Pernikahan yang di harapkan akan bahagia dan selamanya, nyatanya malah membawa luka yang akan membekas selamanya.
Dua tahun menikah, siapa yang mengira bahwa Dinda akan terluka untuk kedua kalinya?
Dan saat hatinya terluka, seseorang datang untuk mengobati luka itu.
Ini adalah akhir cerita dari Adinda Maheswari. Akankah ia bertahan atau pergi bersama pengobat lukanya?
Jangan lupa kritik dan saran nya ya guys..:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon January99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Complicated Relationship 12
**BAB 12**
Seminggu telah berlalu sejak kejadian pertengkaran kecil antara Daffa dan Dinda, keduanya belum bertemu lagi sampai saat ini, karena Daffa sedang sibuk dengan pekerjaannya ia tidak bisa menemui Dinda, ia sudah berulang kali menelpon tetapi gadis itu tidak pernah menjawab telpon darinya.
Seseorang diluar sana mengetuk pintu ruangan Daffa, lalu pintu terbuka menampilkan seorang pria dengan raut kesal di wajahnya.
"Daff, nanti malam kita berangkat ke Bali jam 9 malam. Tiket udah gue pesan, kesel dah gue, malam tahun baru malah ada pekerjaan." ucap Angga.
"Eh, gimana kalau kita ajak Dinda sama Gea?" tanya Angga, setelah berpikir sejenak.
"Terserah lo, lo atur aja sendiri." jawab Daffa seadanya. Toh disana mereka tidak bisa menikmati malam tahun baru bersama, karena Angga dan Daffa akan bekerja pada malam itu.
Setelah mendengar jawaban dari Daffa, Angga pun keluar dan kembali ke mejanya. Ia tidak sabar menunggu jam pulang kantor karena ia ingin cepat-cepat memberitahu Gea dan Dinda.
"Seneng banget pak kayaknya. Ada apa?" tanya Ela yang melihat Angga tidak berhenti tersenyum.
Bukannya menjawab, Angga malah makin tersenyum lebar.
Akhirnya yang di nanti-nanti oleh Angga pun tiba, ia segera merapikan barang2 nya, lalu ia menelpon Gea.
"Halo sayang" sapa Angga ketika Gea mengangkat telponnya.
"...."
"Kamu udah pulang kerja? mau aku jemput gak?" tanya Angga yang sudah berada di dalam mobilnya.
"......."
"Oke jangan pulang dulu ya, aku lagi dijalan nih mau pulang. aku mau kasih kejutan untuk kamu dan Dinda." ucap Angga, ia memutuskan sambungan telpon begitu saja dan segera melaju kan mobilnya keluar dari gedung kantor.
*****************
Gea dan Dinda sedang berada di kamar kos Dinda, mereka hari ini pulang kerja lebih awal karena besok salon mereka libur sampai tanggal 1.
"Ih nyebelin banget sih, gue belom selesai ngomong udah di matiin." Gea ngedumel.
"Siapa sih? bang Angga ya?" tanya Dinda.
"Iya! Abang lo tuh!" ucap Gea kesal.
"Pacar lo!" balas Dinda.
"Iya." ucap Gea cengengesan.
Setelah setengah jam lebih, Angga pun sampai di kos'an, ia menelpon Gea untuk menyuruh Gea dan Dinda ke ruang tamu. Dua orang sahabat itu pun langsung turun.
Angga tersenyum lebar ke arah mereka berdua yang sedang menuruni tangga, senyumnya semakin lebar saat Dinda dan Gea sudah duduk di sofa.
"Kenapa sib bang? kesambet ya?" tanya Dinda.
"Ck! enak aja. Eh malam tahun baru kalian udah punya rencana belom?" tanya Angga.
"Ada dong! emangnya kamu, malam tahun baru masih kerja, mana di Bali lagi. Ngeselin." ucap Gea ketus. Sebenarnya tadi Dinda dan Gea juga sedang membahas tentang malam tahun baru. Dinda mengusulkan untuk tidur saja di malam tahun baru, usulan Dinda membuat Gea kesal bukan main.
"Yahhh... Serius?? Padahal aku mau ngajak kalian berdua ke Bali, kalian kan libur 2 hari." ucap Angga kecewa.
"Hah? Beneran?" tanya Gea antusias.
Angga hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu ia melirik Dinda, gadis itu sama sekali tidak tertarik dengan percakapan ini, dia hanya diam dan memainkan ponselnya.
"Dek, mau ikut kan?" tanya Angga.
"Enggak deh bang, sayang duitnya. Mending di tabung buat Febby kuliah." jawab Dinda.
Angga menatap Dinda kasihan. Gadis itu tidak pernah memikirkan kesenangan untuk dirinya sendiri, ia selalu memprioritaskan adik dan ayah nya yang berada di kampung. Saat mengetahui bahwa Dinda dan Daffa berpacaran, Angga sangat senang karena untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Dinda, gadis itu akhirnya memikirkan kebahagiaan untuk dirinya juga. Angga berjanji dalam hati ia akan menghajar Daffa kalau sampai melukai Dinda.
"Yaelahh, santai.. Dari tiket sampai hotel gue yang bayarin. Ikut yaaa dek." pinta Angga.
"Iya Din, ikut yaaaa.. kalau lo gak ikut, gue gak ada temennya tauu." rengek Gea pada Dinda.
Dinda memutar bola matanya malas mendengar rengekkan Gea.
"Terus gue jadi obat nyamuk gitu untuk kalian? ogah ah!" jawab Dinda.
"Eitsss, siapa bilang kita pergi bertiga?, kita pergi berempat tau, Daffa juga ikut." ucap Angga.
Dinda baru ingin membuka mulut nya untuk bicara, tetapi di potong oleh Angga.
"Udah gak usah banyak alasan lagi, cepet packing-packing ntar malem jam 9 kita berangkat." ucap Angga.
"Ayo aku anter kamu pulang, aku tungguin kamu packing, habis itu kita balik ke kos lagi. Biar nanti gak bolak balik." ucap Angga pada Gea.
Gea hanya mengangguk, dan bangkit dari duduknya lalu mereka berdua berlalu keluar meninggalkan Dinda di ruang tamu.
'Emangnya gue udah bilang setuju mau ikut? main paksa aja' gerutu Dinda. Ia pun segera pergi kekamar untuk packing.
++++++++++++++
Jam sudah menunjukan pukul 7.30 malam, Dinda, Gea, dan Angga telah tiba di bandara Soeta. Di pintu masuk terlihat seorang pria tampan memakai t-shirt berwarna putih di padu padan kan dengan jaket jeans dan celana levis berwarna hitam, memakai sneakers berwarna putih yang sedang menelpon, pria itu tertawa renyah di sela-sela telpon, setelah ia melihat kedatangan Dinda, Gea, dan Angga, pria itu segera mengakhiri telpon tersebut dan melambaikan tangannya kearah mereka.
"Capek gue nunggu lo! Bilangnya udah di jalan, tau-tau nya masih dirumah." ucap Daffa kesal.
"Sorry dah, pacar lo ni! Susah banget di bujuknya." ucap Angga menyiku Dinda. Saat Gea dan Angga tiba di kos untuk menjemput Dinda, gadis itu masih belum mandi. Katanya ia tidak mau ikut pergi, Setelah di bujuk Gea akhirnya Dinda pun mau ikut.
Dinda hanya diam, itu memang salah nya. Tiba-tiba tangan kekar merangkul pinggang kecil Dinda, tangan itu milik Daffa.
"Kamu kenapa gak mau ikut? masih marah sama aku? hm?" tanya Daffa lembut.
Dinda hanya menggelengkan kepala nya. Kemudian mereka masuk, setelah melewati pemeriksaan mereka berempat langsung menuju ruang tunggu. Daffa tertidur di bahu Dinda, lelaki itu tampak kelelahan, ia tertidur tanpa melepas genggaman tangannya pada Dinda.
Sudah saatnya untuk chek-in, Dinda menepuk pelan pipi Daffa untuk membangunkannya.
"Sayang.. Bangun, udah mau chek-in" ucap Dinda lembut, ia sudah tidak marah lagi dengan kekasih tampannya itu.
"Hmmmm" gumam Daffa. ia pun membuka matanya dan mereka pun pergi chek-in untuk menaiki pesawat.
Setelah satu jam berada di dalam pesawat, mereka berempat pun telah tiba di hotel yang sudah di boking oleh Angga. Raut lelah jelas terlihat di wajah Daffa, sepanjang penerbangan tadi sampai di perjalanan menuju hotel, Daffa terus tertidur di pundak Dinda, pria itu hanya membuka matanya saat turun dari pesawat, begitu menaiki mobil lagi untuk menuju hotel, Daffa kembali tertidur dengan bahu Dinda yang masih menjadi bantalnya.
Dinda, Daffa, dan Gea menunggu Angga yang sedang berada di resepsionis. Daffa masih setia menyandarkan kepalanya di bahu Dinda sambil memainkan jari-jari tangan gadis itu. Entah mengapa hari ini Daffa sangat manja pada Dinda.
"Udah beres ni, dek kamu tidur sama Daffa, gue sama Gea." ucap Angga seenak jidatnya.
Dinda menatap tajam ke Angga, dan membuat pria itu tertawa.
"Bercanda dek! serius amat sih." ucap Angga.
Dinda heran dengan Angga, mengapa pria itu masih punya tenaga untuk bercanda, sedangkan dia dan Daffa sudah beberapa hari lembur.
"Kamu gak mau bobok bareng aku?" tanya Daffa manja pada Dinda.
Dinda lagi-lagi mencubit perut keras Daffa, pria itu tertawa, rasa kantuknya menghilang mendapat pelototan plus cubitan dari kekasihnya itu.
Mereka berempat telah berada di kamar masing-masing, Angga tidur sekamar dengan Daffa dan Dinda dengan Gea. Daffa meminta extra bed untuk kamarnya, ia tidak mau tidur seranjang sama Angga.
"Apes banget sih gue bisa sekamar sama lo! bukannya boking empat kamar malah boking dua kamar." gerutu Daffa.
"Yee, biar hemat boss.. Ngapa sih sensi banget sama gue." ucap Angga.
Daffa tidak merespon, ia menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. Ia ingin tidur karena besok pekerjaan sudah menunggunya. Baru saja menutup mata sebentar, ia harus membukanya kembali karena ponselnya berdering. Laura menelponnya, ia melirik ke kasur Angga dan melihat pria itu sudah tertidur pulas. Daffa pun menjawab panggilan itu.
"Halo" ucap nya malas.
"Babe kamu udah tidur?' ucap Laura.
"Hmmmm" gumam Daffa, ia saat ini benar-benar penat.
"Yaudah, selamat tidur my baby." ucap Laura.
Daffa pun langsung memutuskan sambungan telpon itu. Pasti kalian bertanya-tanya mengapa Laura tidak mengikuti Daffa ke Bali? Saat ini wanita itu sedang berada di Singapore untuk pemotretan, itu yang ia katakan pada Daffa. Tapi sebenarnya tujuan wanita itu adalah untuk menemui kekasihnya yang lain.
Sementara di kamar sebelah, Dinda dan Gea tidak bisa tidur. Mereka berbaring saling memunggungi.
"Din, lo udah tidur?" tanya Gea.
"Belom Ge, gue gak bisa tidur." jawab Dinda.
Gea langsung mengubah posisinya menjadi duduk, Dinda pun mengikuti.
"Lo liat gak sih sikap Daffa ke gue tadi? kata para ciwi-ciwi kalau sikap pacar kita berubah gak seperti biasanya itu tandanya ada yang di sembunyiin." ucap Dinda serius menatap Gea.
Gea langsung menoyor kepala Dinda, membuat gadis itu hampir terjatuh, untung Gea langsung menarik tangan Dinda.
"Mikir lo kejauhan geblek, lo pikir aja sendiri, kalian udah seminggu gak ketemu, gak kontekkan sama sekali juga. Dia itu kangen sama lo, lo gak kangen sama dia?" ucap Gea. Saat ini Gea hanya berpikir positif.
"Masa sih?" tanya Dinda lagi.
Gea langsung berbaring memunggungi Dinda, ngobrol sama Dinda membuatnya kesal. Kalau Angga yang seperti itu Gea akan senang, tapi Dinda malah mikir yang tidak-tidak.
"Ck! gue belom selesai ngomong Ge." ucap Dinda kesal.
"Tau ah Din, gue gak mau mikir yang berat-berat menjelang akhir tahun. Udah sana tidur, udah malam." ucap Gea.
Dinda pun ikut berbaring membelakangi Gea, sahabatnya itu benar, untuk apa memikirkan hal yang berat, tujuan mereka kesini adalah untuk bersenang-senang. Gadis itu pun memejamkan matanya karena rasa kantuk telah menyerangnya.
Kalian pada baper gak ngelihat Daffa manja-manja ke Dinda? atau malah enek?
heheehehe.
ikuti terus kisah mereka yaa❤❤
TBC❤❤
jangan lupa kritik dan sarannya..:)