NovelToon NovelToon
KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.

Dan ketika ia membuka matanya kembali…

Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tubuh Fana Yang Membeku Di Dungeon

Di tengah pusaran kegelapan dimensi yang merobek segala logika, seutas benang karma bumi yang tersisa berhasil menyeret wujud fana Wu Xuan, melemparnya dengan kasar ke atas permukaan sebuah planet mati yang membeku.

Benturan itu tidak menghasilkan suara ledakan, namun menghancurkan lapisan es setebal belasan meter, menciptakan kawah berbentuk jaring laba-laba. Angin dingin yang menyiksa fisik langsung menyambut kedatangannya. Ini adalah planet yang telah hancur, sebuah neraka beku di mana suhu udara cukup untuk membekukan aliran darah dalam hitungan detik. Langitnya berwarna abu-abu pekat, tanpa bintang, tanpa matahari, hanya ada badai salju abadi yang memotong seperti silet.

Di dasar kawah es itu, Wu Xuan terbaring.

Kemeja putihnya robek parah, menampakkan kulitnya yang mulai memucat akibat suhu ekstrem. Otaknya mencoba memproses rasa sakit yang menyerang seluruh jaringan sarafnya. Ia mencoba menggerakkan jari, namun tubuhnya menolak.

Pemutusan paksa dari kesadaran tertinggi—wujud dao agungnya—bukanlah sekadar kehilangan sinyal komunikasi. Itu adalah pencabutan pondasi eksistensi. Tanpa "server utama" yang menopang stabilitas energinya, wujud ini mengalami shock keberadaan. Kesadarannya mulai kabur, ditarik paksa ke dalam tidur panjang.

Di detik-detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar padam, Wu Xuan menatap langit abu-abu di atasnya. Sebuah tawa kecil yang lemah, sangat sarkastis, dan penuh humor lolos dari bibirnya yang mulai membiru.

"Mata merah sialan..." batin Wu Xuan, matanya perlahan menutup. "Aku pastikan akan mencongkel matamu itu..."

Kelopak matanya terpejam rapat. Kesadarannya tenggelam dalam tidur panjang yang mematikan.

Angin badai mulai mengubur tubuhnya. Suhu ekstrem planet mati ini perlahan menembus kulitnya. Namun, Wu Xuan bukanlah manusia fana sepenuhnya. Tubuh itu terbentuk dari energi yang dikompresi hingga batas maksimal. Saat ancaman pembekuan datang, sistem pertahanan tubuhnya aktif secara pasif. Energi spiritual yang sangat murni merembes keluar dari pori-porinya, bereaksi dengan badai es, dan perlahan membentuk cangkang kristal yang sangat keras.

Namun, rembesan energi spiritual itu menyebabkan kekuatan fisik Wu Xuan terus melemah seiring berjalannya waktu selama ia berada di sana.

Waktu mulai berjalan, namun di tempat ini, waktu adalah ilusi yang terdistorsi.

Badai kosmik di sekitar planet ini membengkokkan aliran waktu secara alami. Satu tahun terlewati. Badai salju datang dan pergi. Dua tahun, tiga tahun, hingga ratusan tahun berlalu dalam hitungan waktu relatif di planet mati tersebut. Namun bagi dimensi tertinggi di alam surgawi tempat Istana Naga Danau Emas berada, waktu itu mungkin hanya setara dengan beberapa hari.

Dan bagi bumi, tempat di mana benang karmanya berasal, waktu telah bergerak kejam meninggalkan masa lalunya. Tepat lima belas tahun telah berlalu di bumi.

Selama lima belas tahun waktu bumi itu, tubuh Wu Xuan terlelap tanpa mimpi di dalam peti mati kristal es.

Namun, di planet yang kejam ini, keberadaannya tidak dibiarkan dalam kedamaian. Planet mati ini bukanlah tempat yang kosong. Ini adalah wilayah perburuan bagi predator puncak yang lahir dari badai: Serigala Es.

Makhluk-makhluk raksasa seukuran truk lapis baja, dengan bulu tajam menyerupai jarum baja dan rahang yang mampu meremukkan logam, mulai mencium anomali. Kristal es yang mengurung Wu Xuan tidak memancarkan hawa kematian, melainkan memancarkan radiasi energi spiritual yang teramat murni dan padat.

Bagi para Serigala Es yang berevolusi melalui pembunuhan dan penyerapan energi, tubuh yang membeku itu bukanlah daging untuk dimakan. Itu adalah sebuah pusaka. Sebuah artefak hidup yang menjanjikan evolusi.

Maka, dimulailah perang berdarah di atas hamparan es.

Selama bertahun-tahun, kawah tempat Wu Xuan terlelap berubah menjadi arena pembantaian. Ratusan kawanan Serigala Es saling mencabik, merobek tenggorokan, dan mematahkan tulang demi memperebutkan hak untuk beristirahat di dekat kristal tersebut. Darah biru tua milik monster-monster itu menyirami es di sekitar Wu Xuan, membeku seketika, menciptakan lapisan lantai darah yang mengerikan.

Tidak ada yang berani menghancurkan kristal itu. Insting binatang mereka menolak untuk menghancurkannya. Mereka hanya bertarung untuk posisi. Serigala yang paling kuat, sang pemimpin, akan tidur melingkar tepat di samping kristal Wu Xuan, menyerap sisa-sisa energi yang merembes keluar, sementara kawanan yang kalah hanya bisa melolong di kejauhan.

Hingga pada suatu hari, keseimbangan planet mati itu terkoyak dari luar.

Di ujung cakrawala es, ruang angkasa bergetar hebat. Sebuah distorsi spasial berwarna biru neon merobek udara dengan suara mendesis yang tajam. Retakan itu perlahan melebar, membentuk sebuah portal bercahaya yang alami.

Dari dalam portal itu, sekelompok orang melangkah keluar, menghancurkan tumpukan salju dengan pijakan bot besi yang berat.

Mereka adalah manusia.

Tujuh orang manusia mengenakan setelan armor yang aneh—perpaduan antara zirah pelat baja berwarna hitam pekat yang dirancang untuk menahan serangan mematikan, dan perangkat teknologi modern seperti layar holografik kecil di pergelangan tangan serta senjata yang terbuat dari material unik.

Di dunia mereka, orang-orang ini memiliki satu sebutan yang mengikat takdir mereka dengan evolusi: Hunter.

Orang-orang yang mempertaruhkan nyawa untuk membersihkan distorsi spasial yang mereka sebut sebagai Dungeon, sebelum monster-monster di dalamnya tumpah dan membanjiri kota-kota di bumi.

"Formasi sayap. Jaga jarak pandang. Udara di tempat ini bisa membekukan paru-paru jika kita terlalu lama di sini," perintah seorang pria berbadan besar yang berdiri di barisan paling depan.

Namanya Butong.

Ia adalah pemimpin dari sebuah guild kecil yang beroperasi di wilayah Beijing. Tubuhnya menjulang seperti menara otot, mengenakan armor kelas berat dengan banyak bekas cakaran di bagian dadanya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah palu tempur raksasa yang kepalanya dialiri energi panas berwarna merah menyala. Matanya yang tajam dan dipenuhi bekas luka menatap waspada ke sekeliling hamparan es.

"Ketua, pembacaan radar menunjukkan ini adalah Dungeon peringkat bawah," ucap salah satu anggotanya, seorang wanita yang memegang tongkat dengan kristal bercahaya di ujungnya. "Tapi aneh... fluktuasi energi di pusat kawah sana... stabil tapi sangat besar. Seperti ada reaktor nuklir biologis."

Butong menyipitkan matanya. "Jangan lengah. Serigala Es di tempat seperti ini biasanya berburu dalam kawanan. Kita bergerak ke pusat kawah. Bersihkan area, cari inti boss, dan kita kembali sebelum badai berikutnya datang."

Mereka bergerak dengan disiplin yang ketat. Sesekali, beberapa Serigala Es yang bersembunyi di balik gundukan salju menerjang maju. Namun guild kecil ini adalah veteran. Tembakan energi, tebasan pedang, dan hantaman palu Butong menghancurkan para beast itu dengan presisi mematikan. Mereka tidak membuang gerakan. Setiap serangan sangat terukur, meminimalkan pengeluaran stamina di lingkungan yang ekstrem.

Setelah setengah jam pertempuran berdarah yang meninggalkan bangkai serigala di sepanjang jalan, ketujuh hunter itu akhirnya tiba di bibir kawah raksasa.

Apa yang mereka lihat di dasar kawah membuat napas mereka tercekat.

Bukan tumpukan harta karun. Bukan inti kristal raksasa peninggalan kuno. Bukan pula sesosok boss monster yang mengerikan.

Di dasar kawah, di kelilingi oleh ribuan tulang belulang dan lautan darah biru yang telah membeku, terdapat sebuah kristal es yang sangat bening, berdiri tegak seperti sebuah monumen yang suci sekaligus angker.

Dan di dalam kristal es itu... terkurung seorang pria.

"Demi Tuhan..." gumam salah satu hunter pria, menurunkan busur panjangnya. Tangannya sedikit gemetar melihat pemandangan absurd di depannya.

Butong mengerutkan keningnya begitu dalam hingga alisnya hampir menyatu. Ia melangkah turun ke dasar kawah dengan hati-hati, diikuti oleh timnya. Rasa waspada tidak pernah lepas dari genggaman palunya.

Ketika mereka berdiri hanya dua meter dari kristal itu, keheningan mencekam menyelimuti tim tersebut.

Mereka bisa melihatnya dengan sangat jelas. Seorang pemuda, mungkin berusia pertengahan dua puluhan, dengan rambut hitam legam dan fitur wajah yang sangat tampan namun memancarkan aura yang mengintimidasi, meskipun matanya tertutup rapat.

Pria itu mengenakan pakaian yang terkoyak dan celana panjang hitam, persis seperti pakaian orang-orang yang berjalan di distrik bisnis Beijing.

Namun, bukan pakaiannya yang membuat tim itu merinding. Melainkan energi asing yang menguar dari dalam kristal. Sunyi, tenang, namun terasa seperti pedang tak kasat mata yang ditempelkan di leher mereka.

"Pindai dia. Sekarang," perintah Butong dengan suara berat yang tertahan. "Jika dia monster yang menyamar kita akan membunuhnya!"

Wanita pemegang tongkat sihir itu melangkah maju. Ia merapalkan sebuah mantra deteksi, mengalirkan cahaya hijau dari tongkatnya ke arah kristal es tersebut. Matanya terbelalak lebar, wajahnya seketika pucat pasi. Ia mundur dua langkah, hampir tersandung kakinya sendiri.

"Ini... ini gila, Ketua," suara wanita itu bergetar. "Dia bukan monster. Bukan mayat. Jantungnya berdetak. Sangat lambat, mungkin satu detakan setiap satu jam, tapi... fluktuasi vitalitasnya utuh. Ada energi aneh di dalam tubuhnya... aku tidak tahu energi apa itu. Alat deteksiku nyaris tidak berfungsi."

Anggota tim lainnya saling berpandangan dengan tatapan tidak percaya. Udara di tempat ini cukup untuk membunuh manusia normal dalam hitungan menit.

Butong menatap lekat-lekat wajah pemuda di dalam es tersebut. Sebagai seorang veteran yang telah memakan asam garam di dalam Dungeon, insting bertahan hidupnya berteriak, memperingatkannya bahwa apa pun yang ada di dalam es itu adalah eksistensi yang sangat berbahaya.

"Bagaimana mungkin orang ini masih hidup setelah dibekukan oleh serigala es?" ucap Butong, suaranya parau, dipenuhi kebingungan dan kehati-hatian. "Serigala es membekukan mangsanya untuk menghancurkan sel dan membusukkan organ mereka dari dalam. Tapi orang ini... dia malah diawetkan. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!."

Otak Butong bekerja cepat. Di era saat ini, menemukan hunter yang terdampar di dalam Dungeon adalah hal yang mungkin, meskipun kemungkinan keselamatannya sangat rendah. Namun, melihat pemuda ini, ia tidak terlihat seperti seorang hunter dari guild manapun. Ia lebih terlihat seperti sosok pangeran yang sedang tertidur.

"Ketua, apa yang harus kita lakukan? Tinggalkan dia?" tanya seorang anggota dengan nada ragu.

Butong memalingkan wajah ke arah timnya. Keputusannya harus masuk akal, tidak boleh berdasarkan belas kasihan bodoh. Jika orang ini membahayakan umat manusia, maka Butong mungkin tidak akan bisa mamaafkan dirinya sendiri.

"Kita membawanya," putus Butong dengan tegas. "Kristal es dan pemuda ini adalah anomali. Markas besar Asosiasi di Beijing mungkin bisa membayarnya dengan harga tinggi sebagai bahan penelitian, atau jika dia benar-benar hunter yang kuat, kita bisa mengklaim hutang budi penyelamatan. Potong es di sekitarnya. Jangan sampai mengenai tubuhnya."

Atas perintah Butong, para hunter itu mulai bekerja. Dengan presisi tinggi, mereka menggunakan senjata berenergi panas untuk memotong lempengan es di sekitar Wu Xuan, menyisakan balok kristal yang membungkus tubuh pemuda itu dengan pas.

Dua anggota berbadan besar memanggul balok kristal itu di pundak mereka. Sensasi dingin yang menusuk masih terasa menembus armor mereka, membuat gigi mereka sedikit bergemeretak.

"Bergerak. Bawa inti es yang kalian temukan. Kita tinggalkan tempat ini sekarang," perintah Butong sambil mengawasi barisan belakang.

Tim kecil itu berjalan melintasi hamparan salju, kembali menuju celah portal biru neon yang bergetar di kejauhan. Serigala Es yang tersisa hanya bisa menggeram dari balik bayang-bayang badai, tidak berani mendekat karena takut pada senjata para manusia, namun juga menatap kepergian 'sumber energi' mereka dengan tatapan kelaparan yang buas.

Satu per satu, para hunter melangkah masuk ke dalam portal. Dua orang yang memanggul kristal Wu Xuan melangkah masuk, diikuti oleh Butong sebagai orang terakhir.

Begitu Butong melewati batas dimensi, portal biru neon itu menyusut dengan cepat dan menghilang tanpa jejak.

Planet mati itu kembali sunyi. Hanya suara badai yang melolong, menghapus jejak kaki para manusia dan menutupi kawah darah yang menjadi saksi bisu tidur panjang seorang tiran.

Di sisi lain, Butong dan guild kecilnya tidak menyadari satu hal yang krusial.

Mereka mengira mereka sedang menyelamatkan seorang korban yang malang, atau membawa pulang sebuah ketidaknormalan untuk dijual. Mereka tidak tahu bahwa dengan membuka pintu gerbang menuju bumi, mereka baru saja membawa sosok paling berbahaya ke dalam rumah mereka sendiri.

Tidur panjangnya di bumi, akan segera berakhir.

Bersambung...

1
Novi Prihartono
lanjuuuuuuuuut
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡🫡🫡
total 1 replies
Novi Prihartono
up lagiiiiiiiiiiiiiii
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡👍👍👍👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Bantu like dan komentar untuk mendukung cerita ini agar terus berlanjut 🫡🫡
Fajar Fathur rizky
thor ini wuxuan jika nunjukin ranah kultivasi apakah dunia bakal hancur thor
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor novel satunya bab 393 dan bab 394 thor
Zzzz
jejak dulu 👣👣
Zzzz
semoga dapat retensi ya/Determined//Determined/semangattt 🔥🔥🔥
Zzzz
/Slight/
Zzzz
/Hunger/
Zzzz
/Proud/
Zzzz
semangat 🔛🔥
Zzzz
/CoolGuy/
Zzzz
🤧bisa dong
Fajar Fathur rizky
cepat naikin level wuxuan
ABSOLUTE [2]
aaaaaaaaahhhhhhhh, lagi seru-seru nya baca malah abis
EGGY ARIYA WINANDA: Teknik marketing 🤭🤭
total 1 replies
Zzzz
👣
Zzzz
/Grimace/
Zzzz
/Slight//Proud/
Zzzz
/Frown/
Zzzz
/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!