Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Nyali dari Sang Penjaga dan Kepulangan ke Kota
Malam semakin larut di tepi Hutan Sangker, namun kehangatan di halaman belakang pondok Anisa justru kian memuncak. Aroma gurih dari daging ayam kampung yang terbakar di atas bara api membaur sempurna dengan wangi khas asap kayu bakar. Jovanka dengan lihai membolak-balikkan potongan paha dan dada ayam yang bumbunya sudah meresap dan mengilat kecokelatan.
Di atas tikar pandan yang digelar di atas rumput, tawa riang bersahut-sahutan. Silvia yang duduk di antara Sasti dan Anisa tampak paling heboh. Gadis remaja itu tidak henti-hentinya menceritakan betapa konyolnya kehidupan modern di London, yang sangat berbanding terbalik dengan kedamaian bersahaja yang ia rasakan di desa ini. Zenix duduk tenang di samping Jovanka, sesekali menyunggingkan senyum tipis pemandangan yang sangat langka bagi siapa pun yang mengenal si Pangeran Es dari kota Jakarta.
"Pokoknya ya Kak Anisa, nanti kalau Kak Anisa ke Jakarta, Silvi bakal ajak Kakak keliling tempat paling seru! Tapi enggak ke mall terus kok, Silvi tahu Kak Anisa pasti lebih suka tempat yang adem," celoteh Silvi dengan suara cemprengnya yang khas, membuat Anisa tersenyum lembut dan mengangguk santun.
Namun, di tengah keriangan dan canda tawa yang sedang membubung tinggi itu, suasana alami di sekitar mereka mendadak berubah. Angin malam yang tadinya bertiup sepoi-sepoi seketika berembus lebih kencang dan membawa hawa dingin yang tidak biasa. Suhu udara di sekitar api unggun merosot tajam dalam hitungan detik.
Silvi yang sedang tertawa lebar mendadak menghentikan bicaranya karena merasa tengkuknya meremang hebat. Tanpa sengaja, pandangan mata gadis remaja itu bergulir ke arah sayap kiri halaman belakang, tepat ke arah sebuah pohon jambu air yang tumbuh rimbun di dekat batas pagar tanaman hidup.
Di salah satu dahan pohon jambu yang meliuk rendah, siluet kegelapan malam seolah memadat. Silvi mempertajam pandangannya di bawah temaram cahaya api unggun. Jantungnya seketika mencelos ke lambung.
Di atas dahan itu, duduk sesosok wanita. Rambutnya yang hitam pekat, tebal, dan sangat panjang tampak menjuntai ke bawah hingga menyentuh rerumputan. Sosok itu mengenakan gaun putih panjang yang longgar dan tampak usang. Ya, itu adalah rupa dari sesosok Kuntilanak.
Sebenarnya, sosok itu bukanlah mahluk halus jahat liar dari dalam hutan, melainkan Seruni khodam leluhur pelindung keturunan Anisa yang semalam ikut menghancurkan kawanan pocong gosong. Malam ini, Seruni sengaja menampakkan rupa buruk dan menyeramkannya kepada orang-orang baru dari kota tersebut. Bukan karena ingin mencelakai, melainkan murni sebagai bentuk "perkenalan" sekaligus menguji sejauh mana tebalnya iman dan keberanian mental orang-orang yang kini menjadi bagian dari hidup Anisa.
Sial bagi Silvi, ia yang memang dasarnya memiliki mental penakut akut dan belum terbiasa dengan dinamika gaib pedesaan, langsung menjadi korban pertama dari ujian nyali ini. Ketika sosok Kuntilanak Seruni itu perlahan mendongakkan wajahnya menampakkan kulit seputih pualam yang pucat dengan mata beralis hitam legam yang menatap lurus ke arahnya Silvi tidak mampu lagi menahan bendungan ketakutannya.
"AAAAAAAHHHH!!! ITU ADA KUNTILANAK DI POHON JAMBU!!! ABANGGGG!!!"
Jeritan histeris Silvi kembali menggelegar membelah keheningan malam, lebih melengking dari malam sebelumnya. Gadis itu langsung melompat dari duduknya dan menghambur ke belakang punggung Zenix, mencengkeram jaket kulit abangnya hingga berkerut parah sembari menangis ketakutan.
Mendengar jeritan Silvi, Jovanka dan Sasti spontan ikut panik. Jovanka bahkan hampir saja menjatuhkan jepitan dagingnya ke dalam bara api, sementara Sasti langsung menutup matanya rapat-rapat sembari berkomat-kamit membaca doa seadanya. Zenix dengan sigap berdiri, pasang badan di depan adiknya sembari mengedarkan pandangan tajamnya ke arah pohon jambu yang ditunjuk oleh Silvi.
Anisa yang duduk di sisi lain tikar segera menolehkan wajah teduhnya ke arah dahan pohon jambu tersebut. Begitu mata batinnya menangkap sosok wanita berbaju putih dengan rambut menjuntai itu, Anisa tidak tampak takut sedikit pun. Sebaliknya, ia justru menghela napas pendek dan menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan rasa maklum. Melalui tatapan matanya, Anisa seolah berkomunikasi secara batin dengan sang khodam pelindung, meminta sesepuhnya itu untuk tidak menggoda tamunya lagi.
Melihat Anisa yang begitu tenang, Zenix perlahan menurunkan ketegangannya. "Anisa... sosok itu..." ujar Zenix dengan suara berat, meminta kejelasan.
Anisa segera bangkit berdiri, melangkah mendekati Silvi yang masih gemetar hebat di belakang punggung Zenix. Dengan kelembutan seorang kakak, Anisa mengusap pundak Silvi yang naik turun karena sisa isak tangisnya.
"Dek Silvi... sudah, jangan takut lagi ya. Tolong buka matanya perlahan, lihat kak Anisa," tutur Anisa dengan nada suara yang sangat meneduhkan, bertindak bagai penawar rasa takut alami.
Silvi dengan ragu-ragu mengintip dari balik bahu Zenix, matanya yang sembap menatap Anisa. "T-Tapi Kak... itu di pohon... setannya nangkring di sana..."
"Dek Silvi, dengarkan Kak Anisa," ucap Anisa sambil tersenyum tulus, menatap bergantian ke arah Silvi, Sasti, dan Wang Nan yang masih tegang. "Sosok yang berada di pohon jambu itu namanya Mbak Seruni. Beliau bukanlah mahluk halus jahat yang mau mengganggu atau mencelakai kita di sini. Beliau adalah salah satu roh baik penjaga tempat ini yang semalam juga ikut melindungi kita dari mahluk luar. Mbak Seruni hanya sedang menyapa dan bercanda dengan Dek Silvi sebagai orang baru di sini. Beliau tidak jahat, sama sekali tidak jahat. Jadi, tolong jangan takut lagi, ya?"
Mendengar penjelasan Anisa yang begitu gamblang dan penuh kedamaian, aura mencekam di sekitar pohon jambu perlahan-lahan mencair. Silvi kembali melirik ke arah dahan pohon tersebut, dan benar saja, sosok Kuntilanak berbaju putih itu kini telah menghilang, menyatu kembali dengan desau angin malam yang meniup dedaunan.
Meskipun masih menyisakan sedikit rasa merinding, penjelasan Anisa berhasil menenangkan batin Silvi dan Sasti. Acara bakar-bakar daging malam itu pun akhirnya bisa dilanjutkan kembali hingga tuntas, meninggalkan sebuah pengalaman mistis baru yang tak akan pernah dilupakan oleh anak-anak kota tersebut.
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah menyiram seluruh permukaan Desa Beringin Sakti. Udara pagi terasa sangat segar, namun ada gurat kesedihan yang samar di halaman pondok bambu Anisa. Waktu dua hari yang direncanakan untuk liburan singkat pasca ujian dan penyambutan kepulangan Silvi kini telah resmi habis. Orang-orang kota itu sudah harus bersiap untuk kembali ke realitas kehidupan mereka di Jakarta.
Di depan teras gubuk, Jovanka dan Sasti sedang merapikan beberapa barang bawaan mereka, sementara Silvi tampak cemberut karena masih enggan berpisah dengan ketenangan desa dan kebaikan Anisa. Zenix sendiri sudah memasukkan beberapa tas ke dalam bagasi SUV hitam barunya yang diparkir di halaman rumah warga dekat jalan utama.
Sebelum benar-benar melangkah pergi meninggalkan pekarangan pondok, Zenix berjalan menghampiri Anisa yang berdiri anggun di dekat pagar bunga kuning. Pemuda jangkung itu menatap lekat mata teduh gadis yang kini jari manisnya telah terikat oleh cincin emas putih darinya. Rasa berat untuk berpisah ribuan kilometer kembali menggelayuti dada Zenix.
"Anisa..." panggil Zenix dengan suara beratnya yang melunak. Ia diam sejenak, menimbang kalimatnya sebelum kembali menawarkan hal yang sama seperti kemarin. "Liburan sudah selesai, dan kami harus pulang ke kota hari ini. Sebelum aku menyalakan mesin mobil... aku mau menawarkan sekali lagi kepadamu. Apakah kamu benar-benar tidak mau ikut denganku ke Jakarta sekarang? Aku bisa mengatur semuanya agar kamu nyaman di sana. Tapi... aku tidak akan memaksamu jika kamu memang belum siap."
Anisa menatap wajah tegas Zenix dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa terima kasih dan rasa hormat yang mendalam. Cincin di jari manisnya tampak berkilat pelan terkena sinar matahari pagi saat ia menautkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Anisa tersenyum lembut, lalu menggelengkan kepalanya dengan perlahan, memberikan jawaban dengan keteguhan prinsip yang sama persis seperti hari kemarin.
"Mas Zenix... terima kasih banyak, sekali lagi terima kasih atas ketulusan hati Mas yang begitu besar untuk merawat Anisa. Tapi, jawaban Anisa masih tetap sama seperti kemarin, Mas," tutur Anisa dengan kalimat yang sangat halus dan tertata sopan. "Anisa masih ingin tetap berada di desa ini saja untuk saat ini. Menjadi buruh cuci warga adalah jalan hidup yang sudah membuat Anisa nyaman dan tenang. Di sini juga ada makam Kakek dan Ayah yang harus Anisa jaga. Biarlah Anisa menunggu Mas Zenix menyelesaikan kuliah di kota dengan tenang dari sini. Anisa pasti akan selalu menjaga diri dan menjaga janji suci kita."
Zenix Dirgantara menghela napas panjang, sebuah embusan napas pasrah yang akhirnya menerima keputusan mutlak dari gadis pujaannya. Ego besarnya yang biasa berkuasa di kota, kini sepenuhnya tunduk pada keluhuran budi dan keteguhan prinsip Anisa. Zenix tahu, memaksa gadis selembut Anisa hanya akan melukai kesucian hatinya.
"Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusan bulatmu, aku tidak akan mengungkitnya lagi untuk saat ini," ucap Zenix akhirnya, mengalah dengan penuh rasa hormat. Ia merogoh saku jaket kulitnya, memastikan ponselnya aktif. "Ingat janjimu untuk selalu menjaga diri, Anisa. Aku akan sering meneleponmu, dan begitu ada waktu libur kecil di kampus, aku akan langsung memacu mobil ini kembali ke desamu."
Anisa mengangguk pasti, binar kebahagiaan terpancar dari sepasang matanya. "Insyaallah, Mas Zenix. Anisa akan selalu mengingat pesan Mas."
Silvi, Sasti, dan Jovanka kemudian berjalan mendekat untuk berpamitan secara bergiliran. Silvi langsung memeluk tubuh Anisa dengan erat, melupakan semua trauma ketakutannya pada mahluk halus desa selama dua malam berturut-turut. "Kak Anisa, makasih banyak ya buat semuanya! Masakan Kakak enak banget. Nanti kalau Abang Zenix ke sini lagi, Silvi pasti bakal ikut lagi!" seru Silvi manja.
"Iya, Dek Silvi, sama-sama. Hati-hati di jalan ya semuanya," balas Anisa sembari mengusap punggung Silvi dengan sayang.
Setelah semua salam perpisahan selesai diucapkan, Zenix memimpin rombongannya berjalan kaki menuju area parkir jalan utama desa. Sebelum berbelok di tikungan jalan setapak, Zenix sempat membalikkan badannya sekali lagi, melambaikan tangan ke arah Anisa yang masih berdiri setia di depan pagar pondok bambunya sembari membalas lambaiannya dengan senyuman terindah. Perjalanan dua hari di Desa Beringin Sakti telah resmi berakhir, meninggalkan ikatan janji suci yang kian erat di jari manis mereka, siap menyongsong masa depan baru di kota besar Jakarta.