Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Surya menenangkan diri dan mengeluarkan korek api dari saku mantelnya.
Namun, Surya segera menyadari ada yang tidak beres... kotak korek api itu berlumuran darah dan remuk. Ia merangkak masuk ke bawah selimut mayat, tetapi tidak menyadarinya.
Surya buru-buru menyeka darah di kotak korek api, mengeluarkan sebatang korek api dari dalamnya, dan mencoba menyalakannya dengan tangan gemetar, tetapi sia-sia. Korek api itu sangat lembap, dan hanya satu yang mengeluarkan asap biru setelah digosok beberapa kali. Asap itu pun padam dengan cepat.
Itu justru membocorkan posisinya... Di medan pertempuran melawan Belanda, para serdadu kolonial sangat terlatih, mereka peka terhadap asap atau cahaya sekecil apa pun, karena bisa berarti ada pejuang republik yang bersembunyi.
Beberapa detik kemudian, rentetan peluru senapan KNIL memberondong ke arah posisi Surya.
“Celaka!” umpatnya. Ia tak pernah menyangka sebuah korek api kecil bisa membuatnya ketahuan setelah segala perhitungan yang ia lakukan.
Situasi kian memburuk. Sebuah granat dilemparkan ke dekatnya dan mengeluarkan asap pekat. Surya buru-buru berguling dan bersembunyi di kawah tanah hasil ledakan artileri sebelumnya.
Dengan suara duuum! tanah dan lumpur terlempar ke udara, jatuh kembali seperti hujan bercampur serpihan kain dan daging manusia.
Melihat keadaan itu, Mayor Wiratmaja yang memimpin kompi gerilyawan segera mengarahkan tembakan balasan untuk melindungi Surya. Sang mayor, yang tidak menyadari situasi pasti, mengepalkan tinjunya dengan cemas dan berteriak:
“Tunggu apa lagi, Surya?! Lemparkan bom molotov itu!”
Surya merasakan getir di dadanya. Di tengah kobaran api dan ledakan yang berserakan di mana-mana, di pihaknya sendiri tak ada sebatang api pun yang bisa ia gunakan untuk menyalakan bom molotov.
Ketika menoleh, matanya tertuju pada sesosok mayat pejuang yang tergeletak miring. Tanpa berpikir panjang, ia segera memeriksa saku jaket lusuh sang korban.
Hasilnya mengecewakan tidak ada korek, hanya sebuah tabung kecil dari bakelit dan kartu identitas tentara.
Sebagai seorang pejuang republik, Surya tahu tabung kecil itu biasa digunakan untuk menyimpan data identitas nama, asal daerah, hingga satuan agar jika gugur di medan perang, satu lembar dimakamkan bersama jenazah, dan satu lembar lainnya dilaporkan ke markas.
Namun, ia terkejut saat membuka tutup tabung itu bukan kertas identitas yang ia temukan, melainkan beberapa batang korek api kering!
Surya sempat terdiam. Ia paham benar, banyak pejuang yang menganggap kartu identitas itu seperti “medali maut” seakan sudah menyiapkan kematian. Karena tak percaya takhayul itu, sebagian pejuang lebih memilih membuang isinya dan menggunakan tabung tersebut untuk menyimpan barang lain, seperti tembakau, jarum, atau korek api.
Kali ini, keberuntungan berpihak padanya. Surya mendapatkan korek api cadangan.
Ia segera menyalakannya, api kecil berkedip-kedip di tengah kegelapan malam. Dengan tangan mantap, Surya menyalakan bom molotov, lalu bersiap. Peluru musuh berdesing lewat di atas kepalanya, memaksanya tiarap sebentar sebelum ia bangkit lagi.
Saat tembakan mereda sesaat, Surya melompat keluar dari persembunyiannya dan berlari mendekati tank Belanda yang mengamuk di medan itu.
“Rat-tat-tat-tat!” Rentetan peluru senapan mesin hampir mengikuti setiap langkahnya.
Awalnya, niat Surya hanya melemparkan bom molotov dari jarak dekat, persis seperti perintah Mayor Wiratmaja. Namun setelah melihat posisi tank, ia segera berpikir ulang.
Ia tahu betul: bom molotov tidak akan efektif jika sekadar dilempar ke sembarang bagian baja. Botol itu harus mengenai area vital dekat mesin atau pipa knalpot agar membuat mesin panas berlebihan dan terbakar.
Masalahnya, dari posisi Surya sekarang, ia harus melempar bom molotov dengan lengkungan sempurna melewati menara tank, agar tepat jatuh di bagian belakang lapis baja.
Bukan hal mudah. Tapi Surya pernah jadi pelempar andalan di masa mudanya, dan kali ini, ia harus mempertaruhkan segalanya demi republik.
Di sisi lain, Surya hanya memiliki satu bom molotov di tangannya. Itu berarti ia hanya punya satu kesempatan hidup.
Jika lemparannya meleset, maka nasibnya hanya satu: kematian.
Alasannya sederhana. Setelah bom molotov itu dilempar, baik tentara KNIL maupun tank Belanda pasti akan mengarahkan perhatian penuh padanya. Jika tank itu gagal terbakar, peluang Surya untuk bertahan hidup akan sangat kecil.
Pilihan lain memang ada berlari langsung ke arah tank, mendekat hingga jarak sangat dekat, lalu melemparkan bom molotov tepat ke lapisan baja belakang mesin. Dengan cara itu, peluang melumpuhkan tank akan jauh lebih besar.
Untungnya, Surya tahu seluk-beluk taktik. Tank Belanda itu, buatan lama peninggalan perang, memiliki titik buta di sisi kanan dan kiri. Senapan mesinnya terpasang di bagian depan dan dekat meriam utama, bukan di bagian belakang. Ditambah lagi, gerakan putarannya lamban, sehingga butuh waktu untuk mengarahkan moncongnya ke sasaran.
Artinya, dalam momen singkat ini, tank yang ditakuti itu hanyalah bongkahan besi besar.
Lagi pula, badan tank itu kini miring, menghalangi pandangan tentara Belanda yang berada di belakangnya. Jika ia cukup cepat, ia bisa memanfaatkan perlindungan tubuh tank itu sendiri untuk berlindung setelah melempar bom.
Maka, Surya mengambil keputusan: menyerang dari jarak dekat!
Keputusan itu terbukti benar.
Di bawah tatapan kaget para pejuang republik dan serdadu Belanda, Surya berlari zig-zag menembus hujan peluru. Tubuhnya merunduk rapat, hampir menempel pada tanah, sebelum akhirnya ia menempel ke sisi tank. Dengan teriakan lantang, ia mengayunkan tangannya dan melemparkan bom molotov tepat ke lapisan baja belakang.
“BRAKKK!!”
Botol kaca pecah, bensin tumpah, api langsung menjilat punggung tank. Ledakan kecil disertai kobaran api membungkus besi baja itu.
Seorang serdadu Belanda yang berada terlalu dekat ikut terkena percikan bensin terbakar. Ia menjerit panik, berlari tak tentu arah sambil tubuhnya dilalap api.
Kesempatan itu dipakai Surya untuk kabur. Ia tak berani menoleh, langsung berlari ke arah parit pejuang republik, berlindung di balik api dan asap yang membumbung tinggi di belakangnya.
Namun nasib sial kembali menghantam. Dalam kegelapan penuh asap mesiu, kakinya tersandung sesuatu keras. Surya terjerembab ke tanah.
Ketika melirik, ia mendapati kakinya tersangkut mayat rekannya sendiri yang sudah kaku. “Sialan!” umpatnya.
Akibatnya fatal. Tank Belanda yang terbakar itu masih bisa beroperasi, menara meriamnya berputar perlahan, senapan mesin kembar di sisi laras mengarah tepat ke tubuh Surya yang terjatuh.
Surya memejamkan mata rapat-rapat. Hatinya berkata, “Sudah habis riwayatku.”
Namun pada detik berikutnya...
DOOOMMM!!
Sebuah ledakan keras mengguncang udara. Asap hitam pekat menyembur dari punggung tank, disusul kobaran api besar yang melalap seluruh badan besi itu.
Tank Belanda itu akhirnya terbakar habis, menjelma bola api di tengah medan tempur.
Para pejuang republik yang melihat kejadian itu langsung bersorak, sementara Mayor Wiratmaja mengangkat tinjunya tinggi dan berteriak lantang:
“Hidup Republik! Surya berhasil!”