Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru
"Astaga Adeeeek.." teriak Diantha melihat penampilan adiknya yang berantakan, sontak orang tua mereka pun menoleh ke arah Alif
" Ya Ampun Alif.. Kok gitu sih penampilannya ? Udh kayak anak kelas satu SD yang nggak tau pake baju dengan benar. baju nggak masuk , dasi miring , kancingnya salah , kamu tuh gimana sih ?! Udah masuk SMP juga " omel ibu Alisa sembari memperbaiki penampilan anak lelakinya itu
" maaf Mah, tadi itu Alif sambil ngeliat jam takut telat, nggak sempat bercermin, hehehe " jawab Alif sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Ya sudah , ayo cepat sarapan, setelah itu Papah antar kalian ke sekolah baru papah ke kantor" ucap Pak Alfian menyuruh Alif segera ikut sarapan bersama mereka.
"iya Pah" sahut Alif
Selesai sarapan, pak Alfian, Diantha dan Alif pun keluar rumah di antar oleh Ibu Alisa , sebelum berangkat, Pak Alfian selalu mengecup kening istrinya , sedangkan Ibu Alisa tidak pernah absen mencium punggung tangan suaminya itu.
begitupun dengan Diantha dan Alif, mereka selalu mencium tangan kedua orang tua mereka sebelum berangkat kesekolah..
" Mah , do'ain nanti Diantha punya suami yang romantisnya kayak Papah ya Mah " seru Diantha setelah acara cium tangan selesai
" ada ada aja sih kamu nak , udah ngomongin jodoh aja , kan baru masuk SMA.. " jawab Ibu Alisa, meskipun ia tau bahwa Diantha hanya bercanda , tetapi ia merasa bahwa belum seharusnya ia mengenal Cinta.
" ya kan do'akan dari sekarang Mah , hehehe " Canda Diantha disambut senyum manis Ibu Alisa
"iya Nak, Mamah dan Papah selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua"
"sudah sudah , Ayo kita berangkat" perintah Pak Alfian
"dah Mamah , Assalamu'alaikum"
ucap Diantha dan Alif bersamaan..
Setelah anak anaknya naik ke mobil dan memastikan mereka memakai sabuk pengaman, barulah Pak Alfian menjalankan kendaraannya..
Dalam perjalanan menuju ke sekolah Diantha , Mereka asik ngobrol tentang rasa penasaran mereka akan sekolah yang akan mereka tempati belajar.
Diantha akan menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pelita
sedangkan Alif , sang Adik bersekolah di SMP Negeri 1 Pelita yang kebetulan lokasinya hanya bersebelahan, dipisahkan oleh sebuah pagar beton yang tinggi.
Pagi itu, suasana di dalam mobil terasa hangat karena sang Ayah sendiri yang mengantar mereka di hari pertama sekolah.
Ayah sesekali ikut menimpali obrolan seru kedua anaknya dari balik kemudi, memberikan nasihat-nasihat ringan agar mereka cepat beradaptasi di lingkungan baru.
Setelah mengantarkan Alif terlebih dahulu di gerbang SMP, mobil Ayah kemudian bergerak maju dan berhenti tepat di depan gerbang megah SMA Negeri 1 Pelita.
"Belajar yang rajin ya, Nak. Kalau sudah bel pulang, langsung kabari Ayah," ujar Ayah sambil tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Diantha.
"Siap, Ayah! Diantha masuk dulu ya," pamit Diantha. Ia menyalami tangan sang Ayah dengan takzim, lalu turun dari mobil dengan perasaan campur aduk—gugup sekaligus bersemangat.
Diantha berjalan menyusuri koridor sekolah yang ramai. Setelah melihat papan pengumuman, langkah kakinya membawa Diantha menuju ruang kelas barunya, Kelas X-1. Napasnya berembus pelan saat ia berdiri di ambang pintu kelas. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Diantha memantapkan hati, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kelas.
Suasana kelas yang tadinya bising oleh obrolan para siswa baru, mendadak terasa senyap di indra pendengaran Diantha ketika ia mengedarkan pandangan mencari bangku yang masih kosong. Pada saat itulah, langkahnya mendadak melambat.
Di barisan bangku dekat jendela, seorang cowok sedang duduk tenang. Ia baru saja mendongak setelah meletakkan tasnya. Nama cowok itu adalah Altaf.