Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Menyelidiki Surya
Selena masih tidak percaya apa yang baru saja ia dengar, rasanya sangat tidak mungkin ayahnya yang hanya pedagang kecil, bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka nyaris kebingungan.
'Tuhan ... Sebenarnya ada apa?! Apa yang terjadi di dalam keluargaku,' batin Selena berucap.
Valen segera menunduk mencoba untuk menyelami, apa yang ada didalam benak gadis itu. "Sudahlah jangan berpikir tidak mungkin, yang kamu lihat kejadian tadi adalah sebuah kenyataan mutlak yang tidak bisa dilawan."
Selena mencoba untuk menerima meskipun di dalam hatinya masih ragu, namun kejadian tadi membuatnya sadar, tidak akan ada asal jika tidak ada apinya. "Don .....," panggilan lirih.
"Heeeemb," sahut Valen dengan berdehem.
"Boleh ... aku tidur di sofa ini sambil menunggumu bekerja," pinta gadis itu dengan nada yang sedikit bergetar dan tatapan ketakutan.
"Heeeemb ....," Valen segera menutup laptopnya tatapannya mulai terarah ke Selena.
"Memangnya kenapa? Tidur di kamar?!" tanyanya dengan nada yang dingin.
Selena hanya menunduk sambil meremas ujung roknya. "Ta ... kut ...," ucapnya tercekat, nampaknya kejadian tadi membuat dirinya masih mengalami trauma.
Valen menyeringai, dan mengulas senyum tipis. "Aneh ...di dalam tubuhmu itu mengalir darah seorang mafia yang cukup jenius, seharusnya kau berani seperti ayahmu."
"Ayahku bukan mafia, dia adalah sosok yang hangat dan penyayang keluarga," tolak Selena dengan cepat.
Valen tidak menggubris, ia tahu Selena masih belum terbiasa dengan kebenarannya, namun cepat atau lambat dia juga harus menerima kalau ayahnya memang mantan seorang kaki kanan Mafia.
Selena masih membeku di ruang kerja Valen, gadis itu merasakan lelah yang menguras tenaganya hingga tanpa sadar matanya mulai sayu, kepalanya terasa berat seolah tidak bisa tertahan lagi.
Tanpa meminta ijin dari Valen, gadis itu mulai meringkuk diatas sofa, sementara Valen masih sibuk dengan laptopnya, jari-jarinya bergerak cepat mengetik berbagai tombol dengan tatapan yang serius dan fokus ke layar monitor.
Ketukan jari Valen di atas keyboard mendadak terhenti. Ruangan kerja yang sunyi hanya dipenuhi suara mesin pendingin ruangan… dan satu suara lain yang begitu asing bagi telinganya, mulai terdengar "Dengkuran halus."
Valen menoleh pelan, dan pandangannya langsung jatuh pada sosok mungil yang kini meringkuk di atas sofanya. Selena, dengan rambut berantakan menutupi sebagian wajah, sudah terlelap. Nafasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, dan di sela itu terdengar suara dengkuran kecil yang nyaris seperti bisikan.
Alis Valen terangkat. Seketika, sesuatu yang jarang muncul, senyum samar, menghiasi wajah dinginnya.
“Heeeeemb… jadi ini putri dari Surya Wijaya Maheswari? Pewaris darah mafia yang katanya jenius… tapi mendengkur seperti anak kucing,” gumamnya rendah, seakan menertawakan namun ada kehangatan yang ia sendiri tak bisa tolak.
Ia bangkit dari kursinya, melangkah pelan mendekat. Tatapannya tak lepas dari wajah Selena yang tertidur pulas. Ada sisa-sisa air mata di sudut matanya, membuat Valen berhenti sejenak. Tangannya terulur, nyaris menyentuh pipi itu, tapi ia menahan diri.
Sebagai gantinya, ia menarik selimut tipis dari balik kursi, lalu perlahan menutupkan ke tubuh Selena yang meringkuk. Gerakannya sangat hati-hati, seolah takut membangunkan gadis itu.
Sesaat, Valen berdiri di samping sofa, kedua tangannya bersedekap, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Dingin… namun juga hangat.
“Tidurlah, Selena,” ucapnya lirih. “Untuk malam ini, kau aman di sini.”
Valen kembali ke kursinya, tapi matanya tak kunjung kembali ke layar laptop. Sesekali ia melirik, memperhatikan setiap tarikan nafas lembut gadis itu.
Di saat Valen mulai fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba saja, rintihan kecil keluar dari mulut gadis itu. "Tidak ... jangan kejar aku ... aku buka siapa-siapa, ayahku hanya pedagang kecil.
Seketika Valen mulai beranjak dari kursinya, langkahnya mulai mendekat duduk di sisi kepala gadis itu.
"Selena ... tenang ... tidak ada yang mengejar mu, selama ada aku kau aman," ucap Valen sambil menggenggam tangan gadis itu.
Tidur gadis itu masih belum normal, ia mulai menggelengkan kepalanya sambil merintih kecil seolah ia ingin menghindar dari kejaran seseorang di dalam mimpinya hingga pada akhirnya gadis itu terbangun dengan teriakan.
"Tidaaaak ....!" teriak Selena dengan napas ngos-ngosan dan keringat yang sudah membasahi tubuhnya.
"Selen, kau masih dalam penjagaannya," ucap Valen mencoba untuk meyakinkan gadis dihadapannya itu.
"Don ...," panggilnya dengan nada yang tercekat.
Tangan kokoh itu mencoba untuk memeluknya memberikan kehangatan dan ketenangan, begitu juga dengan Selena menyambut pelukan Valen dengan erat.
"Aku takut ...," rintihnya pelan.
"Shuuut ... jangan takut ada aku di sini," ucap Valen dengan cepat.Tangan kekar itu langsung menepuk-nepuk punggung gadis itu.
"Don ... temani aku tidur," pinta Selena, tanpa disadari ini kali pertama gadis itu meminta ditemani.
"Baiklah tapi kau harus tenang ya, tidak boleh berisik, ingat kau harus menjadi gadis yang pemberani," ucap Valen sambil membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
☘️☘️☘️☘️
Matahari baru naik setengah, cahaya tipis menerobos tirai ruangan kerja Valen. Di sofa, Selena masih tertidur pulas, selimut melingkupinya dengan rapi.
Valen sudah berdiri di depan jendela, jas hitamnya kembali tersemat sempurna. Tak ada lagi sisa kehangatan semalam. Tatapannya tajam, wajahnya dingin. Seolah yang menjaga Selena tadi malam hanyalah sisi dirinya yang lain, yang kini kembali terkubur.
Ketukan pintu terdengar tiga kali.
“Masuk,” perintah Valen datar.
Seorang anak buahnya melangkah masuk, menunduk hormat. “Don, semua orang sudah siap menerima instruksi.”
Valen menoleh sekilas, lalu kembali menatap keluar jendela. “Cari tahu semua hal tentang Surya Wijaya Maheswari. Setiap jejaknya, masa lalunya, orang-orang yang pernah berhubungan dengannya. Aku ingin semua data lengkap sebelum matahari terbenam.”
“Baik, Don.”
Valen menambahkan, suaranya lebih berat. “Dan jangan ada yang tahu, terutama Selena. Gadis itu tidak boleh menyadari bahwa ayahnya sedang dalam radar penyelidikanku. Mengerti?”
“Siap, Don.” Anak buah itu segera menghilang dengan cepat.
Valen kembali melirik ke sofa, ke arah Selena yang bergeming dalam tidurnya. Ada sekilas keraguan di matanya, namun secepat itu juga lenyap.
“Surya… apa sebenarnya yang kau sembunyikan sampai putrimu harus terseret sejauh ini?”
Bersambung ....
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf