Bagaimana jika jiwamu bertukar dengan orang yang sangat kamu benci, pria yang selalu mengolok-olok mu karena penampilanmu yang culun?!
Denada seorang siswi berkacamata tebal dengan kawat gigi dan buku ditangannya, Si Empat Mata adalah julukan yang sudah melekat dengannya. Habis habisan merasakan Bullying di Sekolah baik dari teman wanita ataupun pria. Seorang pria yang sangat ia benci bernama Rendra juga sering ikut mengerjainya.
Tiba-tiba mendapatkan accident dan bertukar jiwa dengan Rendra, semua kehidupan menjadi berputar sekarang?!
Bagaimana Denada menjalani kehidupan barunya dengan memakai tubuh pria, dan Rendra yang harus merasakan menstruasi untuk pertama kalinya?!
Read More...
Si Empat Mata Reborn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vietha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 | Nasi Sudah Jadi Bubur.
Kelanjutan cerita kemarin...
"AHAHAHA... "
Suara gelak tawa cekikikan kini terdengar renyah dari dalam kamar mandi wanita, siapa lagi kalau bukan Lisa and the geng yang sedang menikmati kebahagiaan mereka mengerjai Denada.
BYUUURRR...
Saat ini mereka tengah asik menyiram segayung air ke atas kepala Denada yang dikiranya, mana tau mereka kalau ini sebenarnya Rendra. Tak dapat berkutik Rendra di sana karena tangannya diikat Lisa dan mulutnya disumpal ikatan dasi juga oleh wanita-wanita nakal itu.
Rendra sebelumnya disergap tanpa aba-aba dari belakang oleh geng Lisa dan langsung dibawa ke sini. Jangan tanya kenapa Lisa tidak dilaporkan ke BK saja, menilik latar belakang orang tuanya yang ketua Komite Sekolah dan salah satu Donatur terbesar Sekolah Swasta ternama ini mana ada murid yang berani melapor cari masalah dengannya.
"Tunggguu!!"
Tak lama Denada yang berlari dengan tubuh Rendra dari perpustakaan sampai juga di sana. Ia seketika menghentikan moment kebahagiaan Lisa and the geng.
"Ah, apaan sih lo ngagetin aja, gangguin orang aja lu Ndra!" cecar Lisa langsung.
Denada yang panik melihat badannya telah basah kuyup di dalam toilet itu, terlebih Rendra saat ini sedang menerima menstruasi yang seharusnya ia hadapi sendiri seketika Denada memutar otak untuk menghentikan aksi Lisa.
"Lis, Kepsek dari tadi lagi keliling barusan gue liat mau ke arah toilet pas-pasan di jalan, mending lo pada cabut sekarang dari pada masalah!" ucapnya sambil memperagakan gaya bicara Rendra.
"Hah yang bener lo, hisss sialan gangguin aja, udah ayok cabut!"
Mendengar perkataan Rendra yang mereka kira serius akhirnya Lisa and the geng langsung pergi beranjak dari sana, syukurlah kali ini Denada tak ketahuan berbohong, untuk pertama kalinya Ia bisa berbohong dengan lancar seperti tadi.
Setelah kepergian Lisa and the geng Denada langsung dengan cepat mendekati Rendra dan melepaskan semua ikatannya.
"Aah, akhirnya dateng juga lo, sialan memang si Lisa ngeroyok gue dari belakang, a*jing bener memang itu anak basah baju gue, sssh aaau..."
Rendra langsung mengumpat setelah sumpalan mulutnya terlepas, sambil menahan sakit perut karena menstruasi dan dinginnya baju Sekolah yang kini sudah basah itu.
"Ss-sorry Ndra gue telat datangnya,"
"Halah seneng kan lo liat gue sial kayak gini, gara-gara make badan lo ni cupu, apes mulu hidup gue!"
"Heh, gimana pun ini badan gue Rendra, udah lagi mens, kedinginan kayak gini, kalau lo sakit gue juga yang rugi!"
Mereka berdua adu cekcok lagi di sana saat ini, sama-sama panas dengan situasi yang sedang terjadi ini.
"Lagian lo juga dari dulu dibully kenapa gak lapor Guru sih, diem aja jadinya orang terus-terusan nyerang lo bego!"
"Heh, kalo ngomong itu dipikir, bukannya lo dulu juga jadi bagian tukang bully gue ya, bahagia kan lo liat gue menderita, rasain sekarang gimana rasanya! Lagian siapa gue bisa ngelaporin kalian anak orang kaya ha?!"
Mereka terus berdebat mengeluarkan sampah hati masing-masing, suasana makin memanas sekarang, tatapan sengit dari keduanya dan pembicaraan yang semakin serius membuat kamar mandi menjadi horor.
Tak lama,
"Yaudah lo tunggu di sini dulu jangan kemana-mana!"
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Denada kemudian keluar dan bergegas pergi ke ruang Loker Sekolah untuk mengambil baju salin dari lokernya. Sebelum ini Denada juga pernah mengalami kejadian seperti ini, saat bajunya basah dan tak ada baju ganti akhirnya Ia terpaksa pulang Sekolah, namun setelahnya Ia selalu menyimpan Seragam cadangan dalam loker untuk antisipasi kejadian seperti ini lagi.
Lain hal Rendra, saat ini Ia tengah termenung masih dalam toilet itu, Ia berfikir dalam-dalam sambil menatap cermin di sana. Dipegangnya rambut, kacamata dan kawat gigi Denada yang masih melekat padanya kini, dan terus berfikir dalam setelah mendengarkan ucapan Denada padanya tadi.
[Karma gue apa ya ini, aah cch]
"Gak bisa nih kalau kayak gini terus, kalau model perawakan si cupu ini terus jadi identitas gue bisa habis gue ditindas Lisa, sialan gue pikir dia gak sesadis ini ngerjain Nada dulu, awas lo Lisa gue bales lo habis ini #$!@... "
Rendra sempat menyadari kesalahannya kepada Denada dulu, walaupun Ia menyesal tapi nasi sudah jadi bubur, cara untuk bertukar jiwa dan mendapatkan identitasnya kembali belum Ia temukan, namun setelah berfikir dalam Ia mendapatkan cara untuk menebus perbuatannya ke Denada sekaligus membalas perbuatan Lisa.
Tak lama Denada sampai di sana membawa baju ganti dan pembalut untuk Rendra membersihkan dirinya. Ia berlari tergesa-gesa dan sampai dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Ndra, haah... untung lo masih di sini, ini ganti bajunya, pembalut juga ada di dalam plastik itu!"
Setelah memberikan barangnya kepada Rendra, Denada menunggu di luar sambil Rendra mempersiapkan diri. selang beberapa waktu Rendra keluar juga dengan keadaan rapi.
"Thanks ya, untung ada baju salin, mm Nada sorry ya gue waktu itu..."
"Udah lupain aja... "
Melihat Denada yang dengan enteng memaafkannya bahkan sebelum Ia selesai meminta maaf akhirnya niat Rendra tadi kini bulat, Ia telah bertekad untuk membantu Denada membalaskan dendam kepada Lisa and the geng, sebenarnya membantu dirinya sendiri juga sih agar tidak terusan jadi bahan bullyan dengan identitas cupu ini.
"Mm, yaudah nanti pulang Sekolah lo ikut gue ya!"
"Ikut kemana?!"
"Haha, lo liat aja nanti... "
Senyuman setan terpajang dibibir Rendra memikirkan hari pembalasan untuk Lisa akan dimulai, sudut bibirnya menyeringai dengan tatapan tajam ke arah lain. Denada jadi bingung dan terheran melihatnya. Tak lama bel masuk menghentikan pembicaraan mereka.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Sepulang Sekolah.
Saat ini Denada sudah bersama Rendra di depan Gerbang Sekolah, mereka menunggu jemputan supir keluarga Rendra datang. Selang beberapa waktu setelah supir itu datang,
"Pak saya bawa teman juga hari ini, tolong antarkan kami ke sini dulu ya?!"
Sebelumnya Rendra meminta Denada menyampaikan hal itu kepada supirnya agar rencananya berjalan mulus. Denada yang memakai tubuh Rendra memberikan lokasi tujuannya lewat ponsel kepada supir Rendra, walaupun sebenarnya Ia sendiri belum tau akan dibawa kemana oleh Rendra saat ini.
Setelahnya mereka berdua menaiki mobil mewah itu, Rendra duduk dengan santai dan Denada harap-harap cemas karena Rendra belum memberitahu niatannya.
"Teman sekelasnya den Rendra ya neng?!" ucap supirnya menatap gadis culun dalam mobil itu.
"Ah, iya Pak!"
Rendra hanya tertawa dalam hati menjawab supirnya, mana dia tau kalau yang diajaknya bicara itu dirinya. Selang beberapa waktu akhirnya mereka sampai juga di lokasi tujuan.
Mereka saat ini turun di depan ruko besar, dan supirnya memarkirkan mobil tak jauh dari sana. Denada seketika tercengang dan menatap tempat itu dengan mata lebar karena sebelumnya Ia belum pernah ke sini.
"Salon kecantikan?!"
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Lanjut di Next Bab.
siapa yg datang...nada kah..??
author memang suka bikin penasaran
trus ciuman lagi tukar lagi
ternyata masih dipertimbangkan ya🤭🤭