Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zoo (Part 1)
Hari ini, adalah hari yang mereka Sunny tunggu-tunggu, akhirnya ia akan menikmati liburan seharian bersama Alex, tentu sama mereka sudah membuat janji dengan keluarga Aaron beberapa waktu lalu.
Sunny sudah berpakaian cantik dengan dress bunga-bunga khas anak-anak, sedangkan Alex, ia memakai pakaian santai dengan celana jeans dan kaos polos biasa, duda tampan itu selalu terlihat menawan meski dalam tampilan sederhana.
Saat akan menuruni tangga, mereka berpas-pasan dengan nyonya Gio, nenek Sunny itu tampak rapi dalam balutan dress formal.
"Apa grandma ikut?" tanya Sunny.
"Grandma hari ini ada urusan mendadak, Nak. Sunny kan udah sama daddy, kakak Nick dan adik kembar," ucap nyonya Gio, pagi ini wanita paruh baya itu terpaksa membatalkan rencana liburan bersama cucunya karena ada sesuatu yang sangat penting dan mendadak.
"Hmm, padahal kan Sunny juga seneng kalau grandma ikut," ucap Sunny mencebik.
"Maaf, Nak. Nanti sore setelah urusan grandma selesai, grandma akan bawakan hadiah, mau?"
"Baiklah, grandma hati-hati di jalan, ya. Sunny pergi dulu," pamit Sunny, ia menautkan jemarinya pada tangan Alex.
"Kami pergi dulu, Ma. Jangan lupa beri kabar nanti kalau ada apa-apa," ujar Alex, lalu berpamitan pada ibu mertuanya.
Menuruni anak tangga, Alex menggendong sunny sambil menciumi pipi gadis kecil itu.
"Hmm, anak daddy ini cantik sekali," puji Alex, lalu mencubit lembut pipi Sunny.
"Iya, dong. Sunny kan mirip mommy, mommy juga cantik."
Alex tersenyum mendengar jawaban putrinya, ia merasa sangat senang karena ini adalah pertama kalinya mereka akan berlibur sambil jalan-jalan ke kebun binatang. Sebelumnya, Alex tidak pernah mengajak Sunny pergi kemanapun selain taman-taman dekat rumah.
Pukul setengah sembilan, mereka sudah sampai di tempat parkir wisata kebun binatang tengah kota.
"Apa mama Ily belum sampai, Daddy?"
"Belum, Sayang. Papa Aaron bilang mereka akan sampai jam 9, mungkin sekarang sudah di jalan," jelas Alex. "Apa anak cantik daddy ini mau sesuatu?"
"Mau es krim."
"Baiklah, kita beli."
Alex menggandeng Sunny berjalan menuju toko yang tidak jauh dari tempat parkir, mereka memilih beberapa varian es krim kesukaan Sunny.
"Kita beli untuk kakak Nick dan adik kembar juga, ya, Daddy."
"Tentu saja, Cantik. Kamu yang pilih, daddy akan membayarnya," ujar Alex.
Sambil menunggu keluarga Aaron sampai, Alex dan Sunny duduk di bangku taman yang terletak di depan pintu masuk, mereka menikmati es krim berdua sambil bercerita.
"Daddy suka rasa apa?" tanya Sunny.
"Daddy suka semuanya."
"Sama, Sunny juga. Tapi, Sunny lebih suka yang coklat," ucapnya.
"Jangan terlalu sering makan coklat, ya. Nanti giginya keropos, loh!" ujar Alex sambil menempelkan ujung es krim ke hidung anaknya.
"Ah, Daddy." Sunny berteriak sambil tertawa karena kini di ujung hidungnya terdapat es krim yang meleleh.
Tapa mereka sadari, ada seorang gadis berseragam yang memperhatikan dari kejauhan. Gadis itu berjalan mendekat untuk memastikan, bahwa orang yang ia lihat adalah yang ia kenal.
"Tuan Alex," sapa gadis yang rambutnya di sanggul rapi itu.
"Oh, Nora. Kamu di sini?" tanya Alex.
"Iya, setiap sabtu dan minggu management kebun binatang memesan makanan dari restoran tempatku bekerja untuk semua karyawannya, Tuan," jelas Nora. "Aku mengantarkan katering."
"Oh." Alex mengangguk dan ber-oh ria. Lalu perhatiannya kembali pada gadis kecil yang menghabiskan es krim di sampingnya.
"Siapa itu, Daddy?" tanya Sunny.
"Oh, ya. Dia teman daddy, Sayang. Namanya aunty Nora. Beri salam pada aunty," pinta Alex.
Sunny meletakkan es krimnya, lalu berdiri dan mengulurkan tangan di depan Nora.
"Hai, Aunty. Namaku Sunny. Aku anak kesayangan daddy," ujar Sunny memperkenalkan diri.
"Hallo, Cantik." Nora duduk berjongkok agar tingginya bisa sejajar dengan gadis kecil di depannya, ia menerima uluran tangan Sunny dan gadis itu mencium punggung tangan Nora.
"Ah, sopan sekali. Anak pintar," puji Nora.
"Terimakasih, Aunty."
Dari kejauhan, Aaron menggendong Danish dengan Danial di gandengan tangan kirinya, sedangkan Nick memilih untuk menggandeng Hayley.
"Alex," sapa Aaron. "Sudah menunggu lama? tadi macet," lanjutnya.
"Barusan, kok."
"Oh, hai. Siapa ini?" tanya Hayley sambil melempar pandang ke arah Nora.
"Maaf, Nyonya. Perkenalkan, saya Nora," ujar Nora sambil mengangguk sopan.
"Dia temanku," sela Alex cepat.
"Oh, Hai Nora. Cukup panggil aku Hayley, ya. Aku nggak setua itu sampai di panggil nyonya," ucap Hayley sambil terkekeh. "Apa kamu mau ikut liburan bersama kami?" tanya Hayley.
"Nggak, Hay. Dia baru selesai mengantarkan makanan untuk karyawan di sini," jawab Alex.
"Iya, Nona Hayley. Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Bye, cantik." Nora berpamitan lalu melambaikan tangan pada Sunny.
"Bye, Aunty." Sunny membalas lambaian tangan sambil tersenyum.
Setelah kepergian Nora, dua keluarga itu membeli tiket dan masuk ke dalam area kebun binatang, Aaron dan Alex lebih memilih mengunjungi kebun binatang yang bisa di akses dengan berjalan kaki, mereka tidak terlalu suka taman safari yang harus menggunakan mobil untuk berkeliling.
Nick, Sunny, Danish dan Danial bergandengan tangan sambil berlarian, sedangkan Hayley dan dua laki-laki itu tampak santai berjalan di belakang anak-anaknya sambil terus mengawasi mereka.
"Aku nggak tau kalau kamu punya teman seperti wanita tadi, Alex," ucap Aron membuka obrolan.
"Ya, ceritanya sangat panjang. Aku bertemu Nora lima tahun lalu, Bro."
"Hah, bagaimana bisa?" sela Hayley bertanya.
Akhirnya Alex menceritakan tentang saat pertama kali dirinya bertemu Nora, maksudnya adalah saat pertama kali dirinya mencelakai Nora hingga membuat mereka saling kenal.
Dan juga, tentang kesibukannya mengurus Nora yang sedang di rawat di rumah sakit hingga melupakan janjinya untuk makan malam bersama Melanie.
"Wow, menakjubkan. Gadis itu mampu membuatmu lupa suatu hal penting, mengesankan." Hayley berucap takjub. "Cukup menarik."
Begitulah, Hayley masih dengan sifatnya dulu, selalu mendapatkan celah khusus untuk menggoda sepupu iparnya.
"Nggak ada yang menarik. Aku cuma melakukan tanggung jawabku setelah membuatnya mengalami retak di pergelangan kakinya," jelas Alex sambil melirik Hayley yang berada di samping Aaron, ia tau jika Hayley memiliki pemikiran yang tidak sependapat dengannya.
"Hai, jangan melirikku seperti itu, Alex. Aku kan hanya menebak."
"Apapun tebakan dalam pikiranmu itu, salah. Berhenti berpikir apapun kemungkinan yang terlintas di kepalamu, Hay."
"Idih, marah."
"Sudah, sudah. Cukup, kalian kenapa nggak pernah berubah, selalu bertengkar padahal anak-anak kita akur?" sela Aaron menengahi.
"Hayley, sih," ujar Alex sambil mencebik.
"Loh, kok aku, sih." Hayley tidak terima. "Aku nggak kenapa-napa, loh. Alex yang nuduh aku berpikir yang bukan-bukan."
"Sudah, cukup!" tegas Aaron, selalu saja begitu, jika bukan Hayley yang memulai perdebatan di antara mereka, maka Alex yang akan mencari gara-gara, selalu saja seperti itu.
🖤🖤🖤