NovelToon NovelToon
Anaknya Disusui, Daddy-nya Yang Terpikat

Anaknya Disusui, Daddy-nya Yang Terpikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Janda / Cinta Seiring Waktu / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ita Yulfiana

Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.

Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Terpesona

Di bawah sorot cahaya lampu yang hangat di dalam kamarnya, Arman begitu terpanah melihat sosok wanita cantik yang tengah menyalurkan kehidupan kepada putrinya. Sebulan lebih tak bertemu, Firda terlihat semakin cantik dan mempesona. Apalagi dalam kondisi tengah menyusui Akira, kecantikannya mendadak bertambah berlipat kali di mata Arman.

Duar! Suara petir yang tanpa aba-aba menggelegar berhasil mengejutkan Arman, menyadarkannya dari lamunan. Melihat putrinya yang terkejut dan kembali menangis, Arman tergerak menghampiri. Niatnya memberi putrinya rasa perlindungan dengan pelukan, tapi dia tanpa sadar juga memeluk sang ibu susu.

"Tenang, Sayang, jangan takut. Daddy ada di sini," ucapnya, mendekap lebih erat. Baby Akira akhirnya kembali tenang dalam himpitan hangat kedua orang dewasa itu, lalu kembali menyusu.

Arman tersenyum melihat putrinya yang begitu lahap memompa makanannya. Hatinya menghangat. Ini pertama kalinya dia melihat pemandangan itu dari jarak yang sangat dekat. Terlihat semakin lucu dan menggemaskan bagi Arman, apalagi sebelah tangan kecil Akira bergerak seperti melakukan pijatan lembut pada permukaan sumber makanannya.

Wait, wait! Sepertinya sesuatu yang tidak pantas baru saja terjadi.

"Tu-Tuan." Suara panggilan yang terdengar lirih itu berhasil mengambil alih atensi Arman dari putrinya. Dia dan Firda saling menatap selama beberapa detik. Tanpa sadar jakun Arman bergerak naik lalu turun. Apalagi saat tatapannya berpindah fokus pada bibir ranum Firda yang seolah bergerak dengan gerakan lambat saat mengatakan sesuatu padanya. "Sepertinya suara gemuruhnya sudah selesai, Tuan. Baby Akira sudah kembali tenang, sudah tidak takut lagi."

"Hah?" Arman yang baru sadar bahwa tangannya melingar di punggung wanita itu akhirnya melepas dengan cepat. "Ah, oh. Em ... maaf. Aku ... tidak sengaja," jelasnya salah tingkah. Seketika wajahnya memerah.

Bi Mina yang sejak tadi hanya menjadi penonton hanya bisa mengulum senyum. Apalagi saat melihat Arman yang langsung pergi ke kamar mandi dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Pertama kalinya seumur hidup dia melihat Arman salah tingkah seperti itu di hadapan seorang wanita.

"Non Akira," Bi Mina mengelus lembut rambut tebal bayi yang sedang menyusu itu, "seharusnya dari kejadian ini, ayahmu bisa sadar bahwa ikatan batin kalian berdua mengalahkan ikatan batinmu dengan siapa pun di dunia ini. Bahkan dia sendiri yang merupakan ayahmu."

Firda hanya tertunduk menatap Akira. Matanya berembun mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang berhasil membuatnya panik setengah mati. Tapi sekuat hati dia menahan diri untuk tidak menjatuhkan air mata, toh sekarang bayi kesayangannya itu sudah kembali ke pelukannya. Mengenai Arman, dia yakin, pria itu mungkin saja marah padanya setelah kejadian akibat dari kelalaiannya tersebut.

"Non Firda."

"Iya, Bi."

"Setelah ini, jika sikap Tuan Arman berbeda dari sebelum dia pergi, tolong jangan dimasukkan ke dalam hati, yah. Dia orangnya memang terkadang sulit dimengerti. Terkadang keras kepala dan keras hatinya mengalahkan batu. Tapi, jika dia baik, dia bisa menjelma bak malaikat tanpa sayap." Ucapan Bi Mina tersebut dijawab anggukan diiringi senyuman tipis oleh Firda.

"Ya, Bi."

Sementara itu di kamar mandi, Arman terus menampar pipinya sendiri secara bergantian. Setelah menyadari pipinya memerah di hadapan Firda, dia jadi malu kepada dirinya sendiri.

"Bisa-bisanya aku terpesona padanya." Plak, plak. Dua tamparan kecil kembali mendarat secara bergantian di pipi Arman. "Tidak mungkin, aku tidak boleh seperti itu. Sadar, Arman. Di luar sana banyak sekali bertebaran wanita cantik di mana-mana. Dan yang jelas, bukan keturunan pengkhianat besar."

...****************...

Rahmi duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya dengan erat. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari celah-celah dinding yang retak. Udara di ruangan itu lembab dan dingin.

Dia memperhatikan ember besi berkarat di sudut ruangan. Air menetes perlahan dari atap, jatuh ke dalam ember dengan bunyi "plok-plok" yang monoton.

Tiba-tiba, Rahmi mendengar suara langkah kaki di luar ruangan. Dia menoleh ke arah pintu, jantungnya berdetak kencang.

Pintu terbuka, dan tiga sosok laki-laki asing muncul di hadapan Rahmi. Mereka mengenakan topi dan jaket tebal yang kesemuanya berwarna gelap, wajah mereka tidak terlihat jelas.

Rahmi semakin beringsut ketakutan. "Siapa ... siapa kalian?! Kenapa kalian membawaku ke sini? Mau kalian apa, hah?!" Dia bertanya, suara tingginya bergetar.

Laki-laki itu tidak menjawab, mereka hanya menatap Rahmi dengan mata yang dingin. Salah satu dari mereka mengambil langkah maju, membuat Rahmi semakin mundur.

"Aku hanya ingin bertanya padamu, apa maksud dari video ini?" Pria itu mengeluarkan ponsel, menunjukkan video yang sedang menunjukkan Baby Akira tergeletak di lantai yang beralaskan karpet busa. Sementara di atas tempat tidur Firda tertidur dengan lelap.

Rahmi menelan ludah susah payah. Ya, itu adalah video yang semalam dia kirimkan kepada Arman menggunakan nomor baru yang langsung dia buang setelah video itu berhasil terkirim. Sebenarnya, Rahmi melakukan itu karena marah dan kesal kepada Firda yang tidak bisa lagi dia manfaatkan dengan mendapatkan uangnya. Jadi, dia ingin balas dendam dengan cara membiarkan Firda kena masalah dengan majikan mereka.

Namun entah mengapa beberapa jam kemudian, dia justru malah tiba-tiba ditangkap oleh 3 orang pria tak dikenal begitu keluar dari club malam bersama kekasihnya. Tidak beruntungnya, kekasih yang seharusnya menjadi pahlawan pelindung justru malah tidak bisa melakukan perlawanan apa pun karena terlaku banyak mengkonsumsi minuman beralkohol.

"Sa-saya tidak mengerti. I-itu ... video apa," kata Rahmi masih tidak mau mengaku.

Pria itu terdengar berdecih. "Oh, jadi kamu tidak tahu itu video apa?" tanyanya dengan nada mengejek. Dia lalu menggeser layar, dan seketika terputar video lain yang menunjukkan Rahmi tengah memasukkan sesuatu ke dalam kotak susu bubuk dengan gambar ibu menyusui di bagian depan kemasan. Ya, itu adalah susu khusus yang selalu dibuatkan oleh pelayan rutin setiap pagi dan malam agar produksi ASI Firda tetap melimpah dan berkualitas.

Rahmi menelan ludah susah payah. Tenggorokannya seketika menjadi kering.

Setelah rekaman di ruang dapur selesai, selanjutnya memperlihatkan rekaman Firda yang sedang tertidur bersama Baby Akira di atas kasur, lalu datang Rahmi memindahkan bayi itu ke lantai, lalu merekamnya diam-diam menggunakan ponselnya.

Sekujur tubuh Rahmi mendadak lemas. Wajahnya pias. Niatnya mencelakai Firda agar ibu susu itu mendapat masalah dengan Tuan Arman, tapi justru hal itu berbalik padanya. Entah di mana pemilik rumah mewah itu meletakkan kamera CCTV di setiap ruangan, kenapa dia tidak menyadarinya selama ini.

"Sebaiknya kamu berterima kasih karena Tuhan berbaik hati membuatmu terlahir ke dunia sebagai perempuan. Karena kalau tidak, kamu pasti sudah habis di tangan kami," kata salah satu pria yang sejak tadi diam berdiri di belakang, membuat Rahmi semakin menciut dan menangis ketakutan.

"Bos, sebaiknya kita apakan dia sekarang?"

"Kita bawa saja ke kantor polisi beserta bukti-bukti video kejahatannya. Seumur-umur aku belum pernah memukul perempuan, dan aku masih enggan melakukannya hari ini." Pria yang menginterogasi Rahmi tipis-tipis itu akhirnya berdiri. "Kalian berdua bawa dia ke mobil. Aku akan menelepon Tuan Arman sebentar."

Rahmi menangis histeris. Berteriak memohon, mengiba, meminta agar dirinya dilepaskan, dan berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Namun siapa yang peduli. Dia salah sudah bermain-main dengan keluarga Valmara yang terkenal akan kekuatan dan pengaruhnya. Di hidup ini, yang paling dibenci Arman adalah pengkhianat dan orang yang tidak bisa dipercaya. Jadi sekali melakukannya tidak akan mendapatkan maaf, apalagi kesempatan untuk kedua kalinya.

1
Cindy
lanjut
Lisa
Good morning Kak Ita..makasih y utk updatenya..
Lisa: Sama² Kak Ita..Amin..terimakasih juga y Kak..🙏💪
total 2 replies
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Indry Saleh
bagus karya..
Ita Yulfiana: ulala Kak Indry... thanks sudah jadi orang pertama yang kasih penilaian😍🫰🥰
total 1 replies
Indry Saleh
dek firza ohhhhhh di firza🤣🤣🤣🤣
Cindy
lanjut
💕Rose🌷Tine_N@💋
lanjut dong.. aku dah kasih vote ku yg satu satu nya nih😂
Ita Yulfiana: makasih banyak loh Kak sudah jadi orang pertama yang ngasih vote🫰😘🤭
total 1 replies
💕Rose🌷Tine_N@💋
apakah org tua Firda penghianat di perusahaan Arman ya?
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..
💕Rose🌷Tine_N@💋
jd penasaran...ada informasi apa ttg Firda ya?
💕Rose🌷Tine_N@💋
aku mampir😍
Ita Yulfiana: makasih banyak Kak Rose🙏🏼🥰 semoga suka yah😊😊
total 1 replies
Indry Saleh
sippppp ceritanya, masih dipantau bab selanjutnya
Ita Yulfiana: makasih banyak Kak Indry🙏🏼🥰 semoga suka yah😊😊
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
emng lu tau firda masuk jajaran penghianat?😏
Lisa
Padahal Arman suka sama Firda 😊🤭
Cindy
lanjut
Lisa
Nah mulai terungkap tuh kejahatannya Ibu Risma..ayo Arman bereskan masalah itu..lindungi Firda..
Sastri Dalila
😂😂😂
Lisa
😊😊😊 ya tuh 2 pria mulai memperebutkan 1 wanita 🤭
Lisa
Wah Pras mulai berani menggoda Firda y 😊🤭
Sastri Dalila
😅😅😅😅😅kocak 2 org ne
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!