(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)
Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨
⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dihajar saga
Tanpa mengetuk atau sekedar salam. Saga membuka lebar pintunya dengan kaki hingga menimbulkan suara hentakan pintu yang membuat Hopipah tersentak.
"Kak...," ucap Hopipah lirih, berusaha untuk bangkit.
"Sialan! Ngapain Lo nggak sekolah hah!" bentak Saga.
Tangannya terulur menarik rambut Hopipah dengan kuat, membuat Hopipah meringis hanya bisa memejamkan matanya.
"Maaf kak aku sakit," ucap Hopipah merintikan air matanya.
"Bodo amat Lo sakit atau enggak. Lo harus tetep sekolah! Harusnya Lo hargai gue udah keluarin duit buat beasiswa elo, gila!" sentak saga, menampar kuat wajah Hopipah, hingga kepala Hopipah terbentur pada tembok.
Sekedar menjerit pun rasanya sudah sulit. Hopipah hanya diam. Menahan sakit yang di berikan.
"Kak, kalow kau membanciku kau tidak sekalian membunuhku saja?" ucap Hopipah meringis kesakitan. Darah menetes dari keningnya. Ia menatap sayu pada saudaranya.
Saga terkekeh. Tangannya terulur mencekik leher Hopipah. Membuat gadis itu mendongak dengan nafas tertahan.
"Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Aku akan terus menyiksamu hingga kau bunuh diri!" ucapnya dingin.
"Aku membencimu. Kau sudah membuat mamaku sedih sialan!" sentak Saga menghempaskan tubuh Hopipah dengan kuat ke lantai.
"Akh, sstt... " Hopipah meringis pelan. Mengusap wajahnya yang dialiri darah.
Saga kembali menarik rambut Hopipah tanpa memberi, gadis itu istirahat sebentar saja. Saga terus membabak belur hingga membabi-buta Hopipah.
"Hari ini aku biarkan kau tidak sekolah. Tapi, besok kau harus kembali sekolah. Atau aku tidak akan membiayai beasiswaku lagi, sialan! kau paham?"
Hopipah yang rambutnya di jambak hanya mengangguk lemah, dan akhirnya di lepaskan Saga. Usai menimbulkan beberapa luka di wajahnya boyok dan meninggalkan bogeman.
Saga mengeluarkan tas berisi obat-obatan dan kapas lalu melempari ke Hopipah.
"Rawat diri Lo sendiri! jangan berani keluar dari rumah ini dengan luka seperti itu, dan membuatku dalam masalah. Atau ...." Saga mendekat, membisikan kalimat yang selama ini membuat Hopipah takut.
"Kau akan ku jual pada teman-temanku." Ancaman itu, mambuat Hopipah patuh, hingga sekedar mengadu pada papanya tidak berani.
Setelah itu, Saga pergi meninggalkan Hopipah yang kondisinya sudah begitu berantakan dan lemas.
"Sakit," ucap Hopipah tubuhnya bergetar dengan Isak tangisnya yang pecah.
Hopipah memejamkan matanya, saat merasakan denyutan nyeri di punggungnya.
"Uh, sakit sekali. Sakit. Tuhan, ini sakit menyakitkan," ucap Hopipah mengadu. Tapi di saat itu ia hanya diam dan menatap kantong kersek itu yang sudah tahu pasti itu adalah obat-obatan dan satu bungkus roti.
Ia meraihnya namun obat-obat itu, bukan mengolesi lukanya namun ia simpan di lemari. Yang di dalamnya sudah banyak obat-obatan dari Saga sebelumnya ia hanya mengambil roti saja.
Ia membiarkan luka itu, seperti luka-luka sebelumnya saja ia biarkan tidak pernah lagi di obati. Biarkan luka itu kering dan terpampang di tubuhnya selamanya, biar manjadi sebuah bukti atas kehidupan yang sangat menyedihakan terluka dan mengerikan.
Lalu ia memakan roti itu dan segelas air yang di sediakan Saga, ini hanya sedikit tanda balas kasihan saja dari Saga.
Hopipah menghela nafas. Batinnya kembali menangis, karena saat sakit seperti itu, tidak ada yang membela dia atau membawanya ke rumah sakit. Namun ini benar-benar apapun ia lakukan sendiri.
Hopipah hanya beristirahat dan tidur. Semoga badannya lebih baik. Lafadz syahadat di ucapkan. Berharap jika ia mati, ia berada di tempat yang nyaman.
"Tuhan biarakan aku tidur untuk selamanya," ucap Hopipah memejamkan matanya dan perlahan kehilangan kesadarannya.
Di tempat yang berbeda ya itu di sekolah, di basecamp kelima pemuda termasuk Kenji merasa kesal, yang lain hanya sibuk dengan aktivitasnya.
"Kemana tuh si cewe jelek, baru jadi babu sehari aja gak sekolah," gerutu Kenji kesal. "Kan enak, ada babu mau apa tinggal nyuruh, namanya siapa coba?" ucap Kenji yang belom tau nama Hopipah.
"Hendryk, biasanya lo paling tau nama-nama cewe di sekolah ini, berarti elo deket dan kenal dia?" tanya Kenji dari tadi rebahan, Hendryk yang sedang main catur bersama Keleo, ia yang di tanya langsung berhenti main.
"Lo pikir, gue tau nama dia gitu, Deket aja gue ogah." Ucap Hendryk memutar bola mata malas dan lanjut main,karena memang faktanya Hendryk itu Playboy berbeda dengan temannya. Kenji pun hanya diam, yang lain Ryker main gitar, Jefarel membuat sketsa.
Hari demi hari berlalu. Sudah hampir seminggu kurang satu hari Hopipah menjalani masa bersekolah di tempat itu. Satu hari ia absen karena sakit, dan hari-hari lainnya harus ia lalui dengan menjadi pembantu bagi kelima pemuda itu, termasuk Kenji.
*
Saksi bisu bagi kehidupan Hopipah yang penuh ketakutan dan penderitaan. Tak ada satu hari pun berlalu tanpa meninggalkan luka di tubuhnya. Namun ia hanya bisa bersabar dan terus bertahan, menunggu apakah suatu saat kebahagiaan akan menyapanya, atau justru menunggu ajal menjemputnya lepas dari semua penderitaan ini.
Keesokan harinya.
Jam 5 subuh kini ia sudah merasa cukup baik, dan ia sudah di balut dengan seragam SMA. Seragam SMA yang hanya menutupi siku lengannya dan untuk menutupi segala luka di tangannya ia menggunakan cardigan auter rajut pink baby. Dan lutut serta kaki banyak luka untungnya ia pake rok panjang dan tak lupa pake kaos kaki serta sepatu. Dan rambut di ikat sederhana.
"Nah, ini jauh lebih baik. Ayo Opi kamu bisa dan kuat," ucap Hopipah menatap penampilannya.
Selesai itu ia pergi ke dapur, karena masih pagi mungkin ia bisa bantu-bantu si mbok beres-beres.
"Pagi mbok," sapanya pelan.
"Eh udah sehatan neng," balas si mbok.yanh sedang masak. Hopipah pun bantu si mbok dengan cuci piring.
Meskipun hidupnya penuh dengan kesulitan, Hopipah tetap berusaha untuk menjalani hari-harinya dengan baik.
Setelah selesai mencuci piring, Hopipah membantu si mbok menyiapkan sarapan pagi. Mereka berdua bekerja sama dengan baik, dan Hopipah merasa sedikit lebih bahagia karena bisa membantu. Ketika sarapan sudah siap, Hopipah pun berangkat secepatnya pergi takut orang rumah tak mau bertemu.
Sebelum itu si mbok sudah memasukan sarapan untuknya kedalam kantung seperti biasa.
Hopipah pun pamit, hari ini ia akan menggunakan ojek, karena sadar ia tidak memiliki tenaga untuk mengayuh sepeda.
Setidaknya, jika ia sakit atau tepatnya setelah kena pukul mamanya dan kakaknya, tidak ada yang memaksanya kerja atau penyiksaan lainnya. Namun ia akan mendapatkan resikonya juga, tidak bisa makan dan tak sekolah di siksa lagi.
Hopipah pergi hanya berpamitan pada si mbok tidak ke yang lain. Menghindari orang-oranh yang tiada hentinya memarahi dan menyiksa.
Di tempat berbeda, keluarga Bramasta sastro tengah menyantap sarapan dengan penuh canda tawa.
Begitu pun Freddy yang berusaha menepis pikirannya dari Hopipah, agar bisa fokus ikut mengobrol dan menghindari kecurigaan keluarganya, jika ia dua hari lalu memberi uang pada putrinya.
"Wih bakal ada yang seneng-seneng gimana gitu, cewe yang di sukanya bakal balik nih," sindir Raka menatap kakak ketiganya yang ada di samping.
Daka yang di tatapnya pun kesal.
"Apa loh, diam mulut Lo!" ucap Daka yang kakinya menendanh pelan kaki Raka di bawah meja.
"Apaan sih loh, emang faktanya kan gue gak sengaja lihat chat Lo sama cewe nama Lily," jawab Raka yang sambil menyantap sarapanya.
"Wah berani Lo!" Daka yang mulai menari baju adiknya, namun semua itu Elisya hentikan.
"Daka! udah lanjut makan jangan ribut," ucapnya lembut tapi tegas, Daka pun melanjutkan makannya.
"Di jaga dak, takutnya si Lily kerayu lagi sama si Hendryk play boy itu." Ucap Raka mengingati.
"Oh, dia udah pulang. Cielah, sikat Dak, jangan mau kalah." ucap Arlan memberi semangat.
"Pasti dong, lagian Lily itu cewe yang baik-baik bisa ngebedain mana cowo play boy mana yang nggak play boy dan tulus," ucap Daka menepuk dadanya bangga.
"Ck, lo nggak ngarep sampe halukan?" cibir Saga mencandai adiknya.