Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Memburu Sang Dokter
Keesokan paginya, atmosfer di koridor sayap poliklinik Klinik Jiwa itu terasa begitu tenang. Aroma khas antiseptik, berbaur dengan sapuan angin dari pendingin ruangan. Beberapa perawat berlalu-lalang dengan senyum ramah, membawa berkas rekam medis pasien.
Di beberapa bagian, tampak pasien dalam perawatan gangguan jiwa berlalu lalang sembari berbicara sendiri ataupun tengah menghirup udara segar di taman. Suasana yang selalu sama di setiap harinya di klinik ini.
Di ujung koridor, sebuah pintu dengan cat putih metalik, menampakkan papan nama kuningan yang berkilat: dr. Arnoldy Darmawan, MD, Psychiatrist.
Di dalam ruang praktiknya, Arnold sedang duduk di balik meja kerja besarnya. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang dipadukan dengan jas dokter yang setiap hari dikenakannya.
Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, memberikan visual praktisi medis yang sangat berwibawa, cerdas, dan dingin. Sisi androgini dan centilnya yang semalam ia pamerkan di depan Dev sedang mode terkunci rapat di balik profesionalisme jas dokternya.
*Brak!*
Pintu ruangan itu mendadak terbuka dengan sentakan kasar, menghantam dinding hingga menimbulkan dentum keras yang menggema.
Asisten perawat yang berjaga di depan pintu tampak terengah-engah dengan wajah pucat. "Ma-maaf, Dokter Arnold! Pria ini memaksa masuk, saya sudah melarangnya karena tidak memiliki janji bertemu—"
"Tidak apa-apa, Suster. Kamu bisa keluar dan tutup pintunya," sela Arnold tenang. Suara berat, dalam, dan penuh karismanya keluar dengan begitu mulus.
Arnold tidak sedikit pun terkejut menyadari kehadiran seseorang itu. Ia perlahan melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja, lalu menatap pria yang kini berdiri di tengah ruangannya dengan napas memburu dan tangan mengepal erat.
Meskipun ia belum pernah bertemu secara langsung, lewat gestur dan raut wajah yang sarat amarah, Arnold dengan mudah menebak, siapa pria ini.
Dia adalah Teddy. Pria itu berdiri dengan mata memerah, berusaha menekan gejolak amarah, persis seperti tebakan Arnold semalam.
"Jadi, Anda yang bernama Dokter Arnold?" geram Teddy, melangkah maju hingga kedua telapak tangannya menggebrak permukaan meja kerja Arnold.
"Apa-apaan maksud pesan Anda semalam?! Menikah medis?! Emangnya ada? Anda ini sebenarnya seorang penipu! Anda hanya ingin memanfaatkan penyakit pasiennya!"
Arnold tidak bergeming. Ia bahkan tidak berkedip saat meja kerjanya digebrak. Pria berkemeja putih itu justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, menopang dagunya dengan sepuluh jemari yang saling bertautan.
Matanya menganalisis Teddy dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan seorang ahli kejiwaan dengan dingin. Ia seakan sedang memeriksa seorang pasien yang sedang mengalami gejala histeria akut.
"Saudara Teddy, silakan duduk terlebih dahulu. Kemarahan tidak akan menyelesaikan kecemasan di dalam dada Anda," ucap Arnold, dengan nada datar tanpa riak.
"Saya tak butuh duduk di sini! Saya hanya butuh penjelasan!" bentak Teddy lagi, wajahnya kian menegang.
"Saya sudah menemui Lova semalam. Dia menangis! Dia tertekan! Anda memaksanya, kan?! Saya sudah sangat lama mengenal Lova. Berusaha menjaganya dengan segenap jiwa raga. Dan, tiba-tiba, Anda yang katanya dokter yang harus menangani kasus kesehatan mentalnya, malah ingin menikahinya? Ini sungguh konyol!"
Arnold menarik napas pendek. Ia menegakkan tubuhnya, lalu mengambil map rekam medis atas nama Zarisha Allova yang sengaja ia letakkan di sisi meja.
"Bertahun-tahun, ya?" Arnold mengulang kalimat Teddy dengan nada mengejek yang sangat halus, hampir tak kentara.
Ia membuka lembaran berkas itu dengan gerakan santai. "Benar. Berdasarkan data klinis yang saya dapatkan, Anda adalah salah satu faktor Nona Zarisha Allova ingin menyembuhkan traumatis yang ia idap. Telah mengenalnya semenjak masa SMA." Ucapannya terhenti dan kembali menatap Teddy dengan lurus.
"Tapi, izinkan saya bertanya satu hal dari sudut pandang medis, Saudara Teddy."
Arnold menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Teddy yang berkilat amarah.
"Selama belasan tahun itu, apakah Anda mendampinginya dengan 'segenap jiwa'? Apakah Zarisha pernah bisa menatap mata Anda tanpa gemetar? Apakah dia pernah bisa berdiri dalam jarak kurang dari satu meter tanpa memicu serangan panik di hadapan Anda?"
Pertanyaan Arnold meluncur laksana anak panah yang langsung menancap telak di ulu hati Teddy. Teddy mendadak bungkam, mulutnya terbuka sedikit namun tak ada kata yang mampu keluar.
"Fakta klinisnya adalah: tidak," lanjut Arnold kejam, suaranya terdengar layaknya vonis hakim.
"Tubuh dan alam bawah sadar Nona Zarisha menolak kehadiran Anda sebagai pria. Ketulusan Anda, bagi traumanya, justru menjadi beban psikologis yang menumpuk. Anda bukannya akan menyembuhkannya, tetapi hanya akan mengurungnya dalam rasa bersalah."
"Kau ..." Buku-buku jari Teddy memutih, ia gemetar hebat tak mampu menolak segala kebenaran yang terlontar. Semua hal pahit yang diucapkan Arnold adalah nyata. Kejadian semalam di teras rumah Lova, di mana Lova bahkan tidak bisa mendongak menatapnya, adalah bukti paling sahih.
"Sedangkan dengan saya," Arnold bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja kerja hingga kini berdiri tepat di hadapan Teddy. Postur tubuhnya yang tegap tertutupi jas dokter membuat Arnold tampak begitu superior.
"Beberapa waktu di klinik ini, dan kemarin di dapurnya ... Nona Zarisha bisa duduk tenang, makan bersamaku, bahkan menurunkan benteng waspadanya tanpa satu pun serangan histeria. Alam bawah sadarnya memilih saya sebagai zona aman."
Arnold menepuk bahu Teddy dengan pelan, seolah tampak memberi suport tetapi kenyataannya merupakan sebuah pukulan skakmat terakhir.
"Pernikahan medis ini adalah metode terapi lingkungan ekstrem untuk menyelamatkan masa depannya. Ibunya pun sudah merestuinya demi kesembuhan Lova. Jadi, sekarang saya tanya kembali kepada Anda, Saudara Teddy ..."
Arnold menyipitkan matanya, menyunggingkan senyum tipis yang teramat dingin. "Siapa sebenarnya yang egois di sini? Saya yang ingin menyembuhkannya, atau Anda yang memaksakan keinginan egois Anda untuk terus berada di sisinya meski tahu kehadiranmu justru membuatnya menderita?"
Ruangan itu seketika hening mencekam. Teddy melangkah mundur satu tapak, tangannya perlahan terlepas dari meja kerja Arnold. Bahunya merosot turun. Kalimat Arnold tidak hanya memukul mundur amarahnya, tetapi menghancurkan seluruh benteng harapan selama belasan tahun ini.
"Tak ... Tak mungkin ..."
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣