Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teori Tim Gabut
Dokter Rahmat termenung di depan ruang operasi karena dia merasa bahwa operasi tadi sebenarnya tidak perlu dilakukan dengan operasi besar. Pria muda itu sangat percaya instingnya karena dia tahu ada yang salah.
"Dokter baik-baik saja?" tanya Suster Lisa.
"Eh? Aku baik-baik saja." Dokter Rahmat tersenyum manis.
"Dokter Rahmat memikirkan sesuatu?"
"Suster Lisa, apa tadi anda dilecehkan oleh Dokter Westin?" bisik dokter Rahmat.
Suster Lisa hanya bisa terdiam. "Itu ... saya tidak bisa berbuat apa-apa ... Takut dipindahkan dari sini."
"Karena Dokter Westin dekat dengan direktur utama rumah sakit dan dokter bedah terbaik?" tanya Dokter Rahmat.
Suster Lisa tampak gelisah. "Saya takut ...."
Dokter Rahmat mengangguk. Dia memang tidak bisa berbuat apapun untuk melindungi para suster yang merasa dilecehkan. Dia hanya anak Residen atau dokter yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis ( PPDS ). Dokter Rahmat tidak punya power, dan hanya anak yang mengandalkan beasiswa karena IPK nya bagus. Dokter Rahmat mengandalkan kecerdasan otaknya dan berusaha agar beasiswa dari Kemenkes tetap berjalan.
"Saya ingin membantu anda tapi tahu kan posisi saya?" ucap Dokter Rahmat. "Beasiswa saya taruhannya."
Suster Lisa paham. Dokter Rahmat bukan dari blue blood keluarga dokter. Dia dari keluarga sederhana di Surabaya yang diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dokter Rahmat sudah menikah dengan seorang pegawai kantor telekomunikasi.
"Dok ... jika aku punya sesuatu yang bisa dipakai ...."
"Suster Lisa!"
Keduanya menoleh saat suara dokter Westin terdengar.
"Ada apa Dok?" jawab Suster Lisa dengan wajah polos.
"Bantu saya untuk visite!" perintah Dokter Westin. Matanya menatap tajam ke arah Dokter Rahmat yang mengangguk sopan.
"Soal obat tensi, biar didiskusikan dengan keluarga pasien ya dok?" ucap Suster Lisa seolah mereka tadi mereka sedang membicarakan pasien.
"Oke Sus Lia. Keluarga nya memang sontoloyo!" kekeh Dokter Rahmat.
Suster Lisa pun menghampirinya Dokter Westin yang langsung mendorong gadis itu di pat-pat nya dengan sedikit meremasnya. Suster Lisa tampak risih tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut. Dokter Rahmat menatap dingin ke mereka berdua dan tersenyum smirk.
"Ada gunanya kemarin pak Dean meminjamkan kamera kancing ini agar bisa merekam semuanya," gumam Dokter Rahmat. "Baru kali ini ada polisi mainannya saingan sama film Mission Impossible."
***
Ruang Monitor Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta
"Dia meremasnya! Itu sudah pelecehan!" seru Iptu Atikah saat mereka melihat live streaming dari kamera kancing yang dipasang di scrub Dokter Rahmat.
"Rupanya dia memang gatel!" timpal Kompol Jarot.
"Sayangnya, kalau korban tidak speak up, kita juga tidak bisa bertindak bukan?" ucap AKP Dean Thomas.
"Iya juga ...." Iptu Rayyan menoleh ke arah rekan-rekannya. "Aku punya teori."
"Apa itu dik?" tanya AKP Dean Thomas.
"Mungkin nggak, kalau dokter Westin itu dokter jagal? Tahu kan ... Dia melihat kondisi organ pasiennya dan saat meninggal, diambil?" Iptu Rayyan menatap horor ke ketiga orang di depannya.
AKP Dean Thomas tampak berpikir. "Tapi kalau memang dia dokter jagal ... seharusnya dia ada rekan di medical Examiner bukan? Apa iya, dokter forensik juga terlibat?"
"Sebenarnya teori Rayyan juga tidak jelek, mas Dean. Penyelidikan ini bisa melebar hingga ke kamar mayat bukan? Semua pasien yang meninggal usai operasi bisa diautopsi atau tidak ...." Kompol Jarot menatap AKP Dean Thomas. "Atau ada teori lain."
"Apa itu Pak Jarot?" tanya Iptu Atikah.
"Dokter Westin suka melihat orang meninggal. Itu satu. Dua, kontrol! Kita lihat bagaimana dia berusaha menjadi pusatnya di ruang operasi tadi. Bisa jadi dia ingin menjadi pengatur semuanya, mengontrol semuanya ... itu versiku."
"Semua pembunuh berantai memang punya satu hal yang sama. Kontrol! Mau kamu Ted Bundy, Jeffry Dahmer, Jack The Ripper, Siswanto Robot Gedek, Dukun Suraji atau Ryan ... semua sama. Kontrol! Apalagi dokter Westin adalah seorang dokter bedah, terkenal, terbaik di bidangnya. Tapi dia tidak puas dengan semua itu! Ini jika memang dia dalang dari kematian lima pasiennya." AKP Dean Thomas menatap tim nya.
"Mas Dean mau gimana?" tanya Kompol Jarot.
"Kita ke keluarga masing-masing pasien!" putus AKP Dean Thomas. "Kita bicara pada mereka ... apakah mereka mencurigai sesuatu."
Ketiga anak buahnya mengangguk. "Kita memang hanya berempat tapi kita mampu melakukannya," ucap Kompol Jarot.
"Itu jika memang dokter Westin terlibat ya," timpal Iptu Atikah.
"Iya."
***
"Menurut mbak Susi, apakah dokter Westin memang seperti teori mereka?" tanya Tole sambil makan kacang Sukro yang diambilnya dari laci meja kerja Iptu Nana.
"Aku rasa teori mereka tidak ada yang salah. Karena sesuai dengan sikap dan gaya dokter Westin." Mbak Susi menoleh ke Tole. "Itu Sukro siapa?"
"Punya mbak Nana," jawab Tole cuek.
"Astagaaa! Tole!" seru Mbak Susi.
"Melihat mbak Nana marah itu mood booster tersendiri," cengir Tole.
"Bagaimana kalau kita sekarang pergi ke Bhayangkara? Kita kumpulkan semua arwah yang jauh lebih tahu sepak terjangnya Dokter Westin. Kamu setuju?" tanya Mbak Susi.
"Hayuk! Kita berangkat! Go!"
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....