Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Athor
Tidak tahu setan apa yang merasuki tubuh pria itu, yang membuat ia menjadi sangat br*ngsek begini, memaksa seorang wanita untuk tidur dengannya dengan memperkosanya dan memperlakukan dengan teramat kasar.
Hal ini baru terjadi kepada Nayla. Penolakan gadis itu seolah menjadi tantangan yang harus ia taklukkan dan melihat wanita itu membuat gairahnya naik sehingga andrenalin nya semakin terpacu untuk melancarkan aksi bejadnya yang membuat nafsunya sulit untuk dibendung.
Pria itu merasa sudah kehilangan akal sehatnya saat melihat Nayla lagi. Rasa sakit hati, rindu dan penghinaan gadis itu terkumpul menjadi satu, membuat ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Kenapa hasrat ku begitu besar pada pel*cur ini? Setiap inci dari tubuhnya membuat ku bergairah? Kenapa tubuhnya harus harum ini? Aromanya sangat memabukkan? Ya Tuhan, aku tak bisa menghentikan ciumanku darinya, aku tak bisa menghentikan permainan ini meski dia sudah memohon dan menangis, ratap pria itu dalam hati.
Kenapa dia sangat menggodaku? bibirnya, lehernya, dadanya, perutnya, jemarinya bahkan jeritannya pun membuatku sangat ter*ngsang. Membuatku ingin melakukan lebih dan lebih lagi, hingga aku benar-benar terpuaskan olehnya.
Kenapa engkau hadirkan wanita sesempurna ini di hadapanku? yang membuat aku harus menjadi br*ngsek karenanya, sesal sang pria yang mendapati Nayla tak berhenti menangis di depannya.
Gadis itu masih berada dalam pelukan tubuh kekarnya, bahkan miliknya masih berada dalam ruang rahasia gadis itu. Ia tidak ingin buru-buru mencabutnya karena masih ingin menikmati sensasi denyutan yang di berikan Nayla untuknya, meski pemiliknya tak berhenti menangis dari mulai star hingga finis permainan.
"Aku tahu ini salah, tapi aku benar-benar menginginkanmu?" bisiknya sambil mencium ujung kepala Nayla. "Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri sehingga menyakitimu seperti ini."
Nayla menggeser tubuhnya sehingga membuat jarak diantara mereka meregang dan penyatuan mereka terlepas, "Sekarang kamu baru sadar jika perbuatan mu itu menyakitiku?" tanya Nayla sambil menatap didepannya.
"Aku akan membayarnya dengan mahal untuk permainan kita kali ini sayang. Sebutkan saja berapa yang kamu minta?"
Ia tidak tahu dimana letak kesalahan ucapannya tadi, tapi hal itu membuat Nayla menjadi marah padanya, ia dapat melihat tatapan membunuh dari mata bulat milik gadis ayu yang begitu mengoda.
"Jika kamu ingin membayar ku, maka pergilah dari kehidupan ku untuk selama-lamanya dan jangan pernah muncul lagi. Karena aku sangat membencimu!" tegas dan dingin.
"Itu tidak mungkin, aku bisa memberimu apa saja yang kamu mau tapi tidak dengan melepaskan mu."
"AKU BENCI KAMU!!" Teriak Nayla, "AKU TIDAK MAU MELIHAT MU LAGI!!!"
Menarik selimut, menutupi tubuhnya hingga sampai ke ubun-ubun.
"Hey gadis, aku akan selalu ada di dekat mu, sayang. Supaya kamu puas membenciku. Karena aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari kehidupanku gadis kecil." Ujar ia bersunguh-sungguh sambil kembali memeluk tubuh Nayla yang tertutup oleh selimut tebal. "Tidurlah, aku tahu kamu lelah!" Pintanya.
"Aku tidak mau tidur, aku mau pulang!" Nayla membuka wajahnya lalu menjauh dari pria itu.
"Hey, tapi aku masih ingin disini bersama mu?" pinta sang pria.
"Aku tidak perduli. Aku mau pulang," Ucapnya sambil pergi membawa selimut putih itu untuk membalut tubuh kecil itu ke kamar mandi, membiarkan tubuh lelaki itu terbuka begitu saja. Sehingga pria itu berlari menyambar bathrobe miliknya yang tergeletak dilantai untuk menutupi tubuhnya yang tel*njang bulat.
"Dasar cewek keras kepala!" Umpatnya kesal. "Ok. Aku antar kamu pulang setelah kamu makan siang dulu. Aku tidak mau melihatmu pingsan di jalan karena kelaparan," Kata-katanya yang seratus persen tidak di perdulikan oleh Nayla karena cewek itu sudah pergi ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan kencang sehingga terdengar,
"DUMMM" bunyi pintu dibantingnya.
*
*
Sepeninggalan Nayla, ia menelpon layanan hotel untuk mengantarkan menu makan siang juga beberapa baju ganti untuk gadis itu.
Sesuai janjinya ia membayar mahal atas waktu Nayla siang hari ini. Namun gadis itu tidak sudi menerima uangnya, bahlan Nayla menyobek dua buah cek senilai dua ratus juta tepat di depan matanya.
"Baiklah jika kamu tidak mau uang ku, paling tidak biarkan aku mengantar mu pulang," pinta pria itu.
"Aku tidak sudi," jawab Nayla
"Baiklah, jika aku tidak bisa mengantarmu, maka kamu tidak usah pulang. Kita bisa tinggal disini, bermalam disini dan bercinta lagi, Gimana? Bukankah itu lebih mengasikkan ketimbang kamu harus pulang? Tidak usah sok jual mahal, di luaran sana banyak kok gadis yang mengantri untuk tidur dengan ku, bukan hanya kamu saja. Bahkan diantara mereka juga ada yang mau dengan ku meski aku tidak harus membayar dia, Gratis," Ujarnya sombong.
"Dasar murahan," guman Nayla, "Jika begitu, tidur saja kamu dengan mereka, kenapa kamu harus menahan ku disini?"
"Aku tidak menahan mu, aku hanya berniat mengantarkan kamu pulang. Jika tidak mau, berarti kamu setuju untuk bermalam disini dan bercinta lagi," Jawabnya tak acuh sambil memainkan remote TV memencet-mencet tombolnya memindah siarannya dari satu cannel ke cannel yang lain sesuai selera.
"Ok, ok. Aku setuju untuk kamu antar pulang tuan yang egois!" Maki Nayla menahan marah.
Ia memang sengaja mengunci pintu Hotel, sehingga Nayla tidak bisa keluar tanpa persetujuannya.
Kini ia tersenyum senang, sehingga wajahnya yang ganteng menjadi makin ganteng, "Nah begitu dong nona manis," Ujarnya sambil memegang bahu Nayla dan,
"Cup"
Sebuah kecupan mendarat di bibir pink gadis itu.
Tidak diragukan lagi, pemiliknya langsung melotot garang, yang membuat ia semakin gemas, sehingga dirinya mengacak rambut Nayla yang sudah tersisir rapi menjadi berantakan lagi.
Di gandeng tangan gadis itu saat mereka keluar dari kamar bersama-sama.
*
*
*
*
Begitu bugetty Veron warna navy pria gila itu berhenti di depan rumah pamannya, Nayla langsung membuka pintu dan melompat turun tanpa permisi, apa lagi mengucapkan trimakasih kepada pemiliknya, tidak sudi. Tanpa menoleh kebelakang Nayla langsung membuka pintu pagar dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin berlama-lama dengan pria yang bahkan namanya saja ia tidak tahu.
Benar-benar pria menyebalkan. Nayla berharap bahwa ia tidak akan bertemu dengan orang itu lagi sepanjang hidupnya.
Bagaimanapun juga lelaki sialan itu adalah orang menghancurkan hidupnya, menjatuhkan harga dirinya juga merendahkannya dan sekaligus orang yang paling ia benci di dunia ini.
Setelah berada dibalik pintu, gadis itu terduduk dilantai, lututnya lemas, air matanya tumpah ruah.
Bagaimana bisa ada orang yang semena-mena begitu, mengajak bertemu dengan cara menculiknya. Lalu memperkosa dan merendahkan orang lain seperti itu.
Hari ini merupakan pukulan berat bagi Nayla. Nahkan lebih berat ketimbang malam dimana ia harus menyerahkan keperawanannya. Paling tidak, saat itu ia tidak sadar, dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, juga tidak ingat dengan jelas hingga sekarang. Sedang hari ini ia dalam keadaan sadar seribu persen. Menyaksikan dan merasakan bagaiman buasnya pria itu menyentuh, meraba, menyesap setiap inci dari tubuhnya. Membuat ia semakin jijik pada pria itu.
Yang lebih membuat Nayla gila, saat ia tidak bisa bercerita kejadian yang menimpanya kepada arang lain. Termasuk orang tua dan sahabatnya, apalagi kepada sang pacar. Karena ia takut, juga tidak sanggup apa bila harus menanggung malu jika kejadian ini sampai terkuak ke ranah publik.
Mungkin beginilah yang dirasakan gadis-gadis korban pemerkosaan, terlalu takut untuk mencurahkan kejadian memalukan yang telah ia alami dan dia rasakan kepada orang lain. Mencoba kuat juga tidak sanggup, menceritakan juga tidak mampu.
Pemerkosaan memang sangat menganggu jiwa. Secara tidak langsung menyakiti mental seseorang. Menggoreskan luka dan trauma seenggaknya itu yang Nayla rasakan.
"Mbak Nay?" tanya seorang gadis ABG yang heran melihat kakaknya nangis dibalik pintu. "Kenapa mbak nangis? Memang ada apa?"
Buru-buru Nayla menghapus air matanya, "Tidak Rahel, tidak ada apa-apa, mbak cuma kelilipan saja," bohong Nayla, ia tidak mau adiknya sampai tahu apa yang sudah terjadi padanya.
"Mbak berantem lagi ya sama mas pacar? Soalnya tadi, tidak sengaja Rahel lihat mbak pulang diantarkan cowok. Itu orang yang bikin mbak menangis?" tanya Rahel, "Tenang saja mbak, nanti biar Rahel yang bikin perhitungan sama dia. Berani-beraninya dia menyakiti mbak ku dan membuatnya menangis begini."
Nayla memeluk Rahel, tangisnya semakin kencang. Andai saja kamu bisa melakukan itu semua untuk ku, aku akan senang sekali dik, karena dia bukan hanya membuatku menangis, tapi dia juga sudah menyakiti fisik dan fisikis ku. Aku sangat membencinya. Seandainya saja aku punya keberanian lebih, ingin aku membunuh dia, agar sakit hatiku terobati. Tapi kenapa aku tidak berdaya seperti ini? Kenapa aku lemah? batin Nayla dalam dekapan adik sepupunya.
Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi ini semua? Apakah aku mampu? Apakah aku sanggup menjalani hari-hari ku seperti biasanya? Apakah aku masih sanggup untuk bertemu dengan Farel dan teman-teman yang lain? Apakah semua orang itu akan mengerti keadaan ku, jika aku bercerita yang sebenarnya? Gumamnya di hati. Nayla benar-benar sangat frustasi karena kejadian ini.
Ia tahu semua ini kesalahan, sesuatu yang salah dan tidak seharusnya terjadi dalam hidupnya, tapi ia tidak tahu dimana harus memperbaiki atau pun mengakhiri kesalahan tersebut biar semua benar-benar berakhir. Agar tidak terulang dan terjadi lagi padanya.
Ia bingung, putus asa, juga rapuh. Kenapa dia harus menerima hal seperti ini dalam hidupnya. Kenapa harus dia? Kenapa? Mamun semua tak ada satu pun jawaban yang ia dapatkan. Apa kah semua ini memeng salahnya? Jika memang iya, bagian mana yang salah, agar Nayla dapat memperbaiki.
Semua sangat melukainya, menggoreskan luka yang teramat dalam baginya, yang membuat ia tak tahu apakah dirinya sanggup menanggung ini semua atau tidak, memikirkan itu membuat Nayla semakin setres akhirnya ia jadi menangis histeris.
Rahel menghapus air mata Nayla penuh sayang, dia memang tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa kakak sepupunya, namun gadis tomboi itu merasa ada sesuatu yang tidak beres pada mbaknya. Melihat Nayla menangis begitu, membuat gadis itu sangat prihatin. Pasalnya, selama mereka tinggal bersama. Rahel belum pernah sekalipun melihat Nayla menangis apalagi sampai sekencang ini.
"Sudah lah mbak, tidak ada gunanya mbak Nay nangisi dia. Toh kalian juga sudah putus. Jadi kenapa mbak harus nangis. Rahel doakan mbak Nay dapat cowok yang lebih baik dari dia biar tidak sakit hati lagi," Jawab Rahel bijak dan sok tahu banget, sambil menepuk-tepuk punggung Nayla sok dewasa.
*
*
Setelah dirasa Nayla sudah cukup tenang, Rahel membawanya masuk keruang keluarga mendudukkan Nayla di sofa, kemudian gadis itu meninggalkan kakak sepupunya sendirian. dia masuk ke dapur, yang tak seberapa lama Rahel datang lagi menghampiri Nayla dengan segelas susu coklat panas,
"Di minum mbak, biar terasa lebih tenang. Habis ini mbak bisa tidur dikamar kalau mau," Lanjutnya, sambil duduk disebelah Nayla yang menyeruput sedikit isi gelas kaca itu.
"Tadi aku hampir saja marah sama mbak Nay, karena mbak pergi tapi rumah tidak di kunci, pintunya cuma di tutup begitu saja. Selain itu mbak juga tidak bawa HP jadi tidak bisa di hubungi. Tapi lihat mbak nangis begini aku gak jadi marah deh," Tuturnya sambil tersenyum.
"Maaf," sesal Nayla pelan.
"tidak apa, Rahel sudah maafin kok."
"Rahel," suara Nayla parau, "Mbak minta, kejadian ini jadi rahasia kita berdua ya? Jangan cerita sama bapak dan ibu kalau mbak nangis. Mbak tidak mau mereka ikutan sedih gara-gara mbak?!"
"Iya, Rahel tahu kok. Dan tidak akan cerita ke siapa-siapa soal ini," Jawabnya menyakinkan, "Pokoknya ini akan menjadi rahasia kita berdua."
"Makasih ya dik," Lanjut Nayla, "sekarang susunya sudah habis jadi mbak mau ke kamar dulunya?"
"Iya," jawab Rahel sambil menerima gelas kosong dari tangan Nayla.
*
*
*
*
Tuh kah, pemerkosa itu memang sangat menyakitkan.