NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Tawa Tuan Lin terhenti. Kepalanya tertunduk seperti kembali dalam posisi meditasi awalnya . Darah merembes dari lehernya tapi dia masih dalam posisi duduknya . Aku bergegas berdiri melangkah cepat menuju meja tempat Prototype pemindai . Di luar ruangan kaca , puluhan tukang pukul menatap tidak mengerti . Mereka sepertinya baru akan melakukan sesuatu jika Tuan Lin memberikan kode , atau tidak lagi Dalam posisi duduk bermeditasi . Ini keuntungan besar bagiku . Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan ini . Posisi duduk tuan Lin masih sama seperti sebelumnya .

Aku berjalan menuju pintu kaca membawa kotak berisi pemindai

"buka pintunya!" berseru tegas.

Kerumunan tukang pukul menatap bingung. Apa yang terjadi? Mereka bergantian menatapku dan menatap Tuan Lin yang masih tertunduk dengan tenangnya di lantai permadani ruangan meditasi 20 meter dari mereka .

Aku menunjukkan kotak berisi pemindai "tuan kalian memberikan kotak ini. pembicaraan selesai."

Salah satu tukang pukul akhirnya menekan tombol . Pintu kaca terbuka .

Putra tertua keluarga Lin menatapku tidak percaya . Tapi dia hanya bisa terdiam . Mana mungkin ? Sejengkal apapun dia kepadaku jika itu adalah keputusan ayahnya , dia tidak bisa melakukan apapun ,juga tukang pukul lainnya .

jika pemindai itu diberikan begitu saja oleh tuan Lin, itu berarti aku harus dibiarkan keluar dengan selamat .

Aku mengambil jas di atas meja lalu mengenakannya . Dengan tenang Aku meraih pistol colt, telepon genggam, dan memakai sepatu, lantas melangkah santai menuju pintu baja . Waktuku terbatas , aku setidaknya harus keluar dari pintu baja sebelum mereka menyadari ada sesuatu yang ganjil dengan Tuan Lin .

"buka pintunya!" aku menyuruh.

Tukang pukul ragu ragu, menoleh pada putra tertua.

"waktuku tidak banyak, buka pintunya!" aku melotot.

Salah satu tukang pukul akhirnya menekan tombol elektronik, membuka pintu baja. Aku melewatinya di bawah tatapan tidak mengerti. Bagaimana mungkin bos mereka mengalah begitu saja?

persisi saat aku berhasil melintasi pintu baja itu, putra tertua melihat darah yang merembes di kimono tuan Lin. Sulaman burung Phoenix menjadi merah, untuk kemudian tubuh tuan Lin tergeletak di atas karpet. Segera mengerti apa yang terjadi, dia berseru kalap, "bunuh dia! Jangan biarkan dia lolos."

Aku segera bergerak cepat, menunduk, mencabut pistol colt, menembak panel elektronik pintu baja. percik api keluar saat panelnya hancur. Pintu itu menutup dengan bunyi debam keras, dan tidak bisa lagi dibuka dari dalam. Rencanaku berhasil, paling tidak aku sudah mengurangi jumlah musuhku.

Tapi masih ada puluhan tukang pukul yang berjaga-jaga di lorong . Sekali terdengar teriakan putra tertua keluarga Lin , mereka refleks mengangkat M16 . Puluhan senjata menyalak di depanku, tanda tukang pukul yang berjaga di lorong mulai menyerbu . Aku lompat ke balik keramik-keramik raksasa yang langsung hancur berkeping-keping terkena peluru . Tubuhku terus berguling menuju tiang pualam . Tempat perlindungan yang lebih baik sambil balas menembak . Tiang itu mulai rontok dan berguguran seperti remah roti . Aku mengeluh dalam hati . sialan, ke mana Yuki dan Kiko? Sekarang adalah tugas mereka untuk mengalihkan perhatian . Aku tidak akan bertahan 5 menit di bawah hujan peluru .

Aku menarik telepon genggam dari saku

"kalian ada di mana?" aku berteriak, berusaha mengalahkan hingar-bingar suara tembakan.

"sedikit lagi tiba, Kenzy."

"Astaga! Ada setidaknya dua puluh senjata M16 menembaki ku saat ini, dan akan ada puluhan yang lain segera datang ke lantai 40, ternyata kalian belum sampai?"

"ini semua salah Yuki, dia keasyikan berjudi di bawah."

"segera, Kiko!! Atau aku tidak akan membayar kalian walau sebatang emas pun." aku mendelik, menutup telepon, kembali menembak ke depan.

satu menit berlalu. Aku berhasil menembak enam orang tukang pukul, tapi rentetan peluru M16 seolah tidak ada habisnya.tiang tempatku berlindung hampir runtuh . Dua orang tukang pukul terlihat bergabung di ujung lorong , membawa pelontar granat.

Dua orang itu mengangkat senjatanya siap menembak . Saat itulah dari ujung lorong terlihat masuk seseorang pelayan bersih-bersih yang mendorong gerobak peralatan bersihnya . Tidak ada yang memperhatikan karena itu hal lumrah, hanya seorang pelayan yang terjebak dalam pertempuran dunia hitam . Tapi aku mengenalinya , pelayan yang satu ini justru merangsek ke dalam pertempuran.

Pelayan itu adalah White . Dia mengetuk sesuatu dari global cleaning servicenya mengeluarkan senjata Mitra liur , Thomson sub mesin gun yang bisa memuntahkan 100 peluru per menit . Iya segera melepaskan tembakan ke depan membantuku . Dua tukang pukul yang mengangkat pelontar granat tersungkur, senjatanya meledak saat tubuh mereka jatuh . Saat meledak , granat itu menghancurkan dinding beton lantai 40 . Dari kejauhan kota Makau pasti terlihat jelas ledakannya .

"kau baik baik saja, Kenzy?" white bertanya dari seberang.

Aku mengangguk, segera mendekatinya, melangkahi tubuh tukang pukul yang bergelimpangan. "terima kasih, white. Kau datang tepat waktu."

"aye aye, Kenzy. Masih ada sepuluh lantai sebelum kita tiba di atas gedung, Kenzy. Semua lantai penuh oleh tukang pukul, aku sudah memeriksanya saat bersih bersih. Tidak akan mudah melewati tukang pukul keluarga Lin yang sedang marah."

Saat aku hendak mendesak si kembar, akhirnya mereka mengerjakan tugasnya. Lampu seluruh gedung grand Lisabon mendadak padam. Itulah pengalih perhatiannya. White melemparkan kacamata infrared kepadaku. aku mengenakannya. Saatnya kami bergerak dalam gelap. Waktuku tidak banyak, genset cadangan akan berfungsi dalam hitungan menit.

Aku memimpin di depan, white mengikuti ku. Segera meninggalkan lorong lantai 40. Kami menuju tangga darurat karena lift pasti mati. Dengan cepat menaiki anak tangga darurat.

Masih empat lantai lagi dan situasi makin rumit. White yang menahan serbuan dari bawah terdesak. Aku juga kesulitan naik karena ada banyak tukang pukul yang menunggu di atas.

"kau baik baik saja white?" aku berteriak sambil terus menembaki tukang pukul yang turun.

"buruk, Kenzy! Amunisiku hampir habis." white balas berteriak.

Sial, bagaimana jika genset cadangan mereka hidup? Itu akan menyulitkan sekali.

"peluruku habis, Kenzy!" barulah dua menit setelahnya white berteriak.

Saat kami terdesak, si kembar datang, bergabung dari bawah. Mereka menembaki tukang pukul yang mengejar kami dari bawah. Segera si kembar bergabung dengan kami.

"kalian, astaga! Kalian terlambat sekali" white mendengus melihat si kembar.

"ayolah white, kalimat yang harusnya kau ucapkan adalah 'terima kasih'." Yuki menimpali sambil memberikan white senjata AK47

"ayo bergegas, genset cadangan mereka akan hidup sebentar lagi" aku mengingatkan.

"kita bisa santai saja, sebagai ganti keterlambatan, kami meledakkan genset cadangan mereka." Kiko melangkah memimpin.

di depan dengan santai.

akhirnya kami sampai tiba di atap gedung dan segera menuju helipad. Helikopter kamu sudah siap terbang. persis saat kami naik, pilot menarik tuas, baling baling helikopter berputar kencang dan kami mengudara.

Misiku berhasil dengan sempurna. Prototype pemindai itu telah berada di tangan keluarga Thong. Aku menatap untuk terakhir kalinya gedung grand Lisabon yang mengepulkan asap tebal.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!