Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Rahasia Tuan Misterius
"Atau," kata Bunga pelan malam itu, "aku berhenti berharap tangga orang lain tidak akan patah saat kupijak."
Tuan Misterius tidak menjawab lama sekali.
Diamnya tidak seperti ketika ia kesal atau sedang menyusun strategi. Kali ini diamnya terasa seperti ia sedang menatap kalimat itu dari banyak sisi, mengukur apakah Bunga sedang membicarakan Baskara, dirinya sendiri, atau seluruh dunia yang selama ini membuat orang seperti Bunga harus meminjam tangga orang lain.
Keesokan paginya, Bunga membawa dress biru dan blazer putih tulang ke laundry kecil dekat pasar. Pemilik laundry mengernyit melihat noda anggur.
"Ini bahan bagus, Mbak. Kalau salah obat, warnanya bisa rusak."
Bunga mengangguk, mencoba menghitung uang di dompet. Jumlahnya menyedihkan.
"Minta estimasi tertulis," kata Tuan Misterius.
"Buat apa?"
"Kalau noda tidak hilang karena penanganan salah, kamu perlu bukti."
"Ini laundry, bukan sidang."
"Semua tempat bisa menjadi sidang kalau ada kerugian."
Bunga menahan napas, lalu meminta estimasi tertulis seperti yang disarankan. Pemilik laundry tampak heran, tetapi menurut. Setelah keluar, Bunga berhenti di depan kios pulsa.
"Kamu sering begini," katanya.
"Begini apa?"
"Ngomong seolah semua hal punya pasal, prosedur, dan dokumen pendukung."
"Karena sering kali memang begitu."
"Orang biasa menyelesaikan masalah pakai minta tolong atau marah-marah."
"Itu sebabnya orang biasa sering kalah."
Bunga tidak langsung membantah. Kalimat itu menyebalkan, tetapi benar dengan cara yang membuatnya ingin menendang batu.
Hari itu seharusnya ia pergi bersama Anindya melihat program komunitas. Namun Anindya mengirim pesan bahwa jadwal diundur dua hari karena sponsor mendadak meminta revisi laporan. Bunga membaca kata `sponsor` dan langsung curiga.
`Sponsor mana, Mbak?` ia mengetik.
Balasan Anindya datang beberapa menit kemudian.
`Salah satunya perusahaan keamanan. Ada yang minta logo mereka ditampilkan lebih besar. Menyebalkan.`
Bunga menunjukkan layar pada dirinya sendiri, seolah Tuan Misterius tidak ikut melihat.
"PT Garuda Perkasa?" tanyanya.
"Kemungkinan besar," jawabnya.
"Kamu tahu dari satu kalimat?"
"Mereka sering melakukan itu."
"Melakukan apa?"
"Memasukkan klausul publikasi di halaman belakang kontrak, lalu berpura-pura itu bagian administratif. Biasanya ada kalimat tentang `hak penempatan logo setara sponsor utama` dan `hak penyebutan dalam seluruh materi komunikasi`. Kalau penyelenggara lelah, mereka tanda tangan tanpa sadar logo perusahaan itu harus muncul di mana-mana."
Bunga menatap layar ponsel, lalu membuka pesan Anindya lagi. "Kamu bicara seperti pernah baca kontraknya."
"Saya pernah membaca banyak kontrak."
"Kontrak mereka?"
"Kontrak sejenis."
"Tuan."
"Bunga."
Ia mendengus. "Kita sudah sampai tahap saling panggil nama kalau bohong?"
"Saya tidak berbohong."
"Kamu hanya tidak menaruh semua kebenaran di meja."
"Itu definisi umum strategi."
"Itu definisi umum bikin orang ingin menggigit tangan sendiri lagi."
Bunga berhenti berjalan.
"Sering?"
Tuan Misterius diam setengah detik. Terlalu singkat untuk orang lain, terlalu panjang untuk Bunga yang mulai hafal jeda-jedanya.
"Maksud saya, pola perusahaan seperti itu umum."
"Bukan itu yang kamu maksud."
Ia tidak menjawab.
Bunga masuk ke warung kecil, membeli es teh manis satu plastik, lalu duduk di bangku kayu. Udara siang panas, motor lewat berisik, dan seorang anak kecil menangis meminta permen. Dunia biasa berjalan seperti biasa, sementara di kepala Bunga ada laki-laki yang tahu terlalu banyak tentang perusahaan keamanan hitam, kontrak sponsor, etiket, seni, hukum rumah sakit, dan cara menyusup ke elite circle.
"Kamu siapa sebenarnya?" tanya Bunga.
"Saya sudah memberi nama sementara."
"Tuan Misterius bukan jawaban. Itu lelucon yang kamu buat biar terdengar mahal."
"Saya tidak bisa menjawab sekarang."
"Tidak bisa atau tidak mau?"
"Dua-duanya."
Bunga menggigit ujung sedotan plastik. "Kamu kenal keluarga Prawira sebelum ini?"
"Saya tahu mereka."
"Kamu tahu Melati?"
"Secara umum."
"Baskara?"
"Cukup untuk menganalisisnya."
"Ratih?"
"Keluarga Permata punya banyak catatan."
Bunga mencondongkan tubuh. "Catatan di mana?"
Tuan Misterius terdiam lagi.
Kali ini Bunga tersenyum tanpa humor. "Nah. Kamu hampir keceplosan."
"Bunga."
"Jangan pakai suara guru. Aku bukan muridmu."
"Aku tahu."
Perubahan dari `saya` ke `aku` kecil saja, tetapi Bunga menangkapnya. Ia menatap es teh yang berembun di tangannya. Panas siang terasa turun sedikit.
"Kamu membenci Hartono," katanya lebih pelan.
"Ya."
"Bukan cuma karena dia jahat."
"Kejahatan seharusnya cukup untuk dibenci."
"Tidak dengan nada seperti itu." Bunga menekan plastik es teh sampai esnya berbunyi. "Setiap kali nama dia muncul, kamu jadi dingin. Bukan dingin biasa. Kayak orang yang pernah berdiri di depan api dan tidak bisa memadamkannya."
Di dalam kepalanya, emosi Tuan Misterius bergerak. Tipis, terkunci, tetapi ada. Bunga merasakannya seperti angin dari pintu yang dibuka sedikit.
"Dia membunuh banyak orang," katanya.
"Nenekku salah satunya."
"Bukan hanya Desa Kemuning."
Bunga berhenti menggigit sedotan.
"Apa maksudmu?"
"Ada tempat lain. Banyak tempat lain. Tambang, proyek keamanan, pemindahan warga, kontrak palsu. Kalau bukti yang saya bawa malam gala berhasil terbuka, orang-orang akan melihat pola itu."
"Bukti itu hilang."
"Sebagian sudah terkirim."
Bunga menegakkan tubuh. "Kepada siapa?"
"Orang yang bisa menyimpannya."
"Kamu punya orang."
"Saya punya... pernah punya jaringan."
Kata `pernah` membuat Bunga merinding. "Kamu bicara seperti orang mati."
"Secara teknis, kondisi tubuh saya belum kita ketahui."
"Jangan bercanda."
"Itu bukan bercanda."
Untuk pertama kalinya, Bunga benar-benar memikirkan tubuh Tuan Misterius. Bukan suara di kepala. Bukan komentator cerewet. Tubuhnya. Di mana? Rumah sakit? Kamar mayat? Disembunyikan? Apakah ada orang yang mencarinya?
"Kamu punya keluarga?" tanya Bunga.
"Ada."
"Mereka mencarimu?"
Hening.
Bunga menyesal begitu pertanyaan itu keluar. Dari dalam dirinya, datang rasa kosong yang bukan miliknya, sama seperti saat dorongan di warung kopi itu muncul, tetapi kali ini tidak menjerumuskan. Hanya dingin, sepi, dan sangat tua.
"Mungkin," jawab Tuan Misterius.
Jawaban itu lebih menyakitkan daripada `tidak`.
Sebelum Bunga bisa bertanya lagi, ponsel pinjaman bergetar. Pesan dari Melati masuk.
`Bung, kamu lihat berita? Ada artikel soal gala dinner kemarin. Katanya ada tamu penting hilang setelah keributan hotel. Namanya belum disebut. Aneh banget.`
Bunga membaca pesan itu tiga kali.
Tuan Misterius tidak bersuara.
"Tuan," panggil Bunga.
Tetap tidak ada jawaban.
Di layar, Melati mengirim tangkapan layar berita. Judulnya membahas `insiden tertutup di gala amal Jakarta` dan `seorang eksekutif muda dikabarkan kritis`.
Bunga merasakan udara di warung mendadak terlalu tipis.
"Eksekutif muda," bisiknya. "Itu kamu?"
Di dalam kepalanya, Tuan Misterius hanya berkata, sangat pelan, "Jangan buka berita itu di tempat umum."
Bunga menutup layar tepat ketika televisi kecil warung menayangkan berita siang. Di bagian bawah layar, judul yang sama mulai berjalan pelan, diikuti suara pembaca berita yang datar.