Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Distributor yang Mengancam
Selasa pagi, Lia menemukan masalah baru di kotak surelnya dengan subjek yang membuat perutnya mengencang: Penolakan Revisi dan Pemberitahuan Penghentian Pengiriman.
Ia membaca dua kali. Lalu tiga kali. Lalu ia berdiri dan berjalan ke meja Pak Harto dengan cetakan surel itu di tangan.
"Pak, PT Mitra Nusantara menolak revisi klausul denda. Mereka bilang kalau kami tetap memaksa, pengiriman ke cabang Bandung dihentikan mulai Senin depan."
Pak Harto membaca surat itu dan wajahnya perlahan berubah warna. "Mereka mengancam kita? Padahal kita yang rugi empat ratus juta!"
"Rugi menurut angka kita, Pak. Menurut mereka, kontrak itu sah, ditandatangani, dan tidak ada yang salah."
"Jadi sekarang bagaimana?"
Lia menghela napas. "Sekarang kita harus memberi tahu Pak Navin."
Kalimat itu terasa seperti menelan kerikil. Sejak hari Kamis, ia sudah berhasil berpapasan dengan pria itu berkali-kali tanpa satu kata pun keluar selain "selamat pagi" dan "terima kasih, Pak." Ia menjaga jarak seperti seseorang yang menghindari genangan air. Dan sekarang, masalah ini akan memaksanya masuk ke genangan itu.
Pukul sepuluh, rapat darurat berlangsung di ruang utama. Bu Retno tampak seperti belum tidur dua malam. Pak Harto memegang kertas surel dengan jemari yang berkeringat. Rangga dari penjualan hadir karena ancaman itu menyangkut stok, dan bahkan Sinta ikut, entah kenapa, duduk di sudut membawa notes.
Navin duduk di kursi kepala meja. Ia membaca surel dari Mitra Nusantara dengan ekspresi yang tidak berubah sedikit pun. Lia memperhatikan diam-diam. Tidak ada kemarahan, tidak ada kepanikan. Hanya ketenangan seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu.
"Siapa yang kenal direktur mereka?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab. Bu Retno akhirnya berkata pelan, "Yang mengenal beliau adalah Pak Surya, Pak. Yang menandatangani kontrak itu. Sekarang sudah dipindahkan ke pusat."
"Berarti ini bukan hanya soal klausul." Navin menatap surel itu lagi. "Mereka tidak menolak karena kontraknya adil. Mereka menolak karena ada yang mengamankan kontrak itu untuk mereka."
Ruangan menjadi sunyi. Kalimat itu terlalu tajam, terlalu tepat, dan tak seorang pun berani mengomentarinya.
"Maksud Bapak, ada praktik yang tidak sehat?" tanya Pak Harto pelan.
"Maksud saya, saya tidak percaya pada kebetulan yang selalu menguntungkan satu pihak selama dua kuartal." Navin menatap Pak Harto. "Saya akan cari tahu. Tapi sebelum itu, kita harus mengamankan pasokan."
"Ophelia."
Jantung Lia melompat. "Ya, Pak."
"Berapa banyak volume yang mereka pasok ke cabang ini?"
"Enam puluh persen kebutuhan, Pak. Tiga puluh persennya sudah bisa dipenuhi dua pemasok alternatif di draf saya. Sisanya butuh waktu."
"Berapa lama?"
"Minimal tiga minggu untuk negosiasi dan verifikasi, Pak."
"Mitra Nusantara akan menghentikan pengiriman dalam enam hari." Rangga mengangkat tangan dengan ragu. "Pak, stok gudang hanya cukup untuk sembilan hari. Kalau pasokan terhenti dan pemasok baru belum jalan, ada celah hampir tiga minggu."
"Celah itu yang akan saya tutup." Navin menutup map. "Jadi kita punya jendela sempit. Saya tidak akan menyelesaikan ini dari Jakarta."
Bu Retno mengerutkan kening. "Maksud Bapak?"
"Mulai besok saya bekerja dari kantor ini sampai masalah selesai. Bukan inspeksi, melainkan bekerja."
Ruangan bergemuruh pelan. Bu Retno bangkit setengah dari kursinya. "Kalau begitu, ruangan saya bisa..."
"Saya tidak butuh ruangan Ibu. Saya butuh ruangan yang bisa saya pakai untuk memantau tim kontrak dan penjualan." Navin menoleh ke arah para kepala divisi. "Dan mulai hari ini, tim kontrak melapor langsung kepada saya. Setiap hari. Pukul sembilan pagi dan lima sore."
Pak Harto membuka mulut untuk protes, lalu menutupnya. Dinda, yang duduk tak jauh dari Lia, menoleh dengan mata melebar. Setiap hari? Langsung? Pukul sembilan dan lima? Lia bisa membaca pesan itu di wajahnya tanpa perlu suara.
"Siapa yang akan menjadi penghubung tim kontrak?"
Pak Harto menoleh pada Lia, dan begitu juga sebagian isi ruangan.
"Ophelia," kata Bu Retno akhirnya, dengan nada meminta maaf.
Lia merasakan tatapan seisi ruangan menempel di kulitnya seperti plester. Ia ingin membantah, ingin berkata bahwa Rangga atau Pak Harto lebih layak, tapi alasan apa pun akan terdengar seperti keengganan pribadi. Dan keengganan pribadi adalah hal terakhir yang ingin ia perlihatkan pada pria itu.
Navin tidak menoleh ke arah Lia. Ia hanya mengangguk sekali, singkat, seperti seseorang yang menerima jawaban yang sudah ia duga.
"Baik. Rapat selesai."
* * *
Lia tidak ingat bagaimana ia sampai di pantry. Yang ia tahu, tiba-tiba ia sudah berdiri di depan mesin kopi dengan Dinda di sisinya, dan cangkir kosong di tangan.
"Setiap hari, Lia. Pukul sembilan dan lima. Langsung ke dia."
"Aku dengar."
"Dan dia pindah ke sini!"
"Aku juga dengar."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak." Lia menuang kopi hitam ke cangkir, tanpa gula, tanpa susu, lalu menatap uap yang naik. "Aku tidak apa-apa. Aku profesional."
"Kamu bilang kalau kamu akan..."
"Membenci dia dengan sangat profesional. Betul." Lia meneguk kopi itu, dan pahitnya terasa cocok dengan suasana hatinya. "Ini justru pas. Aku bisa membencinya dua kali sehari, tepat waktu, lengkap dengan notulen."
Dinda tertawa lemah, lalu terdiam, lalu tertawa lagi karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi. "Lia, aku tidak mau menakut-nakuti, tapi aku merasa tadi dia sengaja menunjuk kamu."
"Bu Retno yang menunjuk."
"Bu Retno menunjuk setelah dia memutuskan tim kontrak melapor langsung."
"Karena tim kontrak yang memegang masalahnya."
"Tim kontrak punya delapan orang."
Lia tidak menjawab. Ia tahu Dinda tidak salah, dan ia tahu ia tidak mau memikirkannya. Ada satu hal lagi yang tidak ia ceritakan: tadi, ketika Navin berkata ada yang mengamankan kontrak itu, Lia sempat mengagumi ketajaman pria itu, hanya sekejap, sebelum ia ingat dengan siapa ia berhadapan.
Sore itu, sebelum pulang, ia mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya dan menulis di halaman kosong dengan huruf-huruf tegas:
ATURAN SELAMA DUA MINGGU KE DEPAN
1. Bicara hanya soal pekerjaan. 2. Tidak tersenyum kecuali diperlukan. 3. Tidak mendengarkan apa pun yang bukan tentang kontrak. 4. Jangan pernah membiarkan dia melihat kamu terluka.
Ia menatap daftar itu sebentar. Aturan keempat ia coret, lalu ia tulis ulang, kali ini lebih pelan.
4. Jangan biarkan dirimu terluka.
Malam itu, ia menelepon Ibu sebentar, hanya mengabarkan bahwa pekerjaan sedang menumpuk dan bosnya pindah ke kantor. Ibu mendengarkan lebih lama dari yang Lia kira, lalu berkata, "Kamu bilang pekerjaan, tapi suaramu seperti orang yang sedang menahan sesuatu." Lia tertawa, mengelak, dan menutup telepon dengan cepat.
Ia menutup buku itu dan memasukkannya ke tas, tanpa sadar bahwa aturan kedua akan menjadi aturan pertama yang ia langgar.