Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Sasa meraung-raung memanggil papanya. Dalam dekapan Kinanti, Sasa meronta ingin mengejar.
Tangis Sasa pecah. Sasa terisak tersedu-sedu menangisi papanya yang pergi meninggalkannya.
"Hwua ... Papa ...." Tangisan Sasa terasa sangat pilu.
Kinanti mendekapnya erat dan terus menenangkan Sasa.
"Cup ... Cup ... Cup ... Sudah nangisnya, Sayang," ucap Kinanti sambil mengelus punggung Sasa.
Kinanti menggendongnya, sambil terus mengelus punggung Sasa. Tubuhnya masih bergetar karena menangis.
Sasa membenamkan wajahnya ke leher Kinanti. Menyembunyikan kesedihannya di leher sang mama.
'Papa jahat. Abang benci sama papa.' Amar murka dengan papanya yang memilih pergi meninggalkan dirinya dan Sasa.
Amar yakin kalau papanya tidak mungkin mendengar suara Sasa yang memanggilnya. Pasti perempuan yang bersama papanya sudah meracuni otak papanya, sehingga papanya sedikit pun tidak peduli dengan Sasa.
Amar menatap sendu punggung Sasa yang masih bergetar.
"Ayo kita pulang aja," ajak Kinanti kepada Amar.
Amar mengangguk, lalu mereka bertiga pulang, walau masih gerimis.
Sepanjang perjalanan pulang, Sasa terus membenamkan wajahnya di ceruk leher Kinanti. Hingga kini terdengar dengkuran halus dari Sasa.
***
Yoga yang baru masuk ke dalam mobil, begitu terkejut melihat anak dan istrinya ada di restoran cfc.
'Kenapa kejadian kayak gini harus terjadi lagi.' Keluh Yoga di hatinya. Yoga kesal harus bertemu dengan anak dan istrinya di saat dirinya lagi jalan bareng Frida.
Melihat Sasa meraung memanggilnya, Yoga baru teringat kalau hari ini Sasa ulang tahun. Padahal ia sudah berjanji akan merayakan ulang tahunnya bersama-sama.
Seketika Yoga menjadi bersalah, karena tidak menepati janjinya.
Yoga tak tega melihat Sasa menangis dan Yoga ingin memeluknya, namun Frida menahannya.
"Jangan turun. Aku mohon," ucap Frida memelas.
"Tapi ...."
"Kalau kamu turun, aku nggak mau lagi bertemu dengan mu lagi," ancam Frida.
Yoga menghela napasnya. Yoga dilema harus memilih yang mana.
"Milih anak mu atau pilih kita putus." Sekali lagi Frida membuat pilihan sulit.
Pada akhirnya Yoga memilih Frida, dibandingkan dengan Sasa. Yoga melajukan mobilnya meninggalkan Sasa yang menangis memanggilnya.
Kurang lebih dua puluh menit, mobil yang dikendarai Yoga sudah memasuki lobby apartemen.
Melihat kesedihan Sasa, Yoga menjadi sangat bersalah dan ingin segera pulang menemui Sasa.
"Aku pulang dulu," ucap Yoga, ketika ia menghentikan mobilnya di lobby apartemen.
Frida tak suka kalau Yoga harus pulang dan mementingkan keluarganya. Pokoknya Yoga harus memprioritaskan dirinya dibandingkan keluarganya.
"Aku nggak mau kamu nemuin anak dan istri mu. Aku tuh lebih butuh kamu dan hanya aku yang bisa membuatmu senang," desis Frida kesal.
Frida harus menahan Yoga pulang ke rumahnya. Kalau perlu ia berpura-pura sakit agar Yoga tetap bersamanya. Frida tak rela kalau Yoga menemui anak dan istrinya.
Yoga menarik tangan Frida dan menggenggamnya. Lalu, diciumnya tangan Frida. Yoga menatap lembut bola mata Frida.
"Aku janji, besok aku datang lagi," bujuk Yoga, namun Frida bungkam dan membuang wajahnya ke luar mobil.
"Sebagai gantinya, besok sepulang aku kerja kita pergi ke toko tas." Lagi, Yoga merayu Frida, mengiming-imingi barang yang sedang Frida inginkan dari kemarin-kemarin.
Seketika raut wajah Frida berubah sedikit ceria mendengar iming-iming dari Yoga. Tentu saja, ia tidak akan menolaknya.
"Beneran. Kamu nggak bohong kan?"
Yoga mengangguk. "Jadi aku boleh pulang ya."
Dengan senyum tipis, Frida membolehkan Yoga pulang. "Ya, boleh."
Yoga tersenyum senang, sambil mengelus tangan punggung Frida. "Makasih sayang, kamu sudah ngertiin aku."
"Ya ... Mau gimana lagi. Terpaksa."
"Sini cium dulu," pinta Yoga.
Dengan senang hati Frida menyodorkan bibirnya ke bibir Yoga. Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi liar. Sengaja, Frida memancingnya agar Yoga lebih lama bersamanya.
Yoga ingin sekali mengakhiri ciuman panasnya. Akan tetapi, Frida terus memancing has*ratnya. Dan akhirnya Yoga pun terperangkap dengan pancingan Frida.
***
Suasana rumah sudah sepi, ketika Yoga menginjakkan kakinya di teras rumah. Yoga yakin kalau pintu rumah sudah di kunci, dan Yoga sudah antisipasi membawa kunci cadangan.
Yoga sadar, kalau dirinya tidak menempati janjinya kepada Sasa. Yoga benar-benar lupa kalau hari ini Sasa ulang tahun. Dan sebagai gantinya Yoga pulang membawa hadiah yang ukurannya cukup besar.
Seperti yang sudah-sudah, Sasa akan memaafkannya jika dihadiahi kado dan kali ini pun Sasa pasti akan mudah memaafkannya.
Yoga berdehem sebelum masuk ke kamar Sasa. Yoga menyetel wajahnya dengan senyum merekah. Lalu, Yoga membuka pintu. Kamar Sasa ternyata masih gelap. Yoga kemudian meraba-raba saklar lampu dan menyalakannya.
Seketika kamar Sasa terang benderang. Tapi, kemana Sasa? Yoga tidak melihat Sasa di kamarnya.
"Mungkin di kamar Amar," gumam Yoga.
Yoga segera ke kamar Amar. Ternyata Sasa juga tidak ada di sana, begitu juga dengan Amar.
Tinggal satu yang belum ia datangi, adalah kamarnya sendiri.
Yoga bergegas ke kamarnya dan ternyata hasilnya sama. Anak dan istrinya tidak ada di kamarnya.
"Mereka pergi kemana?"
Karena tak tahu kemana anak dan istrinya pergi, Yoga kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Paling juga nginep di rumah ibu," ucap Yoga, meyakini kalau Kinanti dan anak-anak nginep di rumah sang ibu.
Keesokan paginya, Yoga bangun dan melangkah ke dapur.
"Kinan, bikinin aku kopi," ucap Yoga. Ia lupa kalau Kinanti tidak ada di rumah.
"Bodoh! Kinan kan nggak ada di rumah," ucapnya pada dirinya sendiri.
Yoga segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Baru saja akan melangkah keluar dari kamar. Yoga teringat dengan kado untuk Sasa. Yoga membawa kadonya dan nanti pulang kerja, ia akan datang ke rumah ibunya.
Waktu pun bergulir cepat, tanpa terasa sekarang sudah waktunya pulang. Yoga segera membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
Drrtt ....
Panggilan masuk ke ponselnya. Yoga tersenyum saat tahu kalau Frida yang menelponnya.
"Halo ...," jawab Yoga.
"Kamu udah pulang belum?" Sahut Frida yang saat ini tengah memoles lipstik ke bibirnya.
"Sebentar lagi aku pulang. Tapi, aku mau mampir dulu ke rumah ibu karena kemarin ibu memintaku datang menemuinya." Demi kebaikan bersama, Yoga terpaksa membohongi Frida.
"Yahh ... Jadi lama dong aku nunggunya."
"Aku cuman sebentar kok ke rumah ibu."
"Ya udah deh. Nggak apa-apa malaman pergi ke toko tasnya."
Panggilan telpon pun harus berakhir. Yoga segera meluncur ke rumah ibunya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Yoga kini sudah sampai di rumah sang ibu. Yoga mengayunkan kakinya ke dalam rumah, sambil membawa hadiah nya.
"Sasa ...!" Panggil Yoga.
Ibu Rohayani yang tengah duduk sendiri di depan televisi terkejut dengan kedatangan Yoga, sambil berteriak memanggil Sasa.
"Bu, Sasa mana?" Tanya Yoga.
Kedua alisnya berkerut mendengar perkataan Yoga. "Sasa nggak ada di sini."