, atau di rumah. Aku harus pergi ke rumahnya hari ini juga.
"Direktur Katrina, boleh aku cuti hari ini?"
Direktur Katrina tampak berpikir. Dia membuka halaman halaman kalender.
"boleh saja. Lagipula kau belum menggunakan jatah cuti mu selama 1 tahun ini."
"baiklah, terima kasih Direktur Katrina."
Aku meraih tas ku dan pergi. Turun ke bawah.
"benar kan taruhan ku? Miss Calantha tidak datang hari ini."
"hei, itu curang, kembalikan uang ku. Siapa tau datangnya sore."
Dasar. Hal kecil juga mau ribut.
......................
"Aku mencari pasien di ruangan ini sebelumnya, yang menderita depresi."
Aku berdiri di pojokan pintu, bertanya pada perawat yang sedang merapikan seprai di bangsal itu.
"apa dia di pindahkan?"
Suster itu memandangku sejenak.
"nona, kau mungkin tidak tau. Tapi dia meninggal 2 hari yang lalu. Dia bunuh diri, menusuk tubuhnya sendiri sebanyak ratusan kali dengan jarum suntik."
Suster itu menghampiri ku. Wajahnya tampak terkejut. Sedangkan aku, aku diliputi perasaan terkejut dan tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
"aku turut berduka cita." Suster itu mengucapkan belasungkawa dan berlalu pergi.
Aku bersandar di tiang pintu. Apa barusan? Adik grace bunuh diri? Air mataku mengalir perlahan. Mengingat kembali kisah masa lalu.
Dia paling menyukai seni mengupas apel milik ku, membuat dia akhirnya ingin memakan makanan rumah sakit.
Dia juga suka lagu lagu pengantar tidur yang aku nyanyikan untuknya. Membuatnya tenang sewaktu dia mencium bau rumah sakit.
Aku beranjak pergi. Grace pasti sangat terpukul. Pasti dia menangis sampai tidak mengangkat telepon, ponselnya mati karena kehabisan baterai.
Pasti begitu.
Ketika aku sampai di kost nya, hal pertama yang aku lihat adalah, tanaman yang layu tak terawat, gagang pintu yang berdebu, dan keset yang tak ada tanda jejak kaki sama sekali.
Dia pasti enggan keluar rumah.
Aku membuka pintu menggunakan kunci cadangannya.
"Grace.." aku memanggil. Tak ada jawaban.
Tak ada tanda tanda kehadiran manusia sama sekali. Lantai berdebu, seolah tak pernah diinjak. Kondisi rumahnya berantakan.
Aku pergi berkeliling sekitar rumah. Grace tak dapat ditemukan dimanapun. Dia tidak ada dirumah.
Gawat. Perasaanku mulai cemas. Dimana dia?
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖