Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertusuk Duri
Beberapa jam setelah imunisasi, suasana mansion mulai kembali tenang.
Namun, di kamar Areksa, keadaan justru berbeda.
Aretha yang sejak tadi tertidur mulai bergerak-gerak kecil. Wajahnya tampak sedikit memerah, dan tubuh mungilnya terasa lebih hangat dari biasanya.
Areksa yang sedang duduk di sisi tempat tidur langsung menyentuh dahinya. Panas.
Jantungnya seketika berdegup lebih cepat.
“Aretha...”
Ia kembali menyentuh dahi putrinya, seolah berharap panas itu hanya perasaannya.
Namun tubuh Aretha memang terasa lebih hangat.
Panik mulai menguasai dirinya.
“Adira!”
Tidak ada jawaban.
“Adira!” Kali ini suaranya lebih keras.
Di lantai bawah, Adira yang sedang membantu Bik Tini di dapur langsung tersentak.
“Adira, lebih baik kamu cepetan ke atas. Mungkin Tuan butuh bantuan,” ujar Bik Tini.
“Iya, Bik. Maaf ya. Aku ke atas dulu.”
“Iya.”
Adira segera meninggalkan dapur.
Bik Tini memperhatikannya pergi sambil menghela napas. “Kasihan juga baru istirahat, sudah dipanggil lagi.”
Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. “Tapi memang anak itu rajin. Semenjak ada dia, kerjaan aku jadi cepat selesai.”
Bik Tini terdiam sejenak. “Sayang hidupnya nggak mudah.”
Ia hanya mengetahui sedikit mengenai kehidupan Adira. Namun dari cerita yang pernah didengarnya, ia tau perempuan itu dari kecil sudah melewati banyak hal yang tidak seharusnya dialami seseorang seusianya.
Sementara itu, Adira sudah sampai di depan kamar Areksa.
Ia berhenti sejenak. Tangannya menggantung di depan pintu.
Kenapa Tuan memanggil dengan suara seperti itu?
Adira mulai merasa khawatir.
Sebelum sempat mengetuk, suara Areksa terdengar dari dalam.
“Masuk aja, Adira.”
“I-iya, Tuan.”
Adira membuka pintu perlahan.
Begitu masuk, ia melihat Areksa berdiri di samping tempat tidur dengan wajah cemas.
“Aretha demam.”
Adira langsung mendekati tempat tidur. “Biar saya cek dulu, Tuan.”
Ia duduk di sisi tempat tidur dan mengambil termometer.
Areksa berdiri di sampingnya dengan wajah tegang.
Beberapa saat kemudian, termometer berbunyi. Adira melihat hasilnya.
Ia menghela napas lega. “Suhunya masih normal, Tuan. Memang sedikit lebih hangat dari biasanya, tapi belum termasuk demam tinggi.”
Areksa masih terlihat khawatir. “Tapi tubuhnya panas.”
“Setelah imunisasi, tubuh bayi memang bisa terasa lebih hangat. Itu bisa menjadi reaksi tubuh terhadap imunisasi.”
“Jadi dia nggak apa-apa?”
“Untuk saat ini, kondisinya masih baik.”
Areksa menatap wajah Aretha yang mulai meringis kecil. “Terus kita harus melakukan apa?”
Adira tersenyum menenangkan. “Kita pantau suhunya secara berkala. Pastikan Aretha tetap mendapat ASI yang cukup dan jangan memakaikan pakaian terlalu tebal.”
Areksa mengangguk cepat. “Kalau dia rewel?”
“Gendong saja. Buat dia senyaman mungkin.”
Areksa menatap Adira. “Sesederhana itu?”
“Untuk sekarang, iya.”
Adira kemudian menyentuh dahi Aretha dengan lembut. “Kalau suhu tubuhnya nanti meningkat cukup tinggi, atau Aretha terlihat sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau menyusu, atau ada tanda lain yang membuat Tuan khawatir, kita langsung hubungi dokter.”
Areksa mengangguk. “Kenzo?”
“Iya.”
Areksa menarik napas panjang. “Baik.”
Ia kembali memandangi putrinya. Wajahnya masih menunjukkan kecemasan.
Adira memperhatikannya beberapa detik. “Tuan.”
“Hm?”
“Jangan terlalu panik.”
“Saya nggak panik.”
Adira menatapnya. “Tuan tadi meneriakkan nama saya sampai terdengar ke bawah.”
Areksa terdiam.
Adira tersenyum kecil. “Berarti sedikit panik.”
Areksa menghela napas. “Ya... mungkin.”
Ia duduk di tepi tempat tidur. “Saya cuma takut sesuatu terjadi pada dia.”
Adira terdiam sejenak. Kemudian ia berkata lembut, “Saya mengerti.”
Areksa menoleh.
Adira kembali menatap Aretha. “Kalau Tuan takut, tidak apa-apa. Tuan hanya perlu tetap tenang di depan Aretha.”
Areksa mengangguk perlahan. Ia tampak sedikit lebih lega. “Terima kasih, Adira.”
Adira tersenyum. “Sama-sama, Tuan.”
Namun ketika mereka sama-sama kembali menatap Aretha, tangan kecil bayi itu tiba-tiba bergerak dan meraih udara.
Adira spontan menyodorkan jarinya. Aretha langsung menggenggamnya.
Areksa memperhatikan pemandangan itu dalam diam.
Entah kenapa, melihat tangan kecil putrinya menggenggam jari Adira membuat hatinya terasa jauh lebih tenang.
Dan sekali lagi, muncul perasaan aneh yang belum mampu ia pahami.
***
Areksa dan Adira baru saja turun dari lantai atas ketika suara seseorang tiba-tiba terdengar dari ruang tengah.
“Kenapa kalian bisa turun berdua dari kamar?”
Langkah Adira langsung terhenti.
Felicia berdiri di sana. Entah sejak kapan perempuan itu datang, tidak ada seorang pun yang memberitahukan kedatangannya.
Adira menundukkan kepala. “Maaf, Non. Tadi tubuh Non Aretha terasa hangat, jadi Tuan panik dan memanggil saya.”
Felicia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Oh...”
Tatapannya berpindah dari Adira kepada Areksa. “Kirain babysitter Kak Reksa mencari kesempatan.”
Adira langsung menggeleng cepat. “Tidak, Non. Saya tidak seperti itu.”
“Halah. Perempuan seperti kamu biasanya memanfaatkan—”
“Felicia!” Suara Areksa langsung memotong ucapannya.
Felicia langsung diam.
Areksa menatap adik iparnya dengan tegas. “Kamu menuduh Adira berarti kamu juga menuduh saya?”
“Bukan begitu, Kak.”
Felicia langsung mengubah ekspresinya. “Aku cuma takut babysitter ini malah menggoda Kakak.”
Adira semakin menundukkan kepalanya.
Namun Areksa justru menjawab dengan tenang. “Tenang saja.”
Ia menatap Felicia. “Saya tidak akan tergoda.”
Deg!
Entah kenapa, kalimat itu membuat dada Adira ikut berdebar.
Felicia sendiri terlihat sedikit lega, meskipun hanya sesaat.
Namun kemudian Areksa melanjutkan, “Dan saya percaya Adira tau batasannya.”
Tatapan Felicia langsung berubah. Ia tidak menyangka Areksa akan membela Adira.
“Ada apa kamu ke sini?” tanya Areksa. “Mama dan Papa saya belum pulang.”
“Iya, Kak. Aku tau.”
Felicia tersenyum. “Aku cuma mau mengundang Kakak makan malam.”
“Makan malam?”
“Iya. Papa dan Mama mau merayakan anniversary pernikahan mereka. Aku datang ke sini untuk mengundang Kakak, Tante Soraya, dan Om Bayu.”
“Kapan?”
“Dua hari lagi.”
Felicia melangkah mendekat. “Mereka sangat berharap kalian datang.”
Areksa berpikir sejenak. “Saya tidak janji.”
Felicia langsung mengerutkan kening. “Kak...Papa aku itu juga mertua Kakak, loh. Ayahnya Kak Aruna.”
Areksa terdiam. Ia memang tidak bisa menyangkalnya.
Bara adalah ayah Aruna, dan bagaimanapun juga, hubungan itu masih ada meskipun Aruna telah tiada.
“Saya ingat.” Jawabannya singkat.
Felicia kemudian tersenyum kembali. “Jadi Kakak datang, kan?”
“Saya bilang saya tidak janji.”
“Tapi—”
“Sudah, kan?” Areksa memotong.
“Kamu bisa pulang. Saya masih banyak urusan.”
Felicia terdiam beberapa detik.
Ia menatap Areksa, kemudian melirik Adira. Tatapan itu penuh rasa tidak suka.
“Baiklah, Kak.”
Felicia mengambil tasnya. “Tapi aku tetap berharap Kakak datang.”
Areksa hanya mengangguk.
Felicia kemudian berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Adira.
Tatapannya tajam. Perempuan ini... semakin lama semakin membuatku kesal.
Setelah Felicia pergi, suasana ruang tengah kembali hening.
Adira menghela napas lega. “Maaf, Tuan.”
Areksa menoleh. “Untuk apa?”
“Karena saya membuat Non Felicia salah paham.”
“Kamu tidak melakukan apa-apa.”
“Tapi—”
“Adira.” Areksa menatapnya serius. “Jangan terlalu memikirkan perkataan Felicia.”
Adira terdiam. “Iya, Tuan.”
Areksa kemudian berjalan menuju ruang kerjanya.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
“Dan satu lagi. Kalau Aretha kembali terasa panas, panggil saya.”
Adira mengangguk. “Baik, Tuan.”
Areksa melanjutkan langkahnya. Sementara Adira berdiri diam, tanpa sadar memegang dadanya sendiri.
Jantungnya masih berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena perkataan Felicia. Melainkan karena satu kalimat Areksa tadi.
Saya tidak akan tergoda.
Aneh. Seharusnya kalimat itu membuatnya lega. Namun justru terasa sedikit... mengganjal.
***
“Kamu ternyata ngerti ngurus beginian juga, ya, Dira?”
Saat itu, Adira, Bik Tini, dan Bik Iyem sedang berada di taman belakang mansion. Mereka bertiga sibuk merawat berbagai tanaman dan bunga yang tumbuh di sana.
Adira sedang menyiram beberapa pot bunga, sementara Bik Tini dan Bik Iyem membersihkan daun-daun kering di sekitar tanaman.
“Sedikit kok, Bik,” jawab Adira sambil tersenyum.
“Sedikit apanya?” Bik Tini terkekeh.
“Ini kamu semua yang ngurus. Kamu yang nyiram, kamu yang bersihin, kamu juga yang mindahin tanaman-tanaman ini.”
Adira tertawa kecil. “Kan saya cuma bantu, Bik.”
“Bantu apanya? Semenjak kamu ikut ngurus taman ini, bunganya malah kelihatan makin bagus.”
Bik Iyem yang sedang memotong daun kering ikut menyahut. “Benar. Saya saja nggak tau kalau bunga mawar harus dipangkas bagian tertentu supaya tunas barunya cepat keluar.”
Adira tersenyum. “Sebenarnya gampang, Bik. Yang penting rutin dirawat.”
“Kamu belajar dari mana?”
Adira terdiam sebentar. “Nggak tau juga.”
Ia kembali menyiram tanaman di depannya. “Sepertinya dari dulu saya memang suka bunga.”
Bik Tini memperhatikan wajah Adira. “Dari dulu?”
“Iya.” Adira menatap bunga mawar merah yang sedang mekar. “Saya suka melihatnya.”
“Kenapa?”
Adira tersenyum kecil. “Karena cantik.”
Ia menyentuh salah satu daun dengan hati-hati.
“Tapi bukan cuma karena cantiknya.”
Bik Iyem mengangkat alis. “Terus karena apa?”
Adira berpikir sejenak. “Karena bunga itu kelihatan lembut, tapi sebenarnya punya cara sendiri untuk melindungi dirinya.”
Ia menunjuk duri kecil pada batang mawar. “Contohnya mawar. Cantik, tapi ada durinya.”
Bik Tini mengangguk-angguk. “Benar juga. Kalau dirawat dengan baik, dia bisa tumbuh dan berbunga lagi. Bahkan setelah dipangkas.”
Adira tersenyum tipis. “Mungkin itu yang saya suka.”
Bik Tini memperhatikan Adira beberapa saat.
Ada sesuatu dalam cara perempuan itu berbicara tentang bunga yang terasa berbeda.
Seolah-olah ia tidak hanya sedang membicarakan tanaman.
Namun sebelum Bik Tini sempat bertanya lebih jauh, Bik Iyem tiba-tiba menunjuk ke salah satu sisi taman. “Dira, itu bunga mawarnya kok kayaknya mulai layu?”
Adira langsung berdiri. “Yang mana, Bik?”
“Itu.”
Adira segera menghampiri tanaman tersebut. “Oh, ini bukan layu. Tanahnya terlalu lembap.”
Ia berjongkok dan memeriksa tanah di sekitar batang.
“Jangan disiram dulu beberapa hari. Kalau terlalu banyak air, akarnya malah bisa membusuk.”
Bik Iyem mengangguk kagum. “Wah, kamu benar-benar ngerti.”
Adira hanya tertawa kecil. “Sedikit, Bik.”
“Sedikit lagi,” sahut Bik Tini sambil tertawa, “kamu nanti bisa jadi tukang kebun pribadi Tuan Areksa.”
Adira ikut tertawa. “Jangan begitu, Bik.”
“Kenapa? Taman ini jadi bagus gara-gara kamu.”
Adira hanya tersenyum.
Namun dari lantai atas mansion, tanpa mereka sadari, seseorang sedang berdiri di dekat jendela.
Areksa.
Ia baru saja selesai menerima telepon dari asistennya ketika pandangannya tanpa sengaja tertuju ke taman belakang.
Ia melihat Adira yang sedang berjongkok di antara bunga-bunga.
Perempuan itu terlihat begitu berbeda.
Tidak ada seragam babysitter yang biasanya ia kenakan. Rambutnya hanya diikat sederhana, dan tangannya tampak sedikit kotor karena tanah.
Namun justru pemandangan sederhana itu membuat Areksa terdiam.
Kemudian matanya tertuju pada mawar merah yang berada tidak jauh dari Adira.
Seketika terlintas kembali percakapannya dengan Adira beberapa waktu lalu.
Tentang mawar. Tentang duri. Tentang seseorang yang tetap bisa tumbuh kembali selama akarnya belum mati.
Areksa mengerutkan kening. Kenapa cara dia memandang bunga itu terasa begitu familiar?
Ia masih berdiri di sana ketika Adira tiba-tiba mendongak.
Tatapan mereka bertemu dari kejauhan.
Adira tampak sedikit terkejut.
Areksa segera mengalihkan pandangan.
Namun kali ini, ia tidak bisa menghilangkan satu pertanyaan yang kembali muncul di kepalanya.
Siapa sebenarnya kamu, Adira?
Areksa segera meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju taman belakang.
Langkahnya semakin mendekat hingga akhirnya ia tiba di antara hamparan bunga yang sedang dirawat Adira.
Bik Tini dan Bik Iyem yang melihat kedatangan tuannya langsung terkejut.
“Tuan.”
Keduanya segera berdiri dan membungkuk hormat. “Kami permisi dulu.”
Areksa hanya mengangguk. “Iya.”
Kedua ART itu pun segera meninggalkan taman.
Sementara itu, Adira masih sibuk dengan tanamannya. Ia sama sekali tidak menyadari kedatangan Areksa yang kini berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Perempuan itu sedang memperhatikan salah satu bunga mawar merah yang baru saja mekar.
Areksa memperhatikannya sejenak. Kemudian tanpa sadar ia bertanya,
“Ini semua kamu yang urus?”
“Eh—”
Adira terkejut.
Ia spontan menoleh, tetapi tangannya yang saat itu hendak memegang batang bunga mawar justru salah menyentuh bagian yang berduri.
“Aduh!” Adira segera menarik tangannya.
Setitik darah mulai keluar dari ujung jarinya.
Areksa langsung berubah panik. “Adira!”
Ia segera menghampiri perempuan itu. “Mana tangannya?”
“Nggak apa-apa, Tuan. Cuma kena duri sedikit.”
“Mana?” Areksa mengambil tangan Adira dengan hati-hati.
Ia melihat ujung jari Adira yang mengeluarkan darah.
“Ini bukan nggak apa-apa.”
“Tapi cuma sedikit.”
“Diam dulu.” Nada suara Areksa terdengar tegas, tetapi jelas ada kekhawatiran di dalamnya.
Ia segera membawa Adira ke keran air yang berada di sisi taman.
“Bilas.”
Adira menurut.
Areksa membuka keran, lalu mengarahkan tangan Adira ke bawah aliran air.
“Pelan-pelan.”
Adira menatap tangannya yang kini berada dalam genggaman Areksa. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
“Tuan... saya bisa sendiri.”
“Saya tau.”
Areksa tetap tidak melepaskan tangannya. “Tapi sekarang saya yang urus.”
Adira membeku sesaat.
Areksa kemudian memperhatikan luka kecil itu.
Aneh. Pemandangan darah di ujung jari Adira tiba-tiba membuat sebuah ingatan lama muncul begitu saja.
Seorang gadis kecil. Tangan mungil yang terluka karena memetik bunga mawar.
Dan seorang anak laki-laki yang panik lalu berlari mengambil kotak obat.
Areksa mengerutkan kening. Ingatan itu datang semakin jelas. Namun wajah gadis kecil itu tetap samar.
Kenapa lagi-lagi muncul kenangan ini setiap kali aku melihat Adira?
Areksa menatap wajah perempuan di hadapannya.
Adira sedang menunduk, memperhatikan jarinya sendiri.
Tatapan Areksa berubah. Untuk sesaat, ia merasa seolah sedang melihat seseorang dari masa lalunya.
“Adira...”
“Iya, Tuan?”
Areksa terdiam. Pertanyaan yang hampir saja keluar dari mulutnya kembali ia tahan.
Apa mungkin... Ia menggeleng kecil.
Tidak. Itu tidak mungkin.
“Kenapa, Tuan?”
Areksa tersadar. “Tidak.”
Ia kembali fokus pada luka di jari Adira. “Setelah ini jangan pegang durinya sembarangan.”
Adira tersenyum kecil. “Iya.”
Areksa masih menggenggam tangannya.
Baru beberapa detik kemudian ia menyadari posisi mereka.
Ia segera melepaskan tangan Adira. “Maaf.”
Adira menggeleng. “Tidak apa-apa, Tuan.”
Keduanya terdiam.
Angin siang berembus pelan melewati taman.
Areksa kemudian menatap bunga mawar merah di hadapan mereka.
“Dari dulu kamu suka mawar?”
Adira mengangguk. “Sangat suka.”
Jawaban itu kembali membuat dada Areksa terasa sesak oleh sebuah kenangan yang belum sepenuhnya ia ingat.
Ia menatap Adira lebih lama. Kenapa jawaban itu terasa begitu familiar?
🥰🥰🥰🥰🥰🥰