NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02•Kebohongan Pertama

Seorang perempuan duduk dengan kemeja Chanel yang rapi dan rok bahan katun premium di atas lutut. Tas Hermès-nya tergeletak di atas meja tanpa ia sentuh. Riasan wajahnya tipis namun membuat wajahnya tampak cantik. Jari-jari lentiknya menggenggam gagang gelas berisi bir yang siap ia teguk.

“Bagaimana kabar Tante Desy?” tanya Dewi. Ia meletakkan gelas bir di atas meja dengan hati-hati.

“Baik,” jawab Arkan. “Sudah lama ya, lima tahun yang lalu—”

Ucapannya terhenti. Seolah ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya, membuat ia tak sanggup melanjutkan.

Perempuan itu tertawa pelan. Tawanya hambar. Ia kembali meneguk birnya dengan anggun.

“Mas, aku jelas belum bisa melupakanmu,” ujarnya lirih.

“Apa kamu sudah punya—”

Ucapan Dewi segera terpotong.

“Sudah tengah malam. Apa kita pulang saja, Dew?”

Arkan bangkit dari duduknya. Matanya tidak berani menangkap tatapan Dewi yang masih enggan beranjak.

Dewi mengalah. Perlahan ia berdiri.

“Biar aku saja yang bayar, Mas,” katanya, lalu melangkah lebih dulu menuju kasir.

Arkan mengikutinya dari belakang. Sampai mereka keluar dari kafe, ia masih berjalan beberapa langkah di belakang Dewi. Sesekali ia melirik jam tangannya. Hampir pukul satu dini hari. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Layarnya penuh dengan pesan masuk dari Naya.

“Mau ikut pulang bersama?” tanya Dewi ketika tangannya hendak membuka pintu mobil.

Arkan buru-buru memasukkan ponselnya kembali. Ia mengangguk.

“Boleh.”

Sepanjang perjalanan, keduanya diam. Tidak ada suara selain desir AC dan deru mesin mobil. Dewi seperti sedang mengantar penumpang, bukan teman lama. Beberapa kali ia melirik Arkan yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Mas lagi banyak pikiran ya?”

Karena penasaran, Dewi akhirnya bertanya.

Arkan menoleh.

“Eh… nggak, Dew. Aku cuma lagi mikirin kerjaan.”

Ia berbohong. Dan ia tahu, Dewi pasti tahu.

“Mas, apa kamu sudah punya pacar?”

Pertanyaan itu meluncur tiba-tiba, membuat Arkan terkejut.

Udara di dalam mobil mendadak menjadi berat. Arkan menggenggam ponselnya semakin erat. Di layar, nama “Naya” masih terpampang di deretan pesan yang belum ia baca. Pesan terakhir berbunyi: “Mas sudah pulang? Aku tunggu ya. Hati-hati di jalan.”

Ia menatap Dewi sekilas. Wajah wanita itu masih sama seperti lima tahun lalu. Tenang, anggun, dan selalu bisa membuat Arkan merasa bersalah hanya dengan satu tatapan.

“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?” Arkan mengalihkan.

Dewi tersenyum tipis. “Karena lima tahun lalu kamu pergi tanpa alasan. Dan sekarang kamu muncul lagi.” Ia menarik napas. “Mas, kalau kamu sudah punya orang lain, bilang aja.”

Arkan menunduk. Kalimat itu menghantam tepat di dadanya.

Ia ingat Naya. Gadis itu pasti masih terjaga di kontrakan, menunggu kabarnya. Gadis itu selalu percaya, selalu menunggu, tanpa pernah menuntut apa pun.

“Aku… aku ada seseorang, Dew,” jawab Arkan akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar.

Dewi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menginjak pedal gas lebih dalam. “Syukurlah kalau begitu.”

Mobil berhenti di depan gerbang rumah Dewi. Arkan segera membuka pintu.

“Makasih udah nganterin aku, Dew.”

Dewi menoleh sebelum ia pergi.

“Mas, kamu yakin sama pilihanmu?”

Arkan tidak menjawab. Ia menutup pintu dan berjalan pergi tanpa menoleh.

......................

Malam hari berikutnya, Naya keluar dari kantornya, sesekali melihat ponselnya yang tak ada notifikasi sama sekali, sejak malam kemarin Arkan tidak membalas pesannya. Perasaan cemas semakin membuatnya tak bisa fokus hari itu sampai di tegur oleh bos nya.

Sampai ia tiba didepan kontrakannya, sepatu Arkan sudah ada didepan pintu. Naya langsung masuk kedalam, dari balik pintu yang ia buka terlihat Arkan yang sedang menata piring di meja, sudah ada ayam goreng dan es teh diatas meja itu.

"Naya, kamu sudah pulang" ujar Arkan langsung menghampiri Naya dan memeluknya. Erat, hangat tanpa rasa bersalah.

Naya diam, tak membalas pelukan Arkan. Entah lelaki yang ada didepannya tau atau pura-pura tidak tau kalau Naya sangat khawatir, lebih dari puluhan pesan tidak Arkan balas.

"Duduk, aku udah siapin makan malam" Arkan menarik kursi untuk Naya duduk. Wajahnya tersenyum cerah, tak ada beban.

Naya tetap berdiri. “Kamu dari mana semalam, Mas? Aku chat kamu nggak dibales sama sekali.”

Arkan berhenti menata sendok. Ia menatap Naya, lalu menghela napas pelan. “Maaf ya Nay. Aku lembur semalam. Ponsel aku mati, ketinggalan charger di kantor. Aku baru pulang jam 2 pagi, langsung tidur. Takut bangunin kamu kalau chat.”

Alasannya masuk akal. Terlalu masuk akal. Naya ingin marah, tapi melihat ayam goreng di meja dan wajah Arkan yang lelah, kemarahannya luruh.

“Duduk dulu,” kata Arkan lagi, kali ini lebih lembut. “Aku sengaja langsung ke sini habis pulang kantor biar bisa jelasin langsung. Nggak enak juga kalau cuma lewat chat.”

Naya akhirnya duduk. Arkan menaruh sepotong ayam ke piringnya. “Makan. Kamu pasti belum makan kan?”

Naya makan. Ayamnya hangat, es tehnya manis. Tapi entah kenapa, rasanya sedikit pahit di ujung lidah.

Ia tidak tahu, semalam Arkan tidak lembur. Semalam Arkan duduk di kafe, minum bir dingin, dan bicara dengan Dewi sampai larut.

Arkan yang sekarang tersenyum di depannya, adalah Arkan yang pandai menata piring. Dan pandai menata kebohongan.

Naya menaruh kembali sendoknya dipiring, ayamnya hanya ia makan sekali suap. Lalu beralih menatap Arkan kembali. "Mas, kita udah pacaran lima tahun, apa kamu gak berniat serius sama aku. Bahkan aku belum kenal keluarga kamu" ujar Naya, lembut, hati-hati.

Arkan mendengarnya tapi matanya masih tertuju kepada piringnya. Masih lanjut makan tanpa berniat menjawab ucapan Naya.

Setelah diam beberapa saat, Arkan mengangkat wajahnya. Melihat Naya yang terus menunggu jawaban dari mulutnya.

"Iya, aku bakalan kenalin kamu sama keluargaku secepatnya Nay" jawab Arkan dengan lirih, namun tanpa senyuman seperti biasanya, matanya langsung menuju ke piringnya kembali dan menyuap nasi ke mulutnya tanpa suara.

Naya menghela nafas kasar, nafsu makannya harusnya meningkat karena ayam goreng buatan Arkan, namun jawaban yang ia dengar itu seperti suara yang dipaksa keluar, dadanya sesak, ia menunduk menatap piringnya dengan mata berkaca.

"Masukan ayamnya ke dalam kulkas, besok aja aku kesini lagi buat bantuin kamu beres-beres. Aku pulang dulu.." baru saja mencuci tangannya seusai makan, dia sudah berpamitan pulang.

Naya hanya melihat punggungnya saat ia memasang sepatu didepan pintu, tak ada kecupan atau ciuman, tak ada senyuman seperti biasa saat hendak pulang.

Satu kalimat dari Naya dan Arkan berubah dalam hitungan detik.

Naya tersenyum pahit sambil mengusap matanya yang basah. Sebelum akhirnya menutup pintu pelan-pelan.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!