Season satu : Polisi Sang Penakluk Hati
Season dua : Antara Aku Kamu dan Dia
Season ke tiga : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU.
Berkisah tantang rumitnya perjalanan sebuah rasa yang di sebut cinta.
Angga jatuh cinta kepada Cia.
Cia yang justru jatuh cinta kepada Arfi
Dan Arfi yang masih menharapkan Sisi sang mantan Istri.
Kejutan kian menjadi, saat Cia tahu ia mencintai mantan suami sahabatnya sendiri.
***
Follow IG aku yak : @shanty_fadillah123
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kau Menyukaiku?
Alvian menghela nafas kasar, karena Amira tak mau pergi dari hadapanya. Polisi muda itu benar-benar tak nyaman dengan sikap Amira yang berlebihan.
"Ra... pulanglah! Jika kau mau bermesraan bukan di sini tempatnya!" titah polisi tampan itu, berharap agar Amira segera enyah dari hadapanya.
Namun Amira seolah tak perduli, ia justru semakin lengket dan terus menggenggam erat tangan Alvian, gadis itu benar-benar tak perduli sedang berada dimana ia kini? Yang Amira mau, semua orang tau bahwa Alvian adalah calon suaminya.
"Kata Airin, adiknya ini cerdas, tapi kenapa tak memiliki etika dan tata krama," grutu Alvian kesal lalu menghepaskan tangan Amira dan segera pergi dengan langkah tergesa-gesa.
"Al.. mau kemana?" tanya Amira seraya berlari mengejar Alvian.
Namun polisi itu sudah berada di dalam mobilnya dan pergi menjauhi kantor dimana ia bertugas.
"Aah sial!" umpat Amira kesal sebab mobil milik Alvian sudah lenyap dari pandanganya. "Awas kau, Al," tambahnya yang semakin kesal.
Alvian menuju rumah sakit, untuk menemui Airin, polisi muda itu segera memberi tahu rekan-rekanya, bahwa kini ia ada di rumah sakit.
"Jangan lupa segera kembali, Al! Sebab sore nanti kita ada pertemuan dengan pak Kapolsek," salah satu rekan kerja Alvian mengingatkan.
"Baik, nanti aku usahankan datang tepat waktu," jawab Alvian tegas melalui sambungan telponya.
Selepas itu Alvian segera berlalu dan masuk ke dalam ruangan dimana Airin di rawat, kebetulan saat ia datang, di dalam ruangan tersebut sedang ada dokter yang memeriksa kondisi kesehatan Airin.
"Dok bagaimana keadaan, Airin? Kebetulan kita bertemu,"
"Airin semakin membaik, dia hanya kelelahan karena kurang tidur, sepertinya dia tengah banyak pikiran," jelas si dokter kepada Alvian.
Alvian menatap wajah Airin yang juga tengah menatapnya, polisi itu tahu apa yang tengah di pikirkan oleh gadis cantik yang kini justru menjadi tahanan.
"Saya permisi pak, jangan lupa obatnya di berikan kepada Airin sekitar 1 jam lagi!" titah si dokter lalu pergi dari ruangan.
Alvian berjalan pelan, mendekati keberadaan Airin, ia tersenym simpul ke arah gadis cantik itu.
"Hai Rin, kau sudah makan?" basa basi Alvian.
"Sudah," jawabnya datar.
"Pakai sayur apa, Rin?" pertanyaan Alvian terkesan mengada-ada.
"Sayur hati,"
"Hati apa?"
"Hati kamu," canda Airin.
"Mati dong aku... kalau hatinya kamu makan," jawab Alvian bercanda pula.
"Ya jangan mati dong Al! Kan hanya kamu yang perduli aku saat ini," cetus Airin bercanda namun penuh harap.
Alvian terdiam, ia tersenyum simpul lalu mendekati wajah gadis di hadapanya.
"Jadi, kamu butuh aku, kan?" bisik Alvian pelan.
"Butuh dong, untuk saat ini, gak janji kalau nanti-nanti," canda Airin lagi lalu tertawa sejadi-jadinya.
Tawa Airin membuat perasaan Alvian cukup bahagia.
"Tertawa terus ya, Rin!" ujar Alvian pelan.
"Gila dong, gak mau ah," jawab si cantik dengan bercanda lagi. Dan di sertai tawa sejadi-jadi hingga seketika air mata membasahi wajah cantiknya. Semakin Airin tertawa, maka semakin deras pula air matanya memasahi wajah.
"Tak apa, membiarkan air mata mengalir, jika itu bisa membuat perasaanmu sedikit lega. Lepaskan semua beban dan perasaan yang menekanmu, tapi setelah itu tersenyumlah karena bahagia, tapi jangan tersenyum di balik luka!" nasehat Alvian yang spontan membuat Airin menangis sejadi-jadinya
Alvian berusaha membuat Airin tenang, ia menarik Airin dan membawa gadis itu dalam dekapanya.
"Menangislah, Rin dan peluk erat tubuhku! Semoga kau merasa tenang," bisiknya pelan seraya mendekap Airin dengan saat erat.
Apa yang kini terjadi, telah memisahkan batas, antara polisi dan narapidana. Sebab baik Alvian dan Airin sama-sama saling menguatkan.
"Apa salahku, Al? Kenapa semua orang meninggalkanku?" tangis Airin.
"Sabar ya, anggap ini ujian, agar kau lebih kuat dan dewasa!"
"Tapi... bagaimana bisa, orang tuaku benar-benar tak perduli sama sekali, bahkan kakakku yany sudah berjanji selalu ada untukku, dan nyatanya dia juga tak datang untuk menemuiku," curhat Airin dengan tangisnya yang semakin tersedu-sedu.
Polisi muda itu tak mampu berkata-kata, ucapan Airin membuat perasaan Alvian terenyuh dan sedih.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, dan akan selalu menjagamu di sini," lagi-lagi Avian menenangkan.
Airin seketia menghapus air matanya lalu menatap lekat wajah polisi muda yang kini bersamanya, ia tak menyangka jika Alvian sedemikian perduli.
"Al,"
"Ya,"
"Kau menyukaiku, ya?" todong Airin dengan senyum mengembang yang tersungging dari bibir merahnya seraya menghapus air mata yang sejak tadi membasahi wajah.
"Haaaaaah," Alvian pun salah tingkah, pertanyaan Airin membuatnya menggaruk-garuk kepala. "Bisa-bisanya dia bertanya begitu," cetus Alvian dalam hati.
Sejenak keduanya terdiam, hanya mata yang saling memandang dan berbicara, dari sana Alvian merasa bahwa dia memang jatuh cinta, bukan perduli seperti dalilnya. Baru beberapa hari mereka saling bertemu dan waktu sesingkat itu, sudah bisa membuat Alvian terpesona kepada narapidana cantik yang seharusnya tidak perlu mendekam dalam penjara.
"Ya... aku menyukaimu!" jawabnya tegas yang kini membuat Airin salah tingkah pula.
Namun belum Airin menjawab, pintu ruangan kamar dimana Airin di rawat pun terbuka dan hadirlah sesorang wanita paruh baya dengan tatapan yang begitu tajam menghujam wajah Alvian.
"Ma_mama,"
Alvian seketika gugup saat sang mama tiba-tiba hadir di hadapanya dan Airin.
"Itu mamamu?" tanya si cantik penasaran.
"Iya, itu mamaku," jawab Alvian gugup.
Tania mendekati keberadaan kedua seraya membawa senyum penuh makna.
"Hai, Rin, salam kenal!" wanita paruh baya itu tak menunjukan sikap marah sedikit pun, ia justru tersenyum dan menyapa Airin dengan begitu ramah.
"Hai tante, salam kenal," jawab Airin gemetaran, sebab wanita di hadapanya ini sepertinya bukan sekedar ibu rumah tangga biasa, sebab dari pakaian yang Tania pakai, Airin tahu apa pekerjaan wanita paruh baya itu.
"Aku kesini atas permintaan Alvian, anakku meminta agar aku menjadi pengacarmu. Aku akan membantu untuk meringankan baban hukumanmu, kita biasa ajukan banding sesegera mungkin," jelas Tania tanpa basa basi.
Airin menarik nafas pelan, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan.
"Tante yakin, akan membantuku, tapi aku belum mempunyai uang untuk membayar anda," jujur Airin.
"Tenang, Rin! Semua biaya aku yang tanggung jadi kau jangan pikirkan itu ya." Jelas Alvian bersemangat.
"Iya, kau tak perlu pikirkan apapun, yang terpenting kau jaga kesehatanmu saja ya!" tegas Tania pula. "Oh iya, tante mau berbicara di luar dulu dengan Alvian ya!"
Wanita paruh baya itu segera berlalu seraya menarik tangan anaknya, hal itu tentu membuat Airin berdecak heran.
"Mama kenapa sih?" Alvian menautkan kedua alisnya saat sang mama menatapnya sangat tajam dan dalam.
"Mama akan membantu Airin, tapi kau di larang jatuh cinta padanya! Apa kata dunia, Al, kalau kau benar-benar jatuh cinta kepada narapidana," ujar sang mama tegas.
"Cinta dan rasa, itu tidak pernah memilih kepada siapa akan berlabuh, termasuk perasaanku kepada Airin. Jika mama tidak mau membantu, aku akan cari pengacara lainya!" jawab Alvian tegas pula, hingga membuat Tania terdiam tanpa kata.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu